Chapter Twenty Seven
Sepeda
POV: Aris (orang pertama)
Aku masuk sekolah keesokan harinya.
Aku ingin mencatat itu karena entah bagaimana itu terasa penting: aku tidak melewatkan satu hari pun. Aku bangun pukul enam, menyetrika seragam, naik angkot, dan membuka perpustakaan pukul tujuh kurang sepuluh seperti yang aku lakukan setiap hari selama dua tahun.
Sistemnya bekerja.
Sistemnya selalu bekerja. Itu keindahan sistem itu, dan itu masalahnya.
Amara menyapaku di koridor pada hari Selasa, seperti yang dia bilang.
“Pagi.”
“Pagi.”
Dan dia lewat.
Dan tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang tahu bahwa sesuatu telah terjadi, karena tidak ada satu hal pun yang berubah dari luar.
Itu berlangsung sembilan hari.
Hari kesepuluh, Pak Hendra memanggilku ke ruangannya.
Ruang pembina perpustakaan adalah kotak berukuran tiga kali tiga meter yang isinya satu meja, dua kursi, lemari arsip, dan teko listrik yang usianya lebih tua dariku.
“Duduk.”
Aku duduk.
Beliau menuang kopi ke dua cangkir tanpa bertanya.
“Bapak nggak pernah ngasih saya kopi.”
“Sekarang saya kasih.”
Aku memegang cangkirnya. Panas.
“Firmawan.”
“Ya, Pak?”
“Kamu sudah selesai katalog kelas sepuluh.”
“Sudah, Pak.”
“Kamu sudah inventaris rak 800, 900, dan 300.”
“Sudah.”
“Kamu sudah lem sebelas buku, ganti tiga kartu peminjaman hilang, dan susun ulang seluruh rak 500 yang saya tidak pernah minta.”
Aku memegang cangkir.
“Sembilan hari,” kata Pak Hendra. “Semua itu sembilan hari.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Beliau minum kopinya.
“Saya tidak akan tanya kenapa,” kata beliau. “Itu bukan urusan saya dan saya tidak berminat.”
“Iya, Pak.”
“Tapi saya akan bilang satu hal, karena saya tiga puluh tahun di sini dan saya sudah lihat ini enam atau tujuh kali.”
Beliau menaruh cangkirnya.
“Anak yang kerja terlalu rapi biasanya sedang menghindar dari sesuatu yang tidak rapi.”
Teko listrik berdenting.
“Perpustakaan ini akan baik-baik saja kalau kamu tidak masuk seminggu,” kata beliau. “Saya perlu kamu tahu itu. Bukan karena kamu tidak berguna. Karena tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang seharusnya bergantung pada satu anak umur tujuh belas.”
Aku memandangi kopi.
“Pak.”
“Hm.”
“Kalau saya berhenti kerja rapi,” kataku, “saya nggak tahu saya siapa.”
Pak Hendra menatapku.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, wajah beliau berubah — sedikit, di sekitar mata, cara wajah orang berubah ketika sesuatu yang lama muncul kembali.
“Iya,” kata beliau. “Saya tahu.”
Beliau mengambil cangkirnya lagi.
“Itu sebabnya saya masih ngepel lantai ini sendiri tiap Jumat,” kata beliau, “padahal ada empat petugas kebersihan dan saya guru Fisika.”
Beliau minum.
“Pulang jam empat hari ini,” kata beliau. “Jangan jam lima. Jangan setengah lima.”
Aku pulang pukul empat.
Ibuku sedang menyetrika di ruang depan. Beliau libur dua hari; jadwal shift-nya berubah bulan ini.
“Kamu pulang cepat.”
“Disuruh Pak Hendra.”
“Bagus.”
Aku duduk di lantai, bersandar ke kaki kursi, seperti yang aku lakukan sejak kecil.
Setrika bergerak di atas kain. Suaranya teratur.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu masih inget sepeda?”
Setrika berhenti.
“Sepeda apa?”
“Yang Ibu tawarin waktu saya kelas empat.”
Beliau meletakkan setrika di penyangganya.
“Kamu inget itu?”
“Ibu yang ceritain. Bulan lalu.”
“Oh.” Beliau mengambil kemeja berikutnya. “Iya. Ibu inget.”
“Kenapa Ibu tawarin?”
“Karena kamu pengen.”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu berdiri di depan toko itu tiap pulang sekolah selama tiga minggu,” kata ibuku. “Ibu tau karena Bu Yanti yang jualan gorengan di depan toko itu cerita ke Ibu. Dia bilang, ‘Bu, anaknya tiap hari berdiri lihat sepeda, tapi nggak pernah masuk.’”
Setrika bergerak.
“Terus Ibu tanya kamu mau nggak.”
“Terus saya bilang nggak usah.”
“Kamu bilang nggak usah, nanti Ibu nggak punya uang.” Beliau tersenyum ke arah kemeja. “Umur sepuluh.”
“Waktu itu emang nggak punya.”
“Emang nggak punya,” kata beliau. “Ibu bakal nyicil. Ibu udah tanya ke tokonya.”
Aku duduk di lantai.
“Ibu udah tanya?”
“Ibu udah tanya,” kata beliau. “Dua hari sebelum Ibu tawarin ke kamu. Sepuluh bulan, dua puluh ribu sebulan. Ibu udah hitung.”
Setrika berhenti lagi.
“Terus kamu bilang nggak usah,” kata beliau, “dan Ibu lega.”
Aku menoleh.
“Ibu lega,” ulang beliau. “Itu bagian yang Ibu nggak pernah cerita ke kamu.”
Beliau menaruh kemeja itu ke tumpukan.
“Karena dua puluh ribu sebulan waktu itu berat, Ris. Dan waktu kamu bilang nggak usah, Ibu bilang ke diri Ibu sendiri, ‘ya udah, dia nggak mau.’” Suaranya rata. “Ibu tau kamu mau. Ibu tau persis kamu mau. Dan Ibu terima jawaban kamu karena jawaban itu bikin hidup Ibu lebih gampang.”
Aku memandangi lantai.
“Bu—“
“Dengerin dulu.”
Beliau duduk di kursi. Setrikanya dimatikan.
“Kamu belajar itu dari Ibu,” kata beliau.
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kamu pikir kamu belajar dari bapakmu,” kata beliau. “Semua orang bakal mikir gitu. Anak ditinggal bapaknya, terus dia jadi nggak mau minta apa-apa, gampang.”
Beliau menggeleng.
“Tapi bapakmu pergi waktu kamu sepuluh, dan kamu sudah berdiri di depan toko sepeda itu tiga minggu tanpa masuk waktu kamu sembilan.”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu belajar dari Ibu,” kata beliau lagi. “Karena setiap kali kamu bilang nggak usah, Ibu bilang ‘oh, ya udah.’ Ibu nggak pernah maksa. Ibu nggak pernah bilang ‘kamu boleh minta, Ris.’”
Suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
“Ibu nerima terus,” kata beliau. “Selama tujuh belas tahun. Karena gampang.”
Aku duduk di lantai ruang depan.
“Bu.”
“Hm.”
“Saya nggak nyalahin Ibu.”
“Ibu tau.” Beliau mengusap matanya dengan pergelangan, cepat, sekali. “Ibu bukan lagi minta maaf. Ibu lagi ngasih tau kamu sesuatu yang lebih penting.”
“Apa?”
Dan ibuku — yang bekerja shift di apotek, yang membesarkan satu anak sendirian, yang tidak pernah sekali pun sepanjang hidupku duduk dan menjelaskan sesuatu sepanjang ini — berkata:
“Bahwa ini bukan luka.”
Aku menoleh.
“Kamu pikir ini luka,” kata beliau. “Kamu pikir ada satu hal yang terjadi ke kamu waktu kecil, terus kalau kamu nemu hal itu dan ngerti hal itu, kamu sembuh.”
Beliau menggeleng.
“Ini kebiasaan, Ris. Kebiasaan tujuh belas tahun.”
Setrika berdenting waktu mendingin.
“Kamu bisa ngerti kenapa kamu ngelakuin sesuatu,” kata beliau, “dan tetap ngelakuin besok paginya. Itu bukan berarti kamu belum ngerti. Itu berarti ngerti aja nggak cukup.”
Aku menutup mata.
Bagas mengucapkan kalimat yang hampir sama di parkiran, tiga minggu lalu, dengan hujan di atap.
Berarti ngerti aja nggak cukup.
“Terus apa yang cukup?” kataku.
“Nggak ada.”
Aku membuka mata.
“Nggak ada satu hal pun yang cukup,” kata ibuku. “Kamu nggak bakal sembuh, Ris. Kamu bakal berdiri di depan toko sepeda seumur hidup kamu.”
Beliau mengambil kemeja terakhir dari tumpukan yang belum disetrika, lalu meletakkannya kembali karena setrikanya sudah dingin.
“Yang bisa kamu lakuin,” kata beliau, “cuma masuk ke tokonya. Satu kali. Terus besok satu kali lagi. Terus lusa.”
“Itu doang?”
“Itu doang.”
“Itu kedengeran nggak cukup.”
“Emang nggak cukup,” kata ibuku. “Tapi itu yang ada.”
Aku ke kamar pukul tujuh.
Aku duduk di meja belajar dan membuka laci dan mengeluarkan buku catatan sampul cokelat, dan membukanya di halaman terakhir yang ada tulisannya.
Gue nggak mau dia pergi.
Enam kata, tulisan jelek, tanggal Senin.
Aku menatapnya.
Dan lalu aku melakukan sesuatu yang, kalau ada satu hal dalam seluruh cerita ini yang bisa aku sebut sebagai awal dari sesuatu, mungkin ini.
Aku merobek halaman itu.
Bukan karena aku menyesal menulisnya.
Karena kertas tidak pergi, dan kertas tidak menjawab, dan aku sudah menghabiskan delapan bulan menulis empat belas halaman tentang seseorang yang duduk tiga meter dariku dan tidak pernah aku beri tahu satu pun isinya.
Aku melipat halaman itu dan memasukkannya ke kantong seragamku untuk besok.
Lalu aku membuka halaman baru, dan menulis di paling atas:
Yang gue mau.
Dan di bawahnya, aku menulis nomor satu, dan aku duduk di sana selama sepuluh menit.
Karena ternyata itu jauh lebih sulit daripada menulis empat belas halaman tentang orang lain.
Akhirnya aku menulis:
1. Gue mau minta maaf ke Vela.
Aku menatapnya. Bukan itu. Itu masih tentang orang lain.
Aku mencoretnya.
1. Gue mau duduk di kantin dan nggak mikirin siapa yang lihat.
Lebih baik. Masih setengah.
2. Gue mau Bagas tau bahwa empat hari itu penting buat gue, dan gue mau bilang itu tanpa nangis.
3. Gue mau punya kursi di perpustakaan yang menghadap jendela. Satu. Bukan dua.
Aku berhenti di nomor tiga.
Karena aku menyadari bahwa nomor tiga bukan keinginanku.
Itu keinginannya. Dia mengatakannya pada suatu Selasa di bulan Oktober, dan aku menulisnya di buku catatan sebagai data untuk Bagas, dan sekarang delapan bulan kemudian aku menuliskannya lagi sebagai keinginanku sendiri.
Aku duduk di kursi meja belajar.
Dan aku menyadari bahwa aku bahkan tidak tahu di mana batas antara diriku dan orang yang aku layani, karena aku sudah terlalu lama mengisi diriku dengan keinginan orang lain sampai lemarinya penuh dan tidak ada tempat lagi untuk yang asli.
Aku menghapus nomor tiga.
Dan aku duduk di sana sampai pukul sebelas, dan pada akhirnya aku menulis satu baris di nomor tiga, dan itu adalah baris paling jujur yang pernah aku tulis dalam hidupku:
3. Gue nggak tau. Gue harus cari tau.
Dan hari Kamis, Vela mengirim pesan.
Vela: Amara nangis hari Selasa
Vela: Aku nggak lagi ngasih tau kamu biar kamu ngapa-ngapain
Vela: Aku ngasih tau karena kamu selalu mikir semua orang baik-baik aja tanpa kamu
Vela: dan itu juga cara kamu kabur
Aku menatap layar.
Aris: vela
Aris: lo besok ada waktu?
Vela: buat apa
Aris: gue mau minta maaf
Jeda panjang.
Vela: Kamu nggak salah apa-apa ke aku.
Aris: gue tau
Aris: tapi gue diem waktu lo bikin jadwal hari sabtu itu, dan lo bilang lo nunggu gue ngomong sesuatu
Aris: dan gue nggak ngomong
Aris: dan lo pulang hari itu ngerasa menang
Aris: dan gue yang ngasih lo kemenangan itu
Jeda yang lebih panjang.
Vela: Kamu tau nggak kamu nyebelin banget.
Vela: Besok. Jam empat. Taman.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda reading
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan