← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty Four

Serah Terima

POV: Sabrina

Tari mengantarku sampai stasiun Tebet jam enam pagi, dengan rambut belum disisir dan sandal jepit yang beda warna.

“Kamu nggak usah ikut,” kataku di depan gerbang stasiun.

“Aku nggak ikut,” kata Tari. “Aku cuma mastiin kamu naik kereta. Kamu orangnya suka kabur ke kamar mandi.”

“Itu sekali.”

“Dua kali. Sekali di Bogor, sekali di restoran Jepang waktu SMA pas Bimo nembak kamu.” Ia merapikan kerah kemejaku. Kemeja putih dengan rok kuning. Aku memilihnya jam lima pagi, setelah mengganti baju empat kali. “Bina.”

“Hm.”

“Kalau kamu sampai sana dan kamu nggak tahu harus bilang apa,” kata Tari, “jangan bilang apa-apa. Pegang aja tangannya. Kalian berdua kan memang lebih jago pegang tangan daripada ngomong.”

Aku tertawa. Lalu menangis sedikit. Lalu Tari memelukku di depan gerbang stasiun, di antara orang-orang yang buru-buru dengan tas kerja, dan bilang di telingaku, pelan sekali:

“Dia nulis aku sayang kamu di buku data, Bina. Di buku data. Itu laki-laki paling bodoh yang pernah aku temui. Dan aku editor. Aku sudah ketemu banyak laki-laki bodoh di naskah.”

Lalu ia mendorongku masuk ke stasiun dan tidak pergi sampai keretaku berangkat.


Jalan Kenari jam setengah sembilan pagi sepi dan basah. Hujan semalam. Daun-daun pohon di sepanjang jalan masih meneteskan air.

Aku berjalan dari ujung jalan. Melewati rumah nomor empat belas, enam belas, delapan belas. Melewati vila tua dengan pagar berkarat dan jendela yang ditutup papan.

Aku berhenti di depannya.

Aku tidak pernah benar-benar menatap vila itu. Dua puluh tiga tahun ia berdiri di sebelah rumah Eyang, dan aku tidak pernah menatapnya, karena Eyang bilang jangan main ke sana, dan karena entah kenapa setiap kali aku melewatinya, bunyi petir terasa lebih keras.

Aku menatapnya sekarang. Ilalang setinggi pinggang. Bekas fondasi di sisi samping, beton yang retak dan ditumbuhi lumut. Di sana. Di sisi yang paling dekat dengan pagar rumah Eyang.

Di sana ia jatuh.

Aku memegang jeruji pagar vila itu yang berkarat dan dingin. Aku tidak ingat apa pun. Aku masih empat tahun. Aku tidak ingat hujan, tidak ingat bunyi besi, tidak ingat tangan yang mendorongku ke lumpur. Aku tidak ingat wajah anak laki-laki dengan helm kebesaran.

Tapi tanganku ingat. Tanganku di jeruji berkarat ini gemetar, dan aku tidak bisa menghentikannya.

“Makasih,” bisikku ke vila kosong. “Makasih, Kak.”

Lalu aku melepaskan jeruji itu dan berjalan ke rumah sebelah.


Mereka semua ada di sana.

Pak Darto dan keenam tukang, berdiri berjajar di sepanjang pagar seperti barisan penyambut tamu, semuanya pakai batik. Batik yang berbeda-beda, ada yang cokelat, ada yang biru, ada yang terlalu kebesaran. Komar memakai peci yang aku cukup yakin milik Jojo. Mereka berdiri diam, tegak, dan begitu melihatku datang, mereka semua menunduk sedikit, serempak, seperti latihan.

“Selamat pagi, Ibu Pemilik,” kata Pak Darto. Suaranya serak.

“Pagi, Pak Darto.”

“Rumahnya sudah siap, Bu.” Ia tidak menatapku. Ia menatap tanah. “Semua sudah dikerjakan. Semua label.”

“Aku tahu,” kataku. “Eyang kirim foto.”

Pak Darto mengangkat kepala. Matanya merah. Pak Darto, enam puluh tahun hampir, mandor dua puluh tahun, yang sudah melihat tukang jatuh dari lantai tiga lalu berdiri dan minta kopi, matanya merah.

“Bapak itu nggak bisa lihat satu pun, Bu,” katanya pelan. “Empat malam. Satu pun.”

Aku tidak bisa menjawab.

Di teras paviliun, Eyang duduk di kursi rotan dengan kebaya hijau dan bros perak. Jojo berdiri di sebelahnya, memegang sebungkus tisu yang sudah setengah habis. Reza bersandar di tiang teras dengan kaleng cat di kaki, entah untuk apa.

Mereka tidak bergerak. Mereka tidak memanggilku. Mereka hanya menatapku, dan menunggu.

Lalu Eyang mengangkat tangannya dan menunjuk. Bukan ke rumah utama. Ke halaman. Ke sudut kiri. Ke pohon kenari.

Aku menoleh.

Ia berdiri di sana.

Di bawah pohon kenari, di sebelah ayunan merah. Kemeja abu muda. Abu muda hari Sabtu, abu tua hari Senin. Ini hari Minggu. Ia tidak punya kemeja untuk hari Minggu. Mungkin ia memilih yang paling tidak ia takutkan.

Ia tidak berjalan ke arahku. Ia tidak memanggil namaku. Ia hanya berdiri di sana dengan tangan di samping tubuh, menatapku dari seberang halaman, dengan wajah yang tidak bisa kubaca dari jarak sejauh ini.

Dia nggak akan cari kamu, kata Eyang di telepon. Karena kamu minta waktu, dan dia nggak mau mutusin lagi apa yang terbaik buat kamu.

Ia menunggu aku.

Aku menatapnya lama. Lalu aku berbalik, dan berjalan ke rumah utama.


Aku masuk dari pintu depan.

Ruang tengah. Krem hangat seperti kulit roti yang baru dipanggang. Lampu gantung rotan di tengah. Tegel lama yang mengilap. Dan di dinding sebelah jendela, rak buku.

Aku berhenti di depannya.

Empat puluh delapan kotak. Empat puluh delapan warna. Merah, merah tua, merah muda, oranye, oranye tua, kuning, kuning lemon, kuning tua, hijau muda, hijau tua, hijau daun, biru langit, biru tua, biru kolam, ungu, ungu muda, cokelat, cokelat muda, abu-abu, hitam, putih. Dan lainnya. Persis urutan kotak krayon empat puluh delapan warna, dari kiri atas ke kanan bawah.

Aku menyentuh kotak-kotak itu satu per satu. Catnya rata. Sudutnya rapi. Ada satu kotak di baris ketiga yang catnya sedikit belepotan di pinggir, seperti dicat oleh tangan yang tidak biasa memegang kuas kecil.

Komar, pikirku. Atau Pak Darto. Atau Reza. Atau Jojo.

Atau dia.

Dapur. Pintu biru kolam. Lampu kaca hijau di atas meja jati. Kamar mandi, dengan keramik biru laut dangkal, dan pintu.

Hijau mint.

Aku menatap pintu itu dan tertawa. Tertawa sambil menangis. Hijau mint. Hijau permen. Hijau yang ia bilang norak di studio sambil memegang tanganku, dan aku cemberut, dan ia menang. Hijau yang benar-benar terlalu terang untuk keramik biru laut, persis seperti katanya.

Dan aku menyukainya. Aku sangat menyukainya.

Lorong. Lampu dinding berbentuk lilin. Tangga loteng: tujuh anak tangga, kuning bebek karet. Kusen jendela loteng di atas, ungu bougenvil.

Teras belakang, plafonnya biru langit siang tanpa awan. Aku berdiri di bawahnya dan mendongak, dan untuk sesaat aku lupa sedang di dalam rumah.

Biar kalau hujan, tetap ada langit.

Semua label. Satu per satu. Aku menemukan mereka semua. Selotip kertas dengan tulisan tanganku yang berantakan. Masih menempel di setiap dinding, setiap kusen, setiap pintu. Tidak ada satu pun yang dilepas.

Dan di setiap label, aku melihat sesuatu yang tidak kutulis.

Tanda centang kecil. Pensil. Rapi. Di pojok kanan bawah setiap selotip.

Tulisan tangannya.


Kamarku yang terakhir.

Pintunya terbuka. Lampu kertas di langit-langit tidak menyala, karena ini pagi. Cahaya masuk dari jendela utara, cahaya pagi Bogor yang masih abu-abu kebiruan karena sisa hujan.

Dinding kuning. Kuning matahari pagi. Gorden putih dengan bunga-bunga kuning pucat. Stiker bintang di langit-langit, yang di siang hari putih kehijauan, persis seperti yang kubilang padanya.

Dinding utara. Cap tanganku tersembunyi di sana. Aku tidak bisa melihatnya sekarang. Cahaya pagi datang dari arah yang salah. Tapi aku tahu di mana. Aku berjalan ke sana dan meletakkan telapak tanganku di tempat yang tepat. Ukurannya pas. Lima jari kecil.

Lalu aku menunduk.

Di bawah jendela. Dekat lantai. Di tempat yang hanya bisa terlihat kalau kau berjongkok.

Matahari.

Aku berjongkok.

Lingkaran yang tidak sempurna. Sedikit lonjong, sedikit miring ke kiri. Tujuh garis sinar, tapi tidak rata: dua yang di atas panjang, satu yang di kanan pendek sekali, satu yang di bawah agak bengkok, seperti digambar ulang. Aku bisa melihat bekas-bekasnya. Bekas cat yang dihapus. Lapisan di bawah lapisan. Tiga jam, kata Eyang. Dihapus, digambar lagi. Dihapus, digambar lagi.

Dan warnanya oranye.

Bukan kuning matahari pagi seperti dinding di sekelilingnya. Kuning yang lebih tua. Hampir jingga. Seperti matahari sore di ayunan, sebelum Eyang memanggilku masuk karena nyamuk.

Kuning yang salah.

Di bawah matahari itu, dengan pensil, sangat kecil, ada tulisan. Tulisan tangannya yang rapi, tapi tidak serapi biasanya.

Maaf, warnanya salah. Aku pilih sendiri.

Supaya kamu tidak kedinginan.

Aku tidak bisa melihat lagi. Mataku penuh air. Aku menyentuh matahari itu dengan ujung jari. Catnya kering, sedikit kasar, sedikit tebal di bagian yang digambar ulang.

Ia menggambar ini tanpa bisa melihatnya. Ia menebak. Ia menebak salah. Dan ia tetap menggambarnya, dan ia menulis maaf di bawahnya, seperti anak delapan tahun yang takut gambarnya jelek.

Kayak dulu, kata Eyang. Waktu dia gambar di tanganmu. Tangannya juga gemetar.

Aku duduk di lantai kamarku, di depan matahari oranye yang miring, dan menangis.

Bukan menangis seperti di kos. Bukan menangis karena merasa bersalah, karena berutang, karena takut. Aku menangis karena aku akhirnya mengerti apa yang Eyang bilang di telepon.

Warnanya bukan di tanganmu. Dari dulu juga bukan.

Ia tidak melihat warna karena tanganku. Ia melihat warna karena ia membiarkanku masuk. Dan aku tidak memberinya warna karena kulitku. Aku memberinya warna karena aku mau. Karena aku membuka tanganku di ruang rapat dan bilang biar Bapak nggak usah cari alasan.

Tidak ada utang. Tidak pernah ada.

Hanya dua orang yang sama-sama takut. Dan sama-sama diam.


Aku keluar dari kamar. Lewat lorong. Lewat ruang tengah dengan rak buku empat puluh delapan warna. Lewat pintu depan. Ke teras, dengan tegel krem dan hijau di tengah dan terakota cokelat di pinggir, seperti kue lapis Eyang dari atas.

Lalu ke halaman.

Ia masih di sana. Di bawah pohon kenari. Di sebelah ayunan merah.

Ia tidak bergerak selama aku di dalam rumah. Aku tahu itu, tanpa bertanya. Ia berdiri di sana empat puluh menit, menunggu, seperti tiang teras.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Rumput basah di bawah sepatuku. Bougenvil ungu di pagar. Matahari pagi akhirnya keluar dari balik awan, dan halaman yang tadi kelabu tiba-tiba terang.

Di teras paviliun, aku mendengar Jojo membuang ingus.

Aku berhenti di depannya. Satu meter. Lalu setengah meter.

Dari dekat, aku bisa melihat wajahnya. Ia tidak tidur. Matanya merah dan ada bayangan gelap di bawahnya. Ada cat oranye kering di ujung jarinya. Di kemeja abu mudanya, di dekat kerah, ada noda cat kuning bebek karet. Rambutnya tidak serapi biasanya.

Ia menatapku. Ia tidak bicara. Ia tidak mengulurkan tangan.

Ia menunggu.

Aku mengangkat tangan kananku. Telapak terbuka. Menghadap ke atas. Seperti di ruang rapat, di hari ia menolak proyekku lalu menerimanya dalam dua detik. Seperti di toko cat, di pasar tanaman hias, di teras saat hujan, di presentasi dengan gaun kuning.

Tanganku gemetar. Aku membiarkannya gemetar.

“Pegang dulu,” kataku.

Suaraku pecah di tengah kata. Air mataku jatuh. Aku tidak menyekanya.

Ia menatap tanganku.

Lama sekali.

Lalu ia menatap wajahku. Dan di matanya, matanya yang cokelat, sama seperti mata ibunya, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di sana selama empat bulan. Bukan lampu yang menyala. Bukan anak kecil yang melihat laut.

Takut.

Takut kalau ia memegang tanganku, warnanya tetap pucat.

Sama seperti aku.

Ia mengangkat tangannya. Pelan. Gemetar. Ada cat oranye di ujung jarinya.