← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty Five

Bukan Utang

POV: Arie

Aku takut.

Aku berdiri di bawah pohon kenari dengan tangan terangkat setengah jalan, dan aku takut. Lebih takut dari hari pertama di studio, saat aku belum tahu apa yang akan terjadi. Lebih takut dari di halaman berlumpur dengan jas hujan kuning, saat aku tahu tapi tidak percaya.

Karena kali terakhir aku memegang tangannya, warnanya pucat.

Kuning yang seperti kuning dicuci berkali-kali. Tiga detik. Seperti hari pertama. Seperti semua yang kami bangun selama empat bulan runtuh dalam satu genggaman.

Aku tahu sekarang kenapa. Aku menulisnya di halaman terakhir buku kecil hitam, jam dua pagi, dengan cat oranye di jari. Angkanya naik waktu aku jujur. Angkanya turun waktu aku diam.

Tapi aku tidak tahu apakah itu benar. Itu teori. Aku tidak punya data.

Dan kalau aku salah, kalau aku memegang tangannya sekarang dan warnanya tetap pucat, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.

Tangannya menunggu di depanku. Terbuka. Gemetar. Ada air mata yang jatuh dari dagunya dan mendarat di telapak tangannya sendiri.

Pegang dulu, katanya.

Aku memegang.


Tidak ada kata yang cukup.

Aku sudah mencoba, nanti, berkali-kali. Di malam-malam sesudahnya. Di buku kecil hitam. Di kepalaku. Aku tidak pernah berhasil.

Bukan seperti hari pertama, saat seseorang menarik kain abu dari ruangan. Bukan seperti di halaman berlumpur, saat dunia terbuka sekaligus. Bukan seperti di Suryakencana, saat seluruh kota menyala.

Ini seperti matahari terbit.

Bukan dari satu titik. Dari mana-mana. Dari tanah di bawah kakiku dan langit di atas kepalaku dan pohon di belakangku dan tangannya di tanganku. Semuanya sekaligus, tapi pelan, seperti cahaya yang naik dari balik bukit.

Rumput hijau, basah, berkilau. Daun kenari di atas kami, belasan hijau sekaligus. Ayunan merah di sebelahku, merah yang baru dicat dua minggu lalu, merah yang terang dan segar. Bougenvil ungu di pagar, ungu seperti langit di bagian paling atas waktu oranyenya sudah habis. Genteng oranye. Kusen hijau tua. Plafon teras yang biru langit siang. Langit di atas kami yang biru, biru sungguhan, dengan sisa awan putih yang mulai menipis.

Lebih tajam dari sebelumnya. Lebih dalam. Seperti sebelum ini aku melihat dunia lewat kaca yang sedikit berembun, dan seseorang baru saja mengelapnya.

Dan di depanku.

Kemeja putih. Rok kuning. Kuning matahari pagi. Jepit bintang di telinga, kuning, jepit yang sama dengan hari pertama. Rambut cokelat gelap dengan kilau kemerahan di bagian yang kena matahari. Mata cokelat dengan bintik keemasan di dekat pupil, merah di pinggir, basah. Pipi.

Pipinya merah.

Bukan merah muda. Bukan bercak-bercak merah tidak rata seperti malam di warung pecel lele. Merah. Merah yang naik dari tulang pipi ke telinga ke leher, merah yang sama dengan ayunan di sebelah kami, merah yang sama dengan bendera di puncak atap di hari selamatan.

Warna paling merah yang pernah kulihat.

“Arie,” bisiknya. Matanya mencari wajahku. “Arie, gimana? Kamu lihat? Warnanya...”

Aku tidak bisa bicara.

Aku hanya menggenggam tangannya. Lebih erat. Sangat erat. Dan aku merasakan air mata di pipiku sendiri, hangat, jatuh tanpa izin.

Ia melihatnya. Ia melihat air mataku, dan ia tahu.

Ia menangis lebih keras. Ia tertawa di tengah tangisnya. Ia menangis dan tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan yang bebas, dan tangannya yang di tanganku menggenggamku sampai jari-jariku sakit.

Dari teras paviliun, aku mendengar Jojo berteriak sesuatu dalam bahasa Batak.


Kami duduk di ayunan. Berdua.

Ayunan itu hanya muat satu orang. Kakeknya membuatnya untuk satu orang. Tapi aku duduk di papannya, dan ia duduk di pangkuanku dengan kaki menjuntai ke samping, dan tali tambangnya berderit protes, dan kami tidak peduli.

Tangan bertaut. Ia di pangkuanku. Kepalanya di bahuku.

Di teras paviliun, aku tahu semua orang menonton. Aku tidak menoleh.

“Aku tahu sejak hari Minggu,” kataku.

Itu kalimat pertama. Aku sudah menyiapkannya selama empat malam, sambil mengecat, sambil membaca label-label. Aku sudah menyiapkan kalimat-kalimat yang panjang. Aku membuang semuanya. Yang tersisa hanya yang ini.

“Papa cerita. Semuanya. Hujan, perancah, krayon. Kamu.” Aku menatap tangan kami. “Aku memutuskan tidak bilang ke kamu. Aku pikir kalau kamu tahu, kamu akan merasa bersalah. Kamu akan memegang tanganku karena berutang. Aku tidak mau itu.”

Ia tidak bergerak di bahuku.

“Aku salah,” kataku. “Aku memutuskan sendiri apa yang kamu rasakan. Aku tidak tanya. Aku tidak kasih kamu kesempatan buat milih. Persis seperti Papa ke Eyang. Persis seperti Papa ke aku.” Aku menelan ludah. “Jojo bilang aku selalu begitu. Dia benar.”

“Arie...”

“Biarkan aku selesai,” kataku. “Tolong. Aku tidak pandai bicara. Kalau aku berhenti, aku tidak akan bisa mulai lagi.”

Ia diam.

“Kamu tulis di surat,” kataku pelan, “bahwa aku tidak perlu terikat ke orang yang mengambil duniaku.”

Ia menegang di pangkuanku.

“Kamu tidak mengambil duniaku, Bina.”

Aku mengangkat tangan kami yang bertaut. Ke depan wajah kami. Ke arah halaman, rumah, pohon, langit. Semuanya berwarna.

“Aku kehilangan warna,” kataku. “Itu benar. Umur delapan. Di halaman sebelah. Karena aku lari ke bawah perancah. Tapi aku tidak kehilangan dunia.” Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Aku tidak pernah punya dunia. Dua puluh tiga tahun aku punya studio, punya kerjaan, punya empat kemeja dengan label. Aku tidak punya dunia. Aku tidak tahu apa itu dunia.”

Ia mulai menangis lagi. Aku merasakannya di bahuku.

“Dunia baru ketemu,” kataku, “waktu kamu jabat tanganku.”


Ia tidak menjawab untuk waktu yang lama.

Lalu ia turun dari pangkuanku. Berdiri di depan ayunan. Ia membuka tas kanvas yang tergantung di bahunya, tas yang sama dengan hari pertama, dan mengeluarkan map plastik.

“Aku juga,” katanya. Suaranya serak. “Aku juga harus bilang sesuatu. Aku juga salah.”

Ia membuka map itu.

Dua kertas.

Yang pertama menguning, rapuh, pinggirannya sobek di beberapa tempat. Gambar krayon. Rumah dengan atap limasan dan genteng oranye. Kusen hijau tua. Pohon kenari di sudut. Ayunan merah. Di ayunan itu, anak perempuan sangat kecil dengan jas hujan kuning.

Dan di pojok kanan atas, matahari. Lingkaran kuning. Tujuh garis sinar.

Di pojok kanan bawah, huruf besar dan miring dan belum rapi:

ARIE. 8 TH.

Aku menatap gambar itu.

Dalam warna. Karena ia memegang tangan kiriku dengan tangan kirinya, dan memegang gambar itu dengan tangan kanannya. Aku melihat kuning krayon di jas hujan itu. Kuning yang terang, kuning plastik, kuning yang sama dengan tujuh anak tangga loteng yang dicat bebek karet. Aku melihat merah di ayunan. Hijau di pohon. Dan matahari.

Mataharinya kuning. Kuning yang benar. Kuning matahari pagi.

Anak delapan tahun itu memilih kuning yang benar.

“Aku tahu sejak dua bulan lalu,” kata Sabrina. “Eyang cerita. Eyang simpan gambar ini di kaleng biskuit. Aku tahu kamu kakak yang nolong aku. Aku tahu kamu yang kasih aku krayon, yang gambar matahari di tanganku. Aku tahu kenapa aku selalu gambar matahari kecil di pojok.”

Aku mengangkat kepala.

“Aku nggak bilang,” katanya. Air matanya jatuh lagi. “Aku mau kasih kejutan. Waktu serah terima. Hari ini. Aku mau kasih ini, dan bilang Kakak, ini aku. Aku pikir itu romantis. Aku pikir momennya harus pas.” Ia menggeleng. “Aku juga diam, Arie. Dua bulan. Aku juga mutusin sendiri kapan waktunya. Aku juga nggak tanya.”

Ia mengeluarkan kertas kedua.

Kertas cat air, putih bersih. Rumah yang sama. Sekarang. Genteng oranye baru, kusen hijau tua, teras terakota, bougenvil ungu, ayunan merah. Di bawah pohon kenari, dua orang. Laki-laki tinggi berkacamata dengan kemeja abu-abu, menoleh ke perempuan di sebelahnya, sudut bibir terangkat. Perempuan dengan jepit kuning. Jari bertaut.

Matahari di pojok kanan atas. Krayon. Kuning.

BINA. 27 TH.

“Dan aku juga tahu,” katanya pelan, “waktu di kolam. Papamu. Aku punya pertanyaan di lidah. Om, mata Arie, apa karena itu? Aku bisa tanya. Aku nggak tanya. Karena aku takut jawabannya.” Ia menatapku. “Kalau aku tanya waktu itu, mungkin aku nggak perlu tahu dari restoran. Mungkin kamu nggak perlu ngecat empat malam sendirian.”

Aku menatap dua gambar itu. Anak delapan tahun dan perempuan dua puluh tujuh tahun. Dua matahari. Dua puluh tiga tahun.

“Kita berdua,” kataku pelan.

“Bodoh,” katanya. “Eyang bilang. Tari bilang. Kita berdua sama bodohnya.”

Aku tertawa.

Aku tidak tahu dari mana datangnya. Aku tidak merencanakannya. Tawa itu keluar dari tempat yang sama dengan tawa di depan durian yang jatuh. Aku tertawa sambil menangis, duduk di ayunan merah yang terlalu kecil, dengan dua gambar di tangannya dan tangannya di tanganku, dan ia tertawa juga, menangis juga, sampai kami berdua tidak bisa bernapas.


Setelah tawa kami reda, ia menatapku. Matanya bengkak. Hidungnya merah. Pipinya masih merah, dan sekarang bercampur dengan sisa air mata yang berkilau di bawah matahari.

“Arie,” katanya.

“Ya.”

Ia menggigit bibir. Lalu bertanya, pelan, dengan suara yang hampir tidak keluar:

“Aku warnanya apa sekarang?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang pertama kali muncul di kepalaku di studio, di hari pertama, panik: Ini warnanya apa. Itu warnanya apa. Kamu warnanya apa. Pertanyaan yang kutanyakan pada Jojo soal jepit rambutnya. Pertanyaan yang kutanyakan di meja rapat proyek soal kaleng cat. Pertanyaan yang ia tanyakan di pasar tanaman hias, dengan kuku lima warna. Pertanyaan yang kutanyakan di studio malam itu, kamu hari ini warnanya apa, dan ia menjawab abu-abu. Pertanyaan yang kutanyakan pada ruang rapat yang kosong, dan tidak ada yang menjawab.

Sekarang ia yang bertanya.

“Kuning,” kataku.

Ia menunggu.

“Rok kamu kuning matahari pagi,” kataku. “Jepit kamu kuning. Matahari di gambar kamu kuning.” Aku mengangkat tangan yang bebas dan menyentuh pipinya. “Tapi kamu bukan kuning.”

“Terus?”

“Kamu merah,” kataku. “Di sini. Pipimu. Merah yang paling merah yang pernah aku lihat. Lebih merah dari ayunan. Lebih merah dari bendera di atap.”

Ia menunduk. Pipinya, di bawah telapak tanganku, semakin merah.

“Mata kamu cokelat dengan emas di dekat pupil,” lanjutku. “Rambut kamu cokelat dengan merah kalau kena matahari. Bayangan di bawah dagu kamu biru, karena langitnya biru. Bibir kamu...” Aku berhenti. “Bibir kamu warnanya lebih bagus dari katalog.”

Ia tertawa. Tertawa sambil menangis.

“Itu buat referensi aksen,” katanya.

“Itu bukan buat referensi aksen,” kataku. “Dari dulu bukan.”

Lalu, karena Tari bertanya di depan gerbang kos, Bapak pernah bilang itu ke dia, kata-kata itu persis?, karena aku sudah menulisnya di buku kecil hitam tapi belum pernah mengucapkannya, karena aku sudah dua puluh tiga tahun menyimpan semua yang penting dan aku tidak mau menyimpan ini satu detik lagi:

“Aku sayang kamu, Bina.”

Ia berhenti tertawa.

“Aku sayang kamu,” kataku lagi. “Bukan karena warna. Bukan karena tanganmu. Bukan karena krayon atau ayunan atau perancah. Aku sayang kamu karena kamu terlambat dua puluh tujuh menit dengan payung patah. Karena kamu bilang biar Bapak nggak usah cari alasan. Karena kamu ngecat kuku lima warna jam lima pagi supaya aku bisa lihat pelangi. Karena kamu...”

Ia menciumku.


Bukan seperti di Suryakencana. Bukan seperti di kamar kuning dengan cat di bibir.

Ia menciumku seperti orang yang pulang. Tangannya di wajahku, di rahangku, di belakang leherku. Map plastik jatuh ke rumput, dua gambar di dalamnya. Ia berdiri di depan ayunan dan aku duduk dan ia menunduk dan menciumku, dalam, lama, dengan air mata di pipinya yang kurasakan di pipiku sendiri.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak perlu melihat. Aku sudah tahu warnanya. Semuanya. Dari sini.

Dan di dalam gelap di balik kelopak mataku, sesuatu berkelebat. Bukan bunyi besi. Bukan hujan. Bukan jeritan.

Suara. Suara anak perempuan kecil, tinggi dan cadel, dari balik pagar, di bawah gerimis.

Kakak! Kakak, gambal matahali lagi!

Lalu hilang.

Aku tidak ingat. Aku tidak akan pernah ingat semuanya. Tapi sesuatu di dadaku yang sudah lama tertutup, terbuka sedikit. Seperti jendela loteng yang kusennya ungu bougenvil.


Dari teras paviliun, ledakan.

Pak Darto berteriak “BAKWAN!” dan enam tukang bersorak dan Komar melempar peci Jojo ke udara. Reza bertepuk tangan sambil tertawa. Jojo tidak berteriak. Jojo menangis, sangat keras, ke bahu Reza, dan Reza menepuk punggungnya dengan wajah orang yang tidak tahu harus berbuat apa.

Eyang berdiri dari kursi rotan. Pelan. Dengan tongkat yang tidak pernah ia pakai di rumah. Ia berjalan menyeberangi halaman, melewati rumput basah, ke ayunan.

Sabrina melepaskan ciumannya dan menoleh. Wajahnya merah sampai ke leher.

Eyang berhenti di depan kami. Ia menatapku lama. Dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Seperti hari pertama. Mengukur untuk peti mati atau jas pengantin.

Lalu ia mengulurkan tangannya yang keriput, dan menyentuh pipiku.

“Anak Pak Harriman,” katanya pelan.

Aku tidak bisa menjawab.

“Dua puluh tiga tahun Eyang mau bilang ini,” kata Eyang. Suaranya bergetar. Matanya basah di balik kacamata berantai. “Eyang nggak sempat. Kamu dibawa ambulans. Kalian pindah. Eyang nggak sempat sama sekali.”

Ia menunduk. Eyang Ratih, jenderal di teras, tujuh puluh delapan tahun, menunduk di depanku.

“Terima kasih,” kata Eyang. “Terima kasih sudah nolong cucu Eyang.”

Aku turun dari ayunan. Aku memeluk Eyang. Kecil, rapuh, bau minyak kayu putih dan kebaya hijau. Sabrina memeluk kami berdua dari samping.

Kami bertiga berdiri di bawah pohon kenari, di sebelah ayunan merah, di rumput yang basah, sementara di teras paviliun seluruh tim proyek menangis dan bersorak dan memperebutkan bakwan.


Aku melepaskan tangan Sabrina jam sepuluh lewat lima belas, untuk membantu Eyang kembali ke kursinya.

Jojo, yang entah sejak kapan sudah berhenti menangis dan sudah memegang ponsel dengan layar stopwatch, menekan tombolnya tepat di detik itu.

Aku berdiri di teras dan menunggu warna pergi.

Ia tidak pergi.

Sepuluh menit. Lima belas. Tiga puluh. Kami makan bakwan di teras. Reza membuka kaleng cat yang ia bawa, cat dekoratif untuk hadiah nanti, dan menunjukkan warnanya padaku tanpa aku harus memegang siapa pun. Hijau zaitun. Hijau yang ia tawarkan tiga tahun berturut-turut. Aku melihatnya. Aku bilang bagus. Ia hampir menangis.

Empat puluh lima menit.

Sabrina duduk di sebelahku di bangku teras, bahu menempel ke bahuku, tidak memegang tanganku. Sengaja. Ia ingin tahu juga.

Satu jam.

Lalu, pelan, sangat pelan, seperti matahari yang turun di balik genteng vila tua, warna mulai surut. Bougenvil. Ayunan. Langit. Yang terakhir, seperti selalu, pipinya.

Jojo menunjukkan layar ponselnya padaku. Tangannya gemetar.

01:02:47.33

“Satu jam, Bang,” bisiknya. “Satu jam lebih.”

Aku menatap angka itu. Lalu menatap Sabrina, yang sekarang abu-abu lagi, terang dan gelap, bentuk wajah yang sudah kuhafal sejak hari pertama.

“Nggak apa-apa,” katanya, tersenyum. “Pegang lagi aja.”

Ia mengulurkan tangannya.

Aku menyambutnya. Tanpa alasan. Tanpa pasal. Tanpa stopwatch.

Hanya karena aku mau.