Chapter Twenty Seven
Pagi
POV: Arie
Tol Jagorawi banjir Sabtu malam, dan Eyang Ratih tidak mau mendengar alasan apa pun.
“Tidur sini,” katanya. Itu bukan tawaran. Itu keputusan jenderal. “Kamar depan rumah utama sudah jadi. Kasur lipat ada di gudang. Darto sudah Eyang telepon, dia bilang air di Cibubur sepinggang.”
“Eyang, saya bisa menunggu di mobil sampai...”
“Kamu mau tidur di mobil? Di depan rumah Eyang? Biar tetangga lihat?” Eyang menatapku dari balik kacamata berantai. “Nak Arie, tetangga Eyang sudah cukup bahan gosip sejak Darto cerita soal tegel.”
Sabrina, di sebelahnya, masih dengan sisa cat kuning di pelipis yang tidak berhasil ia bersihkan, menutup mulut dengan tangan.
“Bina tidur di paviliun sama Eyang,” lanjut Eyang tegas. “Kamu di kamar depan. Pintu paviliun Eyang kunci. Eyang tidurnya ringan. Eyang dengar semut jalan.”
“Baik, Eyang,” kataku.
“Bagus.” Eyang berbalik. Lalu, di ambang pintu paviliun, ia menoleh. “Dan cuci muka. Kamu masih kuning.”
Kamar depan rumah utama baru selesai dicat minggu lalu. Krem hangat, seperti ruang tengah. Kusennya hijau tua. Lantainya tegel lama yang sudah dipoles ulang, dingin di telapak kaki. Belum ada perabot. Hanya kasur lipat dari gudang, bantal yang bau kapur barus, dan selimut batik yang Eyang lempar dari pintu dengan pesan “jangan ditiduri pakai sepatu”.
Aku berbaring di kasur lipat itu dan menatap langit-langit.
Dalam gelap, kamar itu abu-abu, seperti semua kamar. Hujan masih turun di luar, lebih pelan sekarang, menetes dari genteng baru ke talang baru. Aku bisa mendengar tetes-tetesnya. Aku bisa mendengar jangkrik di pohon kenari. Dan dari paviliun di belakang, sangat samar, aku bisa mendengar suara dua perempuan yang tertawa pelan, suara yang terputus-putus oleh hujan.
Aku tidak bisa tidur.
Aku memikirkan dinding kuning. Cap tangan yang tersembunyi. Cat di bibir.
Aku memikirkan bahwa aku sedang berbaring di rumah yang kurancang, di bawah atap yang kuhitung bebannya, di kamar yang kupilih warnanya dengan tangan di tangan seseorang. Dan untuk pertama kalinya dalam karierku, aku tidak memikirkan rumah ini sebagai proyek.
Aku memikirkannya sebagai rumah.
Aku tertidur jam dua pagi, dengan bau kapur barus dan bunyi talang dan perasaan aneh yang tidak punya nama, seperti seseorang yang baru pulang ke tempat yang tidak pernah ia tinggali.
Aku bangun karena bau bawang putih.
Langit di jendela masih gelap, gelap yang mulai terang di pinggir. Subuh. Jam lima kurang. Dari masjid di ujung jalan, suara azan sudah selesai. Dari dapur di ujung lorong, suara minyak panas dan pisau di talenan.
Aku berjalan ke dapur dengan kaki telanjang di tegel yang dingin.
Sabrina berdiri di depan kompor dengan punggung menghadapku. Kaus kebesaran yang jelas bukan miliknya, mungkin milik almarhum kakeknya, karena bermotif kotak-kotak dan kerahnya sudah lusuh. Celana tidur. Rambut diikat asal-asalan di puncak kepala dengan karet gelang, sebagian sudah lepas, berantakan ke segala arah. Kaki telanjang. Ia sedang menumis sesuatu di wajan dan bersenandung pelan.
Aku berdiri di ambang pintu dapur dan tidak bergerak.
Dalam abu-abuku, pagi itu tidak punya warna. Hanya bentuk-bentuk lembut dalam cahaya subuh yang kelabu: punggungnya, bahunya yang bergerak mengikuti senandung, uap yang naik dari wajan, jendela dapur dengan langit yang perlahan memucat.
Aku tidak butuh warna untuk tahu bahwa ini hal paling indah yang pernah kulihat.
Ia menoleh. Melihatku. Menjerit kecil dan menjatuhkan sutil.
“Arie! Ya Tuhan. Kamu dari kapan di situ?”
“Baru.”
“Kamu bikin kaget.” Ia memungut sutil dari lantai, mencucinya di keran, lalu menatapku dengan mata menyipit. “Kamu kok udah bangun? Ini jam lima.”
“Aku bangun jam lima setiap hari.”
“Setiap hari?”
“Kebiasaan.”
Ia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutku yang pasti berantakan. Kaus yang kupakai tidur, kaus abu-abu lain milik Jojo yang untungnya ada di mobil. Kaki telanjang.
“Kamu kelihatan kayak orang biasa,” katanya.
“Aku memang orang biasa.”
“Nggak. Biasanya kamu kelihatan kayak iklan jam tangan. Sekarang kamu kelihatan kayak...” Ia memiringkan kepala. “Kayak orang yang baru bangun.”
“Aku memang baru bangun.”
Ia tertawa, pelan, supaya tidak membangunkan Eyang. Lalu kembali ke wajannya.
“Nasi goreng,” katanya. “Nasi sisa semalam. Mau?”
“Mau.”
“Bisa iris cabai?”
Aku tidak bisa iris cabai.
Bukan karena tidak tahu caranya. Aku arsitek. Aku bisa memotong maket dengan cutter sampai presisi setengah milimeter. Aku bisa mengiris cabai.
Masalahnya, di talenan ada dua cabai. Satu merah, satu hijau. Sabrina bilang “iris yang merah aja, yang hijau buat Eyang, Eyang nggak kuat pedas”, lalu kembali ke wajannya. Dan di mataku, di subuh yang kelabu, kedua cabai itu bernilai terang yang hampir sama persis.
Aku berdiri di depan talenan dengan pisau di tangan dan menatap kedua cabai itu.
Lima detik. Sepuluh.
“Arie?” Ia menoleh. Melihatku. Melihat talenan. Lalu mengerti. Aku melihatnya mengerti, wajahnya berubah dari bingung menjadi lembut, lalu menjadi sesuatu yang usil.
Ia mematikan kompor. Berjalan ke belakangku. Dan memasukkan tangannya ke bawah lenganku, dan memelukku dari belakang, persis seperti ia memelukku kemarin di depan dinding kuning, telapak tangannya di perutku, pipinya di punggungku.
Lalu tangannya turun dan menemukan tangan kiriku. Kulit ke kulit.
Dapur menyala.
Bukan ledakan. Pagi tidak meledak. Pagi menyala pelan, seperti lampu yang diputar ke atas sedikit demi sedikit. Cahaya subuh di jendela ternyata biru pucat dengan semburat merah muda di bawahnya. Dinding dapur krem. Pintu dapur biru kolam. Lampu gantung kaca di atas meja makan, hijau. Wajan di kompor hitam dengan nasi yang setengah kecokelatan, bawang merah ungu, bawang putih keemasan.
Dan di talenan: satu cabai merah, merah menyala, mengilap. Satu cabai hijau, hijau tua, lebih panjang.
“Yang merah,” bisiknya di punggungku. “Yang kiri.”
“Aku tahu sekarang.”
“Iris.”
Aku mengiris cabai merah dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ada di tangannya di perutku. Itu sangat tidak efisien. Itu juga sangat tidak aman, kata Jojo kalau ia ada di sini. Aku tidak peduli.
“Kamu kayak gini setiap pagi?” tanyaku pelan.
“Kayak gini gimana?”
“Rambut seperti itu.”
Ia diam. Lalu, di punggungku, aku merasakan pipinya memanas.
“Rambutku kenapa?”
“Kamu ikat pakai karet gelang,” kataku. “Karetnya merah. Rambutnya mencuat ke segala arah. Seperti...” Aku mencari kata. Aku selalu mencari kata. “Seperti bougenvil yang belum dipangkas.”
“Arie.”
“Itu pujian.”
“Itu bukan pujian! Itu laporan teknis!”
“Kaus kamu kotak-kotak,” lanjutku, tidak peduli. “Biru dan cokelat. Kerahnya sudah pudar jadi biru muda. Ada noda kuning di lengan kiri. Cat kemarin. Kamu belum cuci tangan dengan benar.”
“Aku udah cuci!”
“Di bawah kukumu masih kuning.”
Ia menarik tangannya dari tanganku, mengangkatnya ke depan wajahnya dari balik bahuku, dan menatap kukunya.
Warna mulai surut, pelan. Aku masih bisa melihat. Aku melihatnya menatap kuku-kukunya yang memang masih ada sisa kuning di bawahnya, lalu menggeram kecil, lalu memukul pelan dadaku dari belakang.
“Kamu nyebelin,” katanya.
“Pasal empat. Dengan sejujur-jujurnya.”
“Aku batalin pasal empat.”
“Kamu tidak bisa membatalkan kontrak secara sepihak.”
“Bisa. Aku Yang Dipegang.”
“Kamu sedang memeluk,” kataku. “Bukan dipegang. Itu pasal lain.”
Ia diam. Lalu tertawa ke punggungku, getaran yang kurasakan di tulang belakang. Lalu, alih-alih melepaskanku, ia memelukku lebih erat.
Aku meletakkan pisau. Aku berbalik, pelan, di dalam pelukannya, sampai aku menghadapnya. Lalu aku memeluknya. Dari depan, kali ini. Kepalanya di dadaku. Rambut bougenvilnya di daguku. Bau bawang putih dan sisa cat dan sabun Eyang.
Kami berdiri seperti itu di dapur, di subuh yang pelan-pelan biru, sementara nasi goreng di wajan mendingin.
Eyang muncul di dapur jam enam, dengan mukena masih di kepala dan wajah yang sama sekali tidak terkejut.
“Nasi gorengnya dingin,” katanya, melirik wajan.
“Iya, Eyang,” kata Sabrina dari dadaku, tanpa bergerak.
“Kalian peluk-pelukan dari jam berapa?”
“Baru, Eyang.”
“Eyang dengar dari jam lima.” Eyang mengambil piring dari rak dan menyendok nasi goreng dingin ke piringnya sendiri dengan tenang. “Eyang kan bilang. Eyang dengar semut jalan.”
Ia duduk di meja makan, di bawah lampu kaca hijau, dan mulai makan.
Sabrina akhirnya melepaskanku. Wajahnya merah. Ia kembali ke kompor dan menyalakannya lagi, dengan gerakan yang sangat sibuk dan sangat tidak perlu.
Aku duduk di meja makan di seberang Eyang.
Eyang mengunyah pelan. Ia menatapku dari balik kacamata, lama, dengan cara yang sama seperti di hari pertama, cara yang mengukur untuk peti mati atau jas pengantin.
“Nak Arie,” katanya.
“Ya, Eyang.”
“Rumah ini besar.” Ia menyendok nasi lagi. “Tiga kamar. Satu ruang tengah. Satu dapur. Halaman luas. Pohon kenari. Ayunan.” Ia mengunyah. “Terlalu besar untuk satu orang.”
Aku tidak menjawab. Di kompor, Sabrina berhenti mengaduk.
“Eyang sudah tua,” lanjut Eyang tenang. “Eyang tinggal di paviliun. Rumah utama ini untuk Bina. Tapi Bina tinggal di Jakarta, kerja di Jakarta. Kalau Bina pindah ke sini, sendirian, di rumah tiga kamar...” Ia menatapku lagi. “Eyang khawatir.”
“Eyang,” desis Sabrina dari kompor.
“Eyang cuma bilang rumahnya besar.”
Aku menatap meja makan. Kayu jati, meja lama yang diselamatkan dari gudang, yang permukaannya sudah dipoles ulang. Aku menatap lampu kaca hijau di atasnya, dan pintu dapur biru di sebelahnya, dan jendela yang langit di baliknya sekarang sudah biru terang.
Dan aku membayangkannya.
Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini. Aku tidak pernah membayangkan apa pun yang melampaui proyek berikutnya, rapat berikutnya, deadline berikutnya. Aku hidup dalam kalimat-kalimat pendek dan ruang-ruang abu-abu dan hari-hari yang sama.
Tapi duduk di meja itu, dengan nasi goreng dingin dan nenek yang mengunyah dengan tenang dan perempuan dengan rambut bougenvil yang pura-pura sibuk di kompor, aku membayangkannya. Pagi seperti ini. Bukan sekali. Berkali-kali. Bertahun-tahun. Subuh di dapur dengan pintu biru. Cabai merah dan hijau yang tidak perlu kutebak lagi karena ada tangan di tanganku. Langit di jendela yang berubah dari abu-abu jadi biru setiap pagi, karena ada seseorang yang memelukku dari belakang.
“Rumahnya memang besar,” kataku pelan.
Eyang mengangguk, puas, dan kembali ke nasi gorengnya.
Sabrina tidak menoleh dari kompor. Tapi aku melihat telinganya, dalam abu-abuku, menjadi lebih gelap.
Ponselku bergetar jam delapan, saat kami sedang mencuci piring.
Aku mengeringkan tangan dan melihat layar. Papa.
Ayahku tidak pernah meneleponku. Tidak pernah. Kami bicara lewat ibuku, atau tidak sama sekali. Terakhir kali ayahku meneleponku langsung adalah saat aku wisuda S2, untuk bilang ia tidak bisa datang karena rapat.
Aku menatap layar itu. Sabrina, di sebelahku dengan tangan di busa sabun, menatap layar itu juga.
Aku mengangkatnya.
“Pa.”
“Arie.” Suara ayahku. Datar, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu yang bergetar. “Kamu di mana?”
“Bogor. Rumah Jalan Kenari.”
Hening di ujung sana. Lama.
“Papa mau bicara,” katanya akhirnya. “Empat mata. Hari ini. Papa tunggu di apartemenmu jam tiga.”
“Soal apa, Pa?”
Hening lagi.
“Soal yang seharusnya Papa bicarakan dua puluh tiga tahun lalu,” kata ayahku.
Lalu ia menutup telepon.
Aku menatap ponsel di tanganku.
Di sebelahku, Sabrina tidak bergerak. Tangannya masih di dalam air sabun. Wajahnya, dalam abu-abuku, pucat. Lebih pucat dari biasanya.
“Papamu?” tanyanya. Suaranya kecil.
“Ya.”
“Mau bicara?”
“Ya.”
Ia tidak bertanya soal apa. Ia hanya menatap air sabun di bak cuci. Lalu, pelan, ia mengeluarkan tangannya, mengeringkannya di kaus kakeknya, dan menggenggam tanganku. Erat.
Dapur menyala lagi. Pintu biru. Lampu hijau. Langit pagi di jendela, biru terang tanpa awan.
Dan wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya digigit di sudut. Pipinya, yang biasanya merah muda, pucat dengan bercak-bercak merah tidak rata, seperti malam ia ditolak penerbit.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa.” Ia tersenyum. Senyum yang dipaksa. “Hati-hati di jalan. Tol masih banjir mungkin.”
Aku menatapnya lama. Aku tahu itu bukan jawaban.
Tapi aku tidak bertanya lagi. Aku menciumnya di dahi, dan berjalan ke mobil, dan menyetir pulang ke Jakarta lewat jalan yang masih basah, dengan perasaan aneh di perut yang tidak punya nama.
Perasaan seseorang yang tahu ia akan membuka pintu yang selama ini dilewati semua orang tanpa melihatnya.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi reading
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari