Chapter Ten
Pasal Tiga: Durasi Pegangan
POV: Sabrina
“Aku boleh cerita ke Tari?”
Aku mengetik pesan itu hari Minggu pagi, lalu menghapusnya, lalu mengetiknya lagi dengan lebih sopan.
Pak, saya boleh cerita ke Tari? Dia sahabat sekaligus editor saya. Dia tahu semua tentang saya. Dan dia lebih jago soal kontrak daripada saya. Kalau Bapak keberatan, saya nggak akan cerita.
Balasannya masuk dua puluh menit kemudian. Aku membayangkan dua puluh menit itu: Pak Arie duduk di apartemennya yang pasti serba abu-abu, menatap ponsel, mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Boleh. Tapi hanya Tari.
Lalu satu pesan lagi:
Jojo bilang dia mau ikut sebagai saksi. Saya tidak bisa mencegahnya.
Kami bertemu Senin malam di ruang rapat Studio Harriman, setelah jam kerja.
Tari datang dengan map plastik, laptop, dan stabilo empat warna. Jojo datang dengan laptop, spreadsheet, dan sekantong gorengan dari depan gang. Pak Arie duduk di kepala meja dengan wajah orang yang menyesali semua keputusan hidupnya. Aku duduk di sebelahnya.
Bunga matahari di tengah meja sudah diganti. Sekarang isinya tulip. Aku tidak bertanya warnanya. Aku sudah tahu ia sengaja memilih yang paling mencolok.
Tari, yang kemarin sore kudengar menjerit begitu keras saat kuceritakan semuanya sampai ibu kos naik tangga untuk memeriksa, sekarang duduk dengan wajah sangat profesional. Ia menatap Pak Arie lama, dari ujung kepala sampai ujung meja, seperti editor yang menerima naskah dari penulis yang terkenal sulit.
“Pak Arie,” katanya.
“Bu Lestari.”
“Tari aja. Saya mau tanya satu hal dulu sebelum kita mulai.”
“Silakan.”
“Ini beneran?”
Pak Arie menghela napas. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangannya ke arahku di atas meja. Aku menyambutnya.
Ia menoleh ke Tari. “Kemeja Anda hijau botol dengan kancing putih. Jepit rambut Anda bentuk kupu-kupu, oranye, dan salah satu sayapnya retak. Stabilo Anda kuning, hijau, merah muda, dan biru, tapi yang biru tintanya hampir habis karena warnanya pucat.” Ia menoleh ke Jojo. “Gorengannya bakwan. Ada cabe rawitnya. Cabenya hijau, bukan merah. Jo, kamu bohong ke aku waktu itu, kamu bilang cabe di bakwan selalu merah.”
“Aku cuma mau Abang hidup dengan harapan, Bang,” kata Jojo.
Tari meletakkan stabilonya pelan-pelan di meja. Ia menatap jepit rambutnya sendiri lewat pantulan jendela. Sayap kupu-kupu yang retak. Ia sendiri yang menjatuhkannya di tangga kos dua hari lalu.
“Oke,” katanya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa. “Oke. Beneran. Mari kita mulai.”
PERJANJIAN KERJA SAMA PENGLIHATAN WARNA
Itu judul yang diketik Tari di baris pertama dokumen. Aku protes. Kedengarannya seperti kontrak organ tubuh. Jojo mengusulkan PERJANJIAN PEGANGAN TANGAN DEMI KEPENTINGAN ARSITEKTUR. Pak Arie mengusulkan Lampiran Teknis Proyek Jalan Kenari, yang langsung ditolak tiga suara lawan satu karena “terlalu membosankan untuk peristiwa bersejarah”.
Akhirnya kami sepakat dengan judul Tari, ditambah tanda bintang dan catatan kaki: *bukan kontrak organ tubuh.
“Pasal satu,” kata Tari, mengetik. “Para pihak. Pihak Pertama: Arie Harriman, selanjutnya disebut Yang Melihat.”
“Kenapa saya disebut begitu?” tanya Pak Arie.
“Karena itu yang terjadi, Pak.” Tari terus mengetik. “Pihak Kedua: Sabrina Mahadewi, selanjutnya disebut Yang Dipegang.”
“Tar.”
“Itu juga yang terjadi, Bina.”
“Itu kedengarannya aneh banget!”
“Semua kontrak kedengarannya aneh kalau dibacakan jam delapan malam.” Tari mengetik lagi. “Saksi: Johanes Sitompul, selanjutnya disebut Saksi Yang Menderita.”
Jojo mengangguk khidmat. “Itu akurat.”
Pasal dua soal jenis kontak, dan pasal dua memakan waktu dua puluh menit.
“Jenis kontak yang diperbolehkan,” kata Tari. “Telapak tangan. Jari. Pergelangan. Punggung tangan. Kelingking.” Ia mengangkat kepala. “Ada tambahan?”
Pak Arie dan aku saling melirik. Lalu sama-sama membuang muka.
“Tidak,” kata Pak Arie.
“Tidak,” kataku.
Tari menyipitkan mata. “Kalian yakin? Karena kontrak ini mengikat, dan kalau nanti ada yang megang pipi, misalnya, itu pelanggaran.”
“Siapa yang mau megang pipi?” tanyaku, terlalu cepat.
“Nggak ada,” kata Tari sambil mengetik. “Kontak di luar daftar di atas memerlukan persetujuan tertulis atau lisan dari Yang Dipegang.” Ia mengetik lagi. “Atau persetujuan non-verbal yang jelas.”
“Persetujuan non-verbal itu apa, Tar?”
“Kamu tahu apa.” Ia tidak mengangkat kepala.
Pipiku panas. Di sebelahku, aku melihat telinga Pak Arie memerah. Jojo memakan bakwan dengan sangat lambat sambil menatap kami berdua bergantian seperti menonton pertandingan bulu tangkis.
Pasal tiga soal durasi, dan pasal tiga hampir menyebabkan perang.
“Durasi pegangan,” kata Tari. “Pak Arie, berapa lama Bapak butuh per sesi?”
“Sesuai kebutuhan teknis,” kata Pak Arie.
Tari meletakkan tangannya di atas keyboard dan menatapnya dengan pandangan editor yang menemukan kalimat pasif di halaman pertama. “Pak. Itu pasal karet.”
“Itu realistis. Saya tidak bisa memprediksi berapa lama memilih warna kusen.”
“Waktu milih kusen di toko Reza, berapa lama?”
“Kira-kira empat puluh menit.”
“Pegangan tangan empat puluh menit untuk satu kusen?”
“Dan kuning kamar. Dan teras.”
“Dan bibirku,” kataku pelan, sebelum bisa menahan diri.
Hening. Jojo tersedak bakwan.
Pak Arie menutup matanya. “Itu untuk referensi aksen.”
“Iya, Pak, saya tahu,” kataku. “Saya cuma mengingatkan.”
Tari tertawa sampai harus menunduk ke meja. Setelah ia pulih, setelah Jojo selesai batuk dan minum air setengah botol, kami akhirnya sepakat: Durasi pegangan per sesi maksimal tiga puluh menit, dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama, atau dalam kondisi hujan, gelap, atau darurat warna.
“Darurat warna itu apa?” tanya Jojo.
“Kalau Abangmu salah pilih kaleng cat di depan mandor lagi,” kata Tari.
Pak Arie tidak menjawab, tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak. Hampir senyum. Ia mulai sering hampir senyum belakangan ini.
Pasal empat soal kompensasi, dan di pasal empat aku berhenti tertawa.
“Saya sudah siapkan angkanya,” kata Pak Arie. Ia mengeluarkan selembar kertas dari map dan mendorongnya ke arahku. “Honor konsultan warna, per jam. Saya ambil standar konsultan desain senior, ditambah dua puluh persen karena ini... tidak standar.”
Aku menatap angka di kertas itu. Lalu menatapnya lagi.
Itu angka yang banyak. Itu angka yang lebih banyak dari honor ilustrasi satu buku cerita anak.
“Nggak,” kataku.
Pak Arie mengerutkan dahi. “Kalau kurang, kita bisa—”
“Bukan kurang, Pak.” Aku mendorong kertas itu kembali ke arahnya. “Saya nggak mau dibayar.”
“Tapi itu waktu Anda. Itu...” Ia mencari kata. “Itu tidak adil kalau gratis.”
“Bukan gratis.” Aku menarik napas. Aku sudah memikirkannya semalaman, sejak hujan di teras, sejak kelingking kami terkait di udara. “Saya mau sesuatu yang lain.”
Semua orang di meja diam. Bahkan Jojo berhenti mengunyah.
“Satu,” kataku, menghitung dengan jari. “Rumah Eyang dirancang beneran penuh warna. Bukan Harriman Grey dengan aksen sedikit. Bukan kalem-kalem. Penuh. Seramai kotak krayon yang baru dibuka. Persis kayak yang saya gambar di sketsa pertama.”
Pak Arie menatapku. “Itu memang rencananya.”
“Saya mau ditulis. Biar Bapak nggak bisa mundur.”
Tari mengetik dengan cepat.
“Dua,” lanjutku. Suaraku tiba-tiba lebih pelan. “Setiap kali Bapak pegang tangan saya dan lihat warna, Bapak harus cerita ke saya warnanya apa.”
“Untuk apa?”
“Karena saya mau tahu Bapak lihat apa.” Aku menatap tulip di tengah meja, yang dalam mataku merah menyala dengan pinggiran kuning. “Saya ilustrator, Pak. Seumur hidup saya kerjanya mewarnai. Saya pikir saya tahu semua warna. Tapi waktu Bapak bilang langit sore Bogor itu oranye kayak kulit jeruk diiris...”
Aku berhenti. Aku tidak ingat pernah bilang begitu ke dia. Lalu aku ingat. Itu kata-kataku sendiri, di ayunan, dan ia mengulanginya kemarin di teras sambil menatap hujan, dengan suara seperti orang yang menemukan sesuatu.
“Saya mau dengar warna lewat Bapak,” kataku. “Itu aja. Itu bayarannya.”
Lama tidak ada yang bicara.
Lalu Tari, yang sepanjang malam terdengar seperti editor galak, berdeham dengan suara serak. “Oke,” katanya, dan mengetik. “Pasal empat. Kompensasi. Yang Dipegang menolak kompensasi finansial. Sebagai gantinya, Yang Melihat berkewajiban: satu, merancang rumah Jalan Kenari dengan palet penuh warna sesuai sketsa awal Yang Dipegang. Dua, menceritakan kepada Yang Dipegang setiap warna yang ia lihat selama kontak berlangsung.”
Ia berhenti, lalu menambahkan satu baris lagi tanpa bertanya:
Dengan sejujur-jujurnya.
Pak Arie tidak berkata apa-apa. Ia menatap kertas berisi angka yang sudah kudorong kembali padanya, lalu melipatnya pelan-pelan jadi dua, jadi empat, dan memasukkannya ke saku kemeja.
“Setuju,” katanya.
Suaranya sedikit tidak stabil.
Pasal lima soal kerahasiaan. Pasal enam diusulkan Tari dengan judul Larangan Baper, yang isinya para pihak dilarang jatuh cinta selama masa kontrak. Pak Arie langsung bilang “Tidak perlu” dan aku langsung bilang “Itu konyol” di saat bersamaan, terlalu cepat dan terlalu keras. Jojo, sebagai Saksi Yang Menderita, menulis di kolom komentar: Pasal 6 ditolak karena tidak realistis. Sudah terlambat. Lalu kami semua pura-pura tidak membacanya.
Jam sepuluh malam, Tari mencetak kontrak itu dua rangkap. Dua halaman, dengan materai dari laci studio yang Jojo cari selama sepuluh menit.
Aku tanda tangan. Pak Arie tanda tangan. Jojo tanda tangan sebagai saksi dengan gaya tanda tangan yang sangat dramatis. Tari tanda tangan sebagai “notaris”, padahal bukan.
Lalu Pak Arie meletakkan pulpennya, menoleh padaku, dan mengulurkan tangannya di atas meja. Telapak menghadap ke atas.
“Pegang dulu,” katanya. “Pasal tiga berlaku mulai sekarang.”
Aku menatap tangan itu. Tangan yang dulu menolak proyekku. Tangan yang menjatuhkan cangkir. Tangan yang mencabut serpihan kayu dari jariku dan menekan lukanya sampai berhenti berdarah.
Aku meletakkan tanganku di atasnya.
Ia menoleh ke tulip di tengah meja. “Merah,” katanya pelan, seperti membaca dari buku yang sudah lama ingin ia baca. “Merah yang dalam. Di pangkal kelopaknya ada kuning, tipis, seperti ada yang menyalakan lilin di dalam bunganya. Batangnya hijau muda. Ada satu daun yang mulai layu, ujungnya kecokelatan.”
Ia menoleh padaku. Matanya bergerak pelan di wajahku.
“Jepit rambut Anda hari ini...”
“Bapak nggak usah cerita yang itu,” kataku cepat.
“Pasal empat,” katanya. “Setiap warna yang saya lihat. Dengan sejujur-jujurnya.”
Di seberang meja, Tari mengangkat ponselnya diam-diam dan memotret kami. Aku tahu, karena aku dengar bunyi kliknya. Aku akan membunuhnya nanti.
Rabu pagi, sebelum tukang datang, aku sampai di Jalan Kenari dengan satu gulung selotip kertas dan spidol hitam.
Aku menempelkannya di mana-mana.
Di kusen jendela depan: HIJAU TUA — kayak daun kenari yang di bawah. JANGAN dicat ulang pakai yang kebiruan!!
Di pintu dapur: BIRU KOLAM — biru yang dalam, kayak air di kolam renang hotel jam 7 pagi.
Di dinding kamar lamaku: KUNING MATAHARI PAGI. Kamar Bina. Bukan mustard. BUKAN. MUSTARD.
Di tiang teras: TERAKOTA COKELAT — yang dua tingkat di bawah terakota biasa. Kayak kue lapis Eyang, tapi dari atas. (kata Pak Arie)
Di pintu gudang: MERAH MARUN — bukan buat kusen, Pak.
Aku menempel lebih dari tiga puluh label. Di setiap kusen, setiap pintu, setiap dinding yang akan dicat. Tulisan tanganku berantakan, dengan panah dan tanda seru dan sesekali gambar matahari kecil di pojok, karena tanganku tidak bisa berhenti menggambarnya.
Pak Arie datang jam tujuh. Ia berhenti di ambang pintu depan, menatap label di kusen jendela, lalu label di dinding, lalu label di pintu dapur di ujung lorong. Ia berjalan pelan menyusuri rumah, membaca satu per satu.
Di depan pintu kamar lamaku, ia berhenti lama.
“Kenapa,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.
“Biar Bapak tetap tahu warnanya,” kataku dari belakangnya. “Walaupun saya nggak ada.”
Ia diam.
“Kontraknya kan cuma tiga puluh menit per sesi,” tambahku, mencoba terdengar santai. “Kalau saya lagi di Jakarta, atau lagi sakit, atau lagi sebel sama Bapak, Bapak tetap bisa kerja. Tinggal baca.”
Ia berbalik. Wajahnya tidak bisa kubaca. Ia menatapku, lalu menatap selotip di pintu, KUNING MATAHARI PAGI. Kamar Bina. Bukan mustard. BUKAN. MUSTARD., lalu menatapku lagi.
“Bina,” katanya.
Itu pertama kali ia memanggilku begitu. Ia pasti mendengarnya dari Eyang. Atau dari Tari. Atau dari label di pintu itu sendiri.
Jantungku berhenti sebentar, lalu berlari.
“Iya?”
Ia mengulurkan tangan. Aku menyambutnya, tanpa alasan, tanpa pasal, karena aku mau.
Ia menatap selotip di pintu itu, sekarang dengan warna. Selotip krem. Tinta hitam. Matahari kecil di pojok, yang tanpa sadar kugambar dengan spidol hitam, tapi entah kenapa ia menatapnya seolah matahari itu kuning.
“Terima kasih,” katanya.
Itu saja. Tapi cara ia mengatakannya membuatku harus menunduk dan menatap lantai lama sekali.
Ketika ia melepaskan tanganku, aku melihatnya diam-diam menekan sesuatu di ponsel di sakunya. Lalu menatap layar.
“Berapa?” tanyaku.
Ia mendongak, kaget.
“Stopwatch,” kataku. “Mas Jojo cerita di grup. Bapak ngitung sisa warnanya.”
Ia diam sebentar. Lalu, pelan, ia memutar ponselnya ke arahku.
00:00:11.42
“Sebelas detik,” katanya. “Minggu lalu tiga.”
“Kenapa bisa nambah?”
“Saya tidak tahu.”
Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku dan berbalik ke arah kamar lamaku, membaca label-label lain di dinding. Tapi telinganya merah. Aku bisa melihatnya. Aku tidak butuh memegang tangannya untuk tahu bahwa telinganya merah.
Dan aku, Sabrina Mahadewi, dua puluh tujuh tahun, ilustrator buku anak dengan cicilan laptop dan pipi yang gampang memerah, berdiri di lorong rumah nenekku yang setengah jadi dan untuk pertama kalinya mengaku pada diriku sendiri:
Aku tahu kenapa.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan reading
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari