← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirteen

Makan Siang Keluarga

POV: Arie

Ibuku tahu karena Jojo.

Tentu saja karena Jojo. Ibuku menelepon Jojo setiap dua minggu sekali dengan alasan “menanyakan kabar studio”, padahal yang sebenarnya ia tanyakan adalah apakah aku makan dengan benar, tidur dengan benar, dan apakah ada perempuan yang pernah datang ke studio untuk urusan yang bukan pekerjaan. Selama lima tahun, Jojo selalu menjawab tidak.

Kamis lalu, Jojo menjawab, “Ada, Tante. Tapi itu klien. Tapi bukan klien biasa. Tapi saya nggak boleh cerita. Tapi Tante tanya aja ke Abang. Tapi jangan bilang dari saya.”

Ibuku meneleponku sepuluh menit kemudian.

“Arie,” katanya, dengan nada yang sangat tenang, nada yang ia pakai saat aku SMP dan ketahuan bolos les piano. “Minggu ini kamu makan siang di rumah. Ajak klienmu.”

“Ma, dia klien.”

“Iya. Ajak klienmu. Mama mau kenal sama klien yang bikin Johanes ngomong tapi lima kali dalam satu kalimat.”


Sabrina tertawa saat kuberi tahu.

Kami sedang di studio, di sesi warna keramik kamar mandi yang sudah berlangsung empat puluh menit, jauh melewati batas pasal tiga, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutnya. Tangannya di tanganku di atas meja. Di depan kami, dua puluh keping sampel keramik berjajar seperti kartu domino berwarna.

“Ibu Bapak mau ketemu saya?”

“Saya bisa bilang Anda sibuk.”

“Kenapa harus bilang saya sibuk?”

“Karena ibu saya,” kataku hati-hati, “akan bertanya banyak hal.”

“Hal apa?”

“Semua hal.”

Ia menatapku. Lalu menatap keramik biru kehijauan di tangannya, yang tadi kusebut seperti air laut dangkal di pantai yang tidak ada orangnya. Lalu tersenyum.

“Saya mau,” katanya. “Saya mau ketemu ibu Bapak.”

“Ayah saya juga akan ada di sana.”

“Oke.”

“Ayah saya,” kataku, lebih pelan, “tidak banyak bicara.”

“Kayak anaknya,” katanya, dan meremas tanganku sedikit.


Rumah orang tuaku di Pondok Indah adalah rumah yang dirancang ayahku tiga puluh lima tahun lalu, sebelum aku lahir: dua lantai, atap datar, dinding bata ekspos, kaca besar menghadap halaman belakang dengan kolam ikan. Dalam abu-abuku, rumah itu selalu terlihat seperti foto lama di majalah arsitektur. Rapi, berat, dan sedikit sepi.

Ibuku sudah berdiri di pintu depan saat mobilku masuk carport. Ia memakai kebaya rumahan dan senyum yang terlalu lebar untuk menyambut “klien”.

“Ini Sabrina?” katanya, sebelum Sabrina sempat turun sepenuhnya dari mobil. “Ya Tuhan, cantik sekali. Arie, kenapa kamu nggak bilang dia secantik ini?”

“Ma.”

“Masuk, masuk, Nak. Mama sudah masak dari subuh. Arie bilang kamu suka rendang? Arie nggak bilang apa-apa sebenarnya, Arie nggak pernah bilang apa-apa, jadi Mama masak semuanya.”

Sabrina menoleh padaku dengan mata yang berbinar dan bibir yang menahan tawa. Aku pura-pura tidak melihat.

Clarissa Harriman memeluknya. Bukan salaman, bukan cium pipi basa-basi. Memeluk. Seperti memeluk orang yang sudah lama dikenal. Sabrina, yang sepertinya terbiasa dipeluk nenek-nenek dan ibu-ibu di mana pun ia berada, membalas pelukan itu dengan sama hangatnya.

Aku berdiri di carport, memegang kunci mobil, dan merasa seperti orang yang tiba-tiba jadi tamu di rumahnya sendiri.


Ayahku duduk di ruang makan dengan koran.

Gunawan Harriman. Enam puluh dua tahun. Arsitek yang di generasinya dikenal sebagai “Harriman yang membangun Sudirman”, karena setengah gedung kantor di koridor itu pernah lewat mejanya. Rambutnya sudah putih seluruhnya, dalam mataku hampir seputih dinding. Ia menurunkan koran saat kami masuk, menatap Sabrina dari balik kacamata baca, dan mengangguk.

“Selamat siang,” katanya.

“Selamat siang, Om.”

Itu saja. Ia kembali ke korannya.

Sabrina melirikku. Aku mengangkat bahu sedikit. Sudah kubilang.

Ayahku dan aku tidak pernah dekat. Bukan karena ada pertengkaran besar. Karena ada sesuatu yang tidak pernah dibicarakan, yang duduk di antara kami sejak aku umur delapan, seperti perabot besar yang semua orang lewati tanpa melihatnya. Ia yang membawaku ke Singapura untuk berobat. Ia yang membayar semua dokter. Ia yang tidak pernah sekali pun bertanya bagaimana rasanya melihat dunia tanpa warna.

Aku tidak pernah memintanya bertanya. Kami sama-sama tidak pandai bicara.


Ibuku tidak bercanda soal memasak semuanya.

Meja makan penuh. Rendang, gulai daun singkong, sambal ijo, sambal merah, perkedel, kerupuk udang, sayur asem, ikan pesmol, dan di ujung meja, semangkuk besar es buah yang sudah berembun. Dalam mataku, meja itu adalah lanskap abu-abu dengan tekstur yang beragam: mengilap, berminyak, renyah, berkuah.

Ibuku menyendokkan nasi ke piring Sabrina dan mulai bertanya.

“Sabrina kerja apa, Nak?”

“Ilustrator buku anak, Tante.”

“Ya ampun, lucu sekali. Bukunya ada di toko buku?”

“Ada, Tante. Yang terakhir judulnya Kiko dan Payung yang Lupa Pulang.”

“Mama beli nanti. Arie, ingatkan Mama beli.” Ibuku menyendokkan rendang. “Sudah berapa lama kenal Arie?”

“Kira-kira dua bulan, Tante.”

“Dua bulan.” Ibuku menatapku dengan mata yang sangat lebar. “Dua bulan, dan kamu sudah bawa ke rumah.”

“Mama yang suruh,” kataku.

“Kamu nggak pernah bawa perempuan ke rumah, Arie. Nggak pernah. Terakhir kamu bawa teman perempuan itu waktu SMA, dan itu ketua OSIS yang mau minta sumbangan buat pensi.”

Sabrina tersedak air putih.

Di bawah meja, saat ibuku menoleh untuk mengambil kerupuk, aku merasakan sesuatu menyentuh tanganku yang terletak di paha. Jari-jari. Hangat. Menyelinap pelan ke dalam genggamanku.

Aku menoleh ke Sabrina. Ia sedang menatap piringnya dengan sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi tangannya, di bawah meja, menggenggam tanganku.

Meja makan meledak dalam warna.

Rendang ternyata cokelat tua yang hampir hitam, mengilap oleh minyak yang keemasan. Gulai daun singkong hijau tua dengan kuah kuning kunyit. Sambal ijo hijau terang, sambal merah merah menyala dengan biji-biji putih. Perkedel cokelat keemasan. Kerupuk udang merah muda pucat, seperti telapak kaki bayi. Sayur asem dengan kuah cokelat bening dan potongan jagung kuning, labu siam hijau pucat, kacang panjang hijau tua, melinjo merah. Ikan pesmol dengan kuah kuning cerah. Dan es buah di ujung meja: semangka merah, melon hijau, nangka kuning, kolang-kaling bening, sirup merah muda yang mengendap di dasar mangkuk seperti matahari terbenam yang tenggelam.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku sudah makan masakan ibuku seumur hidup. Rendang ini, perkedel ini, sambal ini. Ribuan kali. Aku tidak pernah tahu warnanya.

“Arie?” Suara ibuku. “Kamu kenapa? Nggak enak?”

Ibuku sedang menatapku. Aku tahu, karena aku mendengar suaranya datang dari arah kiri, dari kursinya.

Aku tidak mengangkat kepala.

Aku bisa. Aku tahu aku bisa. Tanganku ada di tangan Sabrina, warna menyala di seluruh ruangan, dan kalau aku menoleh ke kiri sekarang, satu derajat saja, aku akan melihat wajah ibuku. Dalam warna. Untuk pertama kalinya sejak umur delapan tahun.

Aku tidak menoleh.

Aku tidak tahu kenapa. Atau aku tahu, tapi tidak mau mengakuinya. Karena kalau aku menoleh, aku akan menangis. Di meja makan, di depan ayahku yang sedang mengunyah perkedel dengan tenang, di depan Sabrina yang baru dua jam di rumah ini, di depan sayur asem dan es buah dan kerupuk udang. Dan aku tidak bisa menangis di sini. Tidak hari ini. Tidak dengan cara begini.

Belum, pikirku. Nanti. Tidak di sini.

“Enak, Ma,” kataku ke piringku. “Rendangnya enak sekali.”

Di bawah meja, tangan Sabrina meremas tanganku. Ia tahu. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu, tapi ia tahu. Ibu jarinya bergerak di punggung tanganku, pelan, berulang-ulang, seperti menenangkan anak kecil yang terbangun dari mimpi buruk.


“Jadi,” kata ibuku, setelah piring kedua, “kapan lamarannya?”

Sabrina tersedak untuk kedua kalinya.

“Ma,” kataku. “Kami tidak...”

“Mama nggak buta, Arie. Dari tadi kamu senyum terus.”

“Saya tidak senyum.”

“Kamu senyum ke piringmu sendiri. Itu lebih parah.” Ibuku menoleh ke Sabrina dengan wajah serius. “Nak, Mama sudah lihat anak ini tiga puluh satu tahun. Dia nggak pernah senyum ke piring. Dia nggak pernah senyum ke apa-apa. Waktu wisuda S2 dia senyum cuma di foto, terus langsung berhenti. Kalian sudah tunangan, kan? Nggak apa-apa, Mama nggak marah. Cuma kenapa nggak bilang-bilang?”

“Tante,” kata Sabrina, dengan pipi yang pasti semerah sambal di depannya, “kami cuma... kerja sama. Proyek. Rumah nenek saya.”

“Oh, rumah nenekmu? Di mana?”

Ibuku berdiri sebelum Sabrina menjawab. “Sebentar, Mama ambil es batu. Es buahnya mulai cair.”

Ia berjalan ke dapur. Sabrina, sopan, menjawab ke arah meja, ke arah yang masih ada di sana.

“Di Bogor, Om. Jalan Kenari. Dekat Kebun Raya.”

Sendok ayahku berhenti.

Aku melihatnya, karena aku sedang menatap meja, dan tangan ayahku ada di meja. Sendok itu berhenti di udara, setengah jalan antara piring dan mulut, dengan sepotong perkedel di atasnya. Berhenti satu detik. Dua detik. Tiga.

Lalu ia meletakkannya kembali di piring. Pelan, sangat pelan.

“Jalan Kenari,” katanya. Suaranya datar. Lebih datar dari biasanya.

“Iya, Om. Om tahu?”

Ayahku tidak menjawab. Ia mengangkat kepala dan menatap Sabrina. Dalam warna, karena tangannya masih di tanganku, aku melihat wajah ayahku. Untuk pertama kalinya sejak aku kecil, aku melihat wajahnya dalam warna, tanpa sengaja, karena ia tiba-tiba menjadi satu-satunya hal yang bergerak di meja itu.

Wajahnya pucat.

Bukan pucat abu-abu, karena semua orang pucat dalam abu-abuku. Pucat dalam warna. Kulit yang seharusnya sawo matang kehilangan warnanya. Bibirnya rapat. Matanya, cokelat seperti mataku, menatap Sabrina seperti menatap sesuatu yang ia kira sudah lama terkubur.

Lalu ia menunduk.

“Pernah dengar,” katanya. Ia melipat serbet, meletakkannya di samping piring, dan berdiri. “Permisi. Saya ke belakang sebentar.”

Ia berjalan ke pintu kaca yang menghadap halaman, membukanya, dan keluar ke dekat kolam ikan. Berdiri di sana, membelakangi kami, dengan tangan di saku.

Sabrina menatapku dengan mata bertanya.

“Ayah saya memang begitu,” kataku pelan. Dan itu benar. Ayahku memang selalu begitu. Ia selalu meninggalkan meja di tengah percakapan, selalu berdiri di dekat kolam ikan saat ada sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Aku sudah terbiasa sejak kecil.

Tapi aku belum pernah melihat wajahnya sepucat itu.

Ibuku kembali dengan semangkuk es batu, melihat kursi ayahku yang kosong, lalu melihat ke halaman. Ia menghela napas, seperti orang yang sudah terlalu sering menghela napas karena hal yang sama.

“Papamu,” katanya, meletakkan es batu. “Pasti teringat proyek. Dia memang begitu kalau teringat proyek.” Lalu, dengan senyum yang dipaksa kembali lebar, ia menoleh ke Sabrina. “Nak, kamu mau lihat foto Arie waktu kecil? Mama punya satu album. Dia lucu sekali dulu. Sebelum jadi kulkas.”


Album itu tebal, dan ibuku membukanya di sofa ruang tengah dengan antusiasme orang yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk melakukan ini.

Aku duduk di ujung sofa. Sabrina di tengah. Ibuku di sisi lain, membalik halaman demi halaman, bercerita: ini Arie umur dua tahun di pantai Anyer, ini Arie umur lima tahun pakai topi koboi, ini Arie umur enam tahun menangis karena es krimnya jatuh.

Tangan Sabrina sudah tidak di tanganku. Aku melepaskannya saat berdiri dari meja makan. Foto-foto di album itu abu-abu, seperti semua foto. Sebagian memang foto hitam-putih, sebagian berwarna, tapi bagiku tidak ada bedanya.

Di halaman tengah, ibuku berhenti.

Foto terakhir sebelum halaman-halaman kosong. Aku, umur delapan tahun, berseragam SD dengan topi yang kebesaran, berdiri di depan pagar rumah ini, tersenyum lebar dengan satu gigi depan ompong. Di tanganku ada kotak krayon.

Setelah foto itu, halaman berikutnya kosong. Dan halaman berikutnya. Dan berikutnya. Foto-foto berlanjut tiga halaman kemudian, di Singapura, aku dengan perban di kepala dan wajah yang tidak tersenyum.

Ibuku menatap foto itu lama. Ia tidak bercerita apa-apa tentangnya.

Lalu ia membalik halaman dengan cepat, ke foto-foto Singapura, dan berkata dengan suara yang terlalu riang, “Nah, ini waktu kami pindah ke Singapura. Arie umur delapan. Lihat, dia sudah mulai kurus.”

Sabrina menatap foto itu sebelum ibuku sempat membaliknya. Aku melihatnya menatap. Aku melihat matanya berhenti di kotak krayon di tanganku yang kecil.

Ia tidak bertanya. Tapi saat ibuku pergi ke dapur untuk membuat teh, ia menoleh padaku dan bertanya dengan suara yang sangat pelan:

“Itu foto sebelum Bapak jatuh?”

“Ya.”

“Bapak kelihatan senang sekali.”

“Saya suka krayon,” kataku. “Dulu.”

Ia menatapku lama. Lalu mengulurkan tangannya di atas sofa, telapak terbuka, tanpa kata-kata.

Aku menyambutnya.

Ruang tengah rumah orang tuaku menyala. Sofa krem. Karpet merah tua dengan motif Persia. Lukisan di dinding, pemandangan sawah dengan langit yang terlalu biru. Dan di pangkuan Sabrina, album yang masih terbuka di halaman Singapura: anak laki-laki dengan perban putih di kepala, kaus biru, wajah yang tidak tersenyum.

Aku tidak tahu kausku waktu itu biru.

Di luar, di dekat kolam ikan, ayahku masih berdiri dengan tangan di saku, membelakangi rumah.

Aku tidak melihat ke arahnya. Aku melihat Sabrina, dan tangannya, dan album di pangkuannya, dan untuk sesaat, sebelum ibuku kembali dengan nampan teh dan bertanya apakah kami sudah memikirkan tanggal, aku merasa seperti anak delapan tahun dengan topi kebesaran yang baru saja menemukan kotak krayonnya lagi.