← Aku Duluan

Chapter Twenty One

Bimo

POV: Aris (orang pertama)


Bimo sekarang kelas dua belas.

Aku tahu wajahnya seperti aku tahu wajah tiga ratus orang lain di sekolah ini — sebagai bentuk, bukan sebagai orang. Anak IPS, tinggi, main basket, tipe yang berjalan di koridor dengan dua tangan di saku dan tidak perlu menghindar dari siapa pun karena orang menghindar dari dia.

Dia tidak pernah meminjam buku sekali pun dalam dua tahun.

Aku memeriksa itu, kemudian, dan aku tidak bangga.


Kejadiannya hari Rabu, di kantin, istirahat pertama.

Aku sedang mengantre. Amara duduk di meja dekat jendela bersama Vela dan Nadia — karena sejak dua minggu lalu kami makan di kantin, karena Amara memintanya, karena dia bilang aku nggak mau kita cuma ada di satu ruangan.

Aku membawa dua gelas es teh.

Dan waktu aku berbalik dari antrean, Bimo sudah berdiri di meja itu.

Bukan duduk. Berdiri, dengan satu tangan di sandaran kursi kosong, membungkuk sedikit, dalam posisi yang dari jauh terlihat sangat santai.

Aku berjalan ke sana.

Dan aku mendengar bagian terakhirnya.

“—serius nggak apa-apa. Gue cuma nanya.”

“Aku sudah jawab,” kata Amara.

“Iya, tapi jawaban lo aneh.”

“Aneh gimana?”

“Ya aneh aja.” Bimo mengangkat bahu. “Dulu gue, nggak. Terus si anu, nggak. Terus si anu, nggak. Terus tiba-tiba iya sama—“

Dia melihatku.

Dan wajahnya tidak berubah sama sekali. Itu yang aku ingat. Dia tidak terlihat bersalah atau kaget atau bahkan senang. Dia melihatku seperti orang melihat kursi yang dia lewati.

“Nah, ini dia.”

Aku menaruh dua gelas es teh di meja.

“Ris, kan?”

“Iya.”

“Yang jaga perpus.”

“Iya.”

“Gue Bimo.”

“Gue tahu.”

Dia tersenyum. Senyumnya bagus. Itu bagian yang paling tidak nyaman — dia sama sekali tidak terlihat seperti orang jahat, dan kalau kamu memutar percakapan itu tanpa suara, kamu akan mengira dia sedang ramah.

“Gue lagi nanya-nanya doang sama Amara,” katanya. “Nggak ada apa-apa.”

“Oke.”

“Lo nggak marah kan?”

“Enggak.”

“Nah, santai.” Dia menepuk sandaran kursi. “Gue suka orang yang santai.”

Vela, tanpa mengangkat wajah dari makanannya, berkata: “Kamu masih di sini.”

Bimo tertawa. “Vela galak banget dari dulu.”

“Kamu masih di sini,” ulang Vela.

Dia mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah, dan mundur satu langkah.

Dan sebelum pergi, dia berkata — ke arahku, dengan volume yang cukup untuk didengar tiga meja di sekitar kami, dengan nada seseorang yang sedang memberikan pujian:

“Lo beruntung banget, cuy.”

Lalu dia pergi.


Meja itu diam selama beberapa detik.

Nadia yang pertama bicara. “Anjir. Gue rekam nggak ya.”

“Nadia.”

“Bercanda. Gue nggak rekam.” Jeda. “Gue catet.”

“NADIA.”

Amara tidak berkata apa-apa.

Aku duduk. Mendorong satu gelas es teh ke arahnya.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan aku benar-benar mengira itu adalah hal yang tepat untuk dikatakan.

Amara mengambil gelasnya.

Dia tidak minum.


Sisa istirahat berlangsung normal. Nadia bicara tentang ulangan Kimia. Vela mengoreksi Nadia dua kali. Amara ikut bicara di tempat-tempat yang tepat.

Aku menghabiskan es tehku.

Dan yang aku rasakan — aku ingin mencatat ini sejujur mungkin, karena aku baru mengerti isinya sekitar enam jam kemudian — bukan marah.

Yang aku rasakan adalah setuju.

Lo beruntung banget, cuy.

Iya.

Itu benar.

Itu benar dan semua orang di kantin tahu itu benar dan Bimo hanya orang yang cukup tidak sopan untuk mengucapkannya keras-keras, dan yang membuatku tidak bisa marah adalah bahwa aku tidak bisa menemukan satu pun bagian dari kalimat itu yang salah.

Bel berbunyi.

Kami berdiri.

Dan di koridor, Amara berjalan di sebelahku selama kira-kira sepuluh langkah tanpa berkata apa-apa, lalu berhenti.

“Ris.”

“Hm.”

“Kamu nggak ngomong apa-apa.”

“Sama Bimo?”

“Sama Bimo.”

“Gue bilang ‘oke’.”

“Iya,” katanya. “Kamu bilang ‘oke’.”

Dia berdiri di koridor dengan tas di depan tubuh.

“Kamu mau gue apain?” kataku. “Gue mukul dia?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Aku mau kamu bilang sesuatu.” Suaranya rendah. “Apa aja. ‘Jangan gitu.’ ‘Lo ngomong sama pacar gue.’ ‘Gue nggak suka nada lo.’ Apa aja, Ris.”

“Kalau gue ngomong, dia bakal terus.”

“Aku tahu.”

“Terus buat apa?”

Dan Amara menatapku, dan berkata:

“Buat aku.”

Bel kedua berbunyi.

“Amara—“

“Nanti aja.” Dia menyandang tasnya. “Aku ada ulangan.”


Yang terjadi setelah itu berlangsung tiga hari dan bentuknya adalah ini:

Amara tidak marah.

Dia tidak berhenti bicara padaku. Dia tidak mendiamkan. Dia datang ke perpustakaan hari Kamis dan duduk di meja panjang dan bertanya apakah kipasnya sudah dilaporkan.

Tapi ada sesuatu yang lepas.

Aku tidak punya kata yang lebih baik. Seperti sekrup yang kendur di rak — raknya masih berdiri, semua bukunya masih di tempat, dan kalau kamu tidak menyentuhnya kamu tidak akan tahu.

Aku menyentuhnya pada hari Jumat.

“Lo masih kesel.”

“Enggak.”

“Amara.”

Dia menutup bukunya dengan jari.

“Aku nggak kesel,” katanya. “Aku takut.”

Kipas berdecit.

“Takut apa?”

Dan Amara meletakkan bukunya di meja panjang, dan berkata sesuatu yang mengambil seluruh isi dadaku dan memutarnya:

“Aku takut kamu setuju sama dia.”

Aku tidak menjawab cukup cepat.

Setengah detik. Mungkin kurang.

Dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku tahu bahwa setengah detik itu adalah jawabannya.

“Ris.”

“Gue nggak setuju.”

“Kamu bohong.”

“Amara—“

“Aku sudah dua tahun ngeliatin kamu,” katanya. “Aku tahu bentuk muka kamu waktu kamu lagi mikir dan bentuk muka kamu waktu kamu lagi nyusun kalimat.”

Perpustakaan sangat sunyi.

“Kamu setuju sama dia,” katanya.

Aku memandangi meja sirkulasi. Formika yang terkelupas di sudut kiri.

“Iya,” kataku.

Amara menutup matanya.

“Bukan bagian yang ‘beruntung’,” kataku cepat. “Maksud gue — iya, itu juga. Tapi bukan itu.”

“Terus apa?”

“Bagian yang sebelumnya.” Aku menelan. “Dia bilang ‘dulu gue nggak, terus si anu nggak, terus tiba-tiba iya sama—‘ dan dia berhenti karena gue dateng.”

“Terus?”

“Terus gue selesain kalimatnya sendiri di kepala gue,” kataku. “Dan gue nggak bisa nemu jawaban yang bikin masuk akal.”

Amara membuka matanya.

Dan dia tidak sedih. Dia marah — untuk pertama kalinya sejak lapangan upacara, benar-benar marah, dengan rahang yang mengeras.

“Kamu tahu apa yang kamu bilang barusan?”

“Gue—“

“Kamu bilang keputusan aku nggak masuk akal.” Dia mencondongkan badan. “Aku mikir dua tahun, Ris. Dua tahun. Dan kamu berdiri di situ dan bilang kamu nggak nemu penjelasannya.”

“Itu bukan—“

“Itu persis itu.” Suaranya naik dan dia menurunkannya lagi dengan susah payah. “Kamu nggak lagi ngehina diri kamu sendiri. Kamu lagi ngehina aku. Kamu bilang aku salah milih dan aku terlalu bego buat sadar.”

Aku membuka mulut.

Aku tidak punya apa-apa.

“Dan waktu Bimo ngomong gitu di kantin,” katanya, “kamu diam bukan karena kamu sabar. Kamu diam karena kamu ngerasa dia lagi bilang yang bener.”

Kipas berdecit.

“Iya,” kataku.

Amara mengambil tasnya.

“Amara—“

“Aku nggak marah sama Bimo.” Dia berdiri. “Bimo tuh cuma anak yang ditolak dua tahun lalu dan masih kesel. Dia nggak penting. Dia bakal lulus tiga bulan lagi dan aku nggak akan pernah ketemu dia lagi seumur hidup.”

Dia menyandang tasnya.

“Yang bikin aku takut itu kamu,” katanya. “Karena kamu nggak akan lulus dari kepala kamu sendiri.”


Dia pergi.

Aku menyelesaikan pekerjaanku. Mengunci lemari. Mematikan kipas.

Dan pukul empat lewat, ketika aku sedang menyusun troli terakhir, Pak Hendra keluar dari ruangannya dan berhenti di ujung lorong rak 800.

“Firmawan.”

“Ya, Pak?”

“Buku yang saya minta kamu lem bulan lalu, sudah?”

“Sudah, Pak.”

“Yang mana saja?”

Aku menyebutkan empat judul.

Beliau mengangguk. Lalu berkata, dengan nada yang persis sama seperti waktu menanyakan jumlah buku rusak:

“Kamu tahu kenapa saya minta kamu, bukan anak yang lain?”

“Karena saya di sini tiap hari, Pak.”

“Bukan.”

Aku mengangkat wajah.

“Karena kamu satu-satunya yang mau ngelem buku yang tidak akan dipinjam siapa pun,” kata beliau. “Anak lain akan tanya, ‘Pak, ini buat apa, tidak ada yang baca.’ Kamu tidak pernah tanya.”

Beliau memutar kunci di tangannya.

“Itu bukan sifat yang umum,” kata beliau. “Saya sudah tiga puluh tahun di sini. Saya bisa hitung dengan jari.”

Aku berdiri memegang gagang troli.

“Pak.”

“Hm.”

“Menurut Bapak, saya orangnya gimana?”

Pak Hendra menatapku selama beberapa detik dengan tatapan seorang pria yang tahu persis kenapa pertanyaan itu ditanyakan pada pukul empat sore di hari Jumat.

“Kamu orang yang mengurus hal-hal yang tidak diurus siapa pun,” kata beliau.

“Itu bagus?”

“Itu bagus untuk perpustakaan.”

Beliau berjalan ke pintu.

“Firmawan.”

“Ya, Pak?”

“Buku yang dilem itu tetap tidak akan dipinjam siapa pun,” kata beliau. “Itu tidak apa-apa. Buku memang begitu.”

Beliau membuka pintu.

“Kamu bukan buku.”


Aku duduk di angkot dengan tas di pangkuan.

Dan aku memikirkan bahwa Amara benar tentang satu hal yang belum aku akui pada siapa pun, termasuk pada diriku sendiri:

Aku tidak sedang merendahkan diriku.

Aku sedang berlindung.

Karena selama aku adalah orang yang tidak masuk akal untuk dipilih, maka kalau dia pergi nanti, aku sudah tahu alasannya sejak awal. Aku sudah menyiapkannya. Aku sudah menulis bagian akhirnya sebelum bagian tengahnya selesai, supaya nanti ketika sampai di sana, aku bisa berkata: iya, gue udah tau.

Itu bukan kerendahan hati.

Itu asuransi.

Dan yang aku bayar untuk asuransi itu — aku baru menghitungnya di angkot, di sore hari Jumat, dengan tas di pangkuan dan jendela yang terbuka setengah — adalah harga diri seseorang yang sudah memutuskan untuk berdiri di sebelahku.

Aku mengeluarkan ponsel.

Aris: gue salah

Aris: bukan yang di perpus tadi. yang di kantin.

Aris: harusnya gue ngomong sesuatu ke dia

Aku menatap layar.

Lalu aku menghapus baris ketiga dan menggantinya.

Aris: harusnya gue ngomong sesuatu ke dia. bukan karena dia perlu dibales. karena kamu perlu denger gue ngomong.

Balasannya datang setelah tujuh menit.

Amara: iya

Amara: makasih

Jeda.

Amara: ris

Amara: aku nggak minta kamu jadi orang yang galak

Amara: aku cuma minta kamu berdiri di pihak kamu sendiri sekali aja

Aku membaca itu tiga kali.

Aris: gue nggak tau caranya

Amara: aku tau

Amara: makanya aku nunggu