← Aku Duluan

Chapter Twenty Eight

Ruang Ganti

POV: Amara — orang ketiga terbatas


Ruang ganti perempuan di dekat aula adalah satu-satunya ruangan di sekolah itu yang tidak punya jendela.

Amara sudah lama menyadari itu, dan sudah lama menyadari bahwa itulah alasan dia selalu kembali ke sana. Bukan karena nyaman — lantainya dingin, ada bau kapur barus dari lemari yang tidak pernah dibuka, dan salah satu keran wastafelnya menetes sejak kelas sepuluh.

Tapi tidak ada jendela.

Dan seluruh sisa sekolah itu terbuat dari jendela.


Vela datang pukul setengah empat, membawa dua kotak susu dari kantin dan tidak berkata apa-apa selama tiga menit penuh.

Dia duduk di lantai, bersandar ke lemari, dan meletakkan satu kotak di sebelah kaki Amara.

Amara tidak mengambilnya.

“Aku nggak lagi minta maaf,” kata Vela akhirnya.

“Bagus.”

“Aku sudah minta maaf dua jam bulan lalu dan itu nggak ngasilin apa-apa.”

“Iya.”

Keran menetes.

“Aku cuma mau duduk,” kata Vela.

Amara menatap lantai keramik yang dingin.

“Oke,” katanya.


Mereka duduk selama kira-kira sepuluh menit tanpa bicara.

Ini bukan hal yang aneh bagi mereka. Selama dua tahun, sebagian besar persahabatan mereka terbuat dari diam — Vela yang tidak butuh mengisi ruangan, Amara yang lelah mengisi ruangan sepanjang hari.

Dulu itu terasa seperti istirahat.

Sekarang Amara duduk di lantai ruang ganti dan menyadari bahwa selama dua tahun dia telah menganggap diam itu sebagai bentuk kepercayaan.

Dan ternyata sebagian dari diam itu adalah tempat Vela menyimpan sesuatu.

“Vel.”

“Hm.”

“Aku mau nanya satu hal dan aku mau kamu jawab tanpa mikirin gimana perasaan aku.”

“Oke.”

Amara mengangkat kepalanya dari lemari.

“Kamu pernah seneng waktu aku sedih?”

Keran menetes.

Vela tidak menjawab selama beberapa detik, dan Amara menghargainya untuk itu — karena orang yang menjawab cepat biasanya sedang menjawab pertanyaan yang lain.

“Iya,” kata Vela.

Amara menutup matanya.

“Bukan seneng,” kata Vela. “Aku nggak pernah seneng lihat kamu nangis. Aku benci lihat kamu nangis; aku pengin mukul sesuatu tiap kali.”

Dia memutar kotak susunya di tangan.

“Tapi ada bagian di dalem aku yang lega,” katanya. “Karena waktu kamu nangis, kamu nyari aku.”

Amara membuka matanya.

“Dan waktu kamu seneng,” kata Vela, “kamu nggak nyari siapa-siapa. Kamu cukup sendiri.”


Amara memikirkan itu.

Dia memikirkannya lebih lama dari yang nyaman, karena dia sudah lama memutuskan bahwa dia tidak akan menjadi orang yang menjawab tanpa memeriksa.

Dan yang dia temukan, ketika dia memeriksa, adalah bahwa Vela benar.

Dia tidak pernah sekali pun mengirim pesan pada Vela untuk mengatakan bahwa harinya bagus.

Dua tahun.

Setiap kali dia menghubungi Vela lebih dulu, selalu ada sesuatu yang rusak.

“Vel.”

“Hm.”

“Aku juga.”

Vela menoleh.

“Aku juga pernah gitu,” kata Amara. “Bukan sama kamu. Sama ibu aku.”

Dia menarik lututnya ke dada.

“Waktu kelas sepuluh, pas aku baru pindah dan nggak punya teman, ibu aku nanya tiap hari, ‘gimana sekolahnya.’ Tiap hari, dua minggu.” Dia menatap keran yang menetes. “Dan tiap hari aku bilang seru.”

“Kenapa?”

“Karena kalau aku bilang aku sendirian, ibu aku bakal nyalahin dirinya sendiri soal pindahan itu.” Amara mengangkat bahu. “Jadi aku bilang seru. Terus dia berhenti nanya di minggu ketiga.”

Keran.

“Dan aku marah,” kata Amara. “Aku marah banget dia berhenti nanya. Padahal aku yang bikin dia berhenti.”

Dia menoleh ke Vela.

“Aku ngelakuin persis yang Aris lakuin,” katanya. “Dan aku baru sadar sekarang, dan itu bikin aku pengin muntah.”


Vela membuka kotak susunya. Menusuk sedotannya. Tidak minum.

“Kamu masih marah sama aku?”

“Iya.”

“Berapa lama lagi?”

“Aku nggak tau,” kata Amara. “Mungkin lama. Mungkin sampai lulus.”

“Oke.”

“Tapi aku nggak akan pergi.”

Vela menoleh cepat.

“Aku sudah mikirin ini tiga minggu,” kata Amara. “Aku mikirin apa yang bakal aku lakuin kalau ini terjadi ke orang lain. Kalau ada yang cerita ke aku, ‘sahabatku nyimpen suratku satu setengah tahun,’ aku bakal bilang: putus. Tinggalin. Itu jelas.”

Dia menyandarkan kepalanya ke lemari.

“Terus aku sadar aku bakal ngasih nasihat itu karena aku belum pernah punya sahabat sebelum kamu.”

Keran menetes.

“Orang yang punya banyak teman bisa buang satu,” kata Amara. “Aku nggak punya banyak, Vel. Aku punya satu. Dan aku tau itu bikin aku kelihatan lemah, dan aku nggak peduli.”

“Itu bukan alasan yang bagus buat maafin orang.”

“Aku belum maafin kamu.”

Vela mengerjap.

“Aku bilang aku nggak akan pergi,” kata Amara. “Itu beda.”

Dan Vela — untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan itu — tertawa. Satu embusan, pendek, jelek.

“Anjir,” katanya. “Kamu jago debat.”

“Aku ketua OSIS sekarang.”

“Aku tau. Aku yang bikin poster kamu.”

“Poster kamu jelek.”

“Poster aku menang dua ratus enam belas suara.”


Mereka duduk lagi.

Dan setelah beberapa saat, Vela berkata — dengan nada yang berusaha keras terdengar biasa, dan gagal:

“Dia minta ketemu aku.”

Amara tidak bergerak.

“Kemarin,” kata Vela. “Dia minta maaf.”

“Ke kamu?”

“Iya. Aku bilang dia nggak salah apa-apa ke aku.” Vela menyedot susunya. “Terus dia jelasin kenapa dia salah, dan penjelasannya bener, dan aku kesel banget.”

Amara menatap lantai.

“Dia bilang dia diem waktu aku bikin jadwal hari Sabtu itu,” kata Vela. “Dan karena dia diem, aku pulang ngerasa menang. Dan kemenangan itu yang bikin aku makin yakin buat nyimpen surat kamu.”

Keran menetes.

“Dia bilang dia yang ngasih aku kemenangan itu.”

Amara menutup matanya.

“Vel.”

“Hm.”

“Jangan cerita soal dia.”

“Oke.”

“Aku serius.”

“Oke.”

Jeda.

“Dia gimana?”

Vela menoleh dengan tatapan paling datar yang pernah dia berikan pada siapa pun seumur hidupnya.

“Kamu barusan bilang jangan cerita.”

“Aku tau apa yang aku bilang.”

“Dua detik yang lalu.”

“AKU TAU APA YANG AKU BILANG.”

Dan Amara menutup wajahnya dengan dua tangan, dan Vela mulai tertawa, dan lalu Amara ikut tertawa dari balik tangannya, dan lalu tawa itu berubah bentuk di suatu tempat di tengah jalan dan berhenti jadi tawa.

Vela bergeser di lantai dan meletakkan tangannya di punggung Amara.

Dia tidak bilang apa-apa.

Itu satu hal yang selalu Vela lakukan dengan benar.


“Aku bukan ninggalin dia,” kata Amara, setelah beberapa saat, dengan suara yang serak.

“Aku tau.”

“Aku bilang aku berhenti nunggu. Itu beda.”

“Kamu terus bilang ‘itu beda’ hari ini.”

“Karena emang beda.” Amara mengusap wajahnya. “Vel, kamu tau nggak aku ngapain dua tahun tiga bulan?”

“Nunggu.”

“Bukan cuma nunggu.” Dia menurunkan tangannya. “Aku ngasih tanda. Aku pindah meja, aku pindah kursi, aku bikinin teh, aku pinjem payung terus nggak balikin, aku nulis surat.”

Dia menatap keran.

“Dan tiap kali, aku bilang ke diri aku sendiri: kalau dia sadar sendiri, artinya beneran.”

Vela diam.

“Itu bohong,” kata Amara. “Aku baru sadar minggu lalu. Aku nggak nunggu dia sadar. Aku nunggu dia yang ngomong lebih dulu, supaya kalau gagal, yang malu bukan aku.”

Keran menetes.

“Dua tahun tiga bulan aku nyusun sesuatu yang bentuknya kayak kesabaran,” katanya, “padahal isinya takut.”

“Amara—“

“Dan yang paling parah,” katanya, “aku marah sama dia karena dia nggak berani minta apa-apa.”

Dia menoleh ke Vela.

“Aku juga nggak pernah minta, Vel. Aku cuma ngasih tanda selama dua tahun terus marah karena nggak dibaca.”


Vela meletakkan kotak susunya di lantai.

“Terus kenapa kamu berhenti?”

“Karena satu-satunya cara aku bisa berhenti jadi orang yang nunggu,” kata Amara, “adalah berhenti nunggu.”

Dia menyandarkan kepalanya ke lemari.

“Aku bisa aja tetap di situ. Aku bisa aja terus di sebelah dia sambil ngeliatin dia mundur pelan-pelan, dan aku bakal bilang ke diri aku sendiri bahwa aku sabar, dan aku bakal bilang itu selama tiga tahun.”

“Dan kamu bakal jadi apa?”

“Aku bakal jadi orang yang seluruh hidupnya nunggu satu orang buka pintu,” kata Amara. “Dan aku nggak mau jadi orang itu. Bukan karena dia nggak layak. Karena aku nggak mau jadi orang itu.”

Keran menetes.

“Itu pertama kalinya,” kata Vela.

“Apa?”

“Itu pertama kalinya kamu ngomongin sesuatu yang kamu mau,” kata Vela, “tanpa ngomongin dia.”

Amara menoleh.

Dan mereka duduk di lantai ruang ganti tanpa jendela itu, dengan dua kotak susu dan keran yang menetes sejak kelas sepuluh.

“Vel.”

“Hm.”

“Kalau dia dateng,” kata Amara, “aku nggak akan langsung iya.”

“Aku tau.”

“Aku bakal nyuruh dia ngomong. Beneran ngomong. Bukan ngasih tanda, bukan nulis, bukan ngerjain sesuatu buat aku.”

“Bagus.”

“Dan kalau dia nggak dateng—“

Dia berhenti.

Vela menunggu.

“Kalau dia nggak dateng,” kata Amara, dan suaranya sangat pelan, “aku bakal baik-baik aja.”

Dia mengucapkannya dengan nada seseorang yang sedang berlatih.

Dan Vela — yang mengenalnya dua tahun, yang tahu bentuk suaranya waktu berbohong dan bentuk suaranya waktu memaksa dirinya sendiri — tidak mengoreksinya.

Dia hanya menggeser lebih dekat dan menyandarkan bahunya ke bahu Amara.

“Iya,” kata Vela. “Kamu bakal baik-baik aja.”

Keran menetes.

Dan di luar ruangan tanpa jendela itu, sekolah terus berbunyi seperti biasa — bel, langkah kaki, seseorang tertawa di koridor — dan tidak ada satu orang pun di dalamnya yang tahu bahwa dua perempuan sedang duduk di lantai yang dingin sambil belajar hal yang sama dari arah yang berlawanan.