← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Twelve

Warnanya Apa?

POV: Sabrina

Aku punya alarm di ponsel.

Aku tidak bangga dengan ini. Tapi sejak kontrak ditandatangani, aku mulai mencatat jadwal sesi di kalender ponselku, karena katanya biar rapi dan profesional. Lalu, entah sejak kapan, aku mulai memasang alarm tiga puluh menit sebelum setiap sesi.

Rabu 10.00 — Sesi warna: tanaman halaman (Bogor)

Kamis 14.00 — Sesi warna: keramik kamar mandi (studio)

Sabtu 09.00 — Sesi warna: lampu & kap (toko lampu Kebayoran)

Tari menemukannya Selasa malam, saat meminjam ponselku untuk mengecek email penerbit.

“Bina,” katanya, menatap layar dengan ekspresi detektif yang menemukan sidik jari di gagang pisau. “Kenapa ada alarm tiga puluh menit sebelum sesi warna?”

“Biar nggak telat.”

“Kamu kerja dari rumah. Jarak dari kamarmu ke kamar mandi tiga meter. Kamu nggak pernah pasang alarm buat deadline penerbit. Aku harus telepon kamu jam enam pagi kalau mau ilustrasimu masuk tepat waktu.”

“Ini beda.”

“Beda gimana?”

Aku merebut ponselku kembali. “Ini proyek rumah Eyang. Penting.”

Tari menatapku lama dengan senyum yang sangat menyebalkan. Lalu ia menepuk kepalaku dua kali, seperti menepuk anak kucing, dan keluar dari kamar sambil bersenandung lagu cinta yang terlalu sendu untuk jam sembilan malam.


Rabu pagi, Pak Arie menjemputku di stasiun Bogor.

Bukan kebiasaan. Biasanya aku naik KRL lalu ojol ke Jalan Kenari. Tapi Selasa malam ia mengirim pesan: Besok kita ke pusat tanaman hias di Pajajaran dulu sebelum ke rumah. Saya jemput di stasiun. Jam 9.15. Lalu satu pesan lagi, lima menit kemudian: Jojo tidak ikut. Dia bilang dia alergi tanaman. Lalu satu lagi: Dia tidak alergi tanaman. Dia hanya tidak mau ikut.

Aku tertawa sendirian di kasur selama sepuluh menit.

Ia sudah menunggu di depan pintu keluar stasiun, bersandar di mobil, dengan kemeja abu-abu dan kacamata hitam. Kacamata hitam. Aku belum pernah melihatnya memakai kacamata hitam. Ia terlihat seperti agen rahasia yang tersesat di pasar.

“Bapak kenapa pakai kacamata hitam?”

“Matahari Bogor.”

“Bogor lagi mendung, Pak.”

Ia diam sebentar. “Mendung yang terang.”

Aku tidak percaya, tapi aku masuk ke mobil. Di lampu merah pertama, ia melepas kacamata itu dan memasukkannya ke laci dasbor, dan aku sadar ia memakainya bukan karena matahari. Ia memakainya supaya aku tidak bisa melihat matanya saat ia melihatku keluar dari stasiun.

Aku menatap jendela sampai pipiku berhenti panas. Butuh waktu lama.


Pusat tanaman hias di Pajajaran adalah lorong panjang dengan puluhan kios di kiri-kanan, masing-masing penuh pot dan bunga dan pohon kecil yang ditumpuk sampai ke atap seng. Pagi itu sepi. Hanya ada beberapa ibu-ibu yang menawar anggrek dan satu bapak yang tidur di kursi plastik di depan kiosnya, dengan koran menutupi wajah.

Aku sudah membuat daftar tanaman untuk halaman. Bougenvil untuk pagar. Kembang sepatu. Lavender, kalau tahan cuaca Bogor. Pucuk merah untuk pembatas. Beberapa pot anggrek untuk teras.

Pak Arie berjalan di sebelahku, membaca daftar itu dari ponselku.

“Bougenvil,” katanya. “Warnanya apa saja?”

“Banyak. Merah muda, oranye, putih, ungu, merah.”

“Anda mau yang mana?”

“Saya mau Bapak yang pilih.”

Ia menoleh padaku. Aku mengulurkan tangan.

Sesi warna, kataku dalam hati. Rabu, jam sepuluh lewat lima. Aku bahkan tidak telat.

Ia menyambut tanganku, dan aku memperhatikan wajahnya seperti biasa. Aku sudah hafal sekarang. Matanya melebar sedikit. Napasnya tertahan setengah detik. Lalu bahunya turun, seperti orang yang baru meletakkan beban berat, dan matanya mulai bergerak. Ke kiri. Ke kanan. Ke atas, ke atap seng yang dipenuhi tanaman gantung. Ke bawah, ke pot-pot di lantai.

Lalu ke wajahku. Selalu berakhir di wajahku.

“Bougenvil,” katanya pelan, dan menatap deretan pot di kios pertama. “Ada yang merah muda terang, seperti permen karet. Ada yang oranye, oranye yang ujungnya mau jadi merah muda. Yang putih tidak benar-benar putih, ada semburat hijau di pangkalnya. Yang ungu...” Ia berhenti. “Yang ungu itu warnanya bagus sekali.”

“Ungu yang mana?”

“Ungu yang seperti...” Ia mencari kata. Aku menunggu. Pasal empat. Ia wajib cerita. Dan aku sudah mulai menyadari bahwa ini bagian favoritku dari seluruh kontrak: mendengarnya mencari kata. “Seperti langit di bagian paling atas, waktu oranyenya sudah habis. Waktu Eyang sudah manggil Anda masuk.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Itu,” kataku akhirnya. “Itu yang kita ambil.”


Satu jam berikutnya berubah jadi permainan.

Aku tidak tahu siapa yang memulainya. Mungkin aku. Aku menunjuk sesuatu, dan ia menyebut warnanya. Lalu aku menunjuk hal lain, lebih cepat. Lalu lebih cepat lagi.

“Itu?”

“Kembang sepatu. Merah, tapi merah yang tua, seperti marun yang kena matahari.”

“Itu?”

“Pot tanah liat. Oranye kecokelatan. Ada lumut hijau di bawahnya.”

“Itu?”

“Selang air. Hijau terang. Warna paling tidak alami di seluruh lorong ini.”

“Itu?”

“Kaus bapak yang tidur di sana. Kuning. Bertuliskan nama partai.”

Aku tertawa. Ia tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak, dan aku sekarang sudah sering melihat sudut bibir itu bergerak. Aku mulai mengoleksinya seperti orang mengoleksi perangko.

Di kios ketujuh, di depan rak anggrek, aku berhenti.

Aku sengaja melakukan ini. Aku sudah merencanakannya sejak Selasa malam, sejak Tari keluar dari kamarku sambil bersenandung. Aku mengangkat tangan kiriku yang bebas, jari-jari terbuka, dan menyodorkannya ke depan wajahnya.

Aku mengecat kukuku tadi pagi. Lima kuku, lima warna berbeda. Jempol merah. Telunjuk kuning. Jari tengah hijau. Jari manis biru. Kelingking ungu. Aku mengecatnya jam lima pagi, sebelum subuh, dengan cat kuku yang kupinjam diam-diam dari laci Tari, dan tanganku gemetar sedikit karena aku merasa konyol sekali.

“Warnanya apa?” tanyaku.

Ia menatap kuku-kukuku.

Ia menatapnya lama. Sangat lama. Lebih lama dari bougenvil, lebih lama dari kembang sepatu, lebih lama dari apa pun di lorong itu. Lalu ia mengangkat tangannya yang bebas dan, sangat pelan, menyentuh ujung kukuku satu per satu dengan ujung jarinya, seperti menghitung.

“Merah,” katanya. “Merah tomat. Kuning lemon. Hijau daun pisang yang masih muda. Biru langit siang, waktu tidak ada awan sama sekali. Ungu.” Ia berhenti di kelingking. “Ungu yang sama dengan bougenvil tadi.”

“Iya.”

“Anda sengaja.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku menurunkan tanganku. Pipiku panas. Ini bagian yang tidak kurencanakan dengan baik.

“Biar Bapak bisa lihat pelangi,” kataku. “Di satu tempat. Sekaligus. Tanpa harus nunggu hujan.”

Ia diam.

Di sekeliling kami, lorong pasar tanaman hias itu terus bergerak. Seorang ibu menawar harga anggrek dengan suara keras. Bapak berkaus partai berganti posisi tidur. Seekor kucing belang melompat dari atas rak dan menjatuhkan satu pot kecil.

Pak Arie tidak menoleh ke mana-mana. Ia menatapku.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku melakukan sesuatu tanpa memikirkannya sama sekali. Tanganku yang di tangannya bergerak, berputar sedikit, dan jari-jariku menyelinap di antara jari-jarinya.

Bertaut. Jari di antara jari.

Bukan pegangan tangan klien. Bukan sesi warna. Bukan pasal apa pun. Pasal dua bilang telapak tangan, jari, pergelangan, punggung tangan, kelingking. Tidak ada yang bilang soal jari yang bertaut seperti ini, rapat, seperti dua sisir yang saling menyisip.

Aku merasakan tangannya menegang. Lalu, pelan sekali, jari-jarinya menutup di atas punggung tanganku.

“Ini,” katanya. Suaranya nyaris tidak terdengar. “Ini tidak ada di pasal dua.”

“Persetujuan non-verbal,” kataku. “Kata Tari.”

Ia tidak menjawab. Tapi ia juga tidak melepaskan.


Kami membawa pulang tujuh pot bougenvil ungu, empat kembang sepatu, dua lavender yang menurut penjualnya “mungkin bertahan, mungkin juga tidak, tergantung jodoh”, dan satu anggrek bulan kecil yang tidak ada di daftar tapi kuambil karena ia berhenti di depannya terlalu lama.

“Itu buat siapa?” tanya penjualnya sambil membungkus.

“Buat pacarnya, Bu,” kata bapak berkaus partai yang ternyata sudah bangun dan menonton kami entah sejak kapan. “Dari tadi pegangan terus. Sudah satu jam.”

Aku membuka mulut untuk membantah. Pak Arie lebih cepat.

“Untuk rumah,” katanya.

“Oh, rumah mereka berdua,” kata ibu penjualnya, mengangguk-angguk. “Sudah mau nikah, ya. Semoga lancar, Mas, Mbak.”

Kami tidak membantah lagi. Kami terlalu sibuk tidak menatap satu sama lain.


Di mobil, saat ia menyalakan mesin, aku akhirnya melepas tangannya. Jari-jari kami terurai pelan-pelan, satu per satu, seperti tidak mau.

Aku tidak menatap jalan. Aku menatap wajahnya. Aku sudah tahu sekarang di mana harus melihat. Matanya. Pupilnya yang sedikit melebar. Garis halus di antara alisnya yang muncul setiap kali warna mulai surut.

Garis itu tidak muncul.

Lima detik. Sepuluh. Lima belas.

Ia menyetir keluar dari parkiran pasar dan masih belum muncul.

Dua puluh detik.

Lalu, di lampu merah pertama, garis itu muncul. Pelan. Matanya meredup seperti lampu yang diputar ke bawah.

“Berapa?” bisikku.

Ia mengambil ponsel dari saku tanpa menoleh dan meletakkannya di pangkuanku. Layarnya menyala.

00:00:22.07

“Dua puluh dua detik,” kataku.

“Minggu lalu sebelas.”

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab. Lampu hijau. Ia menginjak gas, tepat waktu kali ini, tanpa menunggu klakson. Kemudian, setelah tikungan berikutnya, ia berkata dengan suara yang sangat datar dan sangat pelan:

“Saya tidak tahu kenapa.”

Aku menatapnya. Telinganya merah. Lagi.

Aku menunduk ke ponselnya di pangkuanku, ke angka dua puluh dua detik, dan aku tidak bertanya lagi.

Karena aku punya teori. Teori yang terlalu memalukan untuk diucapkan keras-keras di mobil dengan tujuh pot bougenvil ungu di jok belakang. Teori yang di kepalaku berbunyi seperti kalimat di buku cerita anak yang kutulis: Semakin Kiko sayang pada payungnya, semakin lama payung itu mau tinggal.

Aku tidak menulis kalimat itu. Itu bukan dari bukuku. Aku baru saja mengarangnya.

Dan aku tidak berani menulisnya di mana pun, karena kalau teori itu benar, berarti dua puluh dua detik itu bukan cuma soal dia.


Eyang menyambut tujuh pot bougenvil ungu itu di pagar dengan tangan di pinggang.

“Ungu,” katanya. “Siapa yang pilih ungu?”

“Pak Arie, Eyang.”

Eyang menoleh ke Pak Arie, yang sedang menurunkan pot dari jok belakang dengan sangat hati-hati, seperti menurunkan bayi. Ia menatapnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu, persis seperti di hari pertama.

“Nak Arie.”

“Ya, Eyang.”

“Almarhum suami Eyang dulu juga pilih bougenvil ungu,” kata Eyang. “Waktu kami baru menikah. Ditanam di pagar ini. Mati tahun sembilan delapan, kena banjir.” Ia diam sebentar. “Eyang kira tidak ada lagi laki-laki yang pilih ungu.”

Pak Arie berdiri dengan pot di tangan dan tidak tahu harus menjawab apa. Aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Eyang tidak pernah cerita soal bougenvil itu.

“Tanam di tempat yang sama,” kata Eyang akhirnya, menunjuk sepanjang pagar depan. “Di situ. Biar Kakek senang.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke paviliun, dan sebelum masuk, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh, cukup keras untuk didengar tukang di seberang halaman: “Dan tadi Eyang lihat dari jendela kalian di mobil senyum-senyum lima menit nggak turun-turun. Darto! Bakwan lagi!”

Pak Darto, dari atas genteng, bersorak.

Pak Arie meletakkan pot bougenvil di tanah sangat pelan dan menatapnya lama, seperti menghindari menatap apa pun yang lain. Aku pura-pura sibuk menghitung pot. Tujuh. Aku menghitungnya empat kali.


Malamnya, Reza mengirim pesan.

Mbak Sabrina, minggu depan saya ke Bandung buat kerjaan. Kafe dinding ombak yang saya ceritain. Mau ikut ngopi? Saya jemput. Janji nggak ngomongin cat. Paling dikit.

Aku menatap pesan itu lama.

Reza baik. Reza lucu. Reza tidak butuh alasan untuk mengajakku ngopi, dan tidak butuh kontrak dua halaman dengan materai.

Aku mengetik: Makasih banyak, Mas Reza. Tapi kayaknya saya nggak bisa. Lagi sibuk sama rumah.

Aku menekan kirim.

Lalu aku membuka kalender, melihat alarm untuk hari Kamis, jam dua siang, Sesi warna: keramik kamar mandi (studio), dan menggeser alarmnya dari tiga puluh menit sebelum menjadi satu jam sebelum.

Aku berbaring dan menatap kuku-kukuku dalam cahaya lampu kamar. Merah. Kuning. Hijau. Biru. Ungu.

Biru langit siang, waktu tidak ada awan sama sekali.

Aku tidak akan menghapus cat kuku ini. Setidaknya sampai Kamis.