← Aku Duluan

Chapter Thirty Two

Aku Duluan

POV: Aris (orang pertama)


Aku tidak tidur hari Minggu.

Bukan dengan cara yang dramatis. Aku tidur pukul satu, bangun pukul tiga, dan setelah itu berbaring menatap langit-langit sampai azan subuh.

Dan selama dua jam itu, aku tidak menyusun satu kalimat pun.

Aku ingin mencatat itu karena itu adalah hal tersulit yang aku lakukan sepanjang cerita ini — lebih sulit daripada berdiri di aula, lebih sulit daripada berjalan ke rumahnya sembilan bulan lalu.

Setiap kali sebuah kalimat mulai terbentuk di kepalaku, aku membubarkannya.

Karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi kalau aku menyiapkan. Aku akan datang ke gerbang dengan sembilan versi tersusun rapi, dan aku akan berdiri di depannya, dan seluruh sembilan versi itu akan hilang, dan yang tersisa akan menjadi diam sepuluh detik yang sudah dua kali menghancurkan segalanya.

Jadi aku berbaring di kamar dan membubarkan setiap kalimat yang datang, satu per satu, selama dua jam, sampai yang tersisa cuma satu hal.

Satu hal yang tidak perlu disusun karena sudah benar sejak awal.


Aku sampai di sekolah pukul enam lewat empat puluh.

Gerbang sudah buka. Satpam menyapu halaman. Ada mungkin tiga puluh anak yang sudah datang — yang naik angkot pertama, yang piket, yang tidak punya tempat lain.

Aku berdiri di dekat pos satpam.

Dan aku menunggu.

Dan aku menyadari, sekitar pukul enam lewat lima puluh, bahwa ini pertama kalinya dalam dua tahun aku berdiri di gerbang sekolah tanpa perlu ke mana-mana.

Tidak membuka perpustakaan. Tidak membawa kardus. Tidak mengantar apa pun.

Berdiri saja.

Bagas lewat pukul enam lewat lima puluh lima, dan melihatku, dan langsung berhenti.

“Ris.”

“Pagi.”

“Lo ngapain?”

“Nunggu.”

Dia melihat gerbang. Melihat aku. Melihat gerbang lagi.

Dan lalu wajahnya melakukan sesuatu.

“Anjir,” katanya pelan. “Hari ini?”

“Iya.”

“Gue temenin—“

“Jangan.”

Bagas berhenti.

Dia menatapku beberapa detik. Lalu dia mengangguk, satu kali, dan berjalan masuk tanpa berkata apa-apa lagi.

Dan setelah lima langkah, tanpa menoleh, dia mengangkat satu tangan di atas kepalanya dan mengacungkan jempol.


Amara datang pukul tujuh kurang tiga menit.

Turun dari mobil di pelataran. Seragam. Rambut diikat rapi.

Wajah koridor.

Dia melihatku sebelum aku melihat dia, dan dia berhenti di tengah pelataran selama satu detik penuh sebelum berjalan.

Dia berhenti kira-kira dua meter dariku.

“Pagi.”

“Pagi.”

Anak-anak lewat di antara kami. Ada motor masuk. Satpam menyapu.

Ini bukan tempat yang bagus. Aku ingin mencatat itu.

Tidak ada hujan, tidak ada lapangan kosong, tidak ada koridor sepi. Cuma gerbang sekolah pukul tujuh kurang tiga pada hari Senin, dengan bunyi motor dan sapu dan tiga puluh anak yang lewat, dan tidak satu pun dari mereka yang tahu bahwa sesuatu sedang terjadi.

Amara memegang tali tasnya dengan dua tangan.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Dia berdiri di sana dan menunggu — dan itu bukan menunggu yang sabar, aku bisa melihatnya di rahangnya, dia sedang memaksa dirinya sendiri untuk tidak memulai.

Untuk pertama kalinya, dia tidak memulai.

Dan seluruh berat pagi itu ada padaku.


Aku maju satu langkah.

“Amara.”

“Ya.”

Bunyi motor. Bunyi sapu.

Dan aku tidak punya kalimat pembuka, dan tidak punya susunan, dan tidak punya alasan yang sudah disiapkan, dan tidak punya apa pun sama sekali kecuali satu hal yang aku bawa dari kamar pukul tiga pagi.

“Aku duluan.”


Amara tidak bergerak.

“Apa?”

“Aku duluan,” kataku lagi.

Dan aku melihat wajahnya berubah — bukan pelan, kali ini. Cepat. Seperti sesuatu yang jatuh.

“Ris—“

“Bukan sukanya,” kataku. “Sukanya kamu duluan. Februari kelas sepuluh. Kamu menang, dan kamu bakal menang selamanya, dan aku nggak akan pernah bisa ngejar itu.”

Anak-anak lewat.

“Tapi hari ini aku duluan,” kataku. “Kamu nggak nanya. Kamu nggak ngasih tanda. Kamu nggak pindah kursi, kamu nggak bikinin aku teh, kamu nggak nulis surat.”

Suaraku pecah dan aku terus bicara.

“Aku yang berdiri di sini jam tujuh kurang dua puluh,” kataku. “Aku yang nentuin jamnya. Aku yang mulai.”

Amara membuka mulut dan tidak ada apa-apa yang keluar.

“Dan aku mau kamu,” kataku.

Gerbang. Motor. Sapu.

“Bukan mau bantuin kamu. Bukan mau jagain kamu. Bukan mau bikin kamu nggak repot.” Aku menelan. “Aku mau kamu. Buat aku. Dan itu egois dan aku nggak punya alasan yang bagus dan aku nggak akan ngasih alasan.”

Aku memegang tali tasku.

“Karena kata ibu kamu, kalau aku kasih alasan, artinya aku lagi minta izin.”


Amara berdiri di pelataran dengan tas di depan tubuhnya.

Dan dia menangis — tanpa suara, tanpa mengangkat tangan untuk menutupinya, dengan cara orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu untuk sempat malu.

“Kamu tau nggak,” katanya, dan suaranya tidak keluar dengan benar. “Kamu tau nggak berapa lama—“

“Dua tahun tiga bulan,” kataku. “Aku ngitung.”

“Kamu nggak pernah ngitung.”

“Sekarang aku ngitung.”

Dia menutup wajahnya dengan satu tangan, sebentar, lalu menurunkannya.

“Ris.”

“Ya.”

“Ulang.”

“Apa?”

“Yang tadi.” Dia melangkah maju. “Ulang. Aku mau denger lagi.”

Dan aku berkata, di gerbang sekolah pada Senin pagi pukul tujuh kurang dua, dengan tiga puluh orang lewat dan satpam menyapu dan bel yang akan berbunyi dalam dua menit:

“Aku duluan.”


Dan Amara menutup jarak dua meter itu, dan aku menariknya, dan aku mencium dia.

Aku yang lebih dulu.

Sebentar, dan tidak indah, dan hidungnya menabrak hidungku karena tidak ada satu pun dari kami yang tahu cara melakukan ini, dan tasnya jatuh dari bahunya ke beton.

Tangannya di kerah seragamku.

Dan seluruh sisa dunia — gerbang, motor, sapu, tiga puluh anak yang sedang menoleh, bel yang berbunyi tepat pada saat itu — tidak ada di mana-mana sama sekali.


Aku memungut tasnya.

Amara menghapus wajahnya dengan lengan seragamnya, kasar, sekali, dan lalu tertawa karena riasan tipis di matanya sudah berantakan dan dia harus masuk kelas dalam empat menit.

“Aku ada rapat OSIS jam delapan.”

“Iya.”

“Aku bakal jelek.”

“Kamu bakal ketua OSIS yang jelek.”

“RIS—“

Dan dia memukul lenganku, dan itu pukulan pertama yang pernah aku terima dari siapa pun yang bukan Bagas, dan aku menyadari bahwa aku sedang tertawa.

Enam. Tujuh. Aku sudah berhenti menghitung.


Kami berjalan masuk lewat koridor timur, karena itu jalan ke kelas, dan karena tidak hujan sama sekali.

Di depan perpustakaan, aku berhenti.

“Bentar.”

Aku membuka kunci, masuk, dan menarik laci meja sirkulasi.

Di dalamnya ada payung biru tua dengan lakban hitam yang terkelupas di ujung gagang, dan sebuah formulir usulan yang dilipat dua kali dan tidak pernah dimasukkan ke kotak.

Aku mengambil payungnya.

Amara berdiri di ambang pintu.

“Kamu naruh itu di laci barang temuan?”

“Iya.”

“Tiga minggu?”

“Iya.”

Dia melipat tangannya. “Ris, itu punya kamu.”

“Iya.”

“Kenapa kamu taruh di laci barang temuan?”

Dan aku berdiri di perpustakaan pada Senin pagi memegang payung itu, dan aku memberikan jawaban yang jujur, karena aku sudah memutuskan bahwa aku akan mencoba memberikan jawaban yang jujur mulai sekarang, dan bahwa aku akan gagal berkali-kali dan mencoba lagi besok paginya.

“Karena aku belum siap punya barang,” kataku.

Amara memandangiku dari ambang pintu.

Lalu dia berjalan masuk, mengambil payung itu dari tanganku, dan memasukkannya ke tasnya.

“Sekarang punya aku,” katanya. “Aku pinjem.”

“Berapa lama?”

Dan dia berbalik ke pintu dan berkata, sambil berjalan:

“Lama.”


Perpustakaan buka pukul tujuh lewat sepuluh.

Aku menyalakan lampu, membuka tiga jendela, dan menyalakan kipas yang masih berdecit karena tidak ada yang pernah melaporkannya.

Dan di sudut ruangan, di dekat jendela sisi timur, ada kursi.

Satu kursi.

Aku memindahkannya minggu lalu, hari Kamis, setelah rapat kerja, tanpa memberi tahu siapa-siapa. Aku memindahkannya menghadap jendela dan tidak menaruh meja di depannya, dan aku tidak menaruh kursi kedua di sebelahnya.

Aku duduk di sana pagi itu selama kira-kira empat menit sebelum bel kedua.

Menghadap jendela. Sendirian. Tidak mengerjakan apa pun.

Dan itu bukan tempat untuk ditinggalkan.

Ternyata itu tempat di mana kamu bisa duduk tanpa harus berguna, dan pulang lagi, dan besok duduk lagi — dan aku baru mengerti perbedaannya setelah tujuh belas tahun, dan aku akan lupa lagi berkali-kali, dan aku akan kembali ke kursi itu dan mengingatnya lagi.

Pada hari Rabu, Pak Hendra menempel pengumuman di pintu kaca perpustakaan.

DIBUKA PENDAFTARAN PETUGAS PERPUSTAKAAN SISWA — 3 ORANG.

Ada sembilan yang mendaftar.


Malamnya aku membuka buku catatan sampul cokelat.

Aku melewati empat belas halaman tentang seseorang yang aku tulis dari bulan Agustus sampai bulan Mei, yang tidak pernah aku tunjukkan pada siapa pun dan tidak akan pernah, dan yang akan tetap ada di laci itu selama bertahun-tahun karena beberapa hal memang begitu.

Aku membuka halaman Yang gue mau.

Nomor satu sudah dicoret dan diganti dan dicoret lagi.

Nomor dua sudah selesai, di rumput pinggir lapangan, pada suatu Jumat sore.

Nomor tiga: Gue mau ada orang lain di perpustakaan itu selain gue.

Aku mengambil pena.

Dan aku menulis nomor empat, dan tulisannya jelek, dan aku tidak memperbaikinya:

4. Besok gue mau minta sesuatu lagi. Gue belum tau apa.

Aku menutup buku itu.

Aku menaruhnya di laci.

Dan aku tidak menguncinya.


— TAMAT —