← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty Six

Abu-Abu, Kecuali Kamu

POV: Arie

Majalah itu terbit tiga minggu setelah serah terima.

Jojo meletakkannya di mejaku pagi-pagi, terbuka di halaman tengah, dengan wajah orang yang menyerahkan piala.

Foto kami berempat di depan panel Jalan Kenari, dari malam pameran: aku, Sabrina dengan gaun kuning, Eyang dengan bros perak, Pak Darto dengan peci pinjaman. Judulnya besar di atas: Harriman Grey Belajar Warna.

Di bawahnya, artikel dua halaman. Wawancara dengan Bu Rina, kurator. Komentar dari tiga arsitek senior yang bilang mereka “terkejut tapi tidak heran”. Kutipan dari pidato pendekku di pameran soal buta warna, yang ternyata direkam. Dan di paragraf terakhir, kalimat yang membuat Jojo menangis di pantry selama sepuluh menit, menurut laporan Mbak Wulan:

Ketika ditanya apakah Studio Harriman akan meninggalkan palet monokrom yang membuatnya terkenal, Arie Harriman diam lama sebelum menjawab: “Saya tidak meninggalkan abu-abu. Abu-abu adalah dunia saya selama dua puluh tiga tahun, dan saya tidak malu. Tapi sekarang saya tahu ada yang lain di luar sana. Dan saya punya seseorang yang mau menceritakannya pada saya.”

“Bang,” kata Jojo, berdiri di sebelah mejaku. “Abang ngomong sepanjang itu ke wartawan?”

“Dia tanya.”

“Lima tahun Abang jawab wartawan pakai tiga kata. Ya. Tidak. Terima kasih.” Jojo menatap majalah itu dengan mata berkaca-kaca. “Abang sekarang ngomong pakai koma.”


Ponsel studio berdering tanpa henti selama dua minggu.

Klien baru. Klien lama yang ingin merenovasi. Mahasiswa yang ingin magang. Wartawan dari majalah lain. Seorang ibu dari Surabaya yang anaknya juga buta warna dan ingin tahu apakah anaknya bisa jadi arsitek.

Aku menelepon ibu itu sendiri. Satu jam. Aku bilang anaknya bisa jadi apa saja. Aku bilang dunia abu-abu tidak membuat seseorang kurang. Aku bilang anaknya akan menemukan caranya sendiri untuk melihat, seperti aku.

Setelah menutup telepon, aku menyadari aku baru saja bicara satu jam tanpa berhenti. Dengan orang asing. Tentang hal yang dua puluh tiga tahun kusimpan.

Sabrina, yang duduk di sebelahku dengan buku sketsa, tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan tangannya di tanganku di atas meja, dan studio menyala, dan ia tersenyum padaku dengan cara yang membuatku tahu ia mendengar semuanya.


Hari Minggu, aku ke rumah orang tuaku. Sendirian.

Sabrina menawarkan diri ikut. Aku bilang tidak. Aku bilang ada yang harus kulakukan sendiri. Ia menatapku lama, lalu mengangguk, lalu bilang, “Tapi nanti cerita.”

“Ya,” kataku. “Nanti cerita.”

Itu pasal delapan. Kami menambahkannya ke kontrak minggu lalu, di teras Jalan Kenari, dengan Tari sebagai notaris dan Jojo sebagai Saksi Yang Menderita dan Eyang sebagai pengawas. Pasal delapan hanya satu kalimat. Sabrina yang menulisnya, dengan spidol yang sama yang dulu ia pakai untuk label-label warna.

Tidak ada yang disimpan.

Ibuku membukakan pintu dan langsung memelukku. Ia memelukku setiap kali aku datang sekarang. Lama. Seperti ingin menebus dua puluh tiga tahun yang ia habiskan membalik halaman album terlalu cepat.

“Papamu di belakang,” katanya. Ia tidak perlu bilang di mana. Aku sudah tahu.

Ayahku duduk di bangku batu di tepi kolam ikan, dengan koran di pangkuan yang tidak ia baca. Ia menoleh saat aku membuka pintu kaca.

“Arie.”

“Pa.”

Aku duduk di sebelahnya. Kami diam lama. Ikan-ikan koi berenang pelan di kolam. Dalam mataku, mereka bentuk-bentuk terang dan gelap yang bergerak di air yang kelabu.

“Majalahnya bagus,” kata ayahku akhirnya.

“Papa baca?”

“Papa beli sepuluh.” Ia diam sebentar. “Mama yang suruh. Buat dibagi ke keluarga.”

“Papa yang beli sepuluh,” kataku. “Mama bilang Mama cuma suruh beli tiga.”

Ayahku tidak menjawab. Telinganya, dalam abu-abuku, menjadi lebih gelap. Aku tidak pernah sadar bahwa telinga ayahku juga memerah saat ia malu. Aku tidak pernah sadar betapa miripnya kami.

“Pa,” kataku. “Aku mau bilang sesuatu.”

Ia menegang sedikit.

“Bukan salah Papa sendirian,” kataku.

Ia menoleh.

“Papa tanda tangan izin perancah. Itu salah. Papa bohong ke Eyang. Itu salah. Papa diam dua puluh tiga tahun. Itu salah.” Aku menatap kolam. “Tapi aku yang lari, Pa. Aku yang pilih lari. Umur delapan, aku nggak ingat, tapi aku tahu aku akan pilih lari lagi. Seribu kali. Itu bukan salah Papa. Itu pilihanku.”

Ayahku diam.

“Dan aku nggak menyesal,” kataku. “Nggak satu detik pun. Anak di ayunan itu sekarang ilustrator. Dia gambar matahari di setiap halaman bukunya. Dia ngecat kuku lima warna jam lima pagi biar aku bisa lihat pelangi. Dia nggak akan ada, Pa, kalau aku nggak lari.”

Ayahku menatapku lama. Matanya merah.

“Jadi aku maafin Papa,” kataku. “Untuk yang bagian Papa. Bagian yang bukan Papa, aku nggak perlu maafin. Itu punyaku.”

Ayahku tidak bergerak untuk waktu yang lama.

Lalu ia meletakkan koran di bangku. Ia berdiri. Pelan, seperti orang tua. Dan ia menarikku berdiri juga, dengan tangan di lenganku.

Dan ia memelukku.

Kaku. Canggung. Seperti orang yang tidak pernah melakukannya, atau sudah terlalu lama tidak melakukannya sampai lupa caranya. Tangannya di punggungku, menepuk dua kali, lalu berhenti, lalu tidak tahu harus berbuat apa, lalu memelukku lebih erat.

Bahunya bergetar.

“Maaf,” katanya di bahuku. Suaranya pecah. “Maaf, Nak. Maaf. Maaf.”

Dua puluh tiga tahun. Sejak Singapura. Sejak perban dan ruang operasi dan Ma, kenapa Mama abu-abu.

Ayahku memelukku di tepi kolam ikan, dan aku memeluknya balik, dan dari pintu kaca, aku mendengar ibuku menangis keras-keras dan tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali.


Aku melamar Sabrina enam minggu setelah serah terima, di kamarnya, saat cahaya sore masuk dari jendela utara.

Aku sudah merencanakannya dengan sangat teliti. Aku punya spreadsheet. Jojo yang membuatnya, dengan judul Rencana_Lamaran_v7_FINAL_JANGAN_DIUBAH_LAGI_BANG.xlsx. Kolom-kolomnya sama dengan spreadsheet kencan pertama: jam, kegiatan, lokasi, estimasi biaya, catatan warna. Kali ini aku menghapus kolom estimasi biaya sendiri, sebelum Jojo memintanya.

Rencananya: hari Sabtu, syukuran rumah di Jalan Kenari. Eyang yang mengusulkan. Keluarga, tukang, tim studio, Tari, Reza. Tumpeng lagi. Pak Darto sudah menyiapkan bendera merah putih untuk dikibarkan di tiang depan, walaupun aku bilang ini bukan munggah molo. Ia bilang semua acara di rumah ini butuh bendera sekarang. Untuk keberuntungan.

Jam setengah lima sore, aku akan mengajak Sabrina ke kamarnya. Dengan alasan memeriksa lampu kertas.

Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Ia tahu sejak Tari tidak sengaja menyebut kata cincin di grup WhatsApp hari Rabu lalu, lalu menghapusnya, lalu bilang itu salah ketik dari cincau.

Tapi ia pura-pura tidak tahu. Dan aku pura-pura tidak tahu bahwa ia tahu. Dan itu, aku sadar, satu-satunya rahasia yang masih boleh kami simpan. Karena keduanya tahu.


Jam setengah lima. Kamarnya.

Lampu kertas tidak menyala. Matahari sore masuk dari jendela utara, miring dan keemasan, persis di sudut yang tepat. Dan di dinding, di tengah, di antara kuning matahari pagi, terlihat.

Cap tangan. Lima jari kecil. Sedikit lebih tebal, sedikit lebih mengilap. Hanya terlihat kalau kau tahu di mana, dan kalau cahaya datang dari arah yang benar.

Dan di bawah jendela, dekat lantai, matahari oranye yang miring.

Sabrina berdiri di tengah kamar dengan gaun kuning. Gaun yang sama. Ia selalu memakai gaun itu sekarang untuk hari-hari penting. Ia bilang itu gaun keberuntungan, seperti kaus Jojo.

“Lampunya kenapa?” tanyanya, dengan wajah yang sangat polos dan pipi yang sudah merah.

“Tidak kenapa-kenapa,” kataku.

“Terus kenapa kita ke sini?”

Aku tidak menjawab. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja. Kemeja abu tua. Hari ini Sabtu, seharusnya abu muda. Aku sengaja memilih abu tua, karena itu kemeja yang kupakai di hari pertama, di studio, saat ia datang terlambat dua puluh tujuh menit dengan payung patah.

Yang kukeluarkan bukan kotak cincin.

Kartu swatch.

Satu kartu cat, ukuran kecil, seperti yang ada di dinding toko Reza. Satu warna. Kuning. Di bagian belakangnya, label cetak dari toko Reza, dan di bawahnya, nama warna yang Reza tulis sendiri dengan tangan, setelah dua minggu mencampur dan mencoba dan menelepon Sabrina diam-diam dengan pura-pura minta pendapat soal cat kafe.

KUNING BINA.

Sabrina menatap kartu itu.

“Reza bikin,” kataku. “Campuran khusus. Kuning matahari pagi, ditambah sedikit... aku tidak tahu. Dia bilang rahasia dagang. Dia bilang ini warna kamu. Persis.”

“Arie...”

“Dia bilang kalau aku ngecat rumah kita nanti,” kataku, “dindingnya pakai ini. Gratis. Hadiah. Dia sudah janji.”

Rumah kita.

Sabrina menutup mulut dengan tangan.

Aku mengeluarkan benda kedua dari saku. Bukan dari saku kemeja. Dari saku celana, di mana aku menyimpannya sejak pagi, sejak aku mengambilnya dari laci meja kerja di apartemen untuk terakhir kali.

Sepotong krayon patah, sepanjang ruas jari. Kertas pembungkus yang lusuh. Tulisan cetak yang nyaris hilang: KUNING.

Dan melingkar di krayon itu, cincin.

Cincin emas sederhana, tipis. Aku memilihnya sendiri, tanpa Jojo, tanpa Reza, tanpa tangan siapa pun. Di toko perhiasan di Kemang, aku berdiri di depan etalase dan menatap belasan cincin yang semuanya abu-abu terang dalam mataku. Aku memilih yang ini karena bentuknya. Tipis, bulat, polos. Seperti lingkaran matahari sebelum diberi tujuh garis sinar.

Aku tidak tahu warnanya waktu memilihnya. Aku hanya tahu itu emas, dari label harganya.

“Ini krayonmu,” kataku. Suaraku mulai bergetar. “Yang kamu kejar ke bawah perancah. Yang aku kasih lewat pagar. Aku simpan dua puluh tiga tahun, tanpa tahu punya siapa.” Aku menatapnya. “Aku mau kembalikan.”

Air matanya jatuh.

Aku berlutut. Di lantai tegel kamarnya, di depan dinding kuning dengan cap tangan yang tersembunyi, di sebelah matahari oranye yang miring. Seperti di rumput, di depan ayunan, saat aku menangkup wajahnya untuk pertama kali.

Lalu aku mengulurkan tanganku. Telapak terbuka. Menghadap ke atas.

“Pegang dulu,” kataku.

Ia menatap tanganku.

“Bukan buat lihat warna,” kataku. Sekarang suaraku benar-benar pecah. Aku membiarkannya. “Aku sudah hafal kamu. Aku hafal warna pipimu waktu kamu malu, waktu kamu marah, waktu kamu kepedesan, waktu kamu ketawa. Aku hafal jepitmu, rokmu, kukumu, rambutmu yang kayak bougenvil belum dipangkas. Aku sudah nggak butuh pegang tanganmu buat tahu warnamu.”

Ia terisak.

“Aku cuma mau pegang,” kataku. “Seumur hidup. Tanpa alasan. Tanpa pasal. Tanpa stopwatch. Cuma karena aku mau.”

Aku menelan sesuatu yang besar di tenggorokan.

“Sabrina Mahadewi,” kataku. “Mau menikah denganku?”


Ia tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia meletakkan tangannya di tanganku.

Kamarnya menyala.

Sudah enam minggu sejak serah terima, dan sisa warnaku sekarang bertahan berjam-jam. Aku sudah melihat kamar ini dalam warna puluhan kali. Tapi saat tangannya menyentuh tanganku di lantai tegel itu, kamar itu menyala seperti pertama kali. Seperti hari pertama di studio. Seperti halaman berlumpur dengan jas hujan kuning.

Dinding kuning matahari pagi. Cap tangan yang berkilau sedikit lebih mengilap. Matahari oranye yang miring. Gorden putih dengan bunga kuning pucat. Stiker bintang di langit-langit, putih kehijauan. Cahaya sore yang keemasan di wajahnya.

Dan cincin di krayon di tanganku.

Emas. Emas yang hangat, emas yang tipis, emas seperti lingkaran matahari.

Ia mengangguk. Berkali-kali. Tidak bisa bicara. Air matanya jatuh ke tanganku.

Aku melepas cincin dari krayon dan memasangkannya di jari manis kirinya. Pas. Aku sudah mengukur jarinya diam-diam, dua minggu lalu, saat ia tertidur di bahuku di mobil. Jojo bilang itu menyeramkan. Aku bilang itu metodologi.

Lalu aku meletakkan krayon itu di telapak tangannya. Menutup jari-jarinya di sekelilingnya.

“Kembali,” kataku.

Ia menatap krayon di tangannya. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia mengangkatnya, dan menggambar sesuatu di punggung tanganku.

Lingkaran kecil. Tujuh garis sinar.

“Biar kamu nggak kedinginan,” bisiknya.

Dari jendela kamar, yang ternyata terbuka, terdengar ledakan suara.

Aku menoleh. Di halaman, di bawah jendela, berdesakan: Jojo, Tari, Pak Darto, enam tukang, Reza, Mbak Wulan, Dimas dengan headphone di leher, ibuku, ayahku, dan Eyang di kursi rotan yang entah bagaimana sudah dipindahkan ke bawah jendela. Mereka semua menatap ke dalam, dan mereka semua menangis, dan Pak Darto mengangkat bendera merah putih dari tiang depan dan mengibarkannya dengan dua tangan sambil berteriak BAKWAN, dan Jojo memeluk Tari, dan Tari tidak melepaskannya, dan aku menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin ada sesuatu di sana yang belum mereka berdua sadari.

Ayahku tidak menangis keras-keras. Tapi ia memegang tangan ibuku.

Dan Eyang, di kursi rotannya, menatapku melewati jendela, dengan senyum abege dan mata basah di balik kacamata berantai, dan mengangguk. Pelan. Sekali.

Aku menatap Sabrina. Ia tertawa sambil menangis, krayon kuning di satu tangan, cincin emas di tangan yang lain, matahari kecil yang baru ia gambar di punggung tanganku.

Abu-abu, pikirku. Dua puluh tiga tahun, duniaku abu-abu. Kemeja berlabel, kode di belakang swatch, Jojo yang berbisik. Dan aku tidak malu.

Abu-abu, kecuali kamu.

Aku menciumnya di lantai kamar yang kuning, di depan semua orang yang kami sayang, di bawah stiker bintang yang nanti malam akan menyala hijau seperti kunang-kunang yang belum pernah kulihat.

Nanti malam, pikirku. Aku akan melihatnya. Dengan tangannya di tanganku.

Bukan karena aku butuh.

Karena aku mau.