← Aku Duluan

Chapter Two

Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama

POV: Aris (orang pertama)


Rencana pertama gagal dalam enam menit.

Aku merasa perlu mencatat waktunya karena Bagas kemudian bersikeras bahwa itu “hampir berhasil”, dan aku ingin ada dokumentasi yang jujur.

Enam menit.


Semuanya dimulai hari Selasa, di kantin, pukul sepuluh lewat lima.

Kantin sekolah ini dirancang oleh seseorang yang membenci manusia. Enam meja panjang berdesakan di ruangan yang muat empat, satu kipas angin gantung yang berputar dengan kecepatan yang membuatnya lebih mirip dekorasi daripada alat, dan jalur antre yang membelah ruangan jadi dua sehingga siapa pun yang duduk di sisi barat harus melewati seluruh populasi sekolah untuk membeli air mineral.

“Ini bagus,” kata Bagas, mengunyah. “Ini strategis.”

“Ini kandang.”

“Ini kandang yang strategis.”

Ekek muncul dari belakang dan meletakkan nampannya dengan bunyi yang sengaja keras.

“Bahas apa? Gue ikut.”

“Nggak ada yang bahas apa-apa,” kata Bagas.

“Muka lo bahas sesuatu.”

“Muka gue emang gini.”

“Muka lo hari ini beda.” Ekek duduk, menyipitkan mata, dan menunjuk dengan sendok. “Lo abis dapet nilai bagus?”

“Nggak.”

“Lo abis dibeliin sepatu?”

“Nggak.”

“Lo naksir orang.”

Bagas tersedak.

Aku minum. Pelan-pelan.

“ANJIR.” Ekek berdiri setengah. “GUE BENER?”

“DUDUK—“

“Siapa? Anak IPS? Anak kelas X? Jangan bilang anak kelas X, Gas, itu ada undang-undangnya—“

“Nggak ada undang-undangnya, dan bukan anak kelas X—“

“BERARTI ADA ORANGNYA.”

Bagas menoleh ke arahku dengan tatapan orang yang tenggelam.

Aku meletakkan gelas.

“Ekek.”

“Ya?”

“Lo inget nggak bulan lalu lo bilang Rina naksir lo karena dia minjem pulpen?”

Ekek terdiam.

“Terus lo bilang itu ‘sinyal jelas’. Terus lo nembak dia di depan ruang guru. Terus—“

“OKE. Oke. Gue paham.” Ekek duduk kembali dan menusuk-nusuk telurnya dengan penuh dendam. “Lo tuh kalau ngomong nggak pernah pakai pemanasan, ya.”

“Gue pemanasan. Lo nggak sadar aja.”

Bagas menghela napas lega. Lalu, karena dia Bagas, dia merusaknya sendiri dalam tiga detik dengan berkata:

“Pokoknya nanti pas jam istirahat kedua, Ris, lo duluan—“ dia berhenti. “—maksud gue, lo yang jalan ke sana dulu. Terus gue nyusul. Oke?”

Ekek mengangkat kepalanya perlahan, seperti hewan predator yang mencium darah.

“Ke sana,” ulangnya. “Sana mana.”

“Perpustakaan,” kataku.

“Bagas nggak pernah ke perpustakaan.”

“Sekarang dia ke perpustakaan.”

“KENAPA?”

“Karena dia mau memperbaiki nilai Sejarah.”

Ekek menatap Bagas. Bagas, dengan wajah yang seharusnya ditutupi undang-undang, mengangguk terlalu banyak.

“Iya. Sejarah. Gue... suka sejarah.”

“Sejarah apa?”

“Sejarah... yang lama.”

Aku menutup mata sebentar.


Untungnya Ekek punya rentang perhatian seekor burung, dan pada pukul sepuluh lewat dua puluh dia sudah pindah topik ke teori bahwa Pak Hendra adalah mantan agen intelijen. Aku menggunakan sisa waktu itu untuk menjelaskan rencananya pada Bagas.

Rencananya sederhana. Itu justru masalahnya, tapi aku belum tahu.

“Amara ke perpustakaan tiap Selasa dan Kamis, istirahat kedua,” kataku. “Dia ambil meja pojok dekat jendela. Dia selalu bawa dua buku, satu buat dibaca, satu buat ditumpuk supaya nggak ada yang duduk di seberangnya.”

Bagas mengunyah lebih lambat. “Kok lo tau?”

“Gue jaga perpustakaan.”

“Iya, tapi—“

“Lo mau data atau mau interogasi?”

“Data.”

“Bagus.” Aku membuka buku catatan sampul cokelat. “Lo nggak akan nyamperin dia.”

“Lah?”

“Lo bakal duduk dua meja dari dia, buka buku, dan diam.”

Bagas menatapku seperti aku baru saja menyarankan dia menelan kunci.

“Itu... rencananya?”

“Itu tahap satu.”

“Tahap satu adalah gue duduk diem?”

“Tahap satu adalah lo jadi bagian dari ruangan itu.” Aku menggeser catatanku ke arahnya. “Sekarang lo tuh anomali. Kalau lo masuk perpustakaan sekarang, seluruh ruangan bakal nengok. Termasuk dia. Dan yang dia lihat bukan lo — yang dia lihat kejadian aneh.”

“Itu bagus dong? Berarti dia notice.”

“Notice itu bukan kenal.” Aku mengetuk halaman. “Semua cowok yang nembak dia bikin dirinya jadi kejadian. Bunga di kelas. Gitar di lapangan. Yang pakai megafon.”

“Anjir, gue lupa yang megafon.”

“Dia nggak lupa.”

Bagas mengerutkan kening, memikirkan ini. Untuk semua kebisingannya, Bagas sebenarnya bukan orang bodoh. Dia cuma butuh sesuatu dijelaskan dalam bentuk lapangan.

“Jadi maksud lo,” katanya lambat, “gue harus jadi kayak... pemain yang udah lama di lapangan. Bukan yang baru masuk dari bench.”

“Persis.”

“Berapa lama?”

“Dua minggu.”

“DUA MINGGU?”

“Sst.”

“Dua minggu gue duduk diem?”

“Dua minggu lo jadi normal.” Aku menutup buku. “Habis itu, kalau lo ngomong sama dia, itu bukan kejadian. Itu cuma dua orang yang emang sering ada di ruangan yang sama.”

Bagas memandangi mejanya.

“Ris.”

“Hm.”

“Ini kayak yang lo bilang kemarin ya. Datang buat kenal, bukan buat menang.”

Aku mengangkat wajah.

Kadang dia begitu. Kadang dia menangkap sesuatu yang aku sendiri belum sadar sudah aku ucapkan, dan mengembalikannya padaku dalam bentuk yang lebih bersih. Itu salah satu alasan aku menyukainya. Itu juga, kalau aku jujur — dan aku belum jujur, tidak akan jujur untuk waktu yang lama — salah satu alasan kenapa aku tidak pernah bisa berdiri di jalannya.

“Iya,” kataku. “Kayak gitu.”

Bel berbunyi.

“Oke.” Dia berdiri, menepuk dadanya dua kali. “Gue bisa. Gue bisa duduk diem. Gue kan orangnya kalem.”

Enam menit.


Perpustakaan istirahat kedua selalu punya suara yang sama: kipas, halaman, dan bunyi Pak Hendra menyeruput kopi dari balik pintu.

Aku di meja sirkulasi, menstempel kartu pengembalian. Ada tujuh orang di ruangan. Dua kelas X di rak fiksi. Tiga anak IPA 3 yang pura-pura belajar. Satu anak yang tidur dengan buku di wajahnya, teknik klasik.

Dan Amara, di meja pojok dekat jendela, dengan dua buku — satu terbuka, satu ditumpuk di seberangnya seperti pagar.

Dia belum melihat ke arahku. Dia sedang menulis sesuatu di pinggir halaman, yang selalu membuatku ingin menegur — itu buku perpustakaan — dan selalu tidak aku tegur, karena dia menulis dengan pensil dan selalu menghapusnya sebelum mengembalikan, dan itu bentuk kesopanan yang aneh dan spesifik dan aku tidak pernah menyebutkannya pada siapa pun.

Pintu terbuka.

Bagas masuk.

Dan aku tahu, dalam waktu kurang dari satu detik, bahwa ini akan gagal.

Karena dia berjalan seperti orang yang sedang berusaha berjalan normal. Bahunya terlalu turun. Langkahnya terlalu lebar dan terlalu lambat sekaligus. Dia membawa satu buku di depan dada dengan dua tangan, seperti anak paduan suara.

Dia menangkap mataku. Dan — ya Tuhan — dia mengedip.

Aku menunduk ke kartu pengembalian dan menstempel sesuatu dua kali.

Bagas mengambil kursi dua meja dari Amara. Duduk. Membuka bukunya.

Sepuluh detik pertama, sempurna.

Detik kesebelas, dia melihat ke arah Amara.

Detik kedua belas, dia melihat ke arahku.

Detik ketiga belas sampai keempat puluh, dia melakukan siklus itu berulang-ulang dengan kecepatan yang meningkat, seperti kipas angin yang bautnya lepas.

Aku menggeleng sangat kecil.

Dia mengangguk sangat besar.

Lalu dia melakukan hal yang, sampai hari ini, masih aku pikirkan kalau aku sedang tidak bisa tidur.

Dia berdehem.

Bukan berdehem kecil. Berdehem yang niat. Berdehem yang mengumumkan.

Sembilan kepala terangkat.

Amara terangkat.

Dan Bagas — terjebak dalam sorotan yang dia buat sendiri, dengan seluruh ruangan menunggu apa yang akan keluar dari mulutnya — berkata, kepada tidak seorang pun secara khusus:

“Ramai ya.”

Perpustakaan.

Kosong tujuh orang.

“Ramai ya.”

Ada jeda. Jeda panjang yang teksturnya seperti karpet basah.

Lalu dari rak 300-an, sebuah suara berkata dengan nada paling datar yang pernah diciptakan manusia:

“Enggak.”

Vela keluar dari balik rak sambil membawa buku, tidak melihat siapa pun, dan berjalan ke meja sirkulasi.

Bagas berubah warna. Aku tidak tahu manusia bisa melakukan itu tanpa bantuan medis.

Dia berdiri. Mengambil bukunya. Berjalan keluar dengan langkah yang, harus aku akui, cukup bermartabat untuk seseorang yang baru saja mati di depan umum.

Pintu tertutup.

Enam menit.


Vela meletakkan buku di depanku. Sejarah Perkembangan Aksara Nusantara. Dia tidak sedang membaca itu. Tidak ada manusia yang sedang membaca itu.

“Balikin,” katanya.

“Ini belum pernah dipinjam.”

“Sekarang udah.”

Aku menariknya, membalik kartunya. Kosong. Dia benar-benar baru mengambilnya dari rak tiga puluh detik lalu supaya punya alasan berdiri di sini.

Aku mengisi kartunya. Dia tidak pergi.

“Ada lagi?”

“Yang tadi itu temanmu.”

“Iya.”

“Dia ke perpustakaan.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku menstempel. “Sejarah.”

“Sejarah apa?”

“Yang lama.”

Vela diam.

Aku mengangkat wajah dan menemukan dia sedang menatapku. Bukan dengan curiga. Itu bagian yang bikin tidak nyaman. Curiga itu kasar, gampang dilawan. Yang ini lain — dia menatapku seperti orang membaca kalimat yang sudah dia tahu ujungnya, dan sedang memeriksa apakah tanda bacanya sesuai dugaannya.

“Kamu bantuin dia,” katanya.

Bukan pertanyaan.

“Gue jaga perpustakaan,” kataku. “Gue bantuin semua orang.”

“Hm.”

Dia mengambil bukunya dari meja. Lalu, tanpa mengubah nada sedikit pun:

“Kamu bawa payung dua.”

Kartu di tanganku berhenti.

Setengah detik. Mungkin kurang. Tapi cukup.

“Sering hujan,” kataku.

“Setahun?”

“Iklim tropis.”

Vela menatapku sedikit lebih lama. Lalu — dan ini yang paling buruk — ujung bibirnya bergerak. Naik satu milimeter. Turun lagi.

“Oke,” katanya, dan pergi.

Aku menstempel kartu yang sudah aku stempel.

Dari meja pojok dekat jendela, aku merasakan seseorang melihat. Aku tidak mengangkat kepala. Aku menyusun tiga kartu yang tidak perlu disusun, lalu menyusunnya lagi.

Ketika akhirnya aku melihat, Amara sudah kembali ke bukunya. Menulis di pinggir halaman. Dengan pensil.

Tapi buku yang tadi ditumpuk di seberangnya — pagar itu — sudah tidak ada di sana.

Sudah dipindahkan ke sampingnya.

Kursi di seberangnya kosong.

Aku mencatat itu, karena aku selalu mencatat, dan menaruh catatan itu di tempat yang salah: di halaman PROYEK A, di bawah judul pola dan kebiasaan, sebagai data yang berguna untuk Bagas.


Bagas menungguku di koridor, bersandar di tembok, menatap kosong ke lapangan.

“Gue mau pindah sekolah.”

“Nggak usah.”

“Gue mau pindah negara.”

“Paspor lo mati.”

“Gue mau mati.”

“Berlebihan.”

“RIS.” Dia menutup wajahnya. “‘Ramai ya.’ RAMAI YA. Ris, di ruangan itu ada tujuh orang. Gue ngitung. Gue sempet ngitung terus tetep ngomong ‘ramai ya’.”

“Delapan sama Vela.”

“JANGAN SEBUT NAMA ITU.”

“Dia yang bikin lo mati.”

“Dia yang bikin gue mati,” Bagas mengulang, dengan hormat, seperti menyebut nama penyakit.

Aku bersandar di sebelahnya. Lapangan panas. Ada anak kelas X main bola pakai botol.

“Gagal,” kata Bagas.

“Iya.”

“Menurut lo dia lihat?”

“Semua orang lihat.”

“Anjir.”

“Tapi itu bagus.”

Dia menoleh. “Bagian mananya yang bagus.”

“Sekarang lo udah nggak punya harga diri buat dijaga. Besok lo bakal masuk sana biasa aja.”

Bagas terdiam. Lalu tertawa — sekali, keras, dengan cara yang selalu bikin orang di koridor menoleh dan tidak pernah mengganggu siapa pun.

“Gila lo. Itu penghinaan atau motivasi?”

“Dua-duanya. Efisien.”

Dia menepuk bahuku. “Besok gue balik.”

“Kamis.”

“Kamis?”

“Dia cuma datang Selasa sama Kamis.”

“Oh iya.” Bagas mengangguk-angguk. Lalu, ringan, tanpa beban sama sekali: “Untung ada lo, Ris. Gue tuh kalau nggak ada lo bener-bener nggak ngerti apa-apa soal dia.”

Bel masuk berbunyi.

Dia berjalan lebih dulu, masih bicara, sudah kembali ke suaranya yang biasa.

Aku berdiri sebentar di koridor.

Memikirkan buku yang dipindahkan dari seberang meja ke samping.

Memikirkan kursi kosong.

Lalu aku memutuskan bahwa itu tidak berarti apa-apa, dan menyusul.