← Aku Duluan

Chapter Twenty Two

Tiga Puluh Delapan Koma Empat

POV: Aris (orang pertama)


Amara jatuh sakit pada hari Selasa.

Aku tahu sebelum siapa pun karena dia tidak datang ke perpustakaan, dan dia selalu datang ke perpustakaan hari Selasa, dan pada menit kesepuluh aku sudah berdiri di depan kelas XI IPA 1 seperti orang bodoh.

Vela keluar.

“Dia pulang.”

“Kenapa?”

“Panas.”

“Berapa?”

Vela menatapku. “Aku nggak bawa termometer ke sekolah, Ris.”

“Sori.”

“Tiga puluh delapan koma empat,” katanya. “Diukur di UKS jam sembilan. Ibunya jemput jam sembilan lewat dua puluh.”

Aku berkedip.

“Lo bilang lo nggak bawa termometer.”

“Aku nggak bawa,” kata Vela. “UKS yang punya.”

Dan dia masuk kembali ke kelas.


Aku tidak ke rumahnya hari itu.

Aku ingin. Aku memikirkannya selama seluruh jam pelajaran keempat sampai keenam, dan aku menyusun tiga alasan yang masuk akal untuk datang, dan aku menolak ketiganya karena semuanya terdengar seperti orang yang memaksakan diri masuk ke ruangan.

Aku mengirim pesan.

Aris: kata vela 38,4

Aris: istirahat

Tidak ada balasan sampai malam.

Amara: kamu nggak nanya aku gimana

Amara: kamu langsung kasih instruksi

Aku menatap layar selama satu menit penuh.

Aris: kamu gimana

Amara: jelek

Amara: tapi makasih udah nanya

Amara: besok kamu ke sini nggak?

Dan aku merasakan sesuatu yang aneh: kelegaan yang begitu besar sampai memalukan, karena aku telah menghabiskan dua belas jam mencari izin dan dia memberikannya dalam empat kata.

Aris: iya

Amara: bawa apa?

Aris: diri gue aja

Amara: SALAH

Amara: bawa jeruk


Rabu, aku bolos jam pelajaran terakhir.

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun sekolah.

Aku ingin mencatat itu bukan sebagai kebanggaan tapi sebagai data: aku, yang tidak pernah terlambat, yang tidak pernah lupa PR, yang dijadikan contoh oleh dua wali kelas berbeda — aku keluar lewat gerbang belakang pukul satu siang sambil membawa satu kilogram jeruk yang aku beli di pasar dekat sekolah.

Bagas melihatku dari lapangan.

Dia berhenti menggiring bola.

Dia menatapku dengan jeruk di tangan.

Lalu dia mengangkat kedua tangan ke udara seperti wasit yang mengesahkan gol, dan berteriak melintasi lapangan:

“AKHIRNYA!”

Aku berjalan lebih cepat.


Ibunya yang membuka pintu.

“Oh,” kata beliau. “Kamu yang salah.”

Aku berdiri di teras dengan satu kilogram jeruk.

“Iya, Bu.”

“Masih salah?”

“Kadang-kadang, Bu.”

Dan ibunya — yang wajahnya sama di bagian mata, yang tidak tersenyum sedikit pun sejak membuka pintu — melangkah mundur dan membuka pintunya lebar.

“Masuk. Dia di kamar. Pintunya dibuka.”


Kamarnya rapi dengan cara yang aku tidak duga.

Aku pikir kamarnya akan seperti dirinya di koridor — tersusun, terkontrol. Ternyata rapi dengan cara yang lain: rapi karena barangnya sedikit. Meja belajar, lemari, rak buku kecil, satu kursi. Tidak ada poster. Tidak ada hiasan.

Dan di rak buku, di deret paling atas, sebuah termos stainless kosong — yang lain, yang bukan yang di rumahku — berdiri di sebelah tumpukan buku.

Amara duduk bersandar di kepala tempat tidur, memakai kaus kebesaran, rambut diikat asal-asalan.

Wajahnya pucat dan matanya bengkak dan hidungnya merah.

“Jangan lihat.”

“Gue udah lihat.”

“Aku jelek.”

“Iya.”

Dia melempar bantal ke arahku.

Aku menangkapnya dan mengembalikannya dan itu, entah bagaimana, menyelesaikan seluruh kecanggungan dalam empat detik.


Aku mengupas jeruk.

Ini bagian yang aku kuasai. Aku duduk di kursi meja belajar yang aku tarik ke sisi tempat tidur, dan aku mengupas jeruk, dan aku memisahkan putih-putihnya karena dia bilang dia tidak suka, dan aku menaruhnya di piring kecil yang dibawakan ibunya.

“Kamu ngupasnya rapi banget.”

“Gue ngelem buku.”

“Apa hubungannya?”

“Sama-sama kerjaan tangan yang nggak ada yang lihat.”

Amara mengambil satu.

“Ris.”

“Hm.”

“Kamu bolos?”

“Jam terakhir.”

“Pelajaran apa?”

“Sejarah.”

Dia berhenti mengunyah.

“Yang lama?”

Dan aku tertawa.

Aku benar-benar tertawa — bukan satu embusan lewat hidung, yang sungguhan, cukup keras sampai aku harus menutup mulut karena pintunya terbuka.

Amara menatapku dengan mulut penuh jeruk dan mata yang menyipit di ujung.

“Lima,” katanya.

“Apa?”

“Kali kelima aku dengar kamu ketawa.”


Dia tertidur pukul tiga.

Bukan tidur yang direncanakan. Dia sedang bicara tentang tugas Kimia yang harus dia kejar, dan di tengah kalimat suaranya melambat, dan lalu dia berhenti, dan lalu dia miring ke kiri.

Kepalanya jatuh ke bahuku.

Aku duduk di kursi yang aku tarik terlalu dekat, dengan piring jeruk di pangkuan, dan seluruh sisi kiriku menjadi tempat seseorang meletakkan kepalanya.

Aku tidak bergerak selama dua puluh menit.

Bukan karena tidak berani. Karena aku tidak ingin.

Aku duduk di kamar itu dengan pintu terbuka dan suara televisi dari ruang depan dan kipas angin yang berputar pelan di sudut, dan aku memikirkan bahwa aku sudah tujuh belas tahun hidup dan ini adalah pertama kalinya seseorang tertidur di dekatku.

Ibunya lewat di depan pintu pukul setengah empat.

Beliau berhenti.

Aku menoleh, panik, dan hampir menjatuhkan piring.

Ibunya melihat kami berdua.

Lalu beliau berkata, sangat pelan: “Kalau tangan kamu kesemutan, geser aja. Dia nggak bakal bangun. Dia tidurnya kayak batu dari kecil.”

Dan beliau berlalu.


Amara bangun pukul empat.

Dia mengangkat kepalanya, mengerjap tiga kali, dan lalu menyadari posisi kami dan tidak bergerak menjauh.

“Berapa lama?”

“Sejam.”

“Bahu kamu mati rasa?”

“Iya.”

“Kenapa nggak digeser?”

“Nggak mau.”

Amara memandangiku dari jarak yang sangat dekat.

Dan aku menyadari, terlalu terlambat, bahwa aku sudah tidak bergerak sama sekali dan bahwa dia juga tidak.

Kamar itu punya cahaya sore yang masuk dari satu jendela di sebelah kiri, dan cahayanya jatuh di setengah wajahnya, dan aku bisa melihat bahwa bulu matanya menggumpal di ujung karena dia tidur sambil demam.

“Ris.”

“Hm.”

“Kamu bawa jeruk sekilo.”

“Iya.”

“Aku makan empat.”

“Iya.”

“Kamu bolos Sejarah.”

“Iya.”

“Kamu duduk sejam sambil bahu kamu mati rasa.”

“Iya.”

Dia tidak memundurkan wajahnya.

“Kenapa?” katanya.

Dan aku tahu itu bukan pertanyaan sungguhan.

Aku tahu itu adalah pintu, dibuka dengan sangat sengaja, oleh seseorang yang sudah bosan membuka pintu dan selalu harus melewatinya sendirian.

Jaraknya kira-kira dua puluh sentimeter.

Aku bisa merasakan panasnya — bukan panas demam, yang satunya, yang aku pelajari di lorong rak 800 pada suatu Kamis: bahwa ada jarak di mana kamu sudah bisa merasakan orang lain sebelum menyentuhnya.

Aku bergerak.

Sepuluh sentimeter.

Amara menutup matanya.

Dan aku berhenti.


Aku ingin sangat jujur tentang alasannya, karena ada versi yang lebih baik hati dan versi itu bohong.

Aku tidak berhenti karena pintu terbuka.

Aku tidak berhenti karena ibunya di ruang depan.

Aku tidak berhenti karena dia sedang sakit dan itu tidak sopan.

Ketiga alasan itu ada di kepalaku dan semuanya masuk akal dan aku memakai ketiganya berturut-turut selama tiga minggu berikutnya setiap kali aku memikirkan sore itu.

Aku berhenti karena aku takut.

Karena selama aku belum melewati garis itu, masih ada tempat untuk mundur yang tidak menyakiti siapa-siapa. Masih ada versi di mana ini bisa selesai dengan rapi. Masih ada pintu keluar yang tidak berdarah.

Dan sebagian dari diriku — bagian yang sudah tujuh belas tahun bekerja, bagian yang sangat rajin dan sangat berpengalaman — sedang menjaga pintu keluar itu tetap terbuka.

Aku mundur.

“Sori,” kataku.

Amara membuka matanya.

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah aku lihat sebelumnya, dan yang membuat perutku dingin bertahun-tahun setelahnya setiap kali aku mengingatnya:

Dia tidak terkejut.

Dia tidak kecewa. Dia tidak marah.

Dia hanya mengangguk sekali — sangat kecil, sangat cepat — seperti orang yang sedang mencentang sesuatu di daftar yang sudah dia siapkan.

“Nggak apa-apa,” katanya.

“Amara—“

“Ambilin air dong.”

Aku berdiri terlalu cepat dan hampir menjatuhkan piring lagi.


Aku pulang pukul lima.

Di teras, ibunya sedang menyapu.

“Bu, saya pulang.”

“Iya.”

Aku memakai sepatuku.

“Nak.”

Aku mengangkat wajah.

Ibunya berdiri memegang sapu, dan menatapku dengan cara yang aku kenal — cara ibuku menatapku, cara Pak Hendra menatapku, cara orang dewasa yang sudah melihat pola ini sebelumnya.

“Kamu baik,” kata beliau.

“Makasih, Bu.”

“Itu bukan pujian.”

Aku berhenti mengikat tali sepatu.

“Ibu punya anak perempuan yang dari kecil nggak pernah minta apa-apa,” kata beliau. “Nggak pernah nangis minta mainan. Nggak pernah bilang capek. Waktu pindah ke sini dan nggak punya teman, dia bilang nggak apa-apa, dia bilang dia suka sendiri.”

Beliau menyapu sekali, pelan.

“Ibu percaya,” kata beliau. “Empat tahun Ibu percaya.”

Sapu berhenti.

“Jadi kalau kamu juga orang yang nggak pernah minta apa-apa,” kata beliau, “kalian berdua bakal duduk di ruangan yang sama selama bertahun-tahun sambil nunggu yang satunya ngomong.”

Aku memandangi tali sepatuku.

“Bu.”

“Hm.”

“Gimana caranya minta?”

Dan ibunya — yang belum pernah bertemu aku sebelum minggu lalu, yang tidak punya kewajiban apa pun terhadapku — berkata:

“Kamu bilang aja apa yang kamu mau. Persis. Tanpa alasan.”

“Tanpa alasan?”

“Kalau kamu kasih alasan, kamu lagi minta izin.” Beliau kembali menyapu. “Itu beda.”


Aku pulang naik angkot.

Dan sepanjang jalan aku berlatih.

Aku mau kamu.

Terlalu besar.

Aku mau cium kamu.

Aku merasakan seluruh wajahku memanas di dalam angkot yang penuh dan seorang ibu-ibu menoleh ke arahku.

Aku mau duduk di sebelah kamu di kantin dan nggak mikirin siapa yang lihat.

Itu lebih dekat.

Aku sampai rumah pukul enam dan langsung ke kamar dan mengambil buku catatan sampul cokelat dan membukanya di halaman yang bertuliskan Hari ini — halaman yang sudah tiga minggu kosong.

Dan aku menulis, untuk pertama kalinya, sesuatu yang bukan tentang orang lain:

Rabu. Gue bolos Sejarah. Gue beli jeruk sekilo. Dia tidur di bahu gue satu jam dan tangan gue kesemutan dan gue nggak geser.

Gue hampir cium dia.

Gue mundur.

Alasannya bukan pintu kebuka.

Aku menatap empat baris itu.

Lalu aku menambahkan satu baris terakhir, dan menutup bukunya, dan tidak mengunci lacinya:

Dia ngangguk kayak orang nyentang daftar.