← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Twenty

Berapa Detik Kamu Tahan

POV: Sabrina

Laporan itu masuk ke grup hari Jumat pagi, dalam bentuk PDF dua belas halaman.

Proyek Pak Arsitek 🏠

Jojo: [LAPORAN STATISTIK KUARTALAN — KONFIDENSIAL.pdf]

Jojo: Selamat pagi. Sebagai Saksi Yang Menderita, saya merasa berkewajiban menyampaikan laporan perkembangan kuartal ini. Mohon dibaca dengan seksama. Ada grafik.

Tari: ADA GRAFIK???

Jojo: Ada tiga grafik, Kak. Dan satu diagram lingkaran.

Aku membukanya di kasur, masih dengan rambut acak-acakan dan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Lima detik kemudian, aku sudah duduk tegak.

Halaman pertama adalah sampul. LAPORAN STATISTIK KUARTALAN: Proyek Penglihatan Warna Jalan Kenari. Disusun oleh: Johanes Sitompul, S.Ars. (Saksi Yang Menderita). Di bawahnya ada logo Studio Harriman, dan di bawahnya lagi, dengan huruf kecil: Dokumen ini tidak boleh dibaca oleh Abang. Abang pasti marah.

Halaman dua: ringkasan eksekutif.

Total kontak tercatat kuartal ini: 147. Total alasan yang diberikan Abang sebelum kontrak: 23. Alasan terburuk: “Tangan Anda dingin” (nilai 2/10). Alasan terbaik: “Untuk navigasi” (nilai 7/10, karena hampir masuk akal). Alasan paling aneh: “Saya cek kelembapan kulit untuk rekomendasi cat” (Abang, itu nggak ada).

Aku tertawa sampai Tari mengetuk dinding.

Halaman lima adalah grafik pertama. Judulnya: Durasi Sisa Warna per Minggu (dalam detik). Sumbu horizontal minggu pertama sampai minggu kedua belas. Sumbu vertikal detik. Garisnya mulai datar di bawah: tiga detik, tiga detik, tiga detik, tiga detik. Lalu di minggu ketujuh naik sedikit: enam. Lalu sebelas. Lalu dua puluh dua. Lalu, di minggu kesepuluh, melompat: enam puluh. Dan di minggu kedua belas, garisnya keluar dari kotak grafik, dengan panah dan catatan tangan: ± 180 detik. Abang nggak mau hitung lagi. Katanya “nggak penting”. ABANG, ITU DATA.

Di bawah grafik, ada keterangan dengan huruf tebal:

Kesimpulan analis: Kurva ini bukan linier. Kurva ini eksponensial. Dalam statistik, kurva eksponensial biasanya berarti ada sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya dan tidak bisa dihentikan. Contoh: populasi bakteri, bunga deposito, dan (menurut pengamatan pribadi analis) perasaan Abang.

Tari: MAS JOJO

Tari: INI KARYA SASTRA

Tari: AKU MAU TERBITIN

Jojo: Masih ada diagram lingkarannya Kak, halaman 9.

Halaman sembilan. Diagram lingkaran. Judulnya: Komposisi Isi Percakapan Abang dengan Kak Sabrina. Isinya: Warna (31%). Cat (12%). Pasal-pasal kontrak (8%). Diam sambil lihatin muka Kak Sabrina (49%).

Aku menutup PDF itu dan menatap langit-langit kamar kos dengan wajah yang terbakar.

Sabrina: Mas Jojo aku bakal bales dendam

Jojo: Siap Kak. Aku sudah siap mental. Tapi grafiknya akurat.


Sabtu pagi, Jalan Kenari.

Dinding-dinding sudah mulai dicat. Hari ini giliran ruang tengah: krem hangat, seperti kulit roti yang baru dipanggang, kata Arie dulu. Tukang-tukang bekerja dengan roller panjang. Pak Darto berdiri di tengah ruangan, memberi aba-aba seperti dirigen orkestra.

Arie berdiri di teras, membaca gambar kerja. Kemeja abu muda hari ini. Aku hafal sekarang. Abu muda hari Sabtu, abu tua hari Senin, putih hari Rabu, hitam kalau ia gugup.

Aku menghampirinya dengan ponsel di tangan.

“Kamu udah baca laporan Jojo?”

Ia tidak mengangkat kepala. “Jojo bilang laporannya tidak boleh dibaca olehku.”

“Jadi udah baca.”

“Aku baca semalam,” katanya, masih menatap gambar. “Tiga kali.”

“Diagram lingkarannya?”

Telinganya merah. “Datanya tidak akurat. Metodologinya buruk.”

“Empat puluh sembilan persen, Arie.”

“Itu pembulatan.”

“Pembulatan dari berapa?”

Ia tidak menjawab. Ia membalik halaman gambar kerja dengan gerakan yang terlalu keras.

Aku tertawa. Lalu, karena aku sudah memikirkannya sejak membaca grafik itu di kasur, karena garis yang keluar dari kotak itu terus muncul di kepalaku sepanjang malam, aku mengulurkan tangan.

“Pegang,” kataku.

Ia menoleh. Menatap tanganku. Lalu menatapku dengan alis terangkat, karena biasanya ia yang mengulurkan tangan duluan.

“Untuk apa?”

“Eksperimen.”

Ia meletakkan gambar kerja di meja teras dan menyambut tanganku.

Aku memperhatikan wajahnya seperti biasa. Lampunya menyala. Matanya bergerak ke halaman, ke bougenvil ungu yang mulai merambat di pagar, ke ayunan merah yang minggu lalu dicat ulang, lalu ke wajahku. Berhenti di wajahku.

Empat puluh sembilan persen, pikirku. Jojo bodoh. Itu pasti lebih.

Aku menghitung sampai sepuluh dalam kepala. Lalu aku melepas tangannya.

“Sekarang,” kataku, dan menyalakan stopwatch di ponselku, “berapa detik kamu tahan?”


Ia menatapku.

Aku menatapnya.

Kami berdiri di teras, setengah meter terpisah, tidak bersentuhan. Di belakang kami, Pak Darto berteriak sesuatu soal roller yang menetes. Di depan kami, halaman terbentang hijau di bawah matahari pagi.

Aku tidak bisa melihat apa yang ia lihat. Aku hanya bisa melihat wajahnya. Dan wajahnya, selama tiga bulan ini, sudah kupelajari seperti aku mempelajari wajah tokoh-tokoh di buku cerita: setiap garis, setiap kerutan, setiap gerakan kecil di sudut bibir.

Sepuluh detik. Matanya masih bergerak. Ke pagar, ke ayunan, kembali ke aku.

Tiga puluh detik. Ia masih melihat warna. Aku tahu karena matanya tidak punya garis kecil di antara alis.

Satu menit. Pak Darto lewat di belakang kami dengan ember cat, melihat kami berdiri diam saling menatap, dan berjalan lebih cepat.

Satu setengah menit. Ia menelan ludah.

Dua menit.

“Masih?” bisikku.

“Masih.”

“Apa yang paling terang?”

“Kamu.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Dua setengah menit. Aku tidak bisa menatapnya lagi. Aku menatap stopwatch di layar, menghitung detik demi detik. Pipiku panas. Aku tahu, tanpa melihat cermin, bahwa pipiku semerah ayunan yang baru dicat. Dan ia bisa melihatnya. Ia bisa melihat setiap detik merah itu menyebar.

Tiga menit.

Tiga menit dua belas detik.

Garis kecil di antara alisnya muncul.

Pelan. Seperti lampu yang diputar ke bawah. Matanya berhenti bergerak. Bahunya turun sedikit.

Aku menekan stop. 00:03:12.40.

“Tiga menit dua belas,” kataku. Suaraku keluar aneh.

“Kamu yang terakhir hilang,” katanya pelan. “Pipimu.”

“Selalu pipiku.”

“Selalu pipimu.”

Kami berdiri di sana lagi, diam. Ia sekarang di dalam abu-abu. Aku di dalam warna. Dan setengah meter di antara kami terasa sangat panjang.

“Oke,” kataku. Aku berdeham. Aku harus berdeham dua kali. “Eksperimen kedua.”

“Apa?”

Aku menyalakan stopwatch lagi. Kutunjukkan layarnya padanya: 00:00:00.00, angka-angka mulai berjalan.

“Sekarang,” kataku, “berapa detik kamu tahan nggak megang aku?”


Ia menatapku.

Aku sudah siap dengan tawa. Aku sudah siap dengan jawaban kaku, itu bukan eksperimen yang valid, atau metodologinya buruk, atau saya sedang menghitung beban tiang teras. Aku sudah siap dengan apa pun, kecuali dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Ia tidak menjawab. Ia tidak bergerak.

Ia hanya menatapku. Lama. Dengan mata yang sekarang tidak bisa melihat warnaku, tapi entah bagaimana tetap terasa seperti melihat semuanya.

Satu detik. Dua.

Tangannya, di samping tubuhnya, mengepal.

Tiga.

Napasnya berubah. Aku bisa mendengarnya. Lebih dalam. Lebih pelan.

Empat.

Ia melangkah maju dan mengambil tanganku.

Bukan tangan. Pergelangan. Ia memegang pergelanganku dan menarikku setengah langkah ke depan, sampai setengah meter itu hilang, sampai aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Ponselku masih di tanganku yang lain. Stopwatch masih berjalan.

00:00:04.62.

“Empat detik,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar.

“Empat detik,” katanya.

“Itu jelek banget, Arie.”

“Aku tahu.”

“Kamu kalah.”

“Aku tahu.” Ia menatapku. Dalam warna lagi sekarang. Aku melihat matanya menangkap semuanya. “Aku kalah dari hari pertama.”

Aku tidak bisa bernapas.

Ia sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya di balik kacamata. Bintik kecil di dagunya, bekas luka cukur pagi tadi. Detak di lehernya, di atas kerah kemeja abu muda, cepat sekali.

Ia menunduk sedikit.

Aku mendongak sedikit.

Dari dalam rumah, tepat di balik dinding ruang tengah yang sedang dicat, terdengar bunyi yang sangat keras. Bunyi ember jatuh. Diikuti teriakan.

“KOMAR! ITU EMBER CAT KREM! LIMA PULUH RIBU SATU KALENG!”

Kami berdua tersentak.

Lalu, dari jendela ruang tengah, yang kusennya baru dicat hijau tua, muncul enam kepala. Enam tukang, berdesakan di jendela, dengan helm dan topi dan cat krem di pipi. Pak Darto di tengah, dengan wajah merah padam dan tangan di pinggang, memarahi Komar yang berdiri di belakangnya dengan kaki berlumur cat krem sampai lutut.

Lalu mereka menyadari kami.

Menyadari jarak di antara wajah kami. Menyadari tangan Arie di pergelangan tanganku.

Enam kepala itu membeku di jendela.

“Eh,” kata Pak Darto. “Eh. Lanjut, Pak. Lanjut. Kami nggak lihat. Kami lagi... sibuk. Ember. Komar. Ember.”

Enam kepala itu menghilang dari jendela secara serempak, seperti tikus di permainan pukul tikus di mal.

Hening.

Lalu, dari dalam rumah, sangat pelan, terdengar suara Komar: “Pak, tadi itu hampir ya, Pak?”

Dan suara Pak Darto: “Diem kamu. Gara-gara kamu, ember lima puluh ribu, sama bakwan sepuluh.”


Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku menunduk dan menempelkan dahiku ke dada Arie dan tertawa sampai perutku sakit.

Ia tidak tertawa. Tapi aku merasakan dadanya bergetar di bawah dahiku, getaran pendek dan tertahan, dan aku tahu ia sedang menahan tawa dengan segenap kekuatannya.

“Arie,” kataku ke kemejanya.

“Ya.”

“Kamu masih pegang pergelanganku.”

“Ya.”

“Nggak mau dilepas?”

Ia diam lama.

“Tidak,” katanya.

Aku mendongak. Ia menatapku. Wajahnya tidak lagi tegang seperti tadi. Wajahnya tenang. Tenang dengan cara yang belum pernah kulihat, seperti orang yang baru memutuskan sesuatu.

“Senin,” katanya.

“Senin?”

“Studio. Jam sepuluh. Presentasi desain final rumah Jalan Kenari. Semua detail, semua warna, untuk persetujuan terakhir pemilik.” Ia berhenti. “Kamu harus datang.”

“Itu jadwal kerja?”

“Itu jadwal kerja.”

“Kenapa nada kamu kayak ngajak kencan?”

Ia tidak menjawab. Telinganya merah. Ia melepaskan pergelanganku, pelan sekali, dan mundur selangkah. Lalu, tanpa menoleh, ia mengambil gambar kerja dari meja teras dan berjalan ke dalam rumah, ke ruang tengah, ke arah Pak Darto dan Komar dan ember cat krem yang tumpah.

Di ambang pintu, ia berhenti.

“Pakai sesuatu yang kuning,” katanya ke dalam rumah. “Hari Senin.”

Lalu ia masuk.

Aku berdiri sendirian di teras dengan ponsel di tangan. Stopwatch masih berjalan. Aku lupa mematikannya.

00:04:37.91.

Aku menatap angka itu lama. Empat menit tiga puluh tujuh detik. Sejak ia bilang aku kalah dari hari pertama.

Aku tidak mematikannya. Aku memasukkan ponsel ke saku dengan stopwatch yang masih berjalan, dan berjalan ke ayunan merah di bawah pohon kenari, dan duduk di sana sampai Eyang memanggilku masuk untuk makan siang.

Di grup WhatsApp, malam itu, Pak Darto entah bagaimana sudah jadi anggota. Pesan pertamanya:

Darto Mandor: Lapor. Hari ini hampir. Komar yang salah. Bakwan saya kalah.

Jojo: HAMPIR APA PAK

Jojo: PAK DARTO HAMPIR APA

Tari: Siapa yang masukin Pak Darto ke grup?

Darto Mandor: Eyang, Mbak. Eyang yang kasih nomor.

Darto Mandor: Eyang juga mau masuk. Tapi Eyang nggak bisa WA. Eyang titip salam. Katanya hari Senin dia mau dengar beritanya.