← Aku Duluan

Chapter One

Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak

POV: Aris (orang pertama)


Ada tiga hal yang bisa dipastikan tentang perpustakaan sekolah ini.

Satu, AC-nya cuma hidup di sisi kiri, jadi rak sastra selalu lebih dingin daripada rak biologi. Dua, Pak Hendra akan mengunci pintu tepat pukul lima sore tanpa mengecek apakah masih ada manusia di dalam. Tiga, tidak ada satu pun anggota tim futsal yang pernah menginjakkan kaki ke sini sejak masa orientasi.

Makanya waktu pintu terbuka dan yang muncul adalah sepatu bola dengan tanah lapangan masih menempel di solnya, aku sempat berpikir aku salah lihat.

“Cuy.”

Aku tidak menoleh. Aku sedang menyusun ulang rak 800-an yang setiap minggu diacak-acak oleh anak-anak kelas X yang mengira sistem Dewey adalah semacam saran, bukan aturan.

“Cuy. Ris.”

“Sepatu.”

“Hah?”

“Sepatu lo.” Aku menunjuk lantai tanpa melihat. “Pak Hendra ngepel sendiri tiap Jumat. Kalau beliau lihat, dia nggak bakal marah. Dia cuma bakal ngomong satu kalimat, dan lo bakal kepikiran sampai lulus.”

Ada bunyi gesekan panik. Bagas melepas sepatunya di ambang pintu, lalu masuk dengan kaus kaki yang warnanya sudah tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Puas?”

“Belum. Tapi cukup.”

Dia melempar dirinya ke kursi di seberang meja sirkulasi. Kursi itu berdecit dengan cara yang menyedihkan. Bagas seratus tujuh puluh delapan sentimeter dan penuh energi yang salah tempat; dia tidak pernah duduk, dia selalu jatuh ke tempat duduk.

Aku menyelesaikan tiga buku terakhir, menutup rak, dan akhirnya menoleh.

Dia sedang menggigit ujung tali serut celana trainingnya. Itu bukan pertanda baik. Bagas menggigit sesuatu kalau dia sedang menahan kalimat yang lebih besar dari mulutnya.

“Latihan selesai jam empat,” kataku. “Sekarang jam empat lewat dua puluh lima. Lo lari ke sini?”

“Nggak.”

“Lo lari ke sini.”

“Gue jalan cepat.”

“Lo keringetan kayak abis dikejar anjing.”

“Itu namanya jalan cepat yang sungguh-sungguh.” Dia melepas tali serutnya dari mulut. “Ris. Gue mau ngomong.”

“Ngomong.”

“Ini serius.”

“Oke.”

“Serius banget.”

Aku menarik kursi di baliknya dan duduk. Di luar jendela, langit sudah berubah warna jadi abu-abu yang malas — belum hujan, tapi sudah berjanji. Aku menghitung dalam hati: kalau dia mulai bicara sekarang, aku masih bisa mengejar angkot terakhir sebelum hujan turun.

“Gue nggak ke mana-mana,” kataku. “Silakan.”

Bagas menarik napas panjang. Menahannya. Melepasnya. Menarik lagi.

“Bagas.”

“Bentar. Gue lagi ngumpulin—“

“Lo ngumpulin sejak SMP dan belum pernah selesai.”

“ANJIR—“ Dia menutup mulutnya sendiri, melirik ke arah ruang Pak Hendra, lalu berbisik dengan volume yang tetap terlalu keras. “Anjir, Ris. Bisa nggak sekali aja lo biarin gue bikin momen?”

“Momen lo lima menit lagi ketutup sama hujan.”

Dia melirik ke jendela. Bahunya turun. Lalu dia bilang, cepat, seperti melepas plester:

“Gue suka Amara.”

Ruangan tidak berubah.

Itu bagian yang aneh. Aku menunggu sesuatu — bunyi, gerakan, jam dinding yang tiba-tiba berhenti seperti di film. Tapi kipas angin tetap berputar dengan bunyi decit yang sama. Pak Hendra tetap batuk dua kali dari balik pintu ruangannya seperti yang selalu dia lakukan setiap pukul setengah lima. Debu tetap melayang di garis cahaya yang masuk lewat jendela.

Dan aku tetap duduk di kursi yang sama.

“Amara Widyastuti?”

“Emangnya ada Amara lain di sekolah ini?”

Tidak ada. Tentu saja tidak ada. Kalau ada dua orang bernama Amara di sekolah ini, salah satunya sudah pasti mengganti nama demi menghindari perbandingan.

“Oke,” kataku.

Bagas mengerjap. “Oke?”

“Oke.”

“Cuma ‘oke’?”

“Lo mau gue tepuk tangan?”

“Gue mau lo—“ Dia mengangkat kedua tangan, frustrasi. “Gue mau lo kaget, kek. Gue mau lo bilang ‘anjir serius?’ terus nanya sejak kapan, terus kita ngomongin ini kayak manusia normal.”

“Sejak kapan?”

“Nggak usah dipaksain kalau nggak niat!”

Aku hampir tertawa. Hampir.

Ada sesuatu di dadaku yang bergeser sedikit — pelan, seperti buku yang tergeser satu sentimeter di rak dan tidak ada yang menyadari kecuali orang yang menyusunnya. Aku memutuskan itu adalah lapar. Aku belum makan sejak istirahat kedua.

“Sejak kapan?” ulangku, kali ini benar-benar bertanya.

Bagas terdiam. Dan wajahnya melakukan hal yang jarang sekali dia lakukan: dia berhenti bercanda.

“Sejak lomba debat antarsekolah bulan lalu,” katanya pelan. “Gue disuruh Bu Ana angkat-angkat kursi buat aula. Gue lagi ngangkat, terus dia lagi latihan di panggung. Sendirian. Nggak ada yang nonton. Dia ngulang satu paragraf yang sama—“ Bagas menggerakkan tangannya, mencari kata. “—entah berapa kali, Ris. Gue nungguin sampai kursinya abis, dia masih ngulang. Dia salah di kata yang sama terus. Dan tiap salah dia nggak marah, dia cuma ngambil napas, terus mulai lagi.”

Dia menggaruk tengkuknya.

“Gue tuh mikir dia orangnya sempurna gitu, kan. Yang semua orang bilang. Terus gue lihat dia ngulang-ngulang doang di aula kosong dan gue mikir, oh. Dia kerja keras banget. Dia cuma kerja kerasnya nggak keliatan.”

Kipas angin berdecit.

Aku tahu paragraf yang dia maksud. Aku tahu kata yang selalu salah itu — ”prasangka”, dan Amara selalu menabraknya jadi ”prasangkaan” kalau dia bicara terlalu cepat, dan dia benci itu, dan dia mengulangnya empat puluh dua kali di ruang baca dua sambil aku menyusun katalog di ruang sebelah, karena aula dipakai dan dia butuh tempat kosong dan aku bilang pakai saja, aku tidak akan mendengarkan.

Aku mendengarkan.

“Ris?”

“Ya.”

“Lo diem.”

“Gue lagi mikir.”

“Mikir apa?”

Aku menutup buku katalog di depanku. Sampulnya dingin.

“Mikir kenapa lo cerita ini ke gue kayak lagi minta izin.”

Bagas nyengir. Nyengir yang itu — yang dia pakai sejak kelas satu SMP, yang berarti lo udah tau gue mau minta apa, jadi tolong bikin ini gampang buat gue.

“Ris.”

“Nggak.”

“Gue belum ngomong apa-apa!”

“Gue kenal lo tujuh tahun. Lo nggak perlu ngomong.”

“Ris, please—“

“Nggak.”

“Lo temennya Vela.”

“Gue bukan temennya Vela. Gue orang yang dipinjemin buku sama Vela dan dia belum balikin sejak Februari.”

“Nah! Itu akses!”

“Itu utang.”

“Utang itu akses, cuy! Itu ilmu ekonomi!”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah orang yang benar-benar yakin dia baru saja mengucapkan sesuatu yang cerdas.

Hujan mulai turun di luar. Tipis. Baru suaranya, belum airnya.

“Bagas.”

“Ris. Dengerin dulu.” Dia mencondongkan badan, dan kursinya berdecit lagi. “Gue bisa lari empat puluh menit tanpa berhenti. Gue bisa nendang bola dari tengah lapangan masuk gawang. Gue pernah ngomong di depan seluruh sekolah pas jadi MC tujuh belasan dan gue nggak gugup sama sekali.”

“Lo salah sebut nama kepala sekolah.”

“ITU BUKAN GUGUP, ITU LIDAH GUE KEPELESET—“

“Sst.”

Dia menurunkan volume. “Intinya, gue nggak takut sama apa-apa. Tapi tiap gue kepikiran ngomong dua kalimat sama dia, tangan gue dingin. Kayak orang sakit.”

“Itu namanya suka.”

“Itu namanya gue butuh bantuan.”

Dan di sinilah bagian yang seharusnya aku ingat lebih baik. Bagian yang, kalau aku bisa kembali dan berdiri di sudut ruangan itu sebagai penonton, akan aku teriaki.

Karena ada jeda.

Jeda kecil — mungkin dua detik, mungkin tiga. Waktu di mana aku bisa merasakan sesuatu kalau aku mau. Ruang kosong yang disediakan dengan sopan oleh semesta, tempat aku bisa berhenti dan bertanya pada diriku sendiri kenapa dadaku terasa seperti ada buku yang bergeser satu sentimeter.

Aku tidak memakai jeda itu.

“Oke,” kataku. “Gue bantu.”

Bagas berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh ke belakang.

“SERIUS?”

“Sepatu lo di luar. Kalau lo lari sekarang lo bakal—“

Dia sudah memelukku. Sambil basah. Sambil bau lapangan. Dia memelukku dengan cara yang sama seperti tujuh tahun lalu, waktu dia mengetuk pintu kamarku empat hari berturut-turut setelah ayahku pergi dan aku tidak membuka, dan di hari kelima aku membuka dan dia tidak bertanya apa-apa, dia cuma bilang ayo main, dan aku ikut, dan itu hari pertama aku keluar rumah.

Aku tidak pernah membicarakan itu. Dia juga tidak.

Tapi selalu ada di ruangan.

“Lo emang paling bisa, Ris,” katanya di sebelah telingaku. “Gue tuh mikir, kalau ada satu orang yang bisa bikin gue nggak keliatan bego, itu lo.”

“Standarnya rendah banget.”

“Realistis.”

Dia melepasku, mengangkat kursinya, dan mulai bicara sangat cepat tentang rencana — bahwa dia sudah memikirkan tiga skenario, bahwa dua di antaranya melibatkan kantin, bahwa yang ketiga melibatkan sesuatu yang dia sebut “kebetulan yang direncanakan” dan tidak mau dia jelaskan.

Aku mengambil buku catatan dari tas. Bukan buku pelajaran — yang kecil, sampul cokelat, yang biasa aku pakai mencatat nomor rak yang harus dibetulkan.

Aku membuka halaman baru. Menulis di paling atas:

PROYEK A.

“Wah,” Bagas melongok. “Lo nyatet?”

“Kalau nggak dicatat, lo bakal lupa dua hari lagi terus nyalahin gue.”

“Fair.” Dia mengangguk khidmat. “A itu Amara?”

“A itu inisial supaya kalau buku ini jatuh, lo nggak jadi bahan tertawaan satu angkatan.”

“ANJIR LO MIKIR SEJAUH ITU.”

“Gue mikir sejauh angkot terakhir.”

Aku menulis tiga poin. Tulisanku kecil dan rapat; guru-guru selalu mengeluh soal itu.

  1. Kumpulkan data.
  2. Cari titik temu alami.
  3. Jangan pernah paksakan pertemuan.

“Nomor tiga penting,” kataku. “Semua cowok yang nembak dia gagal karena hal yang sama. Mereka bikin momen. Momen yang dibikin itu ketahuan.”

Bagas menatap daftar itu seperti orang menatap peta harta karun.

“Lo kayak dukun.”

“Gue kayak orang yang punya waktu luang.”

“Sama aja.”

Hujan sudah benar-benar turun sekarang. Aku menutup buku catatan dan berdiri, dan pada saat itu Pak Hendra keluar dari ruangannya dengan kunci di tangan dan menatap kaki Bagas yang berkaus kaki, lalu menatap sepatu di ambang pintu, lalu menatap Bagas lagi.

“Anak futsal,” katanya, datar. “Di perpustakaan.”

“Siang, Pak!”

“Sore.”

“Sore, Pak!”

Pak Hendra memandangnya lama. Lalu berkata, “Kalau kamu bisa hafal formasi 2-1-2, kamu bisa hafal Dewey. Ambil sepatumu. Pulang.”

Dan beliau berlalu.

Bagas berbisik, “Apa itu Dewey?”

“Nanti gue jelasin di angkot.”


Kami keluar lewat koridor timur karena itu satu-satunya jalur yang beratap sampai gerbang. Bagas menenteng sepatunya, masih berkaus kaki, dan tetap berjalan seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.

“Ris. Jujur, ya.”

“Hm.”

“Menurut lo, gue ada peluang nggak?”

Aku memikirkan aula kosong dan kata prasangka yang diulang empat puluh dua kali.

“Ada,” kataku. “Dia bukan tipe yang nolak orang karena mereka siapa. Dia nolak karena mereka datang salah.”

“Datang salah gimana?”

“Datang buat menang. Bukan buat kenal.”

Bagas berhenti berjalan.

“Ris.”

“Apa.”

“Kadang lo ngomong sesuatu terus gue mikir, lo ini beneran umur tujuh belas nggak sih.”

“Gue tujuh belas. Gue cuma nggak banyak ngomong, jadi kalimat gue numpuk.”

“Serem.”

Kami sampai di ujung koridor. Dari sini kelihatan lapangan basket yang sudah tergenang tipis, dan di seberangnya, gerbang, dan di dekat gerbang, dua orang berdiri di bawah kanopi pos satpam menunggu jemputan.

Salah satunya Vela — rambut sebahu, ekspresi seseorang yang sedang menghitung berapa lama lagi dia harus bertahan di planet ini.

Yang satunya lagi Amara.

Dia sedang memegang tas di depan tubuhnya dengan dua tangan. Rambutnya sudah dilepas dari ikatan; dia selalu melakukan itu begitu bel pulang berbunyi, seolah ikatan itu bagian dari seragam. Dari jarak dua puluh meter, dalam cahaya sore yang jelek dan hujan yang bikin semuanya kelihatan kelabu, dia tetap terlihat seperti seseorang yang sedang difoto tanpa tahu sedang difoto.

Bagas mencengkeram lenganku.

“Ris.”

“Iya.”

“Ris. Itu dia.”

“Iya.”

“RIS.”

“Kalau lo remes terus, lengan gue lepas.”

“Gue harus ngapain? Gue harus nyapa nggak? Gue nyapa aja ya. Nggak. Jangan. Nanti keliatan maksa. Nomor tiga, kan? Jangan paksain pertemuan. Nomor tiga!”

“Bagas.”

“Iya?”

“Kita jalan ke gerbang karena gerbang adalah satu-satunya jalan keluar. Itu bukan memaksakan pertemuan. Itu arsitektur.”

Dia mengembuskan napas panjang. “Oke. Arsitektur. Oke.”

Kami berjalan.

Sepuluh meter. Delapan. Lima.

Vela melihat kami lebih dulu. Tatapannya melewati Bagas seperti melewati tiang, lalu berhenti di aku, dan bertahan setengah detik lebih lama dari yang seharusnya.

Aku tidak memikirkan itu saat itu.

Lalu Amara menoleh.

Dan wajahnya melakukan hal yang sudah dia lakukan berkali-kali selama setahun terakhir dan tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun karena aku tidak pernah menganggapnya perlu diceritakan: matanya menyipit sedikit di ujung, dan dia mengangkat tangan setinggi bahu, dan berkata—

“Ris.”

Bukan sapaan panjang. Bukan basa-basi. Cuma satu suku kata, dengan nada orang yang menyebut nama yang sudah biasa dia sebut.

“Sore,” kataku.

“Perpustakaan tutup jam lima?”

“Setengah lima kalau Pak Hendra lagi pengin pulang.”

“Berarti besok aku telat lagi.” Dia menyandarkan tas ke pinggangnya. “Aku pinjam dua, belum selesai satu pun.”

“Denda di sini nol rupiah.”

“Aku tahu. Itu justru bikin nggak enak.”

Vela, tanpa menoleh ke arah kami, berkata pada udara: “Jemputan datang.”

Dan sebuah mobil memang masuk ke pelataran.

Amara memasang tasnya. Sebelum melangkah, dia berhenti, dan menoleh sekali lagi.

“Ris.”

“Ya?”

“Payungmu masih dua?”

Aku mengerjap. “...Satu di tas, satu di loker.”

“Bagus,” katanya. Lalu tersenyum kecil, seperti orang yang baru saja memastikan sesuatu, dan pergi.

Pintu mobil tertutup. Mobil keluar gerbang. Hujan mengisi ruang yang mereka tinggalkan.

Bagas berdiri di sebelahku tanpa bergerak selama kira-kira lima detik penuh.

Lalu:

“RIS.”

“Ssh—“

“LO KENAL DIA?”

“Enggak.”

“DIA MANGGIL NAMA LO.”

“Semua orang manggil nama gue. Gue jaga perpustakaan.”

“Dia nanya soal payung lo!”

“Karena gue sering minjemin payung.”

“KE DIA?”

Aku membuka mulut.

Dan menemukan, dengan sedikit terlambat, bahwa aku tidak punya jawaban yang siap.

Karena aku memang sering meminjamkan payung. Ke Ekek. Ke anak kelas X yang lupa jas hujan. Ke ibu kantin yang harus menyeberang ke parkiran.

Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa aku selalu membawa dua.

Aku mengangkat bahu. “Kebetulan.”

Bagas menerimanya. Tentu saja dia menerimanya. Dia tidak punya alasan untuk tidak.

Dia mulai bicara lagi — cepat, bersemangat, sesuatu tentang bahwa ini pertanda baik, bahwa aku ternyata punya akses lebih besar dari yang dia kira, bahwa Proyek A akan berjalan mulus.

Aku mengangguk di tempat-tempat yang tepat.

Di dalam tas, buku catatan sampul cokelat itu terasa lebih berat daripada seharusnya.

Dan di suatu tempat di dadaku, buku yang tadi bergeser satu sentimeter tidak kembali ke tempatnya.