Chapter Seven
Tiga Detik
POV: Arie
“Mulai,” kata Jojo.
Aku melepaskan tangan Sabrina.
Kami sedang berdiri di dapur rumah Jalan Kenari, di depan pintu dapur tua yang catnya mengelupas. Sabrina baru saja menunjukkan bekas goresan tinggi badannya di kusen pintu, garis-garis pensil dengan tanggal di sebelahnya, dari umur tiga sampai sebelas. Aku sudah memegang tangannya dengan alasan nomor sembilan belas, yang bahkan aku sendiri sudah lupa apa. Jojo berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangan, layar stopwatch menyala, berpura-pura sedang memotret engsel.
Warna mulai surut. Pintu dapur, yang dalam warna ternyata biru kehijauan seperti air kolam yang dalam, memudar dari pinggir. Garis-garis pensil di kusen, yang ternyata ditulis dengan pensil warna berbeda setiap tahun, merah, hijau, ungu, oranye, kehilangan warnanya satu per satu. Pipi Sabrina bertahan paling lama. Selalu pipinya.
Lalu abu-abu.
Aku menoleh ke Jojo dan mengangguk sedikit.
“Dua koma delapan,” gumamnya ke engsel. “Konsisten, Bang. Delapan kali percobaan, rata-rata tiga detik.”
“Bapak ngomong sama siapa?” tanya Sabrina, menoleh ke Jojo.
“Sama engsel, Kak,” jawab Jojo tanpa ragu. “Engsel tua harus diajak ngomong. Biar nggak macet.”
Sabrina menatapnya lama. Lalu menatapku. Lalu memutuskan, sepertinya, bahwa ia tidak mau tahu.
Eksperimen itu ide Jojo, dan Jojo menjalankannya dengan keseriusan ilmuwan yang sedang mengejar Nobel.
Sejak spreadsheet LOG KONTAK KLIEN, ia sudah menambahkan tab baru: VARIABEL. Isinya pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya harus dijawab sebelum aku “jadi gila atau jadi suami orang, mana yang duluan”. Apakah durasi sisa warna dipengaruhi lama kontak? Apakah dipengaruhi bagian tubuh yang disentuh? Cuaca? Jam? Suasana hati? Apakah sentuhan di rambut berlaku? Apakah sentuhan lewat kain berlaku?
Jawabannya, setelah dua minggu data:
Lama kontak tidak berpengaruh. Lima detik atau satu menit, sisa warnanya tetap kira-kira tiga detik.
Bagian tubuh tidak berpengaruh, selama kulit bertemu kulit. Tangan, pergelangan, jari, punggung tangan. Rambut tidak berlaku. Aku mencoba, dengan sangat canggung, menyingkirkan helai rambut dari bahunya dan tidak terjadi apa-apa. Ia menatapku seperti aku baru saja mencoba mencopet.
Lewat kain tidak berlaku sama sekali.
Itu yang paling menyiksaku, karena hari Kamis, Bogor sedang dingin.
Kamis pagi, Sabrina datang memakai jaket.
Bukan jaket biasa. Jaket rajut longgar dengan lengan yang terlalu panjang, jenis yang lengannya bisa ditarik sampai menutupi seluruh tangan sehingga yang terlihat hanya ujung jari. Ia memakainya dengan lengan yang ditarik sampai buku jari, dan kedua tangannya bersembunyi di sana seperti kura-kura di cangkangnya.
“Dingin banget, Pak,” katanya, mengerut. “Bogor jam tujuh pagi itu kayak kulkas yang lupa ditutup.”
Aku menatap lengan jaket itu.
“Jaketnya bagus,” kataku.
“Makasih. Hadiah Tari. Katanya biar saya kelihatan imut di lokasi proyek.” Ia mengangkat kedua tangannya yang tertutup lengan jaket dan menggoyangkannya. “Imut nggak?”
Ya. Sangat. Dan aku membencinya dengan segenap hatiku.
Sepanjang pagi itu, ia tidak mengeluarkan tangannya dari lengan jaket sekali pun. Ia menunjuk dengan lengan. Ia memegang buku sketsa dengan lengan. Ia bahkan menerima teh dari Eyang dengan lengan, menjepit cangkir di antara dua gumpalan rajutan seperti beruang yang memegang madu.
Aku mencoba alasan nomor dua puluh: menyerahkan meteran supaya ia mengukur sesuatu. Ia menerimanya dengan lengan.
Alasan nomor dua puluh satu: mengulurkan tangan untuk membantunya melewati tumpukan bambu. Ia menyambutnya dengan lengan. Rajutan bertemu telapak tanganku. Abu-abu.
“Bang,” bisik Jojo di belakangku. “Abang kelihatan kayak orang yang mau ngajak jaket berantem.”
“Aku nggak suka jaket itu.”
“Kelihatan, Bang. Kelihatan banget.”
Menjelang siang, matahari akhirnya menembus awan dan Sabrina mendesah lega. Ia menarik lengan jaketnya ke siku. Tangannya muncul, jari-jarinya kemerahan karena dingin.
Aku tidak sadar aku mengembuskan napas lega sampai Jojo menyikutku.
Sore itu, setelah tukang pulang, Sabrina mengajakku duduk di ayunan.
Bukan mengajak, sebenarnya. Ia duduk di ayunan merah pudar itu, mengayunkan kakinya pelan, lalu menatapku yang berdiri di dekat pohon dengan gambar kerja di tangan, dan bilang, “Pak, sini. Bapak dari pagi berdiri terus. Kaki Bapak nanti jadi tiang teras.”
Ayunan itu hanya muat satu orang. Aku duduk di akar pohon kenari yang menonjol di sebelahnya, punggung bersandar ke batang. Ia mengayun pelan di sebelahku, ke depan, ke belakang, dan setiap kali ayunan kembali, ujung sepatunya hampir menyentuh lututku.
Di atas kami, langit mulai berubah. Aku bisa melihatnya berubah. Aku selalu bisa. Langit sore dalam mataku adalah gradasi yang lambat dari terang ke gelap, dengan awan-awan yang tepinya bersinar. Indah, dengan caranya sendiri. Aku sudah dua puluh tiga tahun berdamai dengan langit abu-abu.
“Bagus, ya,” kata Sabrina, mendongak. “Langit Bogor kalau sore. Dulu saya duduk di sini tiap hari jam segini. Nungguin langitnya berubah warna.”
“Berubah jadi apa?”
Ia menoleh padaku dengan heran. “Bapak kan lihat sendiri.”
“Saya mau dengar versi Anda.”
Ia diam sebentar, lalu tersenyum, dan kembali mendongak.
“Sekarang masih biru,” katanya. “Tapi birunya udah capek. Birunya kayak orang yang habis kerja seharian. Terus di pinggir sana, dekat genteng vila sebelah, mulai ada oranye. Oranye yang tipis, kayak kulit jeruk yang diiris. Nanti oranyenya naik, terus jadi merah muda, terus ungu, terus...” Ia mengayun. “Terus Eyang manggil saya masuk, karena nyamuk.”
Aku mendengarkan. Aku tahu biru. Aku tahu oranye. Aku sudah melihat keduanya, di toko Reza, di truk bambu, di terpal tukang. Tapi aku belum pernah melihat langit.
Aku belum pernah melihat langit dalam warna sejak umur delapan tahun.
Ayunan kembali ke belakang, dan ke depan, dan tangannya yang memegang tali ayunan lewat di dekat bahuku.
Aku mengangkat tanganku dan memegang tali ayunan tepat di bawah tangannya. Jari-jariku menyentuh jari-jarinya. Ayunan berhenti.
Ia menoleh. Aku tidak menatapnya. Aku mendongak.
Langit itu.
Aku tidak punya kata yang cukup. Aku arsitek. Aku terbiasa menjelaskan ruang dengan angka dan bahan. Tapi langit sore Bogor dalam warna tidak bisa dijelaskan dengan angka. Biru yang ia sebut capek ternyata biru yang lembut sekali, biru yang memudar ke atas menjadi hampir putih. Di bawahnya, di atas genteng vila tua itu, ada oranye. Oranye yang benar-benar seperti kulit jeruk diiris, persis seperti katanya, tipis dan bercahaya. Awan-awan di tengah langit tepinya keemasan dan perutnya merah muda pucat, dan di antara biru dan oranye ada garis yang tidak bisa diputuskan warnanya, sesuatu yang bukan keduanya, sesuatu yang sedang berubah.
Aku menatapnya sampai mataku perih.
“Pak,” bisik Sabrina.
“Sebentar.”
“Pak, Bapak nangis?”
Aku tidak menangis. Mataku perih karena aku lupa berkedip. Itu yang kukatakan pada diriku sendiri, dan itu yang kukatakan padanya, dengan suara yang tidak terlalu meyakinkan.
Ia tidak bertanya lagi. Ia tidak menarik tangannya. Ia hanya duduk di ayunan yang diam, dengan jari-jari kami bertumpuk di tali tambang, dan ikut menatap langit.
Oranye itu naik. Pelan sekali. Merah muda menyusul. Aku menyaksikan semuanya.
Ketika akhirnya aku melepaskan tali itu, karena Eyang memanggil dari teras, persis seperti katanya, karena nyamuk, aku memperhatikan langit memudar. Tiga detik. Oranye jadi terang, merah muda jadi abu muda, lalu langit kembali menjadi langit yang selama ini kukenal.
Tapi sekarang aku tahu apa yang ada di sana.
Jojo pulang naik kereta.
Ia mengumumkannya dengan sangat terang-terangan di parkiran, saat langit sudah gelap. “Aku mau naik KRL, Bang. Mau... merasakan kehidupan rakyat. Abang antar Kak Sabrina aja. Kasihan, ojol ke Jakarta mahal.”
“Jo, kamu tinggal di Depok. Kita lewat Depok.”
“Aku mau mampir ke Bogor dulu. Beli roti unyil. Untuk Mama.” Ia sudah berjalan mundur ke arah jalan. “Bye, Bang! Bye, Kak! Hati-hati di jalan! Jangan pegangan tangan sambil nyetir! Itu nggak aman!”
Sabrina menatapku. Aku menatap punggung Jojo yang menghilang di tikungan.
“Mas Jojo kenapa?” tanyanya.
“Dia sedang patah hati,” kataku.
“Hah? Sama siapa?”
“Sama saya.”
Ia tertawa sampai harus berpegangan pada pintu mobil.
Tol Jagorawi malam itu macet.
Bukan macet total, tapi macet yang menyebalkan: maju sepuluh meter, berhenti, maju lima meter, berhenti. Lampu-lampu rem di depan kami membentuk sungai panjang yang dalam mataku hanya sungai titik-titik terang.
Sabrina menyandarkan kepala ke jendela, setengah mengantuk. Ponselnya di pangkuan dengan aplikasi peta terbuka.
“Kata Maps, macet sampai Cibubur,” gumamnya. “Garisnya merah semua.”
Aku melirik ponselnya. Garis rute itu, dalam mataku, adalah satu garis abu-abu dengan beberapa bagian yang sedikit lebih gelap. Aku tidak bisa membedakan mana yang merah, kuning, atau hijau. Aku tidak pernah bisa. Selama ini aku menyetir dengan perkiraan dan pengalaman.
Aku meletakkan tangan kiriku di konsol tengah, di antara kursi kami. Telapak terbuka.
Sabrina menatap tangan itu. Lalu menatapku.
“Pak,” katanya. “Itu apa?”
“Untuk navigasi.”
“Navigasi.”
“Saya perlu melihat petanya dengan benar.”
“Saya bisa bacain, Pak. Merah sampai Cibubur, terus kuning sampai TMII, terus hijau.”
“Saya lebih percaya mata saya sendiri.”
Ia diam. Lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang tertahan, tawa yang terdengar seperti orang yang baru saja memutuskan untuk berhenti melawan. Ia meletakkan ponselnya di dasbor, di depanku, lalu meletakkan tangannya di atas tanganku di konsol.
Tidak digenggam. Hanya diletakkan. Jari-jarinya di atas jari-jariku, ringan, hangat.
Lampu-lampu rem di depan kami menjadi merah.
Merah yang menyala, ratusan titik merah yang berbaris sampai ke ujung jalan seperti kunang-kunang yang marah. Lampu jalan di atasnya kuning oranye. Rambu hijau. Dan di layar ponsel di dasbor, garis rute itu terbelah menjadi warna-warna: merah tua yang panjang, lalu kuning, lalu hijau di ujungnya. Persis seperti yang ia bacakan.
“Benar,” kataku. “Merah sampai Cibubur.”
“Kan saya bilang.”
“Saya perlu memastikan.”
Ia tidak menjawab. Ia menyandarkan kepala ke jendela lagi, tapi kali ini menghadapku. Dalam cahaya lampu jalan yang oranye, aku bisa melihat wajahnya: matanya yang setengah terpejam, bulu matanya yang gelap, pipinya yang hangat. Ia tersenyum, dan senyumnya tidak lagi malu-malu. Senyumnya lelah dan lembut dan sepertinya sudah tahu sesuatu yang belum ia katakan.
Kami tidak bicara lagi sampai Cibubur.
Tangannya tidak pindah dari tanganku sampai Cibubur.
Aku menyetir dengan satu tangan di tengah kemacetan tol, sesuatu yang tidak pernah kulakukan karena tidak aman, dan Jojo pasti akan mengomel kalau tahu. Tapi selama satu jam itu, aku melihat semuanya: setiap lampu rem, setiap rambu, setiap papan reklame yang norak dengan warna-warna yang bertabrakan, dan bulan yang ternyata tidak putih, melainkan kekuningan, seperti mentega.
Aku mengantarnya sampai depan gerbang kos.
Ia turun, berterima kasih, dan berdiri di dekat jendela mobilku yang terbuka. Lampu teras kos menyinari wajahnya dari samping.
“Pak Arie,” katanya.
“Ya.”
“Langitnya tadi sore.” Ia memeluk buku sketsanya. “Bapak suka?”
Aku menatapnya. “Sangat.”
Ia mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu di kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangan lewat jendela. Bukan untuk berjabat tangan. Ia menyentuh punggung tanganku di setir, sekali, singkat, dengan ujung jarinya.
Warna menyala. Lampu teras kos kuning. Pagar kos hijau. Jepit rambutnya, malam ini, merah. Bibirnya.
Lalu ia menarik tangannya dan berbalik, berjalan ke pintu tanpa menoleh.
Ibu jariku sudah menekan tombol stopwatch di ponsel begitu jarinya terangkat. Kebiasaan baru, warisan Jojo. Aku menekannya lagi saat lampu teras kehilangan kuningnya.
Dua koma sembilan detik.
Aku menatap angka itu lama sekali. Tiga detik, seperti biasa. Seperti selalu. Tidak lebih.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku berharap angka itu lebih panjang.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik reading
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari