Chapter Eleven
Pertanyaan yang Salah Jawab
POV: Aris (orang pertama)
Yang membongkar semuanya, pada akhirnya, adalah Nadia dan spreadsheet-nya.
Aku ingin menekankan bahwa Nadia sama sekali tidak bermaksud membongkar apa pun. Nadia adalah anak IPA 1 yang duduk di belakang Amara sejak kelas sepuluh, yang mencatat segala sesuatu yang terjadi di sekolah ini dengan ketekunan seorang sejarawan, dan yang menganggap seluruh kehidupan sosial angkatan kami sebagai sistem yang bisa dipetakan.
Dia membuka spreadsheet itu untuk Ekek pada hari Rabu, di kantin, dengan syarat Ekek membelikannya es teh.
Ekek membelikan.
Dan pada hari Kamis, Ekek datang ke lapangan futsal sepulang sekolah dengan wajah orang yang membawa berita perang.
Aku tahu ini karena Bagas menceritakannya padaku dua jam kemudian, di gang depan rumahku, sambil duduk di atas motornya yang dimatikan.
Aku baru pulang. Dia sudah ada di sana.
“Lo nunggu berapa lama?”
“Empat puluh menit.”
Aku berhenti berjalan.
Bagas tidak turun dari motor. Dia duduk menyamping, kaki dua-duanya di tanah, memegang helm di pangkuan.
Dan dia tidak tersenyum.
Bagas selalu tersenyum. Bahkan ketika dia marah pada wasit, bahkan ketika dia dapat nilai empat puluh, bahkan ketika dia gagal di belakang aula. Wajahnya punya posisi istirahat, dan posisi istirahat itu adalah senyum.
Hari itu tidak.
“Gue mau nanya.”
“Tanya.”
“Nggak di sini.” Dia menepuk jok belakang. “Naik.”
Kami berhenti di warung kopi di pinggir jalan besar, yang jam segitu isinya cuma tukang ojek dan satu bapak-bapak yang menonton televisi dengan volume tinggi.
Bagas memesan dua kopi tanpa bertanya aku mau apa.
Kami duduk di bangku panjang menghadap jalan.
“Ekek dapet spreadsheet-nya Nadia.”
“Gue tahu Ekek bakal dapet.”
“Isinya bukan apa yang lo kira.”
Aku menunggu.
Bagas memutar gelasnya di meja. Setengah putaran, balik lagi. Dia melakukannya persis seperti Amara memutar botol air, dan aku memperhatikan itu, karena aku selalu memperhatikan, dan aku membencinya.
“Nadia nggak nyatet siapa yang naksir siapa,” katanya. “Nadia nyatet siapa yang ngomong sama siapa. Berapa kali. Di mana.”
“Kenapa?”
“Karena dia bilang itu ‘data yang lebih jujur’.” Bagas tertawa satu kali, pendek, tanpa humor. “Anjir ya. Sekolah ini isinya orang gila semua.”
Sebuah truk lewat. Warungnya bergetar.
“Ekek nunjukin ke gue satu baris,” kata Bagas.
Dia mengeluarkan ponselnya. Membuka foto. Menaruhnya di meja di antara kami.
Foto layar laptop, miring, kualitas jelek. Tabel dengan tulisan sangat kecil.
Satu baris di-highlight kuning.
AMARA W. — interaksi >2 menit, di luar tugas — dan lalu sebuah kolom yang isinya, sejak bulan Agustus tahun lalu sampai minggu ini, memuat satu nama berulang-ulang dengan frekuensi yang membuat baris-baris di sekitarnya terlihat kosong.
Namaku.
Aku menatap tabel itu.
“Nadia bilang dia nggak sengaja,” kata Bagas. “Dia bilang dia nyatet semua orang, terus pas dia sorting, ini yang keluar.”
Televisi di warung menyiarkan iklan.
“Ris.”
“Hm.”
“Sejak Agustus.”
“Gue jaga perpustakaan,” kataku.
“Gue tahu lo jaga perpustakaan.”
“Dia dateng dua kali seminggu. Itu delapan kali sebulan. Setahun—“
“Ris.” Bagas menaruh telapak tangannya di meja. Tidak keras. “Gue nggak lagi nuduh lo apa-apa.”
Aku menutup mulut.
“Gue cuma mau nanya satu hal,” katanya. “Dan gue mau lo jawab jujur. Sekali doang. Abis itu gue nggak akan nanya lagi seumur hidup.”
Truk lain lewat.
“Tanya,” kataku.
Bagas menoleh menghadapku.
Dan wajahnya bukan wajah orang yang sedang menuduh. Itu yang paling sulit. Kalau dia marah, kalau dia curiga, kalau dia mengangkat suara — aku bisa bertahan di situ. Marah punya bentuk, dan aku pandai berdiri di depan bentuk.
Wajahnya adalah wajah orang yang takut pada jawaban dan sudah memutuskan untuk bertanya juga.
“Lo suka dia?”
Jalan besar. Klakson. Televisi. Seorang tukang ojek tertawa di belakang kami pada sesuatu di ponselnya.
Aku mengangkat gelas kopiku dan meminumnya, dan kopinya terlalu panas, dan aku menelannya tetap.
“Enggak,” kataku.
Bagas menatapku.
Dan aku tidak melihat ke bawah. Aku ingin ini dicatat, karena ini bagian yang paling memalukan dari seluruh hidupku: aku tidak melihat ke bawah, aku tidak gugup, tanganku tidak bergerak, suaraku tidak naik.
Vela benar. Orang bohong itu matanya bergerak.
Aku sudah terlalu lama percaya pada versiku sendiri untuk terlihat seperti orang bohong.
“Beneran?” kata Bagas.
“Beneran.”
“Karena kalau iya—“ Dia menarik napas. “Ris, dengerin gue. Kalau iya, lo bilang sekarang. Sekarang. Gue mundur. Gue nggak bakal ngomong apa-apa lagi soal dia. Selesai.”
“Bagas.”
“Gue serius.”
“Gue tahu lo serius.”
“Terus kenapa lo—“ Dia mengusap wajahnya. “Kenapa lo diem aja pas gue nanya? Kenapa lo minum dulu?”
“Karena kopinya panas.”
Bagas tertawa. Sungguhan kali ini, tapi pendek, dan berhenti terlalu cepat.
“Anjir lo,” katanya.
Dan aku melihat bahunya turun, dan aku melihat dia percaya, dan aku merasakan sesuatu yang seharusnya lega tapi tidak lega sama sekali.
“Gue cuma temen dia,” kataku. “Kayak gue temen semua orang yang ke perpustakaan.”
“Dia nggak ngobrol dua menit lebih sama orang lain, Ris.”
“Karena orang lain nggak jaga perpustakaan.”
Bagas mengangguk pelan.
“Iya,” katanya. “Iya, ya.”
Dia meminum kopinya.
“Terus menurut lo,” katanya, “kenapa dia sering ke sana?”
Dan ini pertanyaannya.
Ini pertanyaan yang, kalau aku jawab jujur, sisa cerita ini tidak akan pernah terjadi. Sama seperti di lorong rak 900-an. Sama seperti di perpustakaan hari Selasa. Semesta ternyata sangat sabar; ia terus membuka pintu yang sama berulang kali, dengan bentuk yang sedikit berbeda, sampai kamu benar-benar yakin tidak mau lewat.
“Karena perpustakaan itu satu-satunya tempat di sekolah ini di mana nggak ada yang ngeliatin dia,” kataku.
Bagas berhenti minum.
“Anjir.”
“Coba lo pikir. Di kantin, semua orang liat. Di koridor, semua orang liat. Di kelas dia ketua ini itu.” Aku memutar gelasku. “Perpustakaan tuh tempat orang dilarang natap orang lain.”
“Ris.” Bagas menaruh gelasnya. “Itu masuk akal banget.”
“Iya.”
“Itu masuk akal BANGET.” Dia menoleh, dan matanya sudah hidup lagi. “Berarti dia nggak ke sana buat lo. Dia ke sana buat sepi.”
“Iya.”
“Berarti gue tinggal—“ Dia mengetuk meja. “Berarti gue tinggal jadi orang yang nggak ngeliatin dia.”
Dan itu, kalau aku jujur pada diriku sendiri, adalah kesimpulan yang sangat baik. Itu kesimpulan yang cerdas dan penuh perhatian dan akan membuat Bagas jadi orang yang lebih baik untuk berada di dekat siapa pun.
Aku memberinya kesimpulan yang benar dari premis yang salah.
Itu keahlianku. Aku baru menyadarinya bertahun-tahun kemudian: aku tidak pernah berbohong dengan mengarang. Aku berbohong dengan memberikan sembilan puluh persen kebenaran dan menghilangkan sepuluh persen yang mengubah artinya.
“Iya,” kataku. “Kayak gitu.”
Bagas mengantarku pulang.
Di depan gang, dia mematikan mesin lagi. Kami duduk di sana beberapa saat.
“Ris.”
“Hm.”
“Sori gue nanya.”
“Nggak apa-apa.”
“Gue tuh mikir gini.” Dia memegang helm di pangkuannya. “Kalau gue nggak nanya, terus ternyata iya, terus gue baru tahu tiga bulan lagi — gue nggak akan bisa maafin diri gue. Bukan maafin lo. Maafin gue.”
Aku menatap gang yang gelap.
“Kenapa lo?”
“Karena gue yang minta,” katanya. “Gue yang dateng ke perpustakaan hari itu terus minta lo bantuin. Gue nggak nanya lo mau atau enggak. Gue cuma minta, terus lo bilang iya, kayak biasa.”
Ada motor lewat di jalan besar.
“Lo selalu bilang iya, Ris.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Sejak SMP.” Bagas memasang helmnya, lalu melepasnya lagi, gerakan tanpa tujuan. “Gue minta lo ajarin Matematika, lo iya. Gue minta lo temenin ke rumah sakit pas nenek gue sakit, lo iya. Gue minta lo bohong ke bokap gue soal gue nggak les, lo iya.”
“Itu semua gampang.”
“Iya, tapi lo nggak pernah minta balik.”
Aku memandangi tanganku.
“Gue nggak butuh apa-apa,” kataku.
Dan Bagas menoleh, dan dia menatapku cukup lama sampai aku harus melihat ke arah lain.
“Itu yang bikin gue takut,” katanya.
Dia menghidupkan motornya.
“Gas.”
“Apa?”
Dan aku hampir. Aku benar-benar hampir.
Ada satu detik di mana kalimat itu ada di mulutku dengan bentuknya yang lengkap dan aku bisa merasakan beratnya di lidah.
Lalu aku memikirkan pintu kamarku, dan empat hari, dan seorang anak SMP yang berdiri di teras berkata ayo main.
“Hati-hati di jalan,” kataku.
Dia mengacungkan jempol dan pergi.
Malam itu aku membuka laci.
Buku catatan sampul cokelat. Halaman PROYEK A.
Aku membacanya dari awal. Tiga tahap. Daftar profil. Catatan-catatan kecil yang aku tulis selama berminggu-minggu, dengan tulisan yang rapat dan rapi, di halaman yang sudah mulai bergelombang di pinggir karena tangan yang berkeringat.
Selasa dan Kamis, istirahat kedua.
Meja pojok. Dua buku, satu ditumpuk sebagai pagar.
Melepas ikatan rambut setelah bel.
Menulis di pinggir halaman dengan pensil. Selalu dihapus sebelum dikembalikan.
Termos. Jahe, gula merah, serai. Bikin sendiri karena “kalau ribet, berasa dihargai”.
Nggak suka tokoh sempurna. Alasan: capek.
Kursi menghadap jendela. Satu, bukan dua.
Kamis. Hujan. Menunggu jemputan 40 menit di koridor timur.
Aku membacanya sampai halaman terakhir.
Lalu aku membacanya lagi dari awal.
Dan di suatu tempat di pembacaan kedua, aku menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin dengan cara yang tidak dramatis sama sekali — dingin yang pelan, seperti orang yang menyadari bahwa dia sudah lama tidak mendengar suara di rumah.
Tidak ada satu pun catatan di buku ini yang berguna untuk Bagas.
Tidak satu pun.
Bagas tidak perlu tahu bahwa Amara menghapus tulisan pensilnya sebelum mengembalikan buku. Bagas tidak akan pernah bisa memakai fakta bahwa dia melepas ikatan rambutnya setelah bel. Tidak ada strategi yang bisa dibangun dari mana dia menaruh pagar bukunya.
Aku menulis semua ini untuk Bagas.
Aku memberikan Bagas empat poin.
Sisanya — empat belas halaman, dengan tulisan rapat, dengan tanggal — aku simpan.
Aku menutup buku catatan itu.
Aku duduk di meja kamar dengan tangan di atas sampulnya untuk waktu yang cukup lama.
Lalu aku melakukan hal yang sama seperti selalu.
Aku bilang pada diri sendiri: ini cuma kebiasaan mencatat.
Aku bilang: gue emang gitu, gue nyatet semua hal.
Aku bilang: gue nyatet nomor rak, gue nyatet buku rusak, gue nyatet siapa yang telat balikin. Ini nggak beda.
Dan aku hampir percaya.
Itu bagian yang paling menakutkan. Bukan bahwa aku berbohong pada Bagas di warung kopi.
Tapi bahwa setelah bertahun-tahun latihan, aku hampir tidak butuh usaha lagi untuk berbohong pada satu-satunya orang yang tidak akan pernah bisa aku hindari.
Aku memasukkan buku itu ke laci.
Aku memutar kuncinya.
Lalu aku duduk di tepi tempat tidur dan menyadari bahwa tanganku gemetar, dan bahwa aku tidak tahu kapan itu mulai.
- 1 Permintaan yang Tidak Bisa Kutolak
- 2 Rencana Pertama dan Kegagalan Pertama
- 3 Selasa dan Kamis
- 4 Daftar yang Salah Alamat
- 5 Termos yang Salah Terima
- 6 Kerja Kelompok Lintas Kelas
- 7 Yang Tidak Kuingat
- 8 Dua Menit di Belakang Aula
- 9 Satu Setengah Tahun
- 10 Rak 800
- 11 Pertanyaan yang Salah Jawab reading
- 12 Prasangka
- 13 Lapangan Upacara
- 14 Senin
- 15 Empat Belas Halaman
- 16 Sekarang Kamu
- 17 Minggu Pertama
- 18 Bawa Diri Kamu Aja
- 19 Kok Dia
- 20 Payung
- 21 Bimo
- 22 Tiga Puluh Delapan Koma Empat
- 23 Sembilan Belas Menit
- 24 Yang Vela Simpan
- 25 Yang Kudengar dari Balik Pintu
- 26 Kering Sendirian
- 27 Sepeda
- 28 Ruang Ganti
- 29 Empat Hari
- 30 Saya Butuh Orang
- 31 Lapangan yang Sama
- 32 Aku Duluan