Chapter Sixteen
Kejutan untuk Nanti
POV: Sabrina
Aku menceritakannya ke Tari jam dua pagi, karena aku tidak bisa tidur dan Tari, sayangnya, tidak pernah mengunci pintu kamarnya.
Aku masuk, duduk di ujung kasurnya, dan menyalakan lampu meja. Tari membuka satu mata, melihatku, lalu menarik selimut sampai ke kepala.
“Kalau ini soal Pak Arsitek,” katanya dari balik selimut, “aku mau dibayar lembur.”
“Tar. Dia Kakak.”
Selimut itu diam.
“Dia yang dulu nolongin aku. Waktu aku umur empat. Yang Eyang suka ceritain. Yang kena perancah.” Suaraku pecah di tengah kalimat. “Tar, dia yang ngajarin aku gambar matahari.”
Tari menurunkan selimutnya pelan-pelan. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah tertutup, ada bekas bantal di pipinya. Tapi ia menatapku dengan wajah yang sudah sepenuhnya bangun.
“Ulang,” katanya. “Pelan-pelan.”
Jadi aku mengulang. Kaleng biskuit. Krayon kuning lewat celah pagar. Hujan. Perancah. Gambar dengan tanda tangan ARIE. 8 TH. Aku menunjukkan fotonya di ponsel, dan Tari memperbesarnya, dan menatap matahari kecil di pojok kanan atas lama sekali.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ya Tuhan, Bina. Ini... ini bukan novel lagi. Ini sinetron. Ini sinetron yang aku bakal tonton sampai episode tiga ratus.”
“Tar.”
“Maaf. Maaf. Aku editor. Otakku langsung mikir struktur.” Ia mengusap wajahnya. “Terus kamu udah bilang ke dia?”
“Belum.”
“Kenapa belum?”
Aku menceritakan rencanaku. Serah terima. Gambar lama dan gambar baru. Kakak, ini aku.
Tari mendengarkan tanpa memotong, dan itu jarang terjadi. Setelah aku selesai, ia diam lama, menatap foto di ponselku.
“Bina,” katanya akhirnya. “Ini rencana yang romantis banget. Tapi aku mau tanya satu hal, sebagai editor.”
“Apa?”
“Kenapa nunggu?”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
“Karena...” Aku menatap tanganku. “Karena aku mau momennya pas. Aku mau dia lihat rumahnya selesai dulu. Aku mau dia...”
Aku tidak menyelesaikan kalimatku, karena jawaban yang sebenarnya ada di bawahnya, di tempat dingin yang tidak ingin kulihat. Karena aku takut kalau aku bilang sekarang, dia akan bilang sesuatu yang tidak mau kudengar.
Tari menatapku dengan mata editor yang tahu kapan sebuah kalimat belum selesai. Tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menarik selimut, membuka setengahnya, dan menepuk kasur di sebelahnya.
“Sini,” katanya. “Tidur di sini aja. Besok kita pikirin.”
Besoknya, Tari hampir merusak semuanya.
Bukan sengaja. Tari tidak pernah sengaja. Tari hanya punya jempol yang lebih cepat dari otaknya, terutama di grup WhatsApp jam sembilan pagi sebelum kopi.
Aku sedang di KRL ke Bogor saat ponselku bergetar tiga kali berturut-turut.
Proyek Pak Arsitek 🏠
Jojo: Pagi semua. Laporan: Abang hari ini pakai kemeja abu tua. Kaus kaki sepasang (aku cek). Mood: senyum-senyum ke HP sejak jam 7. Aku curiga.
Tari: Wkwk. Wajarlah. Abang kan lagi seneng ketemu adik kecil yang dulu dia tolongin
Tari: ASTAGA
Aku hampir menjatuhkan ponsel di antara dua ibu-ibu yang membawa karung sayur.
Tanganku gemetar saat aku menekan tahan pesan itu dan memilih hapus untuk semua orang. Satu detik. Dua detik. Pesannya berubah menjadi Pesan ini telah dihapus.
Aku menatap layar, menunggu.
Jojo: ??? Tadi Kak Tari nulis apa?
Tari: Nggak ada Mas. Salah grup. Itu buat grup arisan.
Jojo: Arisan apa yang ngomongin adik kecil yang ditolongin?
Tari: Arisan... drama Korea. Kami lagi bahas drakor. Ada adegan itu.
Jojo: Oh. Judulnya apa? Aku suka drakor.
Tari: Lupa.
Jojo: Masa lupa padahal lagi dibahas
Tari: Mas Jojo kerja sana. Bos Mas lagi senyum-senyum, awasin.
Aku membuka chat pribadi dengan Tari dan mengetik dengan seluruh kemarahan yang bisa dimuat dalam jempol.
TARI.
MAAF MAAF MAAF
AKU BELUM NGOPI
AKU BAKAL TUTUP MULUT SAMPE SERAH TERIMA. SUMPAH. PAKAI LAKBAN.
Aku kirimin kamu martabak nanti malam. Telur. Spesial. Tiga telur.
Aku menatap pesan-pesan itu, lalu tertawa sendirian di KRL sampai salah satu ibu yang membawa karung sayur menatapku dengan curiga dan menggeser karungnya sedikit menjauh.
Aku mulai menggambar hadiah itu hari Selasa.
Di kos, malam-malam, setelah Tari tidur. Aku mengeluarkan kertas cat air paling bagus yang kupunya, kertas yang biasanya kusimpan untuk sampul buku, dan menempelkannya di papan gambar dengan selotip.
Rumah di Jalan Kenari. Dari sudut yang sama dengan gambar anak delapan tahun itu, dari halaman, sedikit dari kiri, dengan pohon kenari di sudut. Aku memotret gambar lama itu dan menempelkannya di dinding di atas meja, dan setiap kali tanganku ragu, aku menatapnya.
Atap limasan, genteng oranye baru. Kusen hijau tua. Pintu dapur biru kolam yang terlihat dari samping. Teras terakota cokelat dengan tegel krem dan hijau di tengahnya, seperti kue lapis Eyang dari atas. Bougenvil ungu di sepanjang pagar. Ayunan merah, dicat ulang, merah yang terang dan baru.
Dan di bawah pohon kenari, dua orang.
Aku menggambar laki-laki itu lebih dulu. Tinggi. Kemeja abu-abu dengan lengan digulung dua kali. Kacamata. Ia berdiri dengan satu tangan di saku, persis seperti di foto majalah yang dulu Tari tunjukkan. Tapi wajahnya tidak seperti di foto majalah. Wajahnya menoleh ke samping, ke perempuan di sebelahnya, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Aku butuh tiga malam untuk menggambar sudut bibir itu dengan benar.
Perempuannya aku gambar terakhir. Jepit kuning. Pipi merah. Tangan kirinya, aku berhenti di sini lama sekali, tangan kirinya di tangan kanan laki-laki itu. Jari bertaut.
Lalu matahari. Pojok kanan atas. Lingkaran kuning, tujuh garis sinar. Aku menggambarnya dengan krayon, bukan cat air. Krayon kuning dari kotak empat puluh delapan warna yang kubeli khusus di toko alat tulis dekat kos.
Di pojok kanan bawah, aku menulis:
BINA. 27 TH.
Lalu aku duduk di kursi dan menangis lagi, karena itu sepertinya sudah jadi kebiasaanku belakangan ini.
Rabu siang, sesi warna di studio.
Agendanya pemilihan kain gorden. Jojo sudah menyiapkan dua puluh potongan kain di meja rapat, berjajar seperti spanduk kecil. Pak Arie duduk di sebelahku. Tangannya di tanganku, seperti biasa, di atas meja, seolah itu hal paling normal di dunia.
Aku sudah terbiasa. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku jadi terbiasa. Mungkin di pasar tanaman hias. Mungkin di ayunan, saat ia berlutut di rumput. Yang kutahu, sekarang, kalau aku duduk di sebelahnya dan tangannya tidak ada di tanganku, telapak tanganku terasa dingin dan aneh, seperti kehilangan sesuatu.
“Linen,” katanya, menyentuh potongan kain krem. “Krem hangat. Seperti kulit roti yang baru dipanggang. Untuk ruang tengah.”
“Setuju.”
“Katun motif untuk kamar Anda. Yang ini.” Ia menyentuh kain putih dengan motif bunga-bunga kecil kuning. “Bunganya kuning yang sama dengan dinding. Tapi lebih pucat. Seperti kuning yang sudah dicuci beberapa kali.”
“Bapak sekarang jago banget ngomongin warna.”
“Saya punya guru yang bagus.”
Aku menatapnya. Ia sedang menatap kain. Tapi telinganya merah.
Aku menunggu sampai Jojo keluar ruangan untuk mengambil kopi. Lalu, dengan suara yang kubuat sesantai mungkin, aku bertanya.
“Pak. Waktu Bapak jatuh dulu. Bapak beneran nggak ingat apa-apa?”
Tangannya di tanganku diam.
“Kenapa?”
“Penasaran aja.” Aku menatap kain-kain di meja. “Bapak nggak pernah cerita.”
Ia diam lama. Jari-jarinya bergerak sedikit di punggung tanganku, tanpa sadar, seperti setiap kali ia sedang berpikir.
“Saya tidak ingat apa pun dari sebelum umur delapan,” katanya akhirnya. “Hampir apa pun. Dokter bilang benturannya mengambil sebagian ingatan juga. Bukan cuma warna. Saya ingat beberapa hal. Pantai Anyer. Topi koboi. Bau krayon.” Ia berhenti. “Tapi tidak tempatnya. Tidak orangnya. Kata orang tua saya, saya jatuh. Saya percaya saja.”
Tidak tempatnya. Tidak orangnya.
Aku menatap kain motif bunga kuning di depanku. Aku tidak berani menatapnya.
Ia tidak ingat. Ia tidak ingat ayunan, tidak ingat pagar, tidak ingat anak kecil berjas hujan kuning yang memanggilnya Kakak. Ia tidak ingat menggambar matahari di punggung tanganku. Ia datang ke Jalan Kenari dan menatap rumah itu seperti orang asing, karena baginya rumah itu memang asing.
Aku menelan sesuatu yang besar di tenggorokan.
“Bapak sedih nggak?” tanyaku. “Nggak ingat?”
“Tidak bisa sedih untuk sesuatu yang tidak saya ingat.” Ia diam sebentar. “Tapi kadang saya merasa ada yang hilang. Seperti saya pernah punya sesuatu, lalu menaruhnya di tempat yang saya lupa.”
Krayon kuning di laci, pikirku. Kamu menaruhnya di laci, Kak. Dan kamu menaruh sisanya di aku.
Aku tidak mengatakannya. Aku menggenggam tangannya lebih erat.
Dan di bawah semua itu, sesuatu yang dingin di perutku bergerak lagi. Kata orang tua saya, saya jatuh. Kata orang tuanya. Kata ayahnya. Ayah yang sama yang bilang ke Eyang cuma dijahit, anak saya sehat.
Aku menekan pikiran itu ke bawah, seperti menekan pegas kotak mainan yang menolak tertutup.
Dia nggak ingat, kataku pada diriku sendiri. Itu sebabnya dia nggak cerita. Bukan karena hal lain.
“Sabrina?”
Aku mengangkat kepala. Ia menatapku, dalam warna, dan aku tahu ia melihat sesuatu di wajahku, karena alisnya berkerut.
“Mata Anda merah,” katanya pelan. “Di pinggir. Anda menangis semalam?”
“Begadang,” kataku. “Gambar.”
“Gambar apa?”
Aku tersenyum. Senyum yang kubuat selebar mungkin.
“Rahasia,” kataku. “Nanti Bapak lihat. Waktu serah terima.”
Ia menatapku lama, dengan mata yang membaca warna pipiku, warna mataku, dan entah warna apa lagi yang tidak bisa kulihat sendiri.
“Baik,” katanya. “Saya tunggu.”
Jojo kembali dengan tiga gelas kopi dan wajah orang yang sudah berdiri di balik pintu selama dua menit penuh.
“Kak,” katanya, meletakkan kopi di depanku. “Kak Tari tadi pagi di grup nulis apa sih? Aku penasaran banget. Aku nggak bisa tidur.”
“Itu jam sembilan pagi, Mas. Mas Jojo nggak lagi tidur.”
“Aku nggak bisa tidur siang nanti, maksudnya.”
“Drakor,” kataku.
“Judulnya?”
“Lupa.”
Jojo menyipitkan mata. Ia menatapku, lalu menatap Pak Arie, lalu menatap tangan kami di atas meja. Lalu ia duduk dan membuka laptopnya dengan gerakan sangat lambat dan sangat dramatis.
“Oke,” katanya. “Aku bikin tab baru.”
“Tab apa, Jo?” tanya Pak Arie.
“Hal-Hal yang Disembunyikan dari Saksi Yang Menderita,” kata Jojo, mengetik. “Baris satu: drakor misterius.”
Pak Arie menoleh padaku dengan alis terangkat. Aku mengangkat bahu. Ia menatapku sebentar lagi, lalu, entah kenapa, ia tidak bertanya.
Tapi saat aku pamit sore itu, di pintu studio, ia memegang tanganku sedikit lebih lama dari biasanya, dan di dalam warna yang hanya bisa ia lihat, ia menatap wajahku seperti sedang mencari sesuatu yang tertulis kecil di pojok.
“Sabrina,” katanya.
“Ya, Pak?”
“Kalau ada yang berat,” katanya, kalimatnya kaku dan pelan seperti baru belajar mengucapkannya, “Anda boleh bilang. Ke saya.”
Aku tersenyum. “Bapak juga.”
Ia diam. Lalu mengangguk, sekali, seperti orang yang menandatangani sesuatu yang ia tidak yakin bisa ia tepati.
Kami berdua berdiri di pintu itu, memegang tangan satu sama lain, menyembunyikan sesuatu dari satu sama lain, dan sama-sama berjanji untuk tidak melakukannya.
Aku baru menyadari ironinya di ojol, di tengah kemacetan Antasari, dan aku tidak tertawa.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti reading
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari