Chapter Four
Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
POV: Arie
Aku memberi tahu Jojo hari Minggu malam, di pantry studio, dengan pintu terkunci.
Aku tidak merencanakannya dengan baik. Aku hanya berdiri di depan mesin kopi, menatap uap yang naik, lalu berkata, “Kalau aku pegang tangan Sabrina, aku bisa lihat warna.”
Jojo, yang sedang membuka bungkus mi instan, berhenti.
Ia menatapku. Menatap mi instannya. Menatapku lagi.
“Ulang, Bang.”
Aku mengulang. Lalu aku menceritakan semuanya: studio, cangkir, halaman di Jalan Kenari, pohon kenari, ayunan merah, jas hujan kuning, dan cara warna memudar setelah tangan dilepas. Aku bicara lebih banyak dalam sepuluh menit itu daripada dalam satu bulan biasa. Jojo mendengarkan tanpa memotong, dan itu yang paling membuatku gugup. Johanes Sitompul tidak pernah diam selama sepuluh menit. Bahkan saat tidur, katanya, ia mengigau.
Setelah aku selesai, ia meletakkan bungkus mi di meja dengan sangat pelan.
“Bang,” katanya. “Abang lagi nggak bercanda.”
“Aku nggak pernah bercanda.”
“Itu benar. Itu benar banget.” Ia mengusap wajahnya. “Ya Tuhan. Ya Tuhanku. Bang. Bang.”
Lalu ia menangis.
Bukan menangis sedikit. Jojo menangis seperti orang yang ditinggal kawin. Ia menarik tisu dari kotak di atas kulkas, membuang ingus dengan suara keras, lalu menangis lagi. Aku berdiri di sana dengan cangkir kopi, tidak tahu harus berbuat apa.
“Lima tahun,” isaknya. “Lima tahun aku bisikin Abang. Terakota. Sage. Mustard. Aku bikin perumpamaan sampai otakku kering. Kayak genteng kehujanan, Bang. Kayak daun habis diputusin. Dan sekarang Abang cuma perlu pegang tangan cewek? Gitu doang?”
“Aku juga nggak ngerti, Jo.”
“Aku diselingkuhin,” katanya ke langit-langit. “Aku resmi diselingkuhin sama ilustrator buku anak.”
“Jo.”
“Nggak, nggak, aku senang. Aku senang banget, Bang. Serius.” Ia membuang ingus lagi. “Cuma, kasih aku waktu buat berduka sebentar.”
Aku memberinya waktu. Ia berduka selama kira-kira empat menit, menyeduh mi, makan setengahnya, lalu mengeluarkan laptop dan membukanya di meja pantry dengan wajah orang yang baru menemukan panggilan hidup.
“Oke,” katanya. “Kita perlu data.”
Yang ia buat adalah spreadsheet.
Tentu saja spreadsheet. Judulnya LOG KONTAK KLIEN — KONFIDENSIAL, dan kolomnya terdiri dari: tanggal, jam, lokasi, alasan yang diberikan, durasi kontak, durasi sisa warna, dan “tingkat kecurigaan klien (1–10)”.
“Aku nggak setuju soal kolom terakhir,” kataku.
“Kolom terakhir paling penting, Bang. Kalau angkanya lewat tujuh, Abang harus ngaku. Atau pindah negara.”
“Aku nggak akan ngaku.”
“Terus Abang mau gimana? Pegang tangan klien tiap minggu tanpa alasan? Abang Arie Harriman. Abang bahkan nggak salaman sama investor lebih dari satu detik. Orang-orang mengira Abang punya OCD.”
“Aku akan cari alasan.”
Jojo menatapku lama. Lalu ia mengetik di baris pertama.
Tanggal: Sabtu. Lokasi: Halaman, Jalan Kenari. Alasan: “Tangan Anda dingin.” Durasi kontak: ±8 detik. Sisa warna: ±3 detik. Kecurigaan klien: 3.
“Ini alasan nomor satu,” katanya. “Dan dengan segala hormat, Bang, alasan nomor satu itu jelek banget.”
Alasan nomor dua terjadi hari Senin, saat Sabrina datang ke studio untuk menandatangani kontrak.
Ia datang tepat waktu kali ini, dengan kemeja bergaris dan celana kain, rambut digerai, dan senyum orang yang sudah bangun sejak subuh demi tidak terlambat. Ia duduk di meja rapat, membaca kontrak dengan sangat teliti, menanyakan tiga pasal, lalu mengambil pena dari gelas di tengah meja.
Pena itu bocor. Bukan karena aku. Aku bersumpah. Pena itu memang sudah lama bermasalah, dan Jojo selalu lupa membuangnya.
Tinta merembes ke jari telunjuk dan ibu jarinya. Ia menatap jarinya, mengerang kecil, lalu tertawa. “Ya ampun. Saya memang nggak bisa kelihatan profesional lebih dari lima menit.”
“Biar saya,” kataku, dan mengambil tisu basah dari laci, dan mengambil tangannya.
Studio meledak menjadi warna.
Aku sudah setengah bersiap, tapi tetap saja napasku tertahan. Tintanya biru. Biru tua yang pekat di jarinya, menyebar di guratan kulit seperti delta sungai di peta. Kemeja bergarisnya ternyata bergaris biru muda dan putih. Kukunya dicat sesuatu yang bening dengan kilau merah muda samar. Di meja, kontraknya putih, dan cap studio di pojoknya hitam. Dan di sana-sini, di rak buku, di karpet tipis di bawah meja, di lukisan yang digantung Jojo diam-diam di dinding toilet, ada warna-warna yang tidak pernah kuketahui ada di studioku sendiri.
Aku mengelap tintanya. Pelan. Sangat pelan. Sangat teliti.
“Pak,” katanya setelah beberapa saat. “Itu sudah bersih.”
Masih ada sedikit di pinggir kuku. Aku mengelapnya juga.
“Pak Arie.”
Aku melepasnya. Tiga detik, dan biru di jarinya memudar menjadi abu.
Dari meja depan, Jojo mengetik dengan sangat keras.
Alasan nomor tiga, Rabu, di Bogor, saat survei kedua bersama kontraktor struktur.
Aku membawa sampel cat dekoratif untuk dinding eksterior. Sebelum memesan, kataku dengan wajah serius, kami perlu menguji sensitivitas kulit klien terhadap bahannya, karena klien akan sering menyentuh dinding rumahnya sendiri.
“Itu... prosedur standar?” tanya Sabrina.
“Untuk bahan tertentu,” kataku. Aku tidak tahu bahan tertentu yang mana.
Aku mengoleskan setitik kecil cat di punggung tangannya, lalu memegang pergelangan tangannya untuk “memeriksa reaksi”. Catnya terakota. Sekarang aku tahu seperti apa genteng kehujanan. Jojo benar. Itu perumpamaan yang sangat bagus.
Di belakangku, Jojo bergumam sangat pelan, “Ya Tuhan, ampuni hamba yang menyaksikan ini.”
Kecurigaan klien: 5.
Alasan nomor empat, masih Rabu, satu jam kemudian.
Sabrina turun dari tangga loteng. Tangga itu tangga kayu lipat yang curam dan reyot. Itu alasan yang sah, sebenarnya. Satu-satunya yang benar-benar sah di seluruh minggu itu. Aku mengulurkan tangan dari bawah, dan ia menyambutnya tanpa berpikir, dan aku menuntunnya turun tiga anak tangga terakhir.
Di loteng yang remang, warnanya tidak banyak. Kayu-kayu tua cokelat dan hitam, debu yang keemasan di bawah cahaya dari celah genteng. Tapi wajahnya ada di sana, merah muda karena pengap dan panas, dengan sarang laba-laba kecil di rambut.
Aku mengambil sarang laba-laba itu dari rambutnya dengan tanganku yang lain.
Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu ia menunduk dan cepat-cepat turun anak tangga terakhir, dan aku melepasnya.
Kecurigaan klien: 4, tulis Jojo malam itu. Turun satu poin karena alasannya masuk akal. Tapi Abang ambil sarang laba-laba dari rambutnya, Bang. Itu bukan alasan. Itu adegan drama Korea.
Alasan nomor lima adalah yang paling kubanggakan.
Kamis, studio. Sabrina datang untuk membahas tata ruang. Ia ingin kamar lamanya dijadikan ruang kerja sekaligus kamar tidur. Ia butuh meja gambar.
“Meja gambar yang baik,” kataku, “dirancang sesuai ukuran tangan penggunanya. Jangkauan, sudut, tinggi pegangan.”
“Oh ya?” Ia terlihat benar-benar tertarik. “Saya selama ini pakai meja lipat dari pasar.”
“Boleh saya ukur jengkal Anda?”
Ia mengulurkan tangannya, telapak terbuka. Aku menempelkan telapak tanganku ke telapaknya, ujung jari bertemu ujung jari.
Tangannya kecil. Jari-jarinya hanya sampai ruas pertama jariku. Di dalam warnanya, aku melihat kulitnya hangat dengan garis-garis kemerahan di buku jari, noda cat air biru yang masih menempel di kelingking, dan kapalan kecil di jari tengah yang sedikit lebih cokelat. Aku melihat cahaya sore dari jendela studio, yang ternyata keemasan. Aku melihat bulu matanya yang turun karena ia sedang memandangi tangan kami.
Aku seharusnya mengukur. Aku sudah memegang meteran di tangan kiriku. Aku tidak mengukur apa pun.
“Pak,” katanya pelan. “Ukurannya berapa?”
“Kecil.”
“Itu bukan ukuran, Pak.”
“Delapan belas senti,” kataku, mengarang.
Jojo, di meja depan, menjatuhkan stapler.
Alasan nomor enam terjadi tanpa rencana.
Jumat, di Bogor, gudang belakang. Sabrina sedang menunjukkan perabot lama yang ingin ia pertahankan: lemari jati, meja makan, kursi-kursi rotan. Ia menyentuh pinggiran lemari dan menarik tangannya cepat sambil mendesis.
“Kena serpihan,” katanya, menatap telunjuknya.
Aku sudah melangkah sebelum sempat berpikir.
“Pegang dulu,” kataku, dan mengambil tangannya.
Itu bukan modus. Aku bersumpah itu bukan modus. Ada serpihan kayu di ujung jarinya, kecil, dan setetes darah merah, merah yang sangat merah, dan aku menariknya keluar dengan kukuku dengan hati-hati, lalu menekan ujung jarinya dengan ibu jariku sampai darahnya berhenti.
Gudang itu remang, penuh debu dan cahaya miring dari jendela kecil. Perabot-perabot tua itu cokelat, krem, hijau lumut. Tapi aku hanya memperhatikan jarinya, dan darah kecil itu, dan napasnya yang tertahan.
“Sudah,” kataku.
Aku tidak melepasnya.
“Pak,” bisiknya.
“Sebentar.” Aku tidak tahu kenapa aku bilang sebentar. Darahnya sudah berhenti. Tidak ada alasan medis apa pun untuk menahan jari orang lebih lama. Tapi aku melihat wajahnya di cahaya miring itu, dan pipinya sudah berubah dari merah muda menjadi merah, merah yang naik ke telinganya, dan aku ingin melihat berapa lama warna itu akan bertahan.
Lalu aku melepasnya. Dan merah itu memudar dalam tiga detik, seperti selalu.
Ia memegang jarinya sendiri di dada dan menatapku dengan mata yang sedikit terlalu besar.
“Makasih,” katanya.
Alasan nomor enam, tulis Jojo. Serpihan kayu. Sah. Tapi Abang pegang kelamaan. Kecurigaan klien: 7. KODE MERAH, BANG. KODE MERAH.
Alasan nomor tujuh adalah jabat tangan pamit. Dua kali, di hari yang sama.
Sore itu, setelah survei selesai, Sabrina mengantar kami ke pagar. Aku menjabat tangannya untuk pamit. Tiga detik. Warna. Pudar.
Lalu Jojo ingat meninggalkan meteran di teras, dan kami menunggu ia mengambilnya, dan aku menjabat tangan Sabrina lagi untuk pamit. Lagi.
Ia menatap tangan kami. Lalu ia menatapku, dengan alis sedikit terangkat dan sudut bibir yang berkedut seperti menahan tawa.
“Pak,” katanya. “Kita sudah salaman tadi.”
“Itu pamit untuk survei. Ini pamit untuk hari ini.”
“Itu... sama, Pak.”
“Beda konteks.”
Ia tertawa. Akhirnya ia tertawa, keras, lepas, dan di dalam warna yang masih bertahan aku melihat semuanya: gigi depannya yang sedikit tidak rata, lesung kecil di pipi kiri, matanya yang menyipit menjadi bulan sabit, rambutnya yang cokelat kemerahan diterbangkan angin sore. Ia sangat cantik. Aku sudah tahu itu dari bentuk wajahnya. Tapi aku tidak tahu, sampai detik itu, bahwa ia secantik ini dalam warna.
Lalu ia melepas tanganku, masih tertawa, dan menatapku dengan mata yang jernih dan sedikit nakal.
“Pak Arie,” katanya. “Alasan Bapak hari ini apa?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Aku punya enam alasan sebelumnya. Tangan dingin. Tinta. Cat. Tangga. Jengkal. Serpihan. Semuanya berhasil, kurang lebih. Tapi pertanyaan itu bukan soal alasan nomor tujuh. Pertanyaan itu soal semuanya.
Di belakangku, Jojo kembali dengan meteran, melihat wajah kami berdua, lalu berbalik lagi ke teras dan pura-pura mencari sesuatu yang lain.
“Saya...” Aku berdeham. “Sampai minggu depan, Sabrina.”
Itu pertama kali aku memanggil namanya tanpa Ibu di depannya langsung, bukan lewat layar ponsel jam sebelas malam. Aku menyadarinya terlambat.
Ia juga menyadarinya. Aku melihatnya di wajahnya: pipinya, yang barusan berhenti merah, merah lagi. Aku tidak bisa melihat warnanya. Tapi aku sekarang tahu, dari nilai terangnya, dari cara bayangannya berubah, bahwa itu merah.
Aku mulai belajar membaca wajahnya tanpa memegangnya.
Itu, pikirku sambil menyetir pulang di bawah langit yang abu-abu, jauh lebih berbahaya daripada alasan nomor mana pun.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh reading
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari