Chapter Twenty Eight
Krayon Kuning
POV: Arie
Ayahku datang jam tiga tepat. Ia selalu tepat waktu.
Ia berdiri di ambang pintu apartemenku dengan jas abu-abu kebiruan yang ia pakai di pameran, dan sebuah map plastik di tangannya. Ia belum pernah datang ke apartemenku. Sudah enam tahun aku tinggal di sini, dan ia belum pernah datang. Ibuku datang setiap bulan, membawa rendang dan membereskan kulkas. Ayahku tidak pernah.
Ia masuk dan menatap sekeliling. Dinding putih. Sofa abu-abu. Lantai semen poles. Rak buku hitam. Lemari dengan empat kemeja berlabel. Dapur yang hampir tidak pernah dipakai.
“Abu-abu semua,” katanya pelan.
“Ya, Pa.”
Ia mengangguk. Ia tidak berkomentar lagi. Ia duduk di sofa, meletakkan map plastik di pangkuannya, dan menatap tangannya sendiri.
Aku duduk di kursi di seberangnya. Aku menunggu.
Ia tidak bicara untuk waktu yang lama. Jam di dinding berdetak. Di luar jendela, langit Jakarta sore itu kelabu, seperti biasa, dalam mataku.
“Kamu ingat Bogor?” tanyanya akhirnya.
“Tidak, Pa. Aku tidak ingat apa-apa dari sebelum umur delapan.”
“Papa tahu.” Ia menelan ludah. “Papa tahu. Dokter bilang begitu. Papa... Papa bersyukur waktu itu. Bahwa kamu tidak ingat.”
Ia membuka map plastik itu.
Di dalamnya, foto. Foto yang sama yang ia genggam di tepi kolam dua minggu lalu, yang Sabrina bilang foto masa kecilku. Ia menyodorkannya padaku.
Aku menerimanya.
Anak laki-laki, delapan tahun, duduk di atas tembok pembatas. Helm proyek kebesaran yang hampir menutupi mata. Kotak krayon di pangkuan. Menoleh ke kamera dengan senyum lebar dan satu gigi depan ompong. Di belakangnya, buram, sebuah pohon besar dengan batang yang tidak bisa dipeluk satu orang. Dan di dahan bawah pohon itu, tergantung, ayunan papan dengan tali tambang.
Aku menatap foto itu lama.
Pohon itu. Ayunan itu. Aku sudah berdiri di bawahnya puluhan kali dalam tiga bulan terakhir. Aku sudah duduk di akarnya. Aku sudah berlutut di rumput di depannya dan menangkup wajah seseorang.
“Itu Jalan Kenari,” kataku. Suaraku keluar datar. Terlalu datar. “Itu pohon kenari di rumah Eyang.”
“Ya.”
“Aku pernah ke sana.”
“Setiap akhir pekan. Selama empat bulan.” Ayahku tidak menatapku. Ia menatap foto di tanganku. “Papa membangun vila di sebelah rumah itu. Kamu selalu ikut. Kamu duduk di tembok itu, menggambar. Kamu tidak mau main dengan anak tukang. Kamu cuma mau menggambar.”
Vila di sebelah. Vila tua dengan pagar berkarat dan jendela yang ditutup papan. Vila yang membuat kepalaku berdenyut di titik yang dulu dijahit, setiap kali aku melewatinya.
“Lalu,” kataku.
Ayahku menarik napas.
Ia menceritakan semuanya.
Anak perempuan kecil di rumah sebelah. Umur empat. Baru pindah, ikut neneknya, karena orang tuanya kerja di luar kota. Menangis setiap hari. Lalu suatu sore, aku turun dari tembok, berjalan ke pagar, dan memberikan krayon kuning lewat celah pagar.
“Kamu bilang ke Papa,” kata ayahku, “dia nangis terus, Pa, kasihan, aku kasih kuning biar dia nggak sedih. Kamu bilang kuning itu warna yang paling nggak sedih.”
Aku tidak ingat. Tapi sesuatu di dadaku bergerak.
Anak perempuan itu memanggilku Kakak. Setiap sore ia duduk di ayunan menungguku. Kami menggambar bersama di dua sisi pagar. Waktu ia kedinginan, aku menggambar matahari di punggung tangannya dengan krayon. Biar kamu nggak kedinginan.
Matahari kecil. Lingkaran kuning. Tujuh garis sinar.
Aku menatap foto di tanganku dan tidak bisa bernapas.
Lalu ayahku menceritakan hari hujan itu.
Perancah di sisi vila yang dekat pagar. Pemilik vila mendesak supaya struktur atap selesai sebelum musim hujan puncak. Kontraktor bilang perancah itu belum diperkuat dengan benar, butuh dua hari lagi. Ayahku bilang tidak ada waktu. Ayahku bilang pakai saja dulu. Ayahku menandatangani izinnya.
“Itu salah Papa,” katanya. Suaranya tidak datar lagi. Suaranya pecah. “Bukan jatuh. Bukan kecelakaan. Papa yang tanda tangan. Papa yang bilang tidak ada waktu.”
Hujan deras. Anak perempuan itu di ayunan, dengan jas hujan kuning. Krayon kuningnya jatuh, menggelinding ke lokasi proyek. Ia mengejarnya. Perancah mulai miring.
“Kamu lari dari tembok,” kata ayahku. “Papa lihat sendiri. Papa di teras vila. Papa teriak. Kamu tidak dengar. Kamu lari dan dorong anak itu sekuat tenaga. Anak itu jatuh ke lumpur. Dan perancahnya...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
Kepalaku berdenyut. Di titik di belakang telinga kiri. Di tempat yang dulu dijahit.
Dan sesuatu berkelebat di belakang mataku. Bukan ingatan utuh. Potongan. Seperti foto yang robek. Hujan. Bunyi besi. Seseorang menjerit. Dan kuning. Kuning terang, kuning plastik jas hujan, kuning yang begitu kuning sampai mataku perih. Lalu gelap.
Lalu, saat aku bangun, semuanya abu-abu.
“Warna terakhir yang kamu lihat,” bisik ayahku, “adalah jas hujannya.”
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya berdiri, dan berjalan ke meja kerja di sudut, dan membuka laci.
Pensil mekanik. Penggaris skala. Kartu nama. Dan sepotong krayon patah sepanjang ruas jari, dengan kertas pembungkus yang sudah lusuh dan tulisan cetak yang nyaris hilang: KUNING.
Ibuku bilang aku menggenggamnya waktu dibawa ke rumah sakit, dan menolak melepasnya bahkan saat dibius.
Aku mengambil krayon itu. Aku memegangnya di telapak tangan. Abu-abu. Terang. Ringan sekali.
Krayonnya. Krayon yang kuberikan lewat celah pagar. Krayon yang menggelinding ke lokasi proyek di bawah hujan. Krayon yang pasti kuambil dari lumpur saat aku mendorongnya, atau saat aku jatuh, atau saat aku terbaring di bawah besi dan bambu dengan darah di kepala.
Aku menyimpannya dua puluh tiga tahun tanpa tahu milik siapa.
“Pa,” kataku, tanpa menoleh. Krayon itu di tanganku. “Anak itu.”
Ayahku tidak menjawab.
“Anak di ayunan itu,” kataku. “Cucu Eyang Ratih.”
“Ya.”
“Sabrina.”
Hening.
“Ya,” kata ayahku.
Aku tidak menangis.
Aku pikir aku akan menangis. Aku sudah menangis di bahu ibuku, menangis di dapur Jalan Kenari, menangis di depan durian yang jatuh. Aku sudah belajar menangis dalam tiga bulan terakhir, setelah dua puluh tiga tahun tidak pernah.
Tapi aku tidak menangis. Aku berdiri di depan laci yang terbuka dengan krayon di tangan, dan semuanya terasa sangat diam. Sangat jernih. Seperti udara setelah petir.
Sabrina.
Anak empat tahun yang menangis setiap hari. Anak yang memanggilku Kakak. Anak yang kugambari matahari di punggung tangannya.
Ia tumbuh. Ia jadi ilustrator. Ia menggambar matahari kecil di pojok setiap gambarnya, karena seseorang pernah menggambarnya di tangannya. Ia datang ke studioku terlambat dua puluh tujuh menit dengan payung patah, dan menjabat tanganku.
Dan dunia yang hilang karena dirinya, kembali karena dirinya.
“Papa tahu sejak kapan?” tanyaku.
“Sejak Papa lihat gambar kerjamu. Sebulan sebelum makan siang itu. Papa mampir ke studio, kamu tidak ada, dan Papa lihat alamat di gambar di mejamu.” Ia menunduk. “Papa yakin waktu dia bilang Jalan Kenari di meja makan. Dan Papa tidak bilang apa-apa.”
“Kenapa?”
“Karena Papa pengecut, Arie.” Ayahku mengangkat kepala. Matanya merah. Basah. Dalam abu-abuku, aku tidak bisa melihat warnanya, tapi aku bisa melihat air matanya, terang di bawah lampu. “Papa sudah pengecut dua puluh tiga tahun. Papa bilang ke neneknya, di rumah sakit, bahwa kamu sehat. Cuma dijahit. Supaya dia tidak merasa bersalah. Papa bilang ke kamu bahwa kamu jatuh. Supaya kamu tidak tanya. Papa bawa kamu ke Singapura supaya tidak ada yang tanya. Papa diam, Arie. Papa selalu diam. Papa pikir diam itu melindungi.”
Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. Gerakan yang kaku, canggung, seperti orang yang belum pernah melakukannya.
“Semalam Papa cerita ke Mama,” katanya. “Semuanya. Mama nangis sampai pagi. Mama bilang Papa harus cerita ke kamu. Hari ini. Sebelum terlambat.” Ia menatapku. “Sebelum kamu jadi seperti Papa.”
Aku duduk kembali. Krayon di tanganku.
“Dia tahu?” tanyaku. “Sabrina. Dia tahu ini?”
Ayahku menatapku lama. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Ragu. Seperti orang yang memegang sesuatu yang bukan miliknya.
“Itu bukan bagian Papa untuk diceritakan,” katanya akhirnya. “Kamu tanya dia sendiri.”
Aku menatap krayon di tanganku.
Ia tidak tahu, pikirku. Kalau ia tahu, ia pasti bilang. Sabrina tidak bisa menyimpan apa pun. Pipinya selalu memerah duluan. Ia menceritakan semuanya pada Tari jam dua pagi. Ia berteriak di bantal. Kalau ia tahu bahwa aku adalah anak di tembok itu, bahwa matanya yang selalu menggambar matahari kecil adalah karena aku, ia pasti sudah bilang.
Dan kalau ia tahu bahwa duniaku abu-abu karena aku menyelamatkannya...
Aku memejamkan mata.
Aku membayangkan wajahnya. Dalam warna. Wajah yang kulihat di ayunan dengan matahari sore di sisi kiri dan bayangan biru di sisi kanan. Wajah yang tertawa di pasar malam. Wajah yang menangis di studio karena naskahnya ditolak.
Aku membayangkan wajah itu mendengar kebenaran ini.
Aku tahu persis apa yang akan terjadi. Aku sudah melihatnya. Aku sudah melihatnya di wajah ayahku selama dua puluh tiga tahun, di wajah Eyang yang mengulang cuma dijahit bertahun-tahun, di wajah ibuku yang selalu membalik halaman album terlalu cepat.
Rasa bersalah.
Sabrina akan melihatku dan melihat utang. Setiap kali ia memegang tanganku, ia akan berpikir: ini karena aku. Setiap kali aku menyebutkan warna, ia akan berpikir: dia kehilangan ini karena aku. Setiap kali aku tertawa, setiap kali aku menciumnya, setiap kali stopwatch menunjukkan angka yang lebih panjang, ia akan berpikir bahwa ia sedang membayar sesuatu.
Aku tidak mau ia memegang tanganku karena berutang.
Aku mau ia memegang tanganku karena mau.
“Aku tidak akan bilang,” kataku.
Ayahku tidak bergerak.
“Aku tidak akan bilang ke dia, Pa.” Aku membuka mata. “Kalau dia tahu, dia akan merasa bersalah. Selamanya. Dia akan merasa semua ini, semua warnanya, semua yang dia berikan, itu bayaran. Aku tidak mau itu. Aku tidak mau dia membayar apa pun.”
“Arie...”
“Dia tidak berutang apa-apa. Aku yang lari. Aku yang dorong. Itu pilihanku, walaupun aku tidak ingat. Dan aku akan memilihnya lagi.” Suaraku mulai bergetar. Aku tidak bisa menghentikannya. “Aku akan memilihnya lagi seribu kali, Pa. Kalau pilihannya dunia berwarna tanpa dia, atau dunia abu-abu dengan dia di ayunan itu, aku pilih abu-abu.”
Ayahku menatapku. Lama.
Lalu ia berdiri. Pelan, seperti orang tua. Ia berjalan ke kursiku dan berdiri di depanku, dan untuk pertama kalinya sejak aku umur delapan, ia meletakkan tangannya di kepalaku. Di rambutku. Di tempat di belakang telinga kiri, di bekas jahitan yang sudah lama tertutup rambut.
“Papa pikir begitu juga,” katanya pelan. “Dua puluh tiga tahun lalu. Papa pikir kalau Papa diam, tidak ada yang rusak. Papa pikir diam itu cara melindungi orang yang kita sayang.” Tangannya di kepalaku gemetar. “Lihat hasilnya, Arie. Kita duduk di sini. Bapak dan anak. Dan kita tidak tahu cara bicara satu sama lain.”
Aku tidak menjawab.
“Jangan jadi seperti Papa,” bisiknya.
Lalu ia menarik tangannya dari kepalaku, mengambil map plastik yang sekarang kosong dari sofa, dan berjalan ke pintu.
Di ambang pintu, ia berhenti.
“Fotonya simpan,” katanya tanpa menoleh. “Itu milikmu.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di kursi itu sampai langit di luar gelap.
Foto di pangkuanku. Krayon di tanganku. Apartemen abu-abu di sekelilingku, sunyi.
Jam delapan, aku menelepon Jojo.
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu aku harus mengatakannya pada seseorang, dan Jojo adalah satu-satunya orang yang selalu ada di sana. Lima tahun. Membisikkan warna.
Aku menceritakannya. Semuanya. Jojo mendengarkan tanpa memotong, dan sekali lagi, itu yang paling membuatku takut.
Setelah aku selesai, hening lama di ujung telepon.
“Bang,” kata Jojo akhirnya. Suaranya serak. “Abang harus bilang ke Kak Sabrina.”
“Tidak.”
“Bang...”
“Jo. Kamu tidak boleh bilang. Tidak ke Sabrina. Tidak ke Tari. Tidak ke grup. Tidak ke siapa pun.” Aku menggenggam krayon itu lebih erat. “Aku akan bilang sendiri. Nanti. Kalau sudah waktunya.”
“Kapan, Bang? Kapan waktunya?”
Aku tidak menjawab.
“Bang,” kata Jojo, dan suaranya tidak bercanda sama sekali sekarang. “Abang ingat yang aku bilang di pagar, waktu Reza datang? Abang selalu begitu. Semua Abang simpan. Abang pikir kalau diam, nggak ada yang rusak.”
“Aku ingat.”
“Terus?”
“Kali ini aku benar, Jo.”
Hening.
“Abang selalu bilang begitu,” kata Jojo pelan. “Setiap kali.”
Ia menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Jojo menutup telepon duluan.
Aku duduk dalam gelap, memegang krayon kuning yang dulu milik anak empat tahun di ayunan, dan berkata pada diriku sendiri bahwa aku sedang melindunginya.
Ayahku sudah mengatakan kalimat yang sama, di lorong rumah sakit, dua puluh tiga tahun lalu. Ia sendiri yang menceritakannya padaku, beberapa jam yang lalu, di sofa itu, dengan air mata di wajahnya.
Aku mendengarnya. Dan aku tetap mengatakannya.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning reading
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari