← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty Two

Selotip Label

POV: Arie

Ada empat puluh tiga selotip di rumah itu.

Aku menghitungnya Selasa pagi, sendirian, sebelum tukang datang. Aku berjalan dari pintu depan sampai pintu dapur, dari kamar depan sampai kamar belakang, dari teras sampai gudang, dengan buku kecil hitam berjudul Data di tangan, dan aku mencatat setiap selotip kertas yang menempel di dinding, di kusen, di pintu, di tiang.

Empat puluh tiga.

Tiga puluh satu di antaranya sudah kukenal. Label-label yang ia tempel di bulan pertama, di hari setelah kontrak ditandatangani. HIJAU TUA — kayak daun kenari yang di bawah. BIRU KOLAM. TERAKOTA COKELAT. KUNING MATAHARI PAGI. Kamar Bina. Bukan mustard. BUKAN. MUSTARD. Warna-warna yang sudah ada di gambar kerja. Warna-warna yang sudah dicat.

Dua belas sisanya, aku belum pernah melihat.

Bukan karena tersembunyi. Karena aku tidak pernah membacanya dengan benar. Aku selalu melewati rumah ini dengan tangan di tangannya, melihat warna, mendengar suaranya. Aku tidak perlu membaca label. Ia ada di sana.

Sekarang ia tidak ada di sana.

Aku membaca semuanya.


Di pintu kamar mandi: Hijau mint. Aku tahu Arie bilang norak. Aku tetap mau. Kamar mandi harus kelihatan segar kayak permen.

Aku ingat. Ia mengusulkannya di studio, dengan tangan di tanganku dan swatch hijau mint di meja. Aku bilang terlalu terang. Aku bilang tidak cocok dengan keramik biru laut. Ia cemberut dan aku memenangkan perdebatan itu, dan pintu kamar mandi dicat putih.

Ia menempel labelnya tetap.

Di plafon teras, ditempel dengan susah payah, pasti pakai tangga: Biru langit siang, waktu nggak ada awan. Biar kalau hujan, tetap ada langit.

Di anak tangga loteng, tujuh label kecil, satu di setiap anak tangga, masing-masing dengan satu huruf: K-U-N-I-N-G dan dua tanda seru. Lalu di bawahnya: bebek karet. Biar naik ke loteng nggak serem.

Di kusen jendela loteng: Ungu bougenvil. Ungu yang dipilih Arie. Biar loteng ingat dia.

Di dinding kosong di ruang tengah, di sebelah jendela: Rak buku di sini. Warna-warni kayak kotak krayon 48 warna. (Kalau Arie setuju. Kalau nggak setuju, aku pasang diam-diam.)

Di pintu gudang, di bawah label lama MERAH MARUN — bukan buat kusen, Pak, ada label baru dengan tulisan lebih kecil: Pak, kalau Bapak baca ini, berarti Bapak lagi sendirian di gudang. Jangan lupa makan.

Aku berdiri di depan pintu gudang itu lama sekali.

Lalu aku masuk ke kamarnya.

Di dinding utara, di bawah jendela, dekat lantai, di tempat yang hanya bisa terlihat kalau kau berjongkok, ada satu label lagi. Lebih kecil dari yang lain. Tulisannya lebih rapi, lebih pelan, seperti ditulis dengan hati-hati.

Matahari di sini. Biar yang lihat nggak kedinginan.

Aku berjongkok di depannya.

Kepalaku berdenyut. Di belakang telinga kiri. Di tempat yang dulu dijahit.

Biar kamu nggak kedinginan.

Bukan suaranya. Suara lain. Suara anak laki-laki. Suara yang tipis dan tinggi dan belum pecah, dari balik pagar, di bawah gerimis. Suara yang sedang menggambar sesuatu di punggung tangan kecil dengan krayon.

Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apa pun dari sebelum umur delapan.

Tapi suara itu ada. Sebentar. Satu kalimat. Lalu hilang.

Aku berjongkok di depan label kecil itu sampai Pak Darto memanggilku dari halaman.


“Pak Arie mau ubah gambar kerja?”

Pak Darto menatap daftar yang kuserahkan padanya. Dua belas baris, kutulis tangan di halaman buku kecil hitam, kusobek. Di sebelahnya, Jojo, yang datang pagi itu tanpa diminta dengan laptop dan wajah yang masih sedikit marah tapi sudah tidak memanggilku kau.

“Ya,” kataku. “Semuanya.”

“Pintu kamar mandi hijau mint?” Pak Darto mengerutkan dahi. “Bukannya Bapak sendiri yang bilang norak?”

“Saya salah.”

“Plafon teras biru?”

“Ya.”

“Tangga loteng kuning?”

“Ya.”

“Ini...” Pak Darto membaca baris terakhir. “Matahari di dinding kamar Ibu Pemilik. Matahari, Pak? Gambar matahari?”

“Ya.”

Pak Darto menurunkan daftar itu dan menatapku. Lama. Ia tidak bertanya di mana Ibu Pemilik. Ia sudah tahu. Semua orang di Jalan Kenari sudah tahu. Eyang yang memberi tahu mereka, dengan kalimat yang sangat pendek, Senin pagi: Bina lagi di Jakarta. Lagi butuh waktu. Jangan tanya.

“Serah terima tinggal seminggu, Pak,” kata Pak Darto pelan. “Dua belas item tambahan. Tukang saya cuma enam.”

“Saya yang kerjakan.”

“Bapak?”

“Malam. Setelah tukang pulang.”

Pak Darto menatapku. Lalu menatap Jojo. Jojo menatap layar laptopnya, tapi rahangnya bergerak.

“Bapak bisa ngecat?” tanya Pak Darto.

“Bisa.”

“Bapak bisa lihat warnanya?”

Hening.

Pak Darto tahu. Ia mendengarnya di pameran, di depan wartawan. Saya buta warna total. Ia tidak pernah membahasnya sejak itu. Ia hanya, kadang-kadang, saat aku berdiri di depan kaleng cat terlalu lama, diam-diam menggeser kaleng yang benar sedikit ke arahku.

“Tidak,” kataku. “Saya tidak bisa lihat warnanya.”

Pak Darto melipat daftar itu dan memasukkannya ke saku kemeja.

“Ya sudah,” katanya. “Tukang saya nggak pulang.”


Mereka tidak pulang.

Jam empat sore, saat seharusnya bubar, keenam tukang duduk di teras makan gorengan yang Eyang bawa, lalu berdiri lagi dan mengambil kuas. Pak Darto tidak memerintahkannya. Aku tidak memintanya. Mereka hanya tidak pulang.

“Lembur, Pak,” kata Komar, saat aku bertanya. “Nggak usah dibayar. Taruhan bakwan kami kan belum selesai.”

“Taruhan apa?”

Komar menatap Pak Darto. Pak Darto menatap langit.

“Taruhan Ibu Pemilik balik apa nggak,” kata Komar akhirnya. “Saya pegang balik, Pak. Semua pegang balik. Nggak ada yang pegang nggak balik. Jadi taruhannya nggak jalan.” Ia menggaruk kepala. “Jadi ya, kami bantu aja biar cepet. Biar dia cepet balik. Biar taruhannya bisa diselesaikan.”

Aku tidak bisa menjawab.


Masalah pertama: aku tidak tahu kode cat hijau mint.

Di gambar kerja asli tidak ada hijau mint. Aku menolaknya. Aku tidak pernah mencatat kodenya. Dan aku tidak bisa memilihnya dari katalog, karena di katalog, dalam mataku, ada tiga puluh dua kotak abu-abu muda yang semuanya bisa jadi hijau mint.

Aku menelepon Reza.

Ia mengangkat di dering kedua. “Mas Arie? Tumben.”

“Saya butuh hijau mint.”

Hening. “Buat apa, Mas? Mas kan...”

“Pintu kamar mandi. Rumah Jalan Kenari.” Aku menelan ludah. “Sabrina mau hijau mint. Saya dulu bilang norak. Saya mau ganti.”

Hening lagi. Lebih lama. Lalu suara Reza berubah. Lebih pelan.

“Mbak Sabrina di sana?”

“Tidak.”

“Oh.” Ia diam. Aku bisa mendengar ia berpikir. “Mas. Hijau mint yang mana? Ada tiga puluh dua.”

“Saya tidak tahu. Yang seperti permen. Yang segar. Itu yang dia tulis.”

Reza diam lama. Lalu ia tertawa. Pelan, tidak mengejek.

“Mas Arie,” katanya. “Saya antar sendiri malam ini. Jam tujuh. Saya bawa lima pilihan. Saya yang pilihin. Saya tahu permen yang dia maksud.”

“Kenapa?”

“Karena,” kata Reza, “saya juga mau dia balik, Mas. Biar saya bisa ngecat rumah kalian nanti. Hadiah. Saya sudah janji.”


Jam tujuh malam, Reza datang dengan mobil bak dan lima kaleng hijau mint. Ia memilih satu, mengaduknya, dan mengoleskan sampelnya di pintu kamar mandi.

“Ini,” katanya. “Ini permen. Percaya saya.”

Aku percaya.

Kami mengecat malam itu. Aku, Jojo, Pak Darto, keenam tukang, dan Reza. Lampu kerja tukang di lorong menyala putih terang. Radio dangdut di teras dimatikan, karena Eyang sedang tidur, tapi Komar bersenandung pelan.

Dan setiap kali aku mengangkat kuas, seseorang membacakan label.

Bukan sengaja. Bukan perintah. Mereka hanya melakukannya.

Saat aku mengecat plafon teras dari atas tangga, Pak Darto berdiri di bawah dan membacakan: “Biru langit siang, waktu nggak ada awan. Biar kalau hujan, tetap ada langit.” Lalu ia diam sebentar dan menambahkan, dengan suara yang aneh, “Itu biru beneran, Pak. Yang Bapak oles. Biru langit. Persis.”

Saat Komar mengecat anak tangga loteng, ia membaca hurufnya satu per satu keras-keras, seperti anak TK: “K. U. N. I. N. G. Tanda seru. Tanda seru. Bebek karet.” Lalu ia tertawa. Lalu ia berhenti tertawa dan mengusap matanya dengan lengan kaus yang penuh cat.

Saat Jojo membantuku mengecat kusen jendela loteng, ia tidak membacakan labelnya. Ia hanya menyentuhnya. Ungu bougenvil. Ungu yang dipilih Arie. Biar loteng ingat dia. Ia menyentuh label itu dengan ujung jari, lalu menatapku, lalu kembali mengecat tanpa berkata apa-apa.

Mereka menjadi mataku. Semua. Enam tukang, satu mandor, satu vendor cat, satu arsitek junior Batak. Mereka berbisik warna padaku seperti Jojo dulu, lima tahun, di setiap rapat.

Tapi bukan suara mereka yang kudengar.

Yang kudengar adalah suaranya. Di setiap label. Tulisan tangannya yang berantakan, dengan panah dan tanda seru dan matahari kecil di pojok. Kayak permen. Biar kalau hujan tetap ada langit. Biar naik ke loteng nggak serem. Biar loteng ingat dia.

Ia menulis semua ini untukku. Supaya aku tetap tahu warnanya walaupun ia tidak ada.

Ia tahu. Ia tahu suatu hari ia mungkin tidak ada.


Kami bekerja empat malam.

Malam pertama: pintu kamar mandi hijau mint. Malam kedua: plafon teras biru, tangga loteng kuning. Malam ketiga: kusen jendela loteng ungu, dan rak buku di ruang tengah yang Pak Darto buat dari kayu jati sisa gudang, yang Komar dan dua tukang lain cat empat puluh delapan warna. Satu rak, satu warna. Mereka membaca nama warna dari kotak krayon empat puluh delapan warna yang Jojo beli di toko alat tulis, satu per satu, dan mencocokkannya dengan kaleng-kaleng sampel yang Reza bawa dari tokonya.

Aku tidak bisa melihat satu pun.

Rak buku itu, dalam mataku, adalah empat puluh delapan kotak abu-abu dengan nilai terang yang berbeda-beda. Tangga loteng, tujuh anak tangga abu-abu muda. Plafon teras, abu-abu sedang. Pintu kamar mandi, abu-abu sangat muda.

Tapi aku tahu warnanya. Aku membacanya. Di selotip-selotip kertas dengan tulisan tangannya.

Malam keempat, Jumat, tinggal satu item.

Matahari di dinding kamar Ibu Pemilik.


Semua orang pulang jam sembilan. Aku meminta mereka pulang. Pak Darto menatapku lama, lalu mengangguk, lalu menarik Komar yang masih ingin tinggal.

Jojo pulang terakhir. Di ambang pintu kamar, ia berhenti.

“Bang,” katanya. “Abang tahu kuning yang mana?”

Aku menatap kaleng-kaleng di lantai. Reza meninggalkan tiga kaleng kecil kuning. Ia bilang salah satunya kuning matahari pagi, seperti dinding. Satu lagi kuning lebih terang. Satu lagi kuning yang lebih tua, hampir oranye. Ia lupa memberi label. Atau mungkin labelnya lepas. Aku tidak tahu.

Tiga kaleng. Abu-abu terang. Hampir sama.

“Tidak,” kataku.

“Aku bisa bisikin, Bang. Kayak dulu.”

Aku menatap Jojo. Aku menatap label kecil di dinding, di bawah jendela, dekat lantai. Matahari di sini. Biar yang lihat nggak kedinginan.

“Tidak,” kataku. “Yang ini aku mau tebak sendiri.”

Jojo menatapku lama. Lalu ia mengangguk, menepuk kusen pintu dua kali, dan pergi.

Aku sendirian di kamarnya. Di bawah lampu kertas yang seperti bulan kecil. Dengan dinding kuning yang tidak bisa kulihat kuningnya, dan cap tangan yang tersembunyi di dinding utara, dan tiga kaleng cat yang semuanya abu-abu.

Aku berjongkok di depan label kecil itu.

Aku memilih kaleng yang tengah. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena nilai terangnya paling mirip dengan jas hujan di halaman, di hari pertama. Mungkin karena kepalaku berdenyut sedikit saat menatapnya. Mungkin karena aku hanya ingin memilih sesuatu, sendiri, tanpa bisikan, tanpa kode, tanpa tangan.

Aku mencelupkan kuas kecil.

Dan aku mulai menggambar.