← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Eighteen

Warna Lain Bonus

POV: Sabrina

Kami tidak bertemu selama empat hari.

Bukan karena bertengkar. Kami tidak bertengkar. Kami hanya, setelah sore hujan itu, setelah pelukan dalam gelap dan lampu kerja yang menyala di detik yang paling salah, sama-sama tiba-tiba sangat sibuk.

Aku membatalkan sesi warna hari Rabu dengan alasan deadline penerbit. Itu benar, sebagian. Penerbit memang minta revisi sampul Kiko. Tapi revisinya bisa kuselesaikan dalam dua jam, dan aku memerlukan dua hari.

Pak Arie membatalkan sesi warna hari Jumat dengan alasan rapat dengan klien di Bintaro. Jojo, di grup WhatsApp, menulis: Rapatnya sudah selesai dari jam 10 btw. Abang sekarang duduk di pantry lihatin tangan kanannya lagi. Ini sudah hari ketiga. Aku khawatir tangannya aus.

Tari membaca pesan itu di sebelahku di kasur, lalu menatapku dengan wajah orang yang sangat lelah dengan kebodohan manusia.

“Kalian berdua,” katanya, “adalah orang dewasa paling payah yang pernah aku temui.”

“Kami lagi sibuk, Tar.”

“Kamu lagi gambar rumah yang sama untuk kesebelas kalinya.”

“Itu buat hadiah.”

“Hadiahnya udah jadi dari minggu lalu. Itu kamu gambar ulang biar ada kerjaan.” Tari merebut buku sketsaku, membalik halamannya, dan menunjuk. “Lihat. Ini laki-laki di bawah pohon. Ini laki-laki di bawah pohon. Ini laki-laki di bawah pohon, tapi ada petirnya. Bina. Kamu gambar petir.”

Aku merebut buku sketsaku kembali dan memeluknya di dada.

“Dia meluk kamu,” kata Tari, lebih lembut sekarang. “Pas kamu takut. Itu bukan kesalahan. Kenapa kalian kayak orang yang habis nabrak mobil?”

“Karena...” Aku menatap buku sketsa di pangkuanku. “Karena kalau lampunya nggak nyala, Tar.”

Tari diam. Lalu, pelan, ia tersenyum, senyum yang tidak menyebalkan sama sekali.

“Oh,” katanya. “Oh.”

“Jangan bilang apa-apa.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Mukamu bilang banyak.”

“Mukaku,” kata Tari, berbaring di kasurku dan menatap langit-langit, “lagi bahagia, Bina. Biarin aja.”


Pesan dari Pak Arie datang Sabtu siang.

Lampu-lampu rumah sudah terpasang. Perlu dites malam ini, untuk memastikan suhu warnanya sesuai rencana. Sesi warna, kalau Anda bersedia. Jam 7.

Lalu, satu menit kemudian:

Kalau Anda tidak bersedia, saya mengerti.

Lalu satu lagi:

Tapi lampunya memang perlu dites.

Aku membaca tiga pesan itu, lalu menutup wajah dengan bantal dan berguling di kasur sampai Tari mengetuk dinding dan bertanya apakah aku sedang kejang.

Saya datang, ketikku.


Rumah di Jalan Kenari sudah berubah banyak sejak terakhir kali aku melihatnya.

Atapnya sudah selesai, genteng oranye baru tersusun rapi. Plafon di semua ruangan sudah terpasang. Dinding-dinding sudah diplester, dan sebagian sudah diberi cat dasar putih. Kusen-kusen hijau tua sudah dicat semua. Dan di langit-langit setiap ruangan, sekarang tergantung lampu-lampu baru yang kami pilih bersama tiga minggu lalu, di toko lampu Kebayoran, dengan tangan di tangan.

Pak Arie sudah menunggu di teras saat aku datang. Kemeja hitam. Ia jarang pakai hitam. Ia berdiri dengan tangan di saku dan menatapku berjalan dari pagar seperti menatap sesuatu yang ia tidak yakin akan datang.

“Selamat malam,” katanya.

“Malam, Pak.”

Hening. Lama. Seekor jangkrik di pohon kenari memenuhi hening itu dengan sangat bersemangat.

“Lampunya,” katanya akhirnya.

“Iya. Lampunya.”

Kami masuk.

Eyang Ratih sedang duduk di kursi rotan di ruang tengah rumah utama, kursi yang entah sejak kapan ia pindahkan dari paviliun, dengan termos teh dan wajah orang yang menonton bioskop. Pak Darto juga ada, berdiri di dekat sakelar dengan obeng di tangan, dan begitu melihat kami, ia memasang wajah yang sangat profesional dan sangat tidak meyakinkan.

“Selamat malam, Ibu Pemilik. Selamat malam, Pak Arie. Saya di sini untuk urusan teknis. Sakelar.” Ia mengetuk sakelar dengan obengnya. “Sangat teknis.”

“Eyang ngapain di sini?” bisikku.

“Rumah Eyang,” kata Eyang, menyeruput teh. “Eyang mau lihat lampunya. Masa nggak boleh.”


Kami mulai dari ruang tengah.

Pak Darto menyalakan sakelar. Lampu gantung besar di tengah ruangan menyala, bohlam-bohlam kecil dalam kap anyaman rotan. Cahayanya hangat, kekuningan, persis seperti yang kubayangkan saat memilihnya.

Pak Arie mengulurkan tangannya ke arahku tanpa menoleh.

Aku menatap tangan itu. Empat hari tidak memegangnya. Empat hari telapak tanganku terasa dingin dan aneh.

Aku menyambutnya.

Ia menghela napas. Panjang. Seperti orang yang baru muncul dari bawah air.

“Hangat,” katanya, mendongak ke lampu. “Kuning madu. Bayangan anyaman rotannya jatuh di plafon, seperti jaring. Dindingnya krem di bawah lampu ini, padahal tadi siang putih. Pas. Sesuai rencana.”

Eyang mengangguk-angguk di kursinya. Pak Darto mencatat sesuatu di buku kecil, yang aku cukup yakin bukan soal sakelar.

Lalu kamar depan. Lampu plafon sederhana, putih hangat. Lalu dapur, lampu gantung kaca hijau di atas meja makan. Lalu lorong, deretan lampu dinding kecil berbentuk lilin.

Di setiap ruangan, Pak Arie mendongak ke lampu dan menyebutkan warnanya, satu per satu, dengan suara yang tenang dan rendah. Di setiap ruangan, aku memegang tangannya dan mendengarkan.

Dan di setiap ruangan, aku memperhatikan sesuatu.

Ia mendongak ke lampu. Selalu. Ia menyebutkan warnanya. Selalu. Tapi setiap kali ia selesai bicara, matanya tidak tinggal di lampu. Matanya turun. Pelan, seperti tidak sengaja. Ke wajahku.

Dan tinggal di sana.

Di dapur, ia menatap wajahku sampai Pak Darto berdeham.

Di lorong, ia menatap wajahku sampai Eyang, dari ruang tengah, bilang dengan suara keras ke udara kosong, “Lampunya di atas, ya, bukan di bawah.”


Kamarku yang terakhir.

Pak Darto menyalakan lampunya dari luar, lalu, dengan gerakan yang sangat sengaja, mundur ke ruang tengah dan bilang ke Eyang dengan suara lantang bahwa ia “mau cek sakelar dapur, yang jauh”.

Lampu kamarku sederhana. Bohlam bulat besar dalam kap kertas putih, seperti bulan kecil yang digantung. Aku yang memilihnya. Aku ingin kamarku terasa seperti malam-malam waktu aku kecil, waktu stiker bintang di langit-langit menyala setelah lampu dimatikan.

Pak Arie berdiri di tengah kamar. Aku di sebelahnya. Tangan di tangan.

Dindingnya belum dicat kuning. Masih cat dasar putih. Tapi di bawah lampu kertas itu, putihnya hangat, dan bayangan kami berdua jatuh panjang di lantai.

“Bagaimana, Pak?” tanyaku. “Warnanya oke?”

Ia tidak menjawab.

Aku menoleh. Ia tidak sedang menatap lampu. Ia tidak sedang menatap dinding. Ia sedang menatapku.

“Pak,” kataku, setengah tertawa, setengah gugup. “Lampunya di atas.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa Bapak lihatin saya?”

Ia diam sebentar. Lalu ia bilang, dengan suara yang sama datarnya seperti saat ia menyebutkan kode cat, dengan nada yang sama sekali tidak cocok dengan kalimatnya:

“Aku cuma mau lihat kamu. Warna lain bonus.”

Hening.

Jangkrik di luar berhenti bernyanyi. Atau mungkin aku berhenti mendengar.

Aku. Ia bilang aku. Tiga bulan, dan Pak Arie selalu bilang saya. Di rapat, di proyek, di WhatsApp jam sebelas malam. Saya tidak pernah bercanda. Saya tidak tahu kenapa. Saya di sini. Bahkan di kamar ini, empat hari lalu, dalam gelap, dengan tangan di belakang kepalaku.

Sekarang aku.

Dan kamu.

Aku melepas tangannya.

Aku tidak merencanakannya. Tanganku bergerak sendiri, seperti tangan yang menyentuh panci panas. Aku melepasnya, mundur satu langkah, dua langkah, menabrak kusen pintu, dan berkata, dengan suara yang sangat tinggi:

“Saya ke kamar mandi.”

Lalu aku lari.


Kamar mandi rumah utama belum jadi. Pipanya belum tersambung. Jadi aku lari menyeberangi halaman di bawah pohon kenari, masuk ke paviliun Eyang, masuk ke kamar mandi kecil di belakang, mengunci pintu, duduk di atas tutup kloset, dan menelepon Tari dengan tangan gemetar.

Tari mengangkat di dering pertama.

“Gimana?”

“Tar,” bisikku. “Tar. Dia bilang aku.”

“Hah?”

“Dia bilang aku, Tar. Bukan saya. Terus dia bilang...” Aku menutup mulut dengan tangan. Suaraku keluar dari sela jari-jariku. “Dia bilang aku cuma mau lihat kamu, warna lain bonus.”

Di ujung sana, hening.

Lalu Tari berteriak. Teriakan yang begitu keras sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga. Teriakan yang pasti membuat ibu kos naik tangga lagi.

“BONUS?” teriak Tari. “WARNA LAIN BONUS? Bina, itu... itu bukan gombalan lagi. Itu deklarasi. Itu proklamasi. Itu teks yang harus dibacakan di monumen nasional.”

“Tar, pelan-pelan.”

“Aku nggak bisa pelan-pelan! Laki-laki yang buta warna dua puluh tiga tahun bilang warna itu bonus? Dibanding kamu? Bina!” Ia mengambil napas. “Terus kamu jawab apa?”

“Aku bilang aku ke kamar mandi.”

Hening lagi. Lebih lama.

“Kamu,” kata Tari pelan, “kabur ke kamar mandi.”

“Iya.”

“Setelah laki-laki itu bilang kalimat paling romantis yang pernah aku dengar seumur hidup sebagai editor buku anak.”

“Iya, Tar.”

“Bina, kamu di mana sekarang?”

“Di kamar mandi Eyang.”

Tari menghela napas sangat panjang. Napas orang yang lelah dengan dunia. “Oke. Oke. Tarik napas. Cuci muka. Terus balik ke sana. Terus kamu bilang sesuatu. Apa aja. Yang penting bukan saya ke kamar mandi.”

“Bilang apa?”

“Bilang aku juga.”

“Aku juga apa?”

“Kamu tahu apa.”

Lalu ada ketukan di pintu kamar mandi.

Bukan ketukan yang keras. Ketukan pelan, tiga kali, dengan ritme yang sangat kukenal.

“Bina,” kata Eyang dari luar. “Kalau mau teriak-teriak, jangan di kamar mandi Eyang. Gemanya ke mana-mana. Eyang dengar semuanya dari ruang tengah.”

Aku membeku.

“Eyang dengar warna lain bonus,” lanjut Eyang dengan suara yang sangat tenang. “Darto juga dengar. Dia sekarang lagi duduk di lantai teras, ketawa sambil nangis.”

“Eyang!”

“Eyang cuma mau bilang satu hal.” Hening sebentar. Lalu suara Eyang berubah. Lebih lembut. Suara yang sama yang dulu menceritakan krayon kuning lewat celah pagar. “Laki-laki itu sekarang berdiri sendirian di kamarmu, Nak. Di bawah lampu yang kamu pilih. Dia nggak gerak dari tadi. Kayak tiang teras.”

Aku menutup mata.

“Kamu sudah nunggu dia dua puluh tiga tahun,” kata Eyang pelan. “Jangan bikin dia nunggu di kamar mandi.”


Aku cuci muka. Aku menarik napas. Aku keluar.

Eyang sudah tidak ada di depan pintu. Pak Darto, yang memang duduk di lantai teras paviliun, langsung pura-pura sibuk dengan obengnya dan memalingkan wajah, tapi aku melihat matanya merah. Ketawa sambil nangis, kata Eyang. Ternyata itu bukan kiasan.

Aku menyeberangi halaman. Masuk ke rumah utama. Menyusuri lorong yang lampu-lampu lilinnya menyala hangat.

Ia masih di sana.

Di tengah kamarku, di bawah lampu kertas yang seperti bulan kecil, berdiri tegak dengan tangan di saku dan wajah yang tidak bisa kubaca. Seperti tiang teras. Eyang benar.

Ia menoleh saat aku muncul di ambang pintu.

“Maaf,” katanya cepat, sebelum aku sempat bicara. “Tadi itu tidak profesional. Saya tidak...”

“Bapak bilang aku.”

Ia berhenti.

“Tadi,” kataku. “Bapak bilang aku. Bukan saya. Terus Bapak bilang kamu.”

Ia diam lama. Aku melihatnya mengingat kalimatnya sendiri, seperti di toko cat dulu, setengah detik terlambat. Wajahnya berubah. Telinganya, lalu lehernya, lalu seluruh wajahnya. Aku tidak butuh memegang tangannya untuk tahu bahwa ia merah. Arie Harriman, Principal Architect, Harriman Grey, merah dari ujung telinga sampai kerah kemeja hitamnya.

“Saya...” katanya. Lalu berhenti. Lalu mencoba lagi. “Aku...”

Ia tidak bisa menyelesaikannya.

Aku berjalan ke tengah kamar dan berdiri di depannya. Lalu, tanpa pasal, tanpa alasan, tanpa jadwal di kalender dengan alarm satu jam sebelumnya, aku mengambil tangannya dari saku.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku juga.”

Ia menatapku.

“Aku juga cuma mau lihat kamu,” kataku. Suaraku bergetar di kata terakhir, tapi aku tetap mengatakannya. “Kalau kamu lagi nggak megang tanganku. Kalau kamu lagi baca kode di belakang swatch. Kalau kamu lagi salah pilih kaleng cat. Kalau kamu lagi senyum ke piring di rumah ibumu. Aku cuma mau lihat kamu.”

Ia tidak berkata apa-apa.

Tapi di bawah lampu kertas putih itu, di kamar yang belum dicat kuning, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan senyum kecil di sudut bibir. Bukan tawa pendek yang tertahan.

Matanya basah. Dan ia tersenyum. Penuh. Seluruh wajahnya.

Di luar, di teras paviliun, aku mendengar Pak Darto membuang ingus dengan sangat keras.