← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter One

Harriman Grey

POV: Arie

Pagi selalu dimulai dengan label.

Kemeja di lemariku tergantung berurutan, masing-masing dengan selotip kecil di bagian dalam kerah. Putih. Abu muda. Abu tua. Hitam. Tulisan tanganku sendiri, huruf kapital, rapi. Aku tidak butuh label untuk membedakan keempatnya. Putih paling terang, hitam paling gelap, abu muda dan abu tua ada di antaranya. Tapi dulu, waktu aku masih kuliah, ada satu kemeja yang kukira abu tua dan ternyata marun. Aku memakainya ke presentasi akhir dengan dasi yang ternyata hijau botol. Dosen pembimbingku bilang aku kelihatan seperti pohon Natal yang sedang berduka.

Sejak hari itu, lemariku hanya berisi empat kemungkinan.

Aku memilih abu tua, menggulung lengannya dua kali, lalu membuka laci meja kerja di sudut kamar. Isinya pensil mekanik, penggaris skala, kartu nama, dan sepotong krayon patah sepanjang ruas jari. Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya. Ibuku bilang aku menggenggamnya waktu dibawa ke rumah sakit, umur delapan tahun, dan menolak melepasnya bahkan saat dibius. Di kertas pembungkusnya yang sudah lusuh, ada tulisan cetak yang nyaris hilang: KUNING.

Itu warna terakhir yang kuingat. Bukan karena aku bisa membayangkannya lagi. Aku hanya ingat bahwa dulu aku pernah tahu seperti apa rasanya.

Aku menutup laci. Pukul tujuh lewat dua belas. Dunia di luar jendela apartemen abu-abu, seperti setiap pagi selama dua puluh tiga tahun.


Studio Harriman menempati dua lantai bangunan tua di Kemang yang kurenovasi sendiri: dinding plester putih, lantai semen poles, rangka baja hitam, kaca. Majalah desain menyebutnya tenang, jujur, disiplin. Salah satu kolumnis menulis bahwa aku “memperlakukan warna seperti tamu yang tidak diundang”, lalu memberi nama gaya itu Harriman Grey. Nama itu menempel. Sekarang klien datang dan menyebutnya seolah-olah merek dagang.

“Saya mau yang Harriman Grey, Pak. Yang kalem-kalem itu.”

Aku selalu mengangguk. Mereka tidak perlu tahu bahwa kalem-kalem itu bukan pilihan. Itu satu-satunya bahasa yang kukuasai.

Jojo sudah ada di meja depan saat aku masuk, dengan kemeja motif yang bahkan dalam abu-abu terlihat terlalu ramai.

“Pagi, Bang. Klien jam sembilan sudah konfirmasi. Pak Hendrawan sama istrinya, renovasi rumah Pondok Indah.” Ia menyodorkan map. “Istrinya mau satu dinding aksen. Sage green.”

“Sage green itu apa.”

“Hijau, tapi keabu-abuan. Kayak daun yang habis diputusin pacar.” Ia mengerutkan dahi. “Pucat, Bang. Kalem. Nilai terangnya mirip sama abu muda yang di ruang rapat.”

Johanes Sitompul sudah lima tahun bekerja denganku, dan sudah lima tahun jadi satu-satunya orang di luar keluargaku yang tahu. Aku memberitahunya di minggu ketiga dia magang, setelah ia memergokiku memesan cat dengan membaca kode RAL keras-keras dari ponsel seperti orang membaca nomor togel. Ia diam lama, lalu bilang, “Abang tenang aja. Mulai hari ini aku jadi matamu.” Kemudian ia menangis. Batak memang begitu, katanya. Kalau terharu harus lengkap.

Sejak itu ia duduk di sebelahku di setiap rapat klien dan membisikkan warna.

Rapat jam sembilan berjalan lancar. Bu Hendrawan membawa potongan majalah, menunjuk satu foto, dan bertanya pendapatku tentang “warna hangat di sofa ini”. Di telingaku, Jojo bergumam, “Terakota. Oranye bata, Bang. Yang kayak genteng kehujanan.”

“Terakota bisa,” kataku. “Asal tidak bertemu kayu jati yang terlalu gelap. Nanti ruangannya terasa sempit. Saya sarankan dipasangkan dengan linen yang lebih pucat.”

Bu Hendrawan tersenyum puas. Suaminya mencatat. Jojo menendang kakiku pelan di bawah meja, yang artinya bagus, Bang.

Begitu caraku bertahan. Aku menghafal. Aku tahu bahwa merah dan hijau terlihat hampir sama di mataku tapi berarti sangat berbeda bagi orang lain. Aku tahu bahwa biru tua dan hitam bisa membuat klien marah kalau tertukar. Aku tahu nama-nama yang tidak pernah kulihat: mustard, salmon, teal, lavender, burgundy. Aku punya tabel di kepalaku, dan di sebelah setiap nama ada angka. Seberapa terang. Seberapa gelap. Seberapa jauh dari putih.

Aku tidak bisa melihat warna. Tapi aku bisa membuat orang percaya aku tidak membutuhkannya.


Klien jam sebelas terlambat.

Jam sebelas lima belas, Jojo mulai melirik jam. Jam sebelas dua puluh, langit di luar runtuh. Hujan Jakarta yang datang tanpa basa-basi, menghantam kaca studio sampai jalanan di luar menjadi lukisan cat air berwarna abu.

Jam sebelas dua puluh tujuh, pintu terbuka.

Perempuan itu masuk dengan payung lipat yang jelas sudah menyerah, rambut sebahu basah sebagian, dan tas kanvas besar yang ia peluk di dada seperti bayi. Ia berdiri di keset, meneteskan air ke lantai semen poles kebanggaanku, dan napasnya terengah-engah.

“Maaf, maaf, maaf banget.” Suaranya lebih keras dari yang biasa terdengar di studio ini. “Ojolnya nyasar ke Kemang Utara, terus saya turun, terus hujannya kayak dendam pribadi sama saya. Saya Sabrina. Sabrina Mahadewi. Yang janji jam sebelas. Yang sekarang jam—” ia melirik jam dinding, “—sebelas lewat hampir setengah. Ya Tuhan.”

Jojo sudah berdiri dengan handuk kecil dari pantry. Entah sejak kapan ia menyimpan handuk di sana. “Nggak apa-apa, Kak. Silakan, silakan. Mau teh? Kopi? Abang saya kopi, tapi Kakak kayaknya butuh teh.”

“Teh, boleh. Makasih banyak.” Ia menerima handuk itu dan mengeringkan wajahnya, lalu menatapku.

Wajahnya dalam abu-abuku: mata besar dengan bulu mata yang gelap karena basah, pipi yang lebih terang dari rambutnya, bibir yang nilai terangnya hampir sama dengan pipi. Tidak ada informasi lain. Aku sudah terbiasa membaca wajah orang seperti membaca denah: proporsi, garis, bayangan. Wajahnya proporsional. Lebih dari proporsional, kalau aku jujur. Garis rahangnya lembut, dan ada lesung kecil yang muncul saat ia meringis malu.

“Arie,” kataku. “Silakan duduk, Bu Sabrina.”

“Sabrina aja, Pak. Bu bikin saya merasa kayak punya cicilan rumah.” Ia duduk, lalu menambahkan pelan, “Walaupun sebentar lagi mungkin iya.”

Jojo tertawa di pantry. Aku tidak.

Ia mengeluarkan isi tas kanvasnya ke meja rapat: buku sketsa yang tebal, map plastik berisi foto-foto lama, dan sertifikat tanah dalam amplop cokelat. Ia membuka buku sketsanya dan memutarnya ke arahku.

“Ini rumah nenek saya di Bogor,” katanya. “Jalan Kenari. Dibangun tahun tujuh puluhan. Sudah lama nggak ditempati, nenek sekarang tinggal di paviliun belakang, dan rumah utamanya mau diwariskan ke saya. Strukturnya, kata tukang di sana, sudah capek. Kuda-kuda atapnya dimakan rayap. Kata semua orang yang saya tanya, kalau mau rumah tua direnovasi tanpa dibongkar habis, harus ke studio Bapak.”

Di halaman pertama, sketsa rumah: atap limasan, jendela-jendela tinggi, teras dengan tiang kayu. Gambarnya bagus. Garisnya ringan tapi yakin. Di halaman berikutnya, rumah yang sama, tapi diwarnai.

Aku menatap halaman itu dan melihat yang selalu kulihat: bidang-bidang abu dengan berbagai tingkat terang yang berdesakan. Terlalu banyak. Terlalu ramai. Seperti mendengar sepuluh orang bicara sekaligus dalam bahasa yang tidak kupahami.

“Saya ilustrator,” lanjutnya, dan sekarang suaranya berubah, lebih cepat, lebih hidup. “Buku anak. Jadi mungkin saya agak berlebihan soal warna. Tapi saya mau rumah ini kayak dulu waktu saya kecil. Ramai. Kayak kotak krayon yang baru dibuka. Kusennya hijau tua, pintu dapur biru, kamar saya kuning, terasnya terakota, terus...”

Jojo meletakkan teh di depannya dan duduk di sebelahku. Di bawah meja, kakinya menyenggol kakiku dua kali. Banyak warna, Bang. Banyak banget.

“...dan saya tahu,” Sabrina menatapku sekarang, menggigit bibir, “studio Bapak terkenal dengan gaya yang, eh, kalem. Saya baca artikelnya. Harriman Grey. Jadi saya ke sini setengah nekat. Saya cuma butuh strukturnya diselamatkan. Soal warna, saya bisa urus sendiri. Bapak cukup... ya, jangan dicat abu-abu semua.”

Ia tersenyum, setengah bercanda, setengah memohon.

Aku sudah tahu jawabannya. Aku tidak mengambil proyek dengan palet seperti ini. Bukan karena tidak mau. Karena aku tidak bisa menjamin hasilnya. Satu kesalahan warna di rumah orang adalah satu kesalahan yang dilihat seumur hidup.

“Proyek Anda menarik,” kataku. “Tapi saya rasa ada studio lain yang lebih cocok untuk—”

“Oh. Iya.” Senyumnya turun sedikit, tapi ia cepat menegakkannya lagi. “Iya, nggak apa-apa, Pak. Saya ngerti. Makasih sudah mau ketemu, apalagi saya telat.” Ia mulai merapikan map, menutup buku sketsa, lalu berdiri dan mengulurkan tangan. “Terima kasih waktunya, Pak Arie.”

Aku berdiri dan menyambut tangannya.


Aku tidak tahu bagaimana menceritakan bagian ini dengan benar. Aku sudah mencoba berkali-kali di kepalaku dan semuanya terdengar berlebihan. Tapi tidak ada versi yang tidak berlebihan, karena yang terjadi memang berlebihan.

Tangannya dingin dan masih sedikit basah. Kulitnya halus.

Lalu dunia pecah.

Bukan seperti lampu dinyalakan. Lebih seperti seseorang menarik selembar kain abu dari seluruh ruangan sekaligus, dan di bawahnya ternyata ada segalanya.

Cangkir teh di meja: putih, tapi putih yang hangat, dengan tepi bergaris tipis sesuatu yang tidak bisa kunamai. Teh di dalamnya: bukan abu sedang, tapi sesuatu yang dalam, bening, bercahaya. Kemeja Jojo: ya Tuhan, kemeja Jojo. Bunga-bunga besar dengan warna-warna yang saling berteriak. Di luar jendela, hujan masih turun, tapi daun-daun pohon di seberang jalan ternyata tidak abu tua. Mereka hidup.

Dan di depanku, Sabrina Mahadewi.

Rambutnya bukan hitam. Cokelat gelap, dengan kilau kemerahan di bagian yang basah. Kulitnya hangat, seperti cahaya sore. Pipinya merah muda samar di bagian tulang pipi, mungkin karena dingin, mungkin karena malu. Matanya cokelat, lebih terang dari rambutnya, dengan bintik keemasan di dekat pupil. Bibirnya, yang tadi bernilai sama dengan pipinya, ternyata berwarna sesuatu yang lembut dan basah dan lebih tua dari merah muda. Di telinganya ada jepit rambut kecil berbentuk bintang, dan jepit itu—

Jepit itu kuning.

Aku tahu itu kuning. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu. Tidak ada label. Tidak ada Jojo yang berbisik. Tapi seluruh tubuhku tahu, seperti seseorang mengucapkan namaku setelah dua puluh tiga tahun.

Warnanya apa? pikirku, dan pikiran itu panik, karena terlalu banyak yang harus dijawab sekaligus. Ini warnanya apa. Itu warnanya apa. Kamu warnanya apa.

Lalu ia melepas tanganku, karena orang normal memang hanya berjabat tangan dua detik.

Dan kain abu itu jatuh lagi menutupi semuanya.

Cangkir di tanganku yang lain, yang entah sejak kapan kuangkat, meluncur dari jariku. Bunyinya keras di lantai semen. Teh tumpah ke sepatuku.

“Bang!” Jojo melompat.

“Pak! Ya ampun, Bapak nggak apa-apa?” Sabrina sudah setengah membungkuk, menarik tisu dari tasnya.

Aku tidak bergerak. Aku menatap tanganku sendiri. Tangan kanan. Telapak yang barusan menyentuh telapaknya. Abu-abu. Seperti biasa. Seperti selalu.

Aku mengangkat kepala dan menatapnya. Wajahnya kembali bernilai terang dan gelap saja, tapi sekarang aku tahu apa yang ada di baliknya. Aku tahu bibirnya warnanya apa. Aku tahu jepit di telinganya kuning.

“Pak Arie?” Ia mulai terdengar khawatir. “Bapak pucat. Mau duduk dulu?”

“Proyeknya,” kataku. Suaraku keluar aneh, terlalu datar. “Saya ambil.”

Hening. Jojo berhenti mengelap lantai dan menatapku seperti aku baru saja mengumumkan akan menikah dengan pot bunga.

“Hah?” kata Sabrina.

“Proyek Jalan Kenari. Saya ambil.” Aku berdeham. “Strukturnya, renovasinya, warnanya. Semua.”

“Tapi tadi Bapak bilang—”

“Saya berubah pikiran.”

“Dalam... tiga detik?”

“Dua,” kataku, sebelum sempat berpikir.

Ia mengerjap. Lalu pelan-pelan, lesung kecil itu muncul lagi. “Oke,” katanya, ragu, senang, bingung sekaligus. “Oke. Wah. Makasih, Pak. Serius. Saya kira saya bakal pulang nangis di ojol.”

“Asisten saya akan mengirim draf kontrak dan jadwal survei.” Aku tidak tahu dari mana suara profesional itu datang. Sepertinya dari bagian diriku yang sudah dua puluh tiga tahun berpura-pura baik-baik saja. “Secepatnya.”

Ia mengangguk berulang kali, mengucapkan terima kasih tiga kali lagi, meminta maaf soal teh, dan berjalan ke pintu sambil memeluk tas kanvasnya. Di ambang pintu ia menoleh dan tersenyum. Senyumnya abu-abu. Tapi sekarang aku tahu warnanya.

Pintu tertutup.


“Bang,” kata Jojo setelah hening yang sangat panjang. “Abang kenapa.”

Aku duduk kembali di kursi rapat.

“Bang, Abang barusan ambil proyek yang warnanya kayak toko permen meledak. Abang sakit? Kena santet? Itu Kakak tadi cantik, iya, aku akui, tapi Abang bukan tipe yang—”

“Batalkan rapat jam dua,” kataku.

“Hah?”

“Rapat jam dua. Jam empat juga. Pindahkan ke minggu depan.”

Jojo membuka mulut, menutupnya lagi, lalu duduk di kursi seberangku dan memperhatikanku dengan mata menyipit, seperti dokter jaga yang mencurigai pasien pura-pura sakit. Aku mengabaikannya. Aku membuka telapak tangan kananku di atas meja dan menatapnya.

Tidak ada bekas. Tidak ada apa-apa. Hanya kulit, garis tangan, dan bayangan yang sama seperti kemarin.

Aku menutup tangan itu. Membukanya lagi. Menekannya ke kulit tangan kiriku sendiri. Abu-abu. Aku menyentuh lengan Jojo, yang langsung menarik diri dengan ekspresi tersinggung. Abu-abu.

“Abang ngapain sih?”

“Jo,” kataku. “Jepit rambutnya tadi. Warnanya apa?”

Jojo diam. Lalu menjawab hati-hati, “Kuning, Bang. Jepit bintang kuning. Kenapa?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Dadaku sesak dengan cara yang tidak kumengerti.

Aku duduk di kursi itu empat puluh menit, menatap tangan kananku, sementara hujan di luar mereda menjadi gerimis dan Jojo, yang pada akhirnya menyerah bertanya, membatalkan dua rapat sambil sesekali melirikku seperti melirik bom.

Kuning, pikirku. Aku masih ingat kuning.

Dan seseorang baru saja memberikannya kembali padaku, selama dua detik, lewat jabat tangan.