← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Twenty One

Proposal Desain

POV: Arie

Aku menyiapkan presentasi itu selama tiga malam, dan selama tiga malam itu, Jojo menolak pulang.

“Aku saksi, Bang,” katanya hari Jumat malam, duduk di meja sebelah dengan mi instan ketiga. “Saksi nggak boleh absen di momen bersejarah.”

“Ini presentasi desain.”

“Iya, Bang. Presentasi desain.” Ia menyeruput kuah mi. “Makanya Abang revisi slide terakhir sebelas kali.”

Aku menutup laptop.

“Kamu lihat?”

“Aku nggak lihat isinya. Aku cuma lihat Abang revisi. Abang ketik, hapus, ketik, hapus, terus lihatin layar dua puluh menit, terus ketik lagi.” Ia meletakkan cangkir mi. “Bang, lima tahun aku lihat Abang presentasi. Abang nggak pernah revisi slide lebih dari dua kali. Abang bahkan presentasi ke menteri pakai slide yang Abang bikin di mobil.”

Aku tidak menjawab. Aku membuka laptop lagi dan menatap slide terakhir. Slide yang belum punya judul.

Jojo berdiri, menepuk bahuku dua kali, dan memakai jaketnya.

“Aku pulang, Bang. Tapi Senin aku datang jam enam pagi.” Di pintu, ia menoleh. “Abang mau aku bawa tisu?”

“Untuk apa?”

“Buat aku, Bang. Aku pasti nangis.”


Senin, jam sepuluh kurang lima.

Ruang rapat sudah siap sejak jam delapan. Proyektor menyala. Gambar kerja final dicetak besar, ditempel di dinding seperti pameran kecil. Maket rumah Jalan Kenari, yang Jojo dan dua anak magang kerjakan selama dua minggu, berdiri di tengah meja, lengkap dengan pohon kenari kecil dari kawat dan busa dan ayunan dari korek api.

Di vas di sebelah maket, bunga matahari. Tiga tangkai. Seperti dulu.

Tari datang jam sembilan, tidak diundang, dengan alasan “mewakili kepentingan editorial”. Ia duduk di pojok dengan buku catatan dan ekspresi orang yang menonton final Piala Dunia.

Jam sembilan lewat lima belas, laptop Jojo berbunyi. Panggilan video. Di layar, wajah Pak Darto sangat dekat dengan kamera, terlalu dekat, sehingga yang terlihat hanya lubang hidung dan sebagian helm proyek.

“Halo? Halo, Mas Jojo? Kelihatan nggak?”

“Mundur dikit, Pak!”

Pak Darto mundur. Di sebelahnya, duduk di kursi rotan di teras paviliun, Eyang Ratih. Kebaya hijau. Bros perak. Kacamata berantai. Wajahnya menghadap kamera dengan ekspresi jenderal yang memantau medan perang dari jauh.

“Eyang ikut,” kata Eyang. “Eyang mau lihat.”

“Eyang,” kataku, “ini presentasi desain.”

“Iya. Eyang mau lihat desainnya.” Ia menyipitkan mata ke kamera. “Bina mana?”

Pintu depan berbunyi.


Sabrina berdiri di ambang pintu ruang rapat.

Dalam abu-abuku, ia memakai gaun. Gaun selutut dengan lengan pendek, potongan sederhana, terang sekali. Hampir seterang putih, tapi bukan putih. Ada sesuatu yang aneh dengan cara gaun itu memantulkan cahaya.

Aku tahu cara itu. Aku sudah melihatnya sekali, di halaman berlumpur di Jalan Kenari, di jas hujan plastik dari minimarket.

“Pakai sesuatu yang kuning,” katanya, dengan senyum yang sedikit gugup. “Kata kamu.”

Di layar laptop, Eyang menutup mulutnya dengan tangan. Di pojok ruangan, Tari menjatuhkan pulpennya. Di sebelahku, Jojo membuka tasnya dan mengeluarkan sebungkus tisu.

Aku tidak bisa bicara.

Sabrina berjalan ke kursinya di sebelahku. Kursi yang sama sejak hari pertama. Ia duduk, merapikan gaunnya di lutut, lalu mengulurkan tangannya di atas meja, telapak terbuka, seperti dulu.

“Presentasi,” katanya. “Kamu butuh lihat warnanya, kan?”

Aku menyambut tangannya.

Gaunnya kuning.

Kuning yang terang dan hangat, kuning matahari pagi, kuning yang sama dengan dinding kamarnya yang akan kami cat minggu depan. Kuning yang sama dengan jas hujan di halaman, dua puluh tiga tahun lalu, meski aku tidak tahu itu. Dan di telinganya, jepit bintang kecil. Juga kuning. Jepit yang sama dengan hari pertama.

“Kamu,” kataku. Suaraku keluar serak. Aku berdeham. “Kamu kelihatan seperti matahari.”

Di laptop, Pak Darto bersiul. Eyang memukul lengannya.


Presentasinya sendiri berjalan seperti presentasi.

Aku menjelaskan setiap ruangan dengan tangan kiri memegang tangan Sabrina dan tangan kanan memegang pointer laser. Struktur, material, pencahayaan, warna. Ruang tengah krem hangat dengan lampu rotan. Dapur dengan pintu biru kolam dan lampu kaca hijau. Kamar mandi dengan keramik biru kehijauan seperti laut dangkal. Teras dengan tegel krem dan hijau di tengah dan terakota cokelat di pinggir, seperti kue lapis dari atas. Kamar Sabrina, kuning matahari pagi, dengan gorden bunga-bunga kuning pucat dan stiker bintang di langit-langit yang akan menyala setelah lampu dimatikan.

Setiap warna kusebutkan dengan nama dan perumpamaan. Kode cat di bawahnya, untuk tukang. Sabrina mendengarkan dengan kepala sedikit miring, sesekali mengangguk, sesekali tersenyum.

Tari mencatat. Jojo menangis diam-diam di slide kamar mandi, entah kenapa. Eyang di layar laptop mengangguk-angguk sambil makan pisang goreng.

Lalu slide terakhir.

Aku menekan tombol, dan layar proyektor berubah menjadi putih. Hanya putih. Dengan satu baris teks di tengah, huruf hitam, ukuran yang sama dengan judul-judul slide sebelumnya:

LAMPIRAN: PASAL TUJUH

Hening.

Sabrina menatap layar. Lalu menatapku.

“Pasal tujuh?” katanya. “Kontrak kita cuma sampai enam.”

“Pasal enam ditolak,” kataku. “Karena tidak realistis.”

“Iya. Larangan baper.”

“Ya.”

Aku melepas pointer laser. Aku meletakkannya di meja, pelan, di sebelah maket rumah. Tanganku gemetar sedikit. Aku melihatnya gemetar, dalam warna, dan aku membiarkannya.

Aku sudah merevisi slide ini sebelas kali. Aku sudah menulis kalimat-kalimat yang panjang, kalimat-kalimat yang puitis, kalimat-kalimat yang kupinjam dari film yang Jojo paksa aku tonton. Aku menghapus semuanya. Yang tersisa di slide hanya judul. Aku memutuskan, jam dua pagi tadi, bahwa sisanya harus kuucapkan sendiri.

Dan sekarang aku tidak ingat satu kata pun.

“Sabrina,” kataku.

“Ya.”

“Aku arsitek.”

Ia mengerjap. “Iya. Aku tahu.”

“Aku tidak pandai bicara. Aku pandai menghitung. Jadi aku akan bicara seperti menghitung.” Aku menarik napas. “Struktur. Pasal tujuh, ayat satu. Selama tiga bulan, aku memegang tanganmu seratus empat puluh tujuh kali. Data dari Jojo. Seratus empat puluh tujuh kali, aku bilang itu demi warna.”

“Iya.”

“Itu bohong. Dari yang seratus empat puluh tujuh, yang benar-benar demi warna cuma... mungkin tiga puluh. Mungkin kurang. Sisanya demi kamu.”

Ia tidak bergerak.

“Ayat dua. Material.” Suaraku semakin kaku, semakin datar, seperti membaca laporan uji tanah. Aku tidak bisa menghentikannya. “Aku tidak punya banyak. Aku punya studio yang semuanya abu-abu. Aku punya empat kemeja dengan label di kerah. Aku punya kaus kaki yang kadang tidak sepasang. Aku punya mata yang rusak. Aku tidak bisa melihat warna gaunmu tanpa memegang tanganmu. Aku tidak bisa melihat warna bunga yang kubeli sendiri. Aku tidak bisa ingat warna wajah ibuku.”

Di laptop, Eyang menurunkan pisang gorengnya.

“Ayat tiga. Pencahayaan.” Aku menatap tangannya di tanganku. Lalu wajahnya. “Dua puluh tiga tahun duniaku abu-abu. Aku sudah terbiasa. Aku tidak keberatan. Lalu kamu datang terlambat dua puluh tujuh menit dengan payung patah, dan kamu menjabat tanganku, dan...”

Aku berhenti. Aku tidak bisa melanjutkan.

Ia menunggu. Matanya basah. Pipinya merah. Merah yang naik pelan-pelan, seperti air di gelas, seperti di ayunan dulu.

“Dan kamu menyalakan lampunya,” kataku akhirnya. “Semua lampunya. Sekaligus.”

Hening.

“Ayat empat,” kataku, dan suaraku pecah di tengah. “Warna. Kamu.”

Ia menutup mulutnya dengan tangan yang bebas.

“Itu saja,” kataku. “Ayat empat cuma satu kata. Aku tidak bisa menemukan perumpamaannya. Aku sudah coba sebelas kali.”

Lalu, karena aku tidak tahu bagaimana mengakhiri sesuatu seperti ini, karena tidak ada slide sesudahnya, karena seluruh tubuhku gemetar dan aku tidak bisa melihat apa pun kecuali wajahnya, aku mengatakannya dengan kalimat yang paling sederhana yang kupunya:

“Aku suka kamu, Sabrina. Mau jadi pacarku?”


Tidak ada yang bergerak di ruang rapat itu.

Tari berhenti menulis. Jojo berhenti menangis, atau setidaknya berhenti mengeluarkan suara saat menangis. Di layar laptop, Pak Darto sudah melepas helm proyeknya dan memegangnya di dada, seperti orang yang sedang mendengarkan lagu kebangsaan.

Sabrina menatapku. Lama sekali.

Lalu ia tertawa.

Tawa yang pecah dan basah, tawa yang bercampur tangis, tawa yang sama seperti di teras saat hujan dulu, saat aku menebak dua puluh kartu warna dengan benar. Ia tertawa dan menangis dan menutup wajahnya dengan tangan yang bebas, dan tangannya yang di tanganku menggenggamku sangat erat sampai jari-jariku sakit.

“Kamu,” katanya dari balik jari-jarinya. “Kamu nembak aku pakai struktur, material, pencahayaan?”

“Aku arsitek.”

“Kamu nembak aku di presentasi kerja. Di depan Tari. Di depan Mas Jojo. Di depan Eyang lewat video call. Di depan Pak Darto.”

“Pak Darto sudah lepas helm,” kataku. “Itu tanda hormat.”

Ia tertawa lebih keras. Lalu ia menurunkan tangannya dari wajah, dan menatapku dengan mata yang merah dan basah dan bersinar.

“Iya,” katanya.

Aku tidak mendengarnya dengan benar. Atau aku mendengarnya, tapi tidak percaya.

“Iya,” katanya lagi, lebih keras. “Iya, Arie. Mau. Aku mau.”


Ruang rapat meledak.

Jojo berdiri dan berteriak sesuatu dalam bahasa Batak yang tidak kumengerti, lalu memeluk Tari, yang tidak siap dipeluk dan menjatuhkan buku catatannya. Di laptop, Pak Darto mengangkat helmnya ke udara dan berteriak “BAKWAN!” ke seluruh halaman Jalan Kenari, dan dari kejauhan terdengar suara tukang-tukang bersorak. Eyang Ratih tidak berteriak. Eyang hanya duduk di kursi rotan dengan tangan di dada dan mata terpejam, bibirnya bergerak, seperti berdoa.

Aku tidak melihat semua itu. Aku hanya melihat Sabrina.

Aku mengangkat tangannya, tangan yang selama tiga bulan kupinjam dengan seratus empat puluh tujuh alasan, dan menundukkan kepala.

Lalu aku mencium punggung tangannya. Pelan. Di tempat yang dulu, kata Eyang, pernah digambari matahari dengan krayon, meski aku tidak tahu itu.

Ia berhenti tertawa.

Aku mengangkat kepala. Wajahnya, dalam warna, adalah warna paling merah yang pernah kulihat. Lebih merah dari bendera di puncak atap. Lebih merah dari kembang sepatu. Merah yang sampai ke leher, ke telinga, ke ujung jepit bintang kuningnya.

“Itu,” bisiknya, “nggak ada di pasal dua.”

“Pasal tujuh,” kataku. “Ayat lima.”

“Kamu bilang ayat empat yang terakhir.”

“Aku baru tambah.”

Di laptop, Eyang membuka mata dan berkata, dengan suara yang sangat jelas dan sangat tenang:

“Darto. Matikan videonya. Kasih mereka waktu.”

Layar laptop menjadi hitam.

Jojo menarik Tari keluar ruangan dengan tangan masih memegang tisu, berbisik, “Kak, Kak, ayo, kita kasih waktu, ayo,” dan Tari, yang masih memungut buku catatannya dari lantai, membiarkan dirinya ditarik sambil menoleh ke belakang dengan wajah yang tidak rela.

Pintu ruang rapat tertutup.

Tinggal kami berdua. Dan maket rumah. Dan tiga tangkai bunga matahari kuning di vas. Dan slide putih di proyektor dengan tulisan LAMPIRAN: PASAL TUJUH.

Sabrina menatap slide itu. Lalu menatapku. Lalu tertawa lagi, pelan sekali, dan menyandarkan dahinya di bahuku.

“Sebelas kali revisi,” katanya ke kemejaku. “Jojo cerita.”

“Jojo harus dipecat.”

“Kamu nggak akan pecat dia.”

“Tidak,” akuku. “Aku tidak akan.”

Kami duduk seperti itu lama. Tangannya di tanganku. Dahinya di bahuku. Gaunnya kuning di dalam warna, dan setiap detik aku tahu dengan pasti bahwa itu kuning, tanpa label, tanpa bisikan, tanpa kode di belakang kartu.

Aku tidak memeriksa stopwatch hari itu. Saat akhirnya ia pulang sore hari, aku duduk di ruang rapat dan menunggu warna pergi.

Ia tidak pergi untuk waktu yang sangat lama. Lebih lama dari sore di teras. Lebih lama dari durian di lantai. Lima menit, mungkin. Mungkin lebih.

Tiga tangkai bunga matahari di vas adalah yang terakhir kehilangan kuningnya. Aku menatapnya sampai benar-benar habis, lalu tetap menatapnya, karena sekarang aku tahu persis apa yang ada di sana.