← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Three

Jalan Kenari

POV: Arie

“Aku cuma mau memastikan,” kata Jojo, untuk kesekian kalinya sejak kami keluar tol Jagorawi, “bahwa Abang sadar Abang sedang menyetir ke Bogor, di hari Sabtu, jam tujuh pagi, buat survei rumah yang palet warnanya kayak bendera negara yang lagi ulang tahun.”

“Aku sadar.”

“Dan Abang belum kasih alasan apa pun.”

“Belum.”

Jojo menyandarkan kepala ke jendela dengan dramatis. “Lima tahun aku jadi matamu, Bang. Lima tahun. Aku hafal kode cat lebih banyak dari nama sepupuku. Dan sekarang Abang punya rahasia dari aku.”

Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak mau. Aku belum tahu bagaimana mengatakannya tanpa terdengar seperti orang yang perlu diperiksa ke dokter saraf. Aku sudah cukup sering diperiksa dokter saraf. Mereka semua mengatakan hal yang sama: cedera di area otak yang mengolah warna, permanen, tidak ada yang bisa dilakukan. Akromatopsia serebral. Nama yang panjang untuk dunia yang datar.

Tidak ada satu pun dokter yang pernah bilang kecuali kalau Anda memegang tangan ilustrator buku anak.

Selama empat hari terakhir aku sudah mencoba menjelaskan kejadian di studio dengan logika. Mungkin efek cahaya. Mungkin aku kelelahan. Mungkin ada sesuatu di teh. Aku menyentuh tangan Jojo, tangan resepsionis gedung, tangan kasir minimarket yang langsung menatapku dengan curiga. Tidak ada apa-apa. Abu-abu.

Satu-satunya cara untuk tahu adalah mencobanya lagi.

Dan aku takut. Takut kalau tidak terjadi apa-apa, dan takut kalau terjadi lagi.

“Bang,” Jojo bergumam. “Lampu.”

“Aku tahu.”

Lampu lalu lintas paling atas menyala. Aku tahu itu merah dari posisinya, seperti yang kulakukan setiap hari sejak ujian SIM. Aku menginjak rem.


Bogor menyambut kami dengan gerimis.

Jalan Kenari adalah jalan kecil yang menanjak di kawasan lama dekat Kebun Raya, dengan rumah-rumah tua yang halamannya luas dan pagarnya rendah. Pohon-pohon besar menaungi jalan. Di dalam abu-abuku, semuanya bertekstur: aspal yang retak, lumut di tembok, daun yang basah dan berkilau.

Aku menyetir pelan, membaca nomor rumah. Empat belas. Enam belas. Delapan belas.

Lalu dadaku sesak.

Tidak ada alasan. Aku tidak sedang lelah. Aku tidak sedang lapar. Tapi begitu mobil melewati sebuah bangunan di sebelah kanan, sebuah vila tua dua lantai dengan pagar besi berkarat dan jendela-jendela yang ditutup papan, kepalaku berdenyut di satu titik di belakang telinga kiri. Titik yang sama yang dulu dijahit.

Aku mengerem tanpa sadar.

“Bang?”

“Nggak apa-apa.” Aku menatap vila itu. Kosong. Terbengkalai. Halamannya penuh ilalang. Ada bekas fondasi di sisi samping, seperti pernah ada sesuatu yang dibangun lalu ditinggalkan. Aku tidak mengenalnya. Aku belum pernah ke Bogor sejak kecil. Tapi tubuhku bereaksi seperti melihat sesuatu yang seharusnya kuingat.

“Itu nomor dua puluh, Bang,” kata Jojo, menunjuk ke kiri. “Rumahnya yang itu.”

Aku mengalihkan pandangan dari vila, mengambil napas, dan memarkir mobil.


Rumah nomor dua puluh lebih besar dari yang terlihat di sketsa. Atap limasan dengan genteng tanah liat yang di beberapa bagian sudah melorot. Teras panjang dengan tiang-tiang kayu. Jendela-jendela tinggi berdaun ganda dengan kaca patri di bagian atas. Halamannya luas, dan di sudut kiri berdiri sebatang pohon kenari tua yang batangnya tidak bisa dipeluk satu orang. Di dahan bawahnya tergantung ayunan papan dengan tali tambang.

Aku berdiri di pagar dan menatap ayunan itu terlalu lama.

“Pak Arie!”

Ia muncul dari samping rumah, berlari-lari kecil menyeberangi halaman yang becek.

Dan ia memakai jas hujan.

Jas hujan plastik bertudung, panjangnya sampai ke lutut, jenis yang biasa dijual di minimarket. Dalam abu-abuku, warnanya sangat terang, hampir seterang putih, tapi bukan putih. Ada sesuatu yang aneh dengan cara warna itu memantulkan cahaya. Aku tidak bisa menjelaskannya. Begitu ia mendekat, denyut di belakang telingaku muncul lagi, lebih kuat, dan untuk sesaat aku merasa seperti berdiri di tepi kolam renang dan seseorang baru saja mendorongku.

“Maaf, maaf, gerimisnya nggak berhenti dari subuh,” katanya, terengah. Tudungnya melorot ke belakang, rambutnya dicepol asal-asalan dengan pensil yang ditancapkan seperti tusuk konde. “Bapak sudah lama? Saya tadi nyari kunci gudang. Eyang naruhnya di toples kerupuk. Kenapa di toples kerupuk? Nggak ada yang tahu.”

“Baru sampai,” kataku.

Jojo, di belakangku, berbisik sangat pelan, “Jas hujannya kuning, Bang. Kuning terang. Kayak bebek karet.”

Aku tahu, pikirku, dan tidak tahu bagaimana aku tahu.

Sabrina berdiri di depanku dan, sebelum aku sempat memikirkannya, mengulurkan tangan. Sopan. Sederhana. Jabat tangan klien.

Aku menatap tangan itu sepersekian detik terlalu lama.

Lalu aku menyambutnya.


Kali ini aku sudah siap, atau kukira begitu.

Aku tidak siap.

Dunia terbuka lagi, sekaligus, dan kali ini aku sedang berdiri di halaman yang paling penuh warna yang pernah kulihat.

Pohon kenari itu: batangnya cokelat tua yang hampir ungu karena basah, dengan lumut hijau terang yang merayap di sisi utaranya. Daun-daunnya tidak abu-abu. Hijau. Belasan hijau sekaligus: hijau muda di pucuk, hijau tua di bawah, hijau kekuningan di daun yang tersinari cahaya pagi. Ayunan di dahannya dicat merah, merah yang sudah pudar dan mengelupas, memperlihatkan kayu cokelat pucat di bawahnya. Rumputnya hijau. Genteng rumahnya oranye kecokelatan. Kusen jendela hijau tua, persis seperti yang ia gambar. Kaca patrinya biru, kuning, dan merah, dan cahaya pagi menembusnya dan jatuh berwarna di lantai teras.

Dan jas hujannya kuning.

Kuning yang terang, kuning yang hangat, kuning yang begitu kuning sampai mataku perih. Dan kepalaku berdenyut sangat keras, dan sesuatu berkelebat di belakang mataku. Suara besi. Hujan. Seseorang menjerit. Aku tidak tahu itu apa. Kelebatan itu hilang secepat datangnya, meninggalkan rasa mual dan rasa rindu yang tidak punya alamat.

Aku tidak melepas tangannya.

“Pak?” Sabrina mengerjap. “Pak Arie?”

Wajahnya. Pipinya merah muda karena dingin, dan ujung hidungnya juga. Matanya cokelat dengan bintik keemasan itu. Ada sebutir air hujan di bulu matanya. Bibirnya pucat sedikit, mungkin karena belum sarapan. Pensil di rambutnya hijau, dan di ujungnya ada penghapus merah muda yang sudah tergigit.

Aku tidak melepas tangannya.

Satu detik. Dua detik. Lima. Delapan.

“Jabat tangan yang... mantap,” katanya pelan, dan pipinya yang merah muda menjadi sedikit lebih merah.

Aku melepasnya.

Warna tidak langsung pergi. Ini yang baru. Di studio kemarin, aku terlalu kaget untuk memperhatikan. Sekarang aku memperhatikan. Warna itu memudar, bukan hilang. Seperti tinta yang meresap ke kertas basah: mula-mula pinggirannya, lalu bagian tengahnya, lalu semuanya. Daun kenari kehilangan hijaunya. Ayunan kehilangan merahnya. Jas hujan Sabrina bertahan paling lama, kuning yang semakin pucat, semakin pucat, sampai akhirnya kembali menjadi terang yang aneh dan tak bernama.

Tiga detik, kira-kira. Aku tidak sempat menghitung dengan benar.

“Maaf,” kataku. “Tangan Anda dingin.”

Itu alasan paling bodoh yang pernah keluar dari mulutku. Jojo terbatuk keras sekali di belakangku. Batuk yang terdengar sangat mirip tawa yang ditahan.

“Oh,” kata Sabrina, menatap tangannya sendiri. “Iya. Hujan.” Ia memasukkan tangan ke saku jas hujan. “Masuk, Pak. Eyang sudah nunggu dari jam enam. Dari jam enam, Pak. Saya nggak bercanda. Dia sudah pakai bros.”


Eyang Ratih ternyata perempuan kecil berkebaya rumahan dengan rambut putih yang disanggul rapi, kacamata tebal berantai, dan bros perak besar di dada. Ia duduk di kursi rotan di teras paviliun belakang seperti ratu yang sedang menerima duta besar. Di meja di depannya ada teh, kue lapis legit, dan sepiring pisang goreng.

“Ini arsiteknya?” tanyanya ke Sabrina, tanpa melepaskan pandangan dariku.

“Iya, Eyang. Ini Pak Arie, dari studio di Kemang. Itu Mas Jojo, asistennya.”

“Selamat pagi, Bu,” kataku.

“Eyang,” koreksinya. “Semua orang di sini panggil Eyang. Duduk.” Ia menatapku dari ujung rambut ke ujung sepatu dengan cara yang membuatku merasa sedang diukur untuk peti mati. Atau untuk jas pengantin. Aku tidak yakin yang mana. “Tinggi. Bagus. Rumah ini langit-langitnya tinggi, nanti gampang ganti bohlam.”

“Eyang,” desis Sabrina.

“Sudah menikah?”

“Eyang!”

“Belum, Eyang,” jawabku.

Eyang mengangguk puas, seolah aku baru saja lulus ujian tahap pertama. Di sebelahku, Jojo mengambil pisang goreng dengan gerakan sangat pelan, seperti penonton bioskop yang tidak mau ketinggalan adegan.

“Kenapa belum?”

“Belum ketemu, Eyang.”

“Ketemu apa?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sabrina menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Eyang, Pak Arie ke sini buat lihat rumah,” katanya dari balik jari-jarinya. “Kuda-kuda atap. Rayap. Struktur. Ingat? Rayap?”

“Rayap bisa nunggu. Rayapnya sudah di situ dari zaman Soeharto.” Eyang menyodorkan kue lapis ke arahku. “Makan, Nak. Ini dibawakan Bina dari Jakarta. Laki-laki suka yang manis-manis.”

Aku mengambil sepotong. Lapisannya, dalam abu-abuku, bergaris terang-gelap seperti potongan tanah dalam laporan geoteknik.

“Enak,” kataku setelah satu gigitan, dan itu benar.

“Tuh,” kata Eyang ke Sabrina. “Kan.”


Survei berjalan dua jam lebih.

Rumah itu memang lelah. Kuda-kuda atap di sayap timur sudah lapuk dimakan rayap, plafon di kamar belakang melendut, dan ada retak rambut di dinding yang menandakan fondasinya bergerak sedikit. Tapi tulang-tulangnya bagus. Kayu jati di kusen dan tiang teras masih kokoh. Lantai tegel kuncinya, yang dalam abu-abuku bermotif seperti sisik, nyaris tidak ada yang pecah.

Aku mengukur, memotret, mencatat, mengetuk dinding, naik ke loteng dengan senter. Jojo mengikutiku dengan meteran dan buku catatan, sesekali membisikkan warna. “Tegel motifnya hijau sama krem, Bang. Kusen hijau tua, persis di gambar Kakak. Pintu dapur biru, catnya udah ngelupas.”

Sabrina ikut ke mana-mana. Ia menunjuk sudut-sudut rumah dan bercerita: ini tempat ia jatuh dari kursi waktu umur enam tahun, ini dinding yang dulu ia corat-coret dengan matahari kecil sampai dimarahi, ini kamarnya. Kamar itu kosong sekarang, catnya kusam dan mengelupas.

“Dulu kuning,” katanya. “Kuning terang. Ada stiker bintang di langit-langit yang nyala kalau malam. Saya mau balikin itu.”

Aku berdiri di tengah kamar itu dan melihat dinding yang bernilai terang sedang. Kuning, katanya. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi tadi, di halaman, aku melihat jas hujannya.

“Bisa,” kataku.

Ia tersenyum padaku, lebar, tanpa ragu, dan untuk sesaat aku lupa sedang berada di ruangan yang plafonnya hampir runtuh.


Menjelang siang, gerimis berhenti. Kami berdiri di halaman sementara Jojo memotret fasad dari jalan.

“Ayunan itu,” kataku, sebelum sempat menahan diri. “Sudah lama?”

“Dari saya kecil. Kakek yang bikin.” Sabrina menatap ayunan merah pudar itu dengan senyum yang lebih tenang. “Dulu saya duduk di situ tiap sore. Eyang bilang saya nggak boleh main ke sebelah. Vila itu dulu lagi dibangun, terus...” Ia mengangkat bahu. “Terus nggak jadi. Ditinggal. Saya nggak terlalu ingat. Saya masih kecil banget.”

Kepalaku berdenyut lagi, sekali.

“Bapak tahu dari mana ayunannya merah?”

Aku menoleh.

Ia menatapku dengan alis berkerut. “Tadi pas salaman. Bapak lihatin ayunan itu, terus Bapak bilang, pelan banget, ‘merah’. Saya dengar.”

Aku tidak ingat mengatakannya.

“Catnya mengelupas,” kataku, cepat, terlalu cepat. “Kelihatan dari tekstur.”

“Oh.” Ia tidak terlihat yakin. Tapi ia mengangguk, lalu memasukkan tangan ke saku jas hujannya yang terang dan tanpa nama. “Ya, Bapak kan arsitek. Pasti matanya beda.”

Aku menatap jas hujan itu sekali lagi. Aku ingin memegang tangannya lagi. Tidak untuk melihat rumahnya, tidak untuk melihat pohonnya.

Aku ingin tahu kenapa kuning itu membuatku ingin menangis.

“Iya,” kataku. “Beda.”