← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Nineteen

Kamu Hari Ini Warnanya Apa

POV: Arie

Bicara dengan aku dan kamu ternyata lebih sulit dari menghitung beban kuda-kuda.

Aku mencobanya sejak malam itu, sejak lampu kertas dan Pak Darto yang membuang ingus di teras. Di WhatsApp, aku mengetik aku, menghapusnya, mengetik saya, menghapusnya, mengetik aku lagi, dan menatapnya lama sekali sebelum menekan kirim. Jojo, yang memergokiku melakukan ini di pantry, bilang aku kelihatan seperti orang yang sedang menjinakkan bom.

“Abang tinggal ketik, Bang. Aku. A-K-U. Tiga huruf.”

“Aku tahu ejaannya, Jo.”

“Abang udah tiga puluh satu tahun. Abang pernah pacaran, kan?”

Aku tidak menjawab.

Jojo meletakkan cangkir kopinya dengan sangat pelan. “Bang.”

“Sekali. Waktu kuliah. Empat bulan.”

“Kenapa putus?”

“Dia bilang aku tidak pernah bicara.” Aku menatap layar ponselku. Aku sudah sampai studio. Kamu sudah makan? Delapan kata. Aku sudah menatapnya sepuluh menit. “Dia benar.”

Jojo menatapku lama. Lalu ia mengambil ponselku dari tanganku, menekan kirim, dan mengembalikannya.

“Sudah,” katanya. “Sama-sama.”


Sabrina membalas dua menit kemudian. Udah. Nasi uduk. Kamu?

Kamu. Ia menulisnya dengan begitu mudah, seolah sudah menulisnya seumur hidup.

Aku menatap pesan itu, dan sesuatu di dadaku yang sudah lama tidak bergerak, bergerak.

Belum, ketikku. Nanti.

Makan sekarang. Jangan nanti. Nanti kamu lupa terus pingsan di depan kaleng cat. Terus Pak Darto taruhan lagi.

Aku tertawa sendirian di pantry, pendek, dan Jojo menatapku seperti melihat hantu.


Kamis malam, ia datang ke studio tanpa pemberitahuan.

Sudah jam delapan lewat. Jojo sudah pulang. Studio sepi, hanya lampu di mejaku dan lampu di lorong. Aku sedang menyelesaikan gambar detail tangga untuk proyek lain, proyek yang abu-abu, proyek klien di Bintaro yang mau rumahnya “Harriman Grey yang paling Harriman Grey”.

Pintu depan berbunyi. Aku mendongak.

Sabrina berdiri di ambang pintu dengan tas kanvas di bahu dan wajah yang, dalam abu-abuku, kelihatan pucat. Bukan pucat yang biasa. Ia tidak tersenyum. Ia selalu tersenyum saat masuk ke studio, senyum lebar yang membuat lesung kecilnya muncul. Hari ini tidak.

“Hai,” katanya. Suaranya kecil.

“Hai.” Aku berdiri. “Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku cuma...” Ia berhenti. Menatap lantai semen poles. “Aku lewat. Terus aku lihat lampunya masih nyala.”

Kos-nya di Tebet. Studioku di Kemang. Tidak ada jalan dari mana pun ke mana pun yang lewat di depan studioku.

Aku tidak mengatakan itu. Aku menarik kursi di sebelah mejaku dan menepuknya.

Ia duduk. Meletakkan tas kanvasnya di lantai. Lalu diam.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah tahu harus berbuat apa. Tapi aku sudah belajar satu hal dalam tiga bulan terakhir: kalau aku tidak tahu harus bilang apa, aku bisa mengulurkan tangan.

Jadi aku mengulurkan tangan.

Ia menatapnya. Lalu meletakkan tangannya di atasnya, pelan, tanpa semangat yang biasa.

Studio menyala. Lampu mejaku ternyata kuning hangat. Gambar detail tangga di mejaku putih dengan garis-garis biru dari pensil mekanik. Dan Sabrina.

Matanya merah. Bukan merah karena menangis. Merah karena belum menangis. Merah karena menahan. Pipinya, yang biasanya merah muda, hari ini pucat dengan bercak-bercak merah tidak rata di tulang pipi, seperti seseorang menghapus warna dengan penghapus yang terlalu keras. Bibirnya digigit di sudut kiri. Ada noda cat air di jari-jarinya, biru dan hijau dan kuning, lebih banyak dari biasanya. Ia melukis seharian.

Aku menatap wajahnya lama. Lalu aku bertanya, sesuatu yang belum pernah kutanyakan pada siapa pun:

“Kamu hari ini warnanya apa?”

Ia mengangkat kepala.

Kalimat itu keluar sendiri. Tapi begitu keluar, aku tahu itu kalimat yang benar. Selama tiga bulan, ia yang menanyakan warna padaku, atau aku yang menyebutkan warna padanya. Warna kusen, warna cat, warna langit. Warna pipinya. Tapi aku belum pernah bertanya warna dirinya. Warna yang di dalam. Warna yang tidak bisa kulihat, bahkan saat memegang tangannya.

Ia menatapku lama. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Abu-abu,” katanya.

Lalu air matanya jatuh.


Penerbit menolak naskah barunya.

Ia menceritakannya sambil menangis, dengan kata-kata yang terputus-putus. Bukan Kiko. Kiko aman. Naskah yang lain, yang ia tulis dan gambar sendiri selama satu tahun, naskah pertama yang ia buat tanpa pesanan, tentang anak perempuan kecil yang tinggal di rumah nenek dan berteman dengan seseorang di balik pagar.

“Judulnya Kakak di Balik Pagar,” katanya, dan aku melihat sesuatu berkedip di wajahnya saat ia menyebutnya, sesuatu yang cepat dan hilang. “Mereka bilang ceritanya terlalu sepi. Terlalu sedih buat anak-anak. Nggak ada konfliknya. Nggak bisa dijual.”

“Kamu mau aku baca?”

“Kamu nggak bisa lihat warnanya.”

“Aku bisa kalau sambil pegang tanganmu.”

Ia tertawa di tengah tangisnya, pendek dan basah. “Itu kalimatku. Kamu curi.”

“Pasal empat. Dua arah. Kamu yang amandemen.”

Ia tertawa lagi. Lalu menangis lagi. Lalu menyeka hidungnya dengan lengan kaus, dengan cara yang sangat tidak anggun, dan aku memutuskan bahwa itu hal paling indah yang pernah kulihat di studioku.

“Satu tahun, Arie,” katanya. Itu pertama kalinya ia memanggilku Arie tanpa Pak. Aku tidak yakin ia menyadarinya. “Satu tahun aku gambar itu. Aku pikir itu gambar terbaikku. Aku pikir...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menunduk. Bahunya bergetar.

Aku melakukan sesuatu yang tidak ada di pasal mana pun.

Aku mencondongkan tubuh ke depan, dari kursiku ke kursinya. Pelan. Sampai dahiku menyentuh dahinya.

Ia berhenti bernapas sebentar. Lalu napasnya keluar, panjang dan gemetar, hangat di wajahku.

Dari jarak sedekat ini, aku tidak bisa melihat apa-apa. Wajahnya terlalu dekat, matanya terlalu dekat, semuanya kabur. Tapi aku bisa merasakan kulit dahinya yang hangat di kulit dahiku, dan itu cukup untuk membuat seluruh studio menyala dalam warna di tepi penglihatanku: kuning lampu, putih kertas, biru pensil.

Aku tidak menatap studio. Aku memejamkan mata.

“Abu-abu itu warnaku,” kataku pelan. “Kamu nggak boleh pakai.”

Ia diam.

“Aku sudah pakai dua puluh tiga tahun,” lanjutku. “Aku tahu rasanya. Kamu jangan. Kamu kuning. Kamu merah muda di pipi. Kamu oranye kayak kulit jeruk diiris. Kamu...” Aku mencari kata. Aku selalu mencari kata. “Kamu semua warna yang aku nggak bisa lihat sendiri.”

Ia mulai menangis lagi. Tapi tangisnya berbeda sekarang. Tidak tertahan. Lepas. Dahinya masih di dahiku, dan air matanya jatuh, dan aku merasakan sebagian air matanya di pipiku sendiri, hangat.

“Bodoh,” katanya di sela isak. “Kamu bodoh, Arie. Kenapa kamu ngomong kayak gitu. Aku lagi sedih. Kamu bikin aku makin nangis.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Tangannya naik ke wajahku. Ke rahangku. Telapak tangannya menempel di pipiku, dan warna di sekelilingku semakin terang, semakin penuh, walaupun mataku masih terpejam. “Jangan minta maaf buat itu. Jangan pernah.”

Kami duduk seperti itu lama. Dahi di dahi. Tangannya di pipiku. Tanganku di tangannya. Lampu meja kuning di sebelah kami. Gambar detail tangga yang abu-abu terlupakan di meja.


Lalu pintu depan terbuka dengan keras.

“Kak Sabrinaaa!”

Aku membuka mata. Sabrina membuka mata. Kami menoleh bersamaan, dahi masih hampir bersentuhan.

Jojo dan Tari berdiri di ambang pintu studio.

Jojo membawa sesuatu yang sangat besar, dibungkus kantong plastik merah. Tari membawa dua kantong martabak dan sebotol minuman bersoda ukuran dua liter. Keduanya terengah-engah, seperti habis berlari dari parkiran.

“Tari bilang Kakak ditolak penerbit!” seru Jojo. “Tari telepon aku! Kami bawa penghiburan!”

“Durian,” kata Tari, menunjuk benda besar di tangan Jojo. “Mas Jojo bilang durian obat patah hati paling ampuh. Aku bilang martabak. Jadi kami bawa dua-duanya.”

Lalu mereka berdua melihat kami. Melihat jarak di antara wajah kami. Melihat tangan Sabrina di pipiku.

Mereka membeku.

“Oh,” kata Tari.

“Oh,” kata Jojo.

Jojo mundur selangkah dengan sangat hati-hati. Lalu satu langkah lagi. Ia lupa bahwa lantai semen poles di dekat pintu depan masih licin karena dipel sore tadi.

Kakinya meluncur.

Durian itu terbang.

Tidak setinggi itu. Mungkin setengah meter. Tapi di dalam warna, yang masih menyala karena tangan Sabrina masih di pipiku, aku melihat semuanya dengan sangat jelas: kantong plastik merah terlepas, durian hijau kecokelatan berduri berputar di udara seperti bola rugbi, Jojo jatuh terduduk dengan kemeja motif bunga oranye-ungu-hijau yang berkibar, Tari menjerit dan melompat ke samping sambil memeluk martabak seperti memeluk bayi, botol soda dua liter jatuh dan menggelinding, dan durian itu mendarat dengan bunyi buk yang berat di lantai semen, berguling dua kali, dan berhenti tepat di depan kaki meja rapat.

Hening.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak tahu dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Tawa itu keluar dari tempat yang sangat dalam, tempat yang sudah lama sekali tidak kubuka. Bukan tawa pendek yang tertahan. Bukan napas yang keluar terlalu cepat. Tawa sungguhan. Keras. Sampai bahuku bergetar. Sampai aku harus memegang pinggiran meja. Sampai mataku berair dan perutku sakit.

Aku tertawa seperti anak delapan tahun.

Jojo, yang masih terduduk di lantai, menatapku dengan mulut terbuka. Tari, yang masih memeluk martabak, menatapku dengan mata lebar.

Dan Sabrina.

Tangannya masih di pipiku. Aku masih bisa melihat wajahnya dalam warna. Ia menatapku dengan mata yang masih basah oleh tangis, merah di pinggir, tapi ekspresinya sudah berubah sepenuhnya. Mulutnya terbuka sedikit. Matanya lebar dan berbinar.

Ia menatapku seperti aku dulu menatap langit sore di ayunan.

“Arie,” bisiknya. “Kamu ketawa.”

Aku tidak bisa berhenti. Aku mencoba, tapi setiap kali aku melihat durian di lantai dan Jojo yang terduduk dengan kemeja bunga, tawaku pecah lagi.

Jojo akhirnya ikut tertawa. Lalu Tari. Lalu Sabrina, dengan tangan masih di pipiku, tertawa sambil menangis, menangis sambil tertawa, sampai kami berempat di studio Harriman Grey yang serba putih-abu-hitam tertawa seperti orang gila jam sembilan malam, dengan bau durian yang mulai merembes dari kulitnya yang retak dan memenuhi seluruh ruangan.


Kami makan durian dan martabak di lantai ruang rapat, duduk di atas koran.

Jojo membelah durian dengan pisau dapur pantry dan sangat banyak keberanian. Tari membagi martabak dengan presisi editor. Sabrina duduk di sebelahku, bahu menempel ke bahuku, dan tangannya di tanganku di atas koran di antara kami.

Daging durian itu kuning. Kuning pucat yang lembut, seperti mentega yang mulai meleleh. Martabak telurnya cokelat keemasan dengan daun bawang hijau. Martabak manisnya cokelat dengan keju kuning dan meses cokelat tua.

Aku menyebutkan semuanya. Pasal empat. Sabrina mendengarkan dengan kepala bersandar di bahuku.

“Bang,” kata Jojo, dengan mulut penuh durian. “Abang tadi ketawa.”

“Aku tahu.”

“Lima tahun aku kerja sama Abang, Bang. Lima tahun. Abang belum pernah ketawa kayak gitu.”

“Aku tahu, Jo.”

Jojo menatapku lama. Lalu menatap Sabrina, yang bersandar di bahuku. Lalu menatap tangan kami. Matanya, yang tadi berbinar karena durian, mulai berkaca-kaca.

“Ya Tuhan,” katanya, dan meletakkan durian. “Ya Tuhan, aku mau nangis lagi.”

“Mas Jojo,” kata Tari, menyodorkan tisu dengan wajah sangat datar, “Mas nangis tiap tiga hari sekali.”

“Batak memang begitu, Kak. Kalau terharu harus lengkap.”

Sabrina tertawa di bahuku. Aku merasakan tawanya bergetar di tubuhku.

Aku tidak menghitung sisa warna malam itu. Saat akhirnya Tari dan Jojo membereskan koran dan kulit durian, dan Sabrina melepaskan tanganku untuk mengambil tasnya, aku tidak mengeluarkan ponselku. Aku hanya berdiri di tengah studio dan menunggu warna pergi.

Lama. Lama sekali.

Daging durian kuning di kotak plastik. Kemeja Jojo. Jepit Tari. Sabrina di pintu, menoleh padaku dengan senyum lebar yang membuat lesung kecilnya muncul lagi, mata masih bengkak tapi tidak lagi abu-abu.

Tiga menit, mungkin. Mungkin lebih.

Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin tahu angkanya. Aku hanya ingin melihat.