Chapter Nine
Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
POV: Arie
Pesan itu masuk hari Jumat malam, jam sebelas lewat delapan.
Pak, besok setelah tukang pulang, bisa ngobrol sebentar di rumah Eyang? Ada yang mau saya tanya. Bukan soal rumah.
Aku membacanya di sofa apartemen dengan lampu yang hanya menyala setengah. Lalu aku meneruskannya ke Jojo, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Jojo membalas dalam empat detik.
BANG.
BANG INI DIA.
Kecurigaan klien: 9,5. Sudah kubilang lewat 7 Abang harus ngaku.
Atau pindah negara. Aku bisa cariin tiket ke Selandia Baru. Di sana banyak domba. Domba warnanya putih, Abang aman.
Aku meletakkan ponsel di dada dan menatap langit-langit.
Aku sudah tahu sejak rapat itu. Sejak tangannya terulur di atas meja dan ia bilang biar Bapak nggak usah cari alasan. Orang yang belum menebak tidak akan bicara seperti itu. Ia sudah menebak sesuatu. Mungkin bukan semuanya. Tapi cukup.
Dan aku, yang selama dua puluh tiga tahun ahli membuat orang percaya bahwa aku tidak butuh warna, tidak punya satu pun cara untuk berpura-pura di depannya. Setiap kali tangannya ada di tanganku, wajahku berubah. Aku tahu itu. Jojo bilang wajahku waktu itu seperti anak kecil yang dikasih es krim, dan setelah tangannya lepas, seperti anak kecil yang es krimnya jatuh.
Oke, ketikku ke Sabrina. Saya datang.
Sabtu sore, Jalan Kenari.
Tukang pulang jam empat. Pak Darto pamit dengan senyum penuh arti yang sudah ia pakai sejak insiden tegel dua minggu lalu. Eyang Ratih tiba-tiba ingat harus menjenguk tetangga di ujung jalan, padahal setahuku ia baru menjenguknya kemarin.
Gerimis turun, tipis, seperti biasa di Bogor jam segini. Kami duduk di teras rumah utama yang sedang direnovasi, di atas dua kursi plastik di antara tumpukan genteng baru dan karung semen. Sabrina membawa kotak kardus kecil yang ia letakkan di pangkuannya.
Ia tidak memakai jaket hari ini. Lengan kausnya pendek. Aku menyadarinya dan langsung merasa bersalah karena menyadarinya.
“Pak,” katanya.
“Ya.”
Ia menatap kotak di pangkuannya. Lalu menatapku. Lalu menarik napas panjang, seperti orang yang mau terjun ke kolam dingin.
“Bapak bisa lihat warna, nggak?”
Gerimis jatuh di genteng. Seekor burung di pohon kenari berkicau sekali, lalu diam.
Aku sudah menyiapkan banyak jawaban sejak tadi malam. Jawaban yang lucu, jawaban yang mengelak, jawaban yang setengah benar. Aku sudah berlatih di kamar mandi tadi pagi. Tentu saya bisa, saya arsitek. Mata saya memang sedikit bermasalah, tapi tidak serius. Kenapa Anda bertanya begitu?
“Tidak,” kataku.
Ia diam.
“Saya tidak bisa melihat warna,” kataku lagi, karena kalimat pertama terdengar terlalu pendek untuk sesuatu yang sudah kusimpan begitu lama. “Sama sekali. Semua yang saya lihat abu-abu. Terang dan gelap. Seperti film hitam-putih.”
“Sejak kapan?”
“Sejak kecil.”
“Kenapa?”
“Jatuh.” Aku menatap lantai teras, tegel krem dan hijau yang hanya bisa kulihat sebagai pola terang-gelap. “Waktu kecil. Dokter bilang bagian otak yang mengolah warna tidak bekerja lagi. Permanen. Ceritanya membosankan. Saya juga tidak ingat banyak.”
Jatuh. Itu kata yang dipakai keluargaku selama dua puluh tiga tahun. Waktu kamu jatuh dulu. Seolah-olah aku terpeleset di kamar mandi. Itu bohong, setengahnya. Aku tidak ingat banyak, itu benar. Tapi ceritanya tidak membosankan. Ceritanya adalah hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk Jojo, karena setiap kali mencoba, yang muncul hanya bunyi besi dan rasa mual. Jadi aku memilih jawaban pendek. Aku selalu memilih jawaban pendek.
“Terus,” kata Sabrina pelan, “kenapa Bapak tahu ayunan itu merah?”
Aku mengangkat kepala.
Ia menatapku dengan mata yang sudah tahu jawabannya, tapi ingin mendengarnya dari mulutku.
“Karena waktu itu saya sedang memegang tangan Anda,” kataku. “Kalau saya menyentuh kulit Anda, saya bisa melihat warna. Semua warna. Normal. Seperti orang lain. Begitu dilepas, hilang lagi. Sekitar tiga detik.”
Hening.
Lalu Sabrina tertawa.
Bukan tawa mengejek. Tawa yang pendek, kaget, dan sedikit gemetar, seperti tawa orang yang baru saja mendengar sesuatu yang terlalu besar untuk masuk ke kepalanya. Ia menutup mulut dengan satu tangan.
“Bapak bercanda,” katanya dari balik jari-jarinya.
“Saya tidak pernah bercanda.”
“Itu kata Mas Jojo juga.”
“Mas Jojo benar.”
Ia menurunkan tangannya. Matanya menyipit. “Ini modus, kan? Ini modus paling ribet yang pernah saya dengar. Bapak bikin cerita dramatis biar bisa pegang tangan saya terus.”
“Kalau ini modus,” kataku, “saya sudah ketahuan dua minggu lalu. Saya tidak perlu cerita sepanjang ini.”
Ia membuka mulut. Menutupnya lagi.
Lalu ia meletakkan kotak kardus itu di atas karung semen di antara kami, membukanya, dan aku melihat isinya: puluhan kartu swatch cat, yang pasti ia ambil dari toko Reza. Setiap kartu sudah ditempeli selotip kertas di bagian belakang, menutupi kode dan nama warnanya.
“Saya sudah siapin,” katanya. Suaranya sedikit bergetar. “Semalam. Saya tutup semua kodenya. Saya nggak tahu buat apa, saya cuma... saya cuma mau tahu.”
“Tes,” kataku.
“Tes.”
Aku hampir tersenyum. Ia sudah menebak semuanya, cukup untuk menyiapkan alat ujinya sendiri. “Silakan.”
Ia mengocok kartu-kartu itu seperti kartu remi, lalu mengambil satu dan menunjukkannya padaku. Sisi warnanya. Ia sendiri melihat sisi belakang yang tertutup selotip.
“Ini warna apa?”
Aku menatap kartu itu. Abu-abu sedang. Nilai terangnya sekitar lima puluh persen. Tidak ada informasi lain.
“Tidak tahu,” kataku. “Kalau harus menebak, merah. Atau hijau. Atau biru tua yang terang. Nilai terangnya mirip semua.”
Ia membalik kartu itu dan mengintip di balik selotip. Wajahnya berubah.
“Ungu,” katanya. “Ungu lavender.”
Ia mengambil kartu berikutnya. Aku menebak hijau. Itu oranye. Kartu berikutnya, aku menebak kuning karena terang sekali. Itu memang kuning. Kartu berikutnya, aku menebak abu-abu. Itu merah muda pucat. Sepuluh kartu, tiga benar. Semua tebakan beruntung.
Sabrina meletakkan kartu kesepuluh di pangkuannya dan menatapku lama.
“Sekarang,” katanya, “pegang tangan saya.”
Ia mengulurkan tangan kirinya. Aku menyambutnya.
Teras meledak.
Tegel krem dan hijau. Genteng baru yang oranye segar di tumpukan, karung semen abu-abu (yang memang abu-abu, ternyata), pohon kenari, ayunan merah, langit sore Bogor yang kelabu kebiruan di balik gerimis. Dan di pangkuan Sabrina, di kotak kardus, di tangannya, puluhan kartu warna seperti kebun bunga yang dipotong-potong.
Ia mengocok kartu dengan satu tangan, canggung, lalu mengangkat satu.
“Hijau zaitun,” kataku. “Agak kekuningan. Seperti yang Reza tawarkan tiga tahun berturut-turut.”
Ia mengintip di balik selotip.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat kartu berikutnya.
“Biru kobalt.”
Berikutnya.
“Salmon. Itu oranye yang mau jadi merah muda tapi ragu.”
Berikutnya.
“Kuning mustard. Terlalu gelap untuk kamar Anda.”
Berikutnya. Berikutnya. Berikutnya.
Dua puluh kartu. Ia mengangkat dan aku menyebut, dan ia mengintip di balik selotip setiap kali, dan setiap kali tangannya di tanganku menggenggam sedikit lebih erat. Aku tidak menebak. Aku tidak perlu menebak. Aku hanya melihat, dan mengatakan apa yang kulihat, seperti orang normal yang membacakan huruf di papan.
Di kartu kedua puluh, warnanya merah. Merah yang sangat terang, merah yang hampir menyakitkan mata, merah seperti darah kecil di ujung jarinya di gudang dulu.
“Merah,” kataku. “Merah cabai. Tapi...”
Aku berhenti, karena tangannya gemetar.
Aku mengangkat pandangan dari kartu itu ke wajahnya. Dan dalam warna, wajahnya adalah sesuatu yang belum pernah kulihat. Matanya merah di pinggir, berkaca-kaca. Pipinya basah. Hidungnya merah muda. Bibirnya bergetar, terbuka, tertutup, seperti mau tertawa dan menangis di saat yang sama dan tidak bisa memutuskan yang mana.
Lalu ia melakukan keduanya.
Ia tertawa, tawa pecah yang bergetar, dan air matanya jatuh sekaligus. Ia menunduk, bahunya berguncang, tangan kanannya menutup mulut, dan tangan kirinya, yang di tanganku, menggenggamku sangat erat sampai jari-jariku sakit.
“Ya Tuhan,” katanya di antara tawa dan isak. “Ya Tuhan, Pak. Bapak... Dua puluh dari dua puluh. Dua puluh. Ini beneran. Ini beneran.”
“Sabrina.”
“Maaf. Maaf, saya nggak tahu kenapa saya nangis.” Ia menyeka matanya dengan punggung tangan kanan, lalu tertawa lagi. “Saya nggak sedih. Saya cuma... Bapak tahu apa yang saya pikirin? Saya pikirin langit. Waktu itu di ayunan. Bapak lihat langit kayak orang yang belum pernah lihat langit, dan saya kira Bapak lebay. Ternyata Bapak beneran belum pernah lihat.”
“Sudah lama sekali,” kataku.
Ia menangis lebih keras.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah tahu harus berbuat apa saat orang menangis. Aku hanya duduk di kursi plastik itu, memegang tangannya, dan menunggu. Gerimis berubah jadi hujan sungguhan. Air jatuh dari tepi genteng di depan kami seperti tirai kaca, dan di balik tirai itu, kebun dan pohon kenari dan ayunan merah semuanya menjadi lukisan cat air yang basah.
Setelah beberapa lama, tangisnya mereda. Ia menarik ingus dengan sangat tidak anggun, tertawa malu, dan menatapku dengan mata yang bengkak.
“Kenapa saya?” tanyanya. “Kenapa cuma saya?”
“Saya tidak tahu.”
“Bapak udah coba orang lain?”
“Jojo. Ibu saya. Resepsionis. Kasir minimarket. Seorang bapak di lift yang sekarang mungkin mengira saya aneh.” Aku menghela napas. “Hanya Anda.”
Ia diam lama. Ibu jarinya bergerak di punggung tanganku, pelan, tanpa sadar, seperti sedang menggambar sesuatu.
“Pak,” katanya akhirnya. “Kaus kaki Bapak di rapat Senin kemarin nggak sepasang.”
Aku menatapnya.
“Yang kiri hitam,” lanjutnya. “Yang kanan biru dongker.”
Aku menunduk dan menatap kakiku sekarang. Kaus kaki hari ini, untungnya, dua-duanya putih. Aku memastikannya tiga kali tadi pagi.
“Saya tidak punya label untuk kaus kaki,” kataku.
Ia tertawa lagi. Tawa yang lebih ringan sekarang, tawa yang lega, dan aku merasakannya di tangannya.
Aku menyampaikan tawaran itu sebelum keberanianku habis.
“Saya mau mengajukan sesuatu,” kataku. “Profesional.”
Ia mengangkat alis.
“Selama proyek ini,” kataku, “saya butuh melihat warna dengan benar. Ini rumah Anda. Setiap warna di sini akan Anda lihat seumur hidup. Saya tidak mau salah, dan saya tidak bisa terus bergantung pada Jojo dan kode di belakang kartu.” Aku menelan ludah. “Jadi saya mau minta izin. Secara resmi. Untuk memegang tangan Anda saat kita memutuskan warna. Terjadwal. Dengan batas yang jelas. Dan saya akan membayar waktunya, sebagai konsultan.”
Ia menatapku lama.
“Bapak mau bayar saya,” katanya pelan, “buat pegangan tangan.”
“Sebagai konsultan warna.”
“Konsultan pegangan tangan.”
“Kalau Anda mau menyebutnya begitu.”
Ia tertawa lagi, kali ini sambil memijat pelipisnya. “Pak, ini kedengarannya sangat salah kalau diucapkan keras-keras.”
“Saya tahu.”
“Kalau Eyang dengar, Bapak bisa dipukul sapu lidi.”
“Saya juga tahu.”
Ia menatap tangan kami. Lalu menatap hujan. Lalu menatapku.
“Saya pikir-pikir dulu soal kontraknya,” katanya. “Saya mau bahas sama Tari. Dia editor, dia teliti soal pasal-pasal.”
“Wajar.”
“Tapi sementara itu,” katanya, dan sebelum aku sempat bertanya, ia melepaskan tanganku.
Warna surut. Hujan kehilangan kilaunya. Genteng oranye jadi abu.
Lalu ia mengangkat tangan kanannya dan mengulurkan jari kelingkingnya padaku. Hanya kelingking.
“Ini dulu,” katanya. “Sementara kontraknya disusun. Kelingking aja. Biar nggak terlalu...” Pipinya berubah. “...terlalu kayak pacaran.”
Aku menatap kelingking itu. Lalu, pelan, aku mengaitkan kelingkingku di kelingkingnya.
Warna kembali, lebih lembut kali ini, seperti cahaya yang lewat celah. Kami duduk berdampingan di dua kursi plastik di teras rumah yang setengah jadi, kelingking terkait di udara di antara kami, menonton hujan yang sekarang punya warna lagi.
Kami duduk seperti itu sampai hujan reda.
Ketika Eyang akhirnya pulang dari “menjenguk tetangga” dan memanggil dari jalan, Sabrina melepaskan kelingkingnya dan berdiri cepat-cepat sambil menyeka sisa air mata.
Aku menekan stopwatch di ponsel di sakuku.
Langit memudar. Pohon kenari memudar. Ayunan memudar.
Enam detik.
Aku menatap angka itu di layar sampai Eyang sampai di pagar dan bertanya kenapa mata cucunya bengkak dan apa yang sudah kulakukan.
Enam detik. Dua kali lebih lama dari biasanya.
Aku tidak tahu kenapa. Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, aku tidak merasa perlu tahu.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun reading
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari