Chapter Twenty Four
Yang Vela Simpan
POV: Aris (orang pertama)
Kami bertemu di taman kota, di bangku dekat pintu masuk barat, pukul empat sore.
Vela sudah ada di sana ketika aku datang. Dia memakai kaus hitam dan celana panjang dan duduk dengan punggung tegak seperti orang menunggu giliran di ruang tunggu dokter.
Aku duduk di ujung bangku yang lain.
“Kamu telat empat menit.”
“Angkotnya ngetem.”
“Aku nggak lagi ngomel.” Dia menatap lurus ke depan. “Aku cuma butuh sesuatu buat diomongin sebelum yang lain.”
Ada anak-anak main di ayunan. Ada bapak-bapak jualan balon.
“Vela.”
“Bentar.”
Dia menarik napas.
“Aku sudah nyusun ini semalam,” katanya. “Kalau kamu potong di tengah, aku nggak akan bisa mulai lagi.”
Aku diam.
“Aku tahu dia suka kamu dari bulan April kelas sepuluh,” kata Vela. “Dua bulan setelah kejadian upacara. Dia nggak cerita. Aku yang nebak, terus aku tanya, terus dia nggak bisa bohong.”
Ayunan berderit di kejauhan.
“Dan hal pertama yang aku bilang ke dia,” katanya, “adalah: jangan.”
Aku menoleh.
“Aku bilang kamu nggak akan pernah gerak,” katanya. “Aku bilang kamu tipe yang bisa berdiri di ruangan yang sama sama orang selama lima tahun tanpa ngapa-ngapain. Aku bilang dia bakal buang waktu.”
“Vela—“
“Aku bilang itu ke dia,” katanya, “delapan kali.”
Aku berhenti.
“Aku ngitung,” katanya. “Karena aku orangnya gitu. April kelas sepuluh. Agustus. Oktober. Desember, dua kali. Maret. Juli. Dan terakhir November tahun lalu, di ruang ganti, waktu dia nangis karena kamu ngasih payung ke anak kelas sepuluh dan dia nggak dapet apa-apa hari itu.”
Aku merasakan sesuatu dingin masuk ke perutku.
“Payung yang mana?”
“Kamu nggak akan inget.” Vela mengangkat bahu. “Itu poinnya.”
“Delapan kali aku bilang jangan,” katanya. “Dan tiap kali dia jawab hal yang sama. Dia bilang ‘aku tunggu dikit lagi.’”
Bapak-bapak balon lewat di depan kami.
“Dan setiap kali dia bilang itu,” kata Vela, “aku lega.”
Aku menoleh.
“Apa?”
“Aku lega,” ulangnya. “Karena artinya belum ada apa-apa. Artinya besok masih dia sama aku.”
Dia menatap lurus.
“Aku pindah ke sekolah ini kelas sepuluh, sama kayak dia. Bedanya, dia langsung punya versi dirinya sendiri di kepala semua orang dalam dua minggu. Aku nggak.” Suaranya rata. “Aku bukan siapa-siapa di sini, Ris. Aku cuma ‘temennya Amara.’ Itu satu-satunya kalimat yang bikin aku punya tempat.”
Ayunan.
“Jadi waktu aku bilang jangan, aku pikir aku lagi ngelindungin dia.”
Dia menutup mata sebentar.
“Aku nggak. Aku lagi ngamanin diri aku sendiri.”
Aku duduk di bangku taman kota dan tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama.
“Terus jadwal itu,” kataku akhirnya.
“Jadwal apa?”
“Hari Sabtu. Kerja kelompok.” Aku menoleh. “Lo bikin jadwal yang bikin Bagas nggak bisa ketemu Amara selama dua minggu.”
Vela mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena kamu diem.”
“Apa?”
“Aku sudah bilang alasannya waktu itu.” Dia akhirnya menoleh. “Aku bilang aku mau lihat kamu ngomong apa. Kamu nggak protes. Kamu bilang ‘itu bukan urusan gue.’”
Aku memandang tanah.
“Aku bikin jadwal itu buat dua hal sekaligus,” katanya. “Satu, biar Bagas nggak deket sama dia. Dua, biar kamu marah.”
“Gue harusnya marah?”
“Kamu harusnya sesuatu,” katanya, dan suaranya naik untuk pertama kalinya. “Aku bikin situasi yang jelas banget nggak masuk akal, di depan mata kamu, dan aku nunggu kamu bilang satu kalimat yang nunjukin kamu punya kepentingan.”
Dia mengembuskan napas.
“Kamu nggak.”
“Terus lo simpulin apa?”
“Aku simpulin aku bener,” kata Vela. “Delapan kali aku bilang ke dia kamu nggak akan gerak, dan hari Sabtu itu aku dapet buktinya, dan aku pulang naik angkot dan aku ngerasa—“
Dia berhenti.
“Ngerasa apa?”
Dan Vela — yang wajahnya tidak pernah menunjukkan apa pun, yang aku pernah kira dibuat dari sesuatu yang lebih keras dari orang lain — menutup wajahnya dengan satu tangan.
“Menang,” katanya.
Anak-anak di ayunan pulang. Taman jadi lebih sepi.
“Ada satu lagi,” kata Vela.
“Masih ada?”
“Yang ini paling parah.”
Dia menurunkan tangannya.
“Bulan Januari,” katanya. “Dia nulis surat.”
Aku menoleh.
“Bukan surat cinta. Dia nggak akan pernah nulis surat cinta; dia terlalu takut.” Vela menatap lurus. “Isinya cuma satu paragraf. Dia bilang dia mau ngajak kamu ngobrol soal sesuatu yang penting, dan dia mau tau kamu bisa hari apa.”
“Gue nggak pernah—“
“Aku tahu.”
Taman.
“Dia nitip ke aku,” kata Vela. “Dia bilang taruh di buku yang kamu lagi katalog, biar kamu nemu sendiri. Dia nggak berani ngasih langsung.”
Aku menutup mata.
“Aku bawa surat itu tiga hari,” katanya. “Aku bawa ke sekolah tiga hari berturut-turut. Aku masuk perpustakaan dua kali.”
“Vela.”
“Terus hari keempat aku bilang ke dia, aku sudah taruh,” katanya. “Dan dia nunggu dua minggu.”
Aku membuka mata.
“Dan waktu kamu nggak ngomong apa-apa selama dua minggu,” kata Vela, “dia mikir kamu udah baca terus mutusin buat nggak bales.”
Aku memandangi tanganku.
“Dua minggu,” kataku.
“Iya.”
“Dia nunggu dua minggu.”
“Iya.”
Dan aku merasakan sesuatu yang aku belum pernah rasakan terhadap siapa pun seumur hidupku, dan aku berdiri dari bangku itu karena kalau aku tetap duduk aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan.
“Kenapa.”
“Ris—“
“Kenapa lo lakuin itu.”
Vela mendongak.
Dan dia tidak menangis. Dia duduk di bangku taman dengan punggung tegak dan menatapku dan berkata:
“Karena kalau kamu bales, dia bakal punya kamu.”
“Terus?”
“Terus dia nggak butuh aku lagi.”
Bapak-bapak balon lewat kembali dari arah sebaliknya.
“Itu bodoh,” kata Vela. “Aku tahu itu bodoh. Aku sudah tahu itu bodoh sejak hari kedua aku bawa surat itu di tas. Aku tetap nggak taruh.”
Aku berdiri di depan bangku itu dengan tangan mengepal di sisi tubuh.
“Suratnya masih ada?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Di rumah aku.”
“Kasih ke gue.”
“Enggak.”
“Vela—“
“Aku bakal kasih ke dia,” katanya. “Besok. Sama semua yang barusan aku ceritain.”
Dia berdiri.
“Itu sebabnya aku ketemu kamu hari ini,” katanya. “Bukan buat minta maaf. Aku nggak minta maaf ke kamu; aku nggak ngerusak apa-apa punya kamu.”
Dia menyandang tasnya.
“Aku ngerusak punya dia.”
Yang terjadi keesokan harinya, aku ketahui dalam dua bagian.
Bagian pertama aku lihat sendiri: pukul sepuluh lewat, dari koridor lantai dua, Amara dan Vela masuk ke ruang ganti perempuan di dekat aula.
Bagian kedua aku dengar dari Nadia, yang kebetulan berada di koridor yang sama dan yang, seperti biasa, mencatat.
“Dua jam,” katanya di kantin, dengan suara yang tidak seperti Nadia sama sekali. “Ris, mereka di dalem dua jam.”
“Lo denger?”
“Gue nggak nguping.”
“Nadia.”
“Gue nggak nguping SENGAJA.” Dia menggeser gelasnya. “Gue di koridor mau ke lab. Terus gue denger Amara teriak. Terus gue berhenti karena gue nggak pernah denger Amara teriak.”
“Dia bilang apa?”
Nadia menatapku.
“Ris, lo yakin mau tau?”
“Iya.”
Dia menggigit bibirnya.
“Dia bilang,” kata Nadia, pelan, “‘Kamu tahu aku ngapain selama dua minggu itu?’”
Amara tidak masuk perpustakaan hari Senin.
Dia juga tidak hari Selasa.
Dia masuk sekolah — aku memastikan itu, aku berdiri di koridor lantai dua pukul tujuh dan melihat dia masuk kelas — tapi dia tidak datang ke perpustakaan, dan dia tidak membalas pesanku, dan pada hari Selasa malam aku duduk di kamar dengan ponsel di tangan selama satu jam tanpa mengirim apa pun.
Hari Rabu, dia mengirim satu pesan.
Amara: maaf ya
Amara: aku nggak lagi marah sama kamu
Amara: aku cuma lagi nggak bisa ngomong sama siapa-siapa
Aris: oke
Aris: gue di perpus kalau kamu mau
Amara: iya
Amara: makasih
Dan lalu, tiga menit kemudian:
Amara: ris
Amara: kamu udah tau ya?
Aku menatap layar.
Aku memikirkan sebelas kalimat di lapangan upacara. Aku memikirkan warung kopi. Aku memikirkan tujuh belas tahun berlatih memberikan sembilan puluh persen kebenaran.
Aris: iya
Aris: vela ketemu gue hari minggu
Aris: sehari sebelum dia ngomong ke kamu
Jeda panjang.
Amara: dan kamu nggak bilang aku
Aris: enggak
Aris: dan itu salah
Aris: gue mikirnya itu punya dia buat diomongin. tapi itu alasan. yang bener: gue nggak mau jadi orang yang bawa kabar buruk ke kamu.
Aris: gue milih posisi yang aman lagi.
Tidak ada balasan selama sebelas menit.
Lalu:
Amara: makasih udah bilang sendiri
Amara: itu beda sama biasanya
Amara: aku liat bedanya
Dia datang hari Kamis.
Dia masuk perpustakaan pukul sepuluh lewat lima, meletakkan tasnya di meja panjang, dan duduk.
Wajahnya lelah dengan cara yang tidak bisa disembunyikan wajah koridor.
“Hai.”
“Hai.”
Dia tidak membuka buku.
“Ris.”
“Hm.”
“Aku mau tanya sesuatu dan aku mau kamu jujur.”
“Oke.”
Amara menatap meja.
“Kalau kamu nemu surat itu bulan Januari,” katanya, “kamu bakal bales?”
Kipas berdecit.
Dan aku berdiri di balik meja sirkulasi dan memikirkan itu dengan sungguh-sungguh, dengan lebih sungguh-sungguh daripada aku memikirkan apa pun selama berbulan-bulan.
Januari.
Sebelum lorong rak 800. Sebelum lomba debat. Sebelum semuanya.
Aris yang di bulan Januari.
“Enggak,” kataku.
Amara menutup matanya.
“Gue bakal simpen suratnya,” kataku. “Gue bakal baca lima puluh kali. Gue bakal taruh di laci yang gue kunci tiap malem.”
Aku menelan.
“Terus gue bakal bilang ke diri gue sendiri bahwa itu pasti buat orang lain,” kataku. “Atau bahwa itu soal tugas. Atau bahwa gue salah baca.”
Perpustakaan sangat sunyi.
“Dan gue nggak bakal bales,” kataku. “Bukan karena gue nggak tau. Karena gue tau, dan gue takut.”
Amara membuka matanya.
Dan lalu — untuk pertama kalinya dalam empat hari — dia tertawa.
Pendek. Lelah. Tapi sungguhan.
“Kamu tau nggak,” katanya, “itu yang aku bilang ke Vela hari Senin.”
“Apa?”
“Dia minta maaf terus-terusan. Dua jam. Dia bilang dia ngerusak satu setengah tahun hidup aku.” Amara menyandarkan punggungnya. “Dan aku bilang, ‘kamu nggak ngerusak apa-apa, karena kalau surat itu sampai, dia juga nggak bakal bales.’”
Aku memandanginya.
“Terus dia nangis lebih parah,” kata Amara. “Karena aku bener, dan karena itu artinya dia ngerusak sesuatu selama satu setengah tahun buat nggak dapet apa-apa.”
Dia mengambil tasnya, membukanya, dan mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah kusut di sudutnya.
Dia meletakkannya di meja sirkulasi.
“Ini.”
“Amara—“
“Bacanya nanti.” Dia mendorongnya. “Dan Ris.”
“Ya?”
“Aku nggak putus sama Vela,” katanya. “Aku masih marah. Aku bakal marah lama. Tapi aku nggak akan buang orang yang delapan kali nyuruh aku nyerah demi ngejaga tempatnya sendiri, karena—“
Dia berhenti, dan menatapku.
“—karena aku juga pernah diem selama satu setengah tahun demi ngejaga sesuatu.”
Dia menyandang tasnya.
“Kita semua ngelakuin hal jelek buat nggak kehilangan,” katanya. “Bedanya cuma siapa yang ketahuan.”
Aku membaca surat itu di angkot.
Satu paragraf, seperti kata Vela. Tulisan tangan yang rapi dan agak miring ke kanan. Tanpa sapaan, tanpa tanda tangan.
Aku mau ngobrol soal sesuatu yang penting dan aku nggak bisa ngomong di perpustakaan karena kamu selalu lagi kerja dan aku selalu punya alasan buat nggak mulai. Kamu bisa hari apa? Hari apa aja. Aku bisa semua hari.
Dan di bawahnya, ditambahkan belakangan dengan pensil yang lebih tipis, seperti orang yang menambahkan sesuatu lalu ragu:
Kalau kamu nggak bisa juga nggak apa-apa.
Aku duduk di angkot dengan surat itu di tangan.
Aku bisa semua hari.
Dan aku memikirkan bahwa selama dua minggu di bulan Januari, seseorang datang ke perpustakaan setiap Selasa dan Kamis, duduk di meja pojok yang katanya bocor, dan menunggu aku menyebut sesuatu.
Dan aku menyusun katalog.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan reading
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan