← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Twenty Nine

Hal yang Tidak Diucapkan

POV: Sabrina

Arie berubah setelah hari Minggu itu.

Bukan berubah yang besar. Kalau Tari yang melihat, atau Eyang, atau Pak Darto, mereka mungkin tidak akan menyadarinya. Ia masih datang ke Jalan Kenari setiap hari. Ia masih memegang tanganku saat memeriksa warna. Ia masih menyebutkan warna-warna dengan perumpamaan yang membuatku harus menunduk dan menatap lantai.

Tapi aku sudah empat bulan memperhatikan wajahnya. Aku sudah hafal setiap garis, setiap kerutan, setiap gerakan kecil di sudut bibir. Aku ilustrator. Mengamati wajah adalah pekerjaanku.

Dan wajahnya berubah.


Yang pertama kusadari: ia terlalu lembut.

Arie tidak pernah kasar. Tapi ia kaku, kering, dan kadang menyebalkan dengan cara yang membuatku tertawa. Warna senyum Anda terlalu putih. Rambutmu seperti bougenvil yang belum dipangkas. Itu metodologi. Sekarang tidak lagi. Sekarang setiap kalimatnya hati-hati, seperti ia sedang berjalan di atas lantai kaca.

Senin, aku tersandung kabel di lorong rumah. Hanya tersandung, tidak jatuh. Ia langsung meraih lenganku dan menatapku seperti aku baru saja keluar dari ruang operasi.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Arie, aku cuma kesandung.”

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

Ia tidak melepas lenganku. Ia menatapku lama, dengan mata yang terlalu dalam untuk orang yang hanya melihat seseorang tersandung kabel.

Selasa, aku bilang aku haus. Sepuluh menit kemudian ia kembali dari minimarket di ujung jalan dengan enam botol minuman berbeda. Air mineral, teh, jus jeruk, susu, minuman isotonik, dan kopi kaleng. Ia meletakkannya berjajar di meja teras seperti sampel cat.

“Aku tidak tahu kamu mau yang mana,” katanya.

“Arie. Aku bilang haus. Bukan sekarat.”

Ia tersenyum. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata.


Yang kedua kusadari: ia berhenti memberitahuku angkanya.

Stopwatch. Permainan kami. Bahasa rahasia kami.

Dulu, setiap kali ia melepas tanganku, aku menyalakan stopwatch, dan kami berdua pura-pura sibuk sampai ia menoleh dan bilang habis. Lalu aku melihat angkanya. Delapan menit. Sebelas. Lima belas. Ia mencatatnya di buku kecil hitam berjudul Data.

Sekarang ia tidak bilang habis lagi.

Rabu, aku melepas tangannya di teras dan menyalakan stopwatch seperti biasa. Lima menit kemudian, aku menoleh. Ia sedang menatap halaman dengan wajah yang jauh.

“Masih?” tanyaku.

Ia diam sebentar. “Sudah.”

“Kapan?”

“Tadi.”

“Berapa?”

“Tidak penting.”

Aku menatapnya. Tidak penting. Ini laki-laki yang membuat buku catatan khusus untuk angka ini. Yang bertengkar denganku soal apakah Suryakencana dihitung sebagai rekor.

“Arie.”

“Sungguh,” katanya, dan menoleh padaku dengan senyum. “Tidak penting. Aku sudah tidak butuh menghitung.”

Itu terdengar romantis. Kalau aku mendengarnya sebulan lalu, aku akan menelungkupkan wajah di bantal dan berteriak.

Tapi caranya mengatakan itu tidak romantis. Caranya mengatakan itu seperti orang yang menyembunyikan hasil lab.


Kamis, saat ia sedang di kamar mandi baru yang keramiknya biru kehijauan seperti laut dangkal, memeriksa pemasangan wastafel dengan Pak Darto, buku kecil hitam itu tertinggal di meja teras.

Aku tidak berniat membukanya. Aku bersumpah aku tidak berniat.

Aku membukanya.

Halaman pertama, seperti yang kuingat: Hari 1. Studio. Jabat tangan. ±2 detik. Jepitnya kuning.

Halaman-halaman berikutnya, angka-angka yang naik. Tiga detik. Enam. Sebelas. Dua puluh dua. Satu menit. Tiga menit dua belas. Delapan menit. Lima belas menit tiga detik.

Lalu, di halaman terakhir yang terisi, dengan tanggal hari Senin, Selasa, Rabu:

14 menit.

9 menit.

6 menit 40 detik.

Angkanya turun.

Aku menatap tiga baris itu lama sekali. Lalu aku menutup buku itu, meletakkannya persis di tempatnya, sejajar dengan tepi meja, seperti cara Arie meletakkan semua benda, dan duduk di kursi teras dengan tangan di pangkuan.

Turun. Kenapa turun?

Teoriku, teori yang terlalu memalukan untuk diucapkan, teori yang kuucapkan di kepalaku dalam bahasa buku cerita anak: Semakin Kiko sayang pada payungnya, semakin lama payung itu mau tinggal.

Kalau teori itu benar, berarti angka yang turun...

Aku tidak menyelesaikan pikiran itu. Aku tidak mau.


Yang ketiga kusadari: Jojo aneh.

Jojo selalu aneh. Tapi Jojo yang biasa anehnya ribut. Ia bicara terlalu banyak, menangis terlalu sering, membuat spreadsheet untuk hal-hal yang tidak perlu spreadsheet.

Jojo minggu ini diam.

Ia datang ke Jalan Kenari hari Kamis, membawa gambar revisi untuk taman. Ia menyapaku dengan “Hai, Kak” yang terlalu cepat, lalu langsung pergi ke halaman dan tidak kembali selama dua jam. Saat aku menghampirinya di dekat bougenvil, ia menjatuhkan gambar revisinya, memungutnya, menjatuhkannya lagi, lalu bilang ia harus menelepon klien.

“Mas Jojo,” kataku. “Mas Jojo kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa, Kak.” Ia tidak menatapku. Ia menatap bougenvil. “Capek aja. Banyak proyek.”

“Mas Jojo nggak pernah capek.”

“Aku manusia, Kak. Batak juga manusia.” Ia menelan ludah. Lalu, cepat sekali, hampir tidak terdengar, ia berkata ke bougenvil: “Kak, kalau Abang... kalau Abang aneh, Kakak sabar ya.”

“Aneh gimana?”

“Nggak. Nggak apa-apa. Aku ngelantur.” Ia mengangkat ponselnya. “Klien, Kak. Klien. Penting.”

Ia berjalan menjauh dengan ponsel di telinga. Aku cukup yakin layarnya mati.

Di grup WhatsApp, Jojo tidak mengirim satu pesan pun selama empat hari. Tari mengirimiku pesan pribadi: Mas Jojo kenapa? Aku tanya dia nggak jawab. Biasanya dia balas dalam empat detik. Ada yang meninggal?

Aku tidak tahu harus menjawab apa.


Jumat malam, kami makan malam di warung pecel lele di dekat stasiun Bogor.

Itu ide Arie. Ia bilang ia lapar, padahal ia jarang lapar, padahal ia biasanya lupa makan sampai aku mengingatkannya. Kami duduk di bangku plastik di bawah tenda terpal biru, dengan lampu bohlam telanjang di atas kepala dan bau minyak goreng dan sambal terasi.

Ia memegang tanganku di atas meja sepanjang makan. Ia makan dengan satu tangan, canggung. Ia menyebutkan warna: lele yang cokelat keemasan, sambal yang merah tua dengan biji putih, lalapan kemangi hijau gelap, timun hijau pucat, kol putih kehijauan.

Lalu ia berhenti bicara. Ia menatapku.

Ia sering melakukan ini minggu ini. Berhenti di tengah kalimat dan menatapku. Lama. Seperti sedang menghafal.

“Arie.”

“Hm.”

“Papamu ngomong apa? Hari Minggu.”

Tangannya di tanganku diam. Hanya sebentar. Satu detik. Tapi aku merasakannya.

“Soal proyek lama,” katanya.

“Proyek apa?”

“Banyak.” Ia menatap piringnya. “Proyek-proyek dulu. Waktu aku kecil. Kami bicara. Pertama kali kami benar-benar bicara.”

“Itu bagus.”

“Ya.”

“Kalian bicara soal apa aja?”

Ia diam lebih lama. Lalu ia mengangkat kepala dan tersenyum padaku. Senyum yang sama dengan yang ia berikan saat bilang tidak penting. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Soal Papa,” katanya. “Soal kenapa Papa selalu diam. Papa minta maaf.”

“Minta maaf soal apa?”

“Soal banyak hal.” Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Nanti aku cerita. Kalau sudah waktunya.”

Kalau sudah waktunya.

Aku menatapnya. Di bawah lampu bohlam telanjang, di warung pecel lele yang berisik, dengan sambal terasi di ujung jarinya dan mata yang terlalu dalam.

Pak Gunawan bilang ia akan menceritakan sesuatu pada Arie. Kalau saya sudah berani. Pak Gunawan menelepon hari Minggu. Soal yang seharusnya Papa bicarakan dua puluh tiga tahun lalu.

Dua puluh tiga tahun.

Jantungku berhenti sebentar.

Apa Pak Gunawan sudah cerita? Soal Jalan Kenari? Soal anak di ayunan? Kalau iya, berarti Arie tahu. Arie tahu bahwa aku anak itu. Arie tahu bahwa ia yang menggambar matahari di punggung tanganku.

Tapi kalau ia tahu, kenapa ia tidak bilang apa-apa? Kenapa ia tidak senang? Kenapa wajahnya seperti ini?

Kenapa angkanya turun?

“Sabrina?”

Aku mengangkat kepala.

“Kamu pucat,” katanya pelan. “Pipimu.”

“Kepedesan,” kataku. “Sambalnya.”

Ia menatapku lama, dengan mata yang membaca warna pipiku, dan aku tahu ia tahu aku bohong. Sama seperti aku tahu ia bohong.

Kami berdua duduk di sana, di bawah tenda terpal biru, berpegangan tangan di atas meja yang penuh piring, dan sama-sama tidak bertanya.


Aku hampir memberitahunya malam itu.

Di mobil, di depan kos, sebelum aku turun. Ia mematikan mesin. Lampu teras kos menyala kuning redup. Aku duduk dengan tangan di pegangan pintu dan kalimat itu di lidahku, sudah tersusun rapi, sudah kulatih ratusan kali di depan cermin kamar mandi:

Arie. Kamu inget anak kecil di ayunan? Yang pakai jas hujan kuning? Yang kamu kasih krayon lewat pagar?

Itu aku.

Aku membuka mulut.

Lalu aku memikirkan lukisan cat air di laci meja gambarku. Rumah di Jalan Kenari, dua orang di bawah pohon kenari, matahari krayon di pojok. BINA. 27 TH. Dan gambar lama di sebelahnya, kertas menguning dengan tanda tangan ARIE. 8 TH.

Dua minggu lagi. Serah terima. Rumahnya selesai. Aku sudah merencanakannya selama satu setengah bulan. Aku mau ia berdiri di kamarku yang kuning, dengan cap tangan yang tersembunyi di dinding, dan aku mau memberikan dua gambar itu, dan aku mau melihat wajahnya.

Dua minggu.

Aku menutup mulut.

“Kenapa?” tanyanya.

“Nggak,” kataku. “Nggak apa-apa. Selamat malam.”

Aku mencium pipinya dan turun dari mobil.

Di depan gerbang, aku menoleh. Ia masih di mobil. Ia tidak menyalakan mesin. Ia menatapku lewat jendela dengan wajah yang tidak bisa kubaca dalam gelap.

Lalu ia mengangkat tangannya. Telapak menempel di kaca jendela mobil.

Aku tidak tahu apa artinya. Aku hanya berdiri di sana, di depan gerbang kos, dan menatap telapak tangan di balik kaca, sampai ia menurunkannya dan menyalakan mesin dan pergi.


Ponselku bergetar jam sebelas malam.

Bukan Arie. Bukan Tari. Bukan grup.

Nomor yang tidak kusimpan. Foto profilnya bunga anggrek ungu.

Nak Sabrina, ini Tante Clarissa, mamanya Arie. Maaf malam-malam. Besok kamu ada waktu makan siang? Tante mau ngobrol berdua. Tante yang traktir. Tante sudah lama mau bilang terima kasih yang benar.

Aku menatap pesan itu.

Terima kasih yang benar.

Aku mengetik balasan. Boleh, Tante. Di mana?

Tante Clarissa membalas dengan alamat restoran di Kemang, dan tiga emoji bunga, dan satu kalimat lagi:

Tante senang sekali kamu sudah tahu semuanya. Tante nggak sabar ngobrol.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Sudah tahu semuanya.

Aku tidak tahu apa yang dimaksud Tante Clarissa dengan semuanya. Mungkin soal sentuhan. Soal warna. Soal kontrak. Arie menceritakan semua itu di meja makan, di depan Tante Clarissa, dua minggu lalu.

Mungkin.

Aku mematikan ponsel, meletakkannya di dada, dan menatap langit-langit kamar kos dalam gelap.

Di bawah semuanya, di tempat dingin yang selama satu setengah bulan kupura-pura tidak ada, sesuatu yang kecil mengangkat kepala.

Dan kali ini, aku tidak bisa menyuruhnya tidur lagi.