Chapter Twenty Five
Pameran
POV: Arie
Pameran sepuluh tahun Studio Harriman sudah direncanakan sejak awal tahun, jauh sebelum cangkir jatuh dan payung patah dan jabat tangan dua detik.
Rencananya sederhana. Satu galeri kecil di Kemang, tiga minggu. Lima belas proyek terbaik studio, dipajang dengan maket, foto, dan gambar kerja. Tema pameran, yang ditulis kurator di katalog bulan Februari: Harriman Grey: Sepuluh Tahun Keheningan.
Bulan Februari, aku setuju dengan tema itu. Itu memang yang kubuat selama sepuluh tahun: keheningan. Putih, abu-abu, hitam. Ruang yang tidak bicara.
Tiga minggu sebelum pameran, aku menelepon kurator dan bilang aku mau menambahkan satu proyek lagi. Proyek yang belum selesai.
“Pak Arie,” kata kurator, Bu Rina, perempuan lima puluhan dengan kacamata merah yang Jojo bilang merah cabai. “Itu proyek yang mana?”
“Rumah tinggal. Bogor. Renovasi.”
“Paletnya?”
Aku diam sebentar. “Bukan Harriman Grey.”
Hening di ujung telepon. Lalu Bu Rina tertawa, tawa yang panjang dan senang.
“Pak Arie,” katanya, “saya sudah sepuluh tahun nunggu Bapak bilang kalimat itu.”
Malam pembukaan, galeri itu penuh.
Arsitek, klien lama, wartawan majalah desain, mahasiswa arsitektur, teman-teman kuliahku yang sudah sepuluh tahun tidak kutemui. Bu Rina berdiri di pintu menyambut tamu dengan kacamata merah cabai. Pelayan berkeliling membawa nampan minuman. Di dinding-dinding putih galeri, lima belas proyek Harriman Grey dipajang berderet, dengan lampu sorot yang membuat semuanya terlihat seperti potret yang serius dan sedikit kesepian.
Dan di ujung galeri, di dinding paling belakang, proyek keenam belas.
Rumah Jalan Kenari.
Bukan maket. Maket rumah itu masih di studio, terlalu rapuh untuk dipindahkan. Yang dipajang adalah panel besar dua kali tiga meter: gambar tampak rumah, dicetak penuh warna. Atap limasan dengan genteng oranye. Kusen hijau tua. Teras terakota dengan tegel krem dan hijau. Bougenvil ungu di pagar. Pohon kenari. Ayunan merah. Di sebelahnya, panel-panel lebih kecil: denah, potongan, dan palet warna setiap ruangan, dengan nama warna dan perumpamaan di bawahnya. Krem hangat, seperti kulit roti yang baru dipanggang. Biru kolam, seperti air di kolam renang hotel jam tujuh pagi. Kuning matahari pagi, kamar Bina. Bukan mustard.
Perumpamaan-perumpamaan itu tulisan Sabrina, kupindahkan dari selotip-selotip kertas yang ia tempel di dinding rumah. Aku memintanya. Ia bilang iya, lalu menangis, lalu bilang aku curang karena memintanya di depan kue lapis Eyang.
Di bawah panel utama, ada satu baris kecil. Bu Rina bertanya dua kali apakah aku yakin mau memasangnya. Aku bilang yakin.
Dirancang bersama Sabrina Mahadewi, yang mengajari arsiteknya melihat.
Sabrina datang dengan Eyang.
Itu tidak direncanakan. Sabrina bilang Eyang menolak ditinggal. Eyang bilang ia sudah tujuh puluh delapan tahun dan belum pernah ke pameran arsitektur dan tidak mau mati sebelum melihat satu. Pak Darto mengantar mereka dengan mobil bak tukang, karena itu satu-satunya kendaraan yang ada di Jalan Kenari hari Sabtu sore.
Mereka masuk ke galeri bertiga: Eyang dengan kebaya ungu dan bros perak dan tongkat yang tidak pernah ia pakai di rumah, Pak Darto dengan batik cokelat dan peci yang ternyata milik Jojo, dan Sabrina.
Sabrina dengan gaun kuning.
Gaun yang sama dengan hari presentasi. Aku tahu tanpa memegangnya. Aku tahu dari caranya memantulkan lampu sorot galeri, terang dan aneh dan tanpa nama. Aku sudah hafal cara kuning memantulkan cahaya.
Ia berjalan ke arahku di tengah galeri yang ramai. Orang-orang menoleh. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena gaunnya satu-satunya benda berwarna di ruangan yang penuh foto abu-abu. Mungkin karena ia cantik. Mungkin karena keduanya.
Ia berhenti di depanku dan mengulurkan tangannya. Di depan semua orang.
Aku menyambutnya.
Galeri itu menyala. Lima belas proyek abu-abu di dinding tetap abu-abu, karena memang abu-abu. Tapi orang-orang di sekelilingku tidak. Gaun-gaun, kemeja, dasi, minuman di gelas, bunga di meja penerima tamu. Kacamata merah cabai Bu Rina. Dan di ujung galeri, panel Jalan Kenari, satu-satunya dinding yang berteriak dalam warna, seperti jendela yang terbuka di ruangan yang tertutup.
“Ramai,” kata Sabrina, menatap sekeliling dengan mata berbinar.
“Ya.”
“Kamu gugup?”
“Ya.”
Ia tersenyum, dan meremas tanganku sekali.
Para wartawan menemukan panel itu dalam sepuluh menit.
Aku sedang berdiri di depannya bersama Sabrina, Eyang, dan Pak Darto, menjelaskan pada Eyang kenapa denah rumahnya digambar dari atas, ketika tiga orang wartawan mendekat dengan perekam dan kamera.
“Pak Arie,” kata salah satunya, perempuan muda dari majalah desain yang dulu memberi nama Harriman Grey. “Ini proyek Bapak?”
“Ya.”
“Ini... sangat berbeda. Ini penuh warna. Ini bukan Harriman Grey.” Ia menatap panel itu, lalu menatapku. “Kenapa?”
Hening sebentar.
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban yang aman. Klien yang meminta. Saya mencoba hal baru. Setiap arsitek harus berkembang.
Aku menatap tangan Sabrina di tanganku.
“Selama sepuluh tahun,” kataku, “saya bilang ke semua orang bahwa warna bukan bahasa saya.” Aku menarik napas. “Itu benar. Warna memang bukan bahasa saya. Saya tidak bisa melihat warna. Sejak kecil. Saya buta warna total.”
Galeri di sekitar kami tiba-tiba sangat sunyi.
Wartawan itu menurunkan perekamnya sedikit. Pak Darto menatapku dengan mulut terbuka. Ia tidak tahu. Tukang-tukang tidak tahu. Mereka mengira aku hanya salah pilih kaleng.
“Harriman Grey,” lanjutku, “bukan gaya. Itu satu-satunya yang bisa saya kontrol.”
“Lalu ini?” Wartawan itu menunjuk panel Jalan Kenari. “Bagaimana Bapak bisa...”
Aku mengangkat tangan Sabrina sedikit. Tangan kami yang bertaut.
“Saya belajar,” kataku. “Saya punya guru.”
Wartawan itu menatap tangan kami. Lalu menatap Sabrina. Lalu menatap baris kecil di bawah panel: Dirancang bersama Sabrina Mahadewi, yang mengajari arsiteknya melihat.
Aku tidak menjelaskan lebih jauh. Aku tidak menjelaskan soal sentuhan, soal sisa warna, soal stopwatch dan buku kecil bersampul hitam di saku kemejaku. Itu milik kami. Itu tidak untuk majalah.
Tapi wartawan itu tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangkat kameranya pelan, dan bertanya dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, “Boleh saya foto? Bapak dan Mbak Sabrina. Di depan panel.”
Sabrina menoleh padaku. Matanya bertanya.
“Boleh,” kataku.
Kami berdiri di depan panel Jalan Kenari. Tangan bertaut. Eyang menyelinap ke samping, merapikan bros peraknya. Pak Darto menyelinap ke sisi yang lain, merapikan pecinya. Wartawan itu tertawa dan memotret kami berempat.
Di majalah bulan berikutnya, foto itu muncul di halaman tengah. Judulnya: Harriman Grey Belajar Warna.
Ibuku datang jam delapan.
Ia memeluk Sabrina lebih dulu daripada aku. Lalu memeluk Eyang, yang baru pertama kali ia temui, seperti memeluk saudara yang lama hilang. Lalu mereka berdua duduk di bangku di pojok galeri dan bicara dengan sangat cepat dan sangat akrab tentang hal-hal yang tidak bisa kudengar. Sesekali mereka menoleh padaku dan Sabrina dan tertawa.
“Itu bahaya,” bisik Sabrina di sebelahku.
“Ya.”
“Ibu kamu dan Eyang aku. Satu bangku.”
“Aku tahu.”
“Mereka pasti lagi bahas tanggal.”
Aku tidak menjawab. Telingaku panas.
Ayahku datang terlambat. Jam sembilan, saat galeri sudah mulai sepi. Ia masuk sendirian, dengan jas abu-abu dan kacamata, dan tidak menyapa siapa pun. Ia berjalan pelan menyusuri lima belas proyek abu-abu di dinding, satu per satu, berhenti di setiap panel, membaca setiap keterangan.
Lalu ia sampai di dinding paling belakang.
Ia berdiri di depan panel Jalan Kenari lama sekali.
Aku melihatnya dari tengah galeri. Sabrina di sebelahku, tangannya di tanganku. Dalam warna, aku melihat ayahku berdiri di depan rumah oranye-hijau-terakota itu, dengan jas abu-abu yang ternyata abu-abu kebiruan, dan wajah yang tidak bisa kubaca.
Ia tidak menatap rumahnya. Ia menatap pojok panel. Pojok kiri, tempat gambar tampak menunjukkan sebagian kecil bangunan di sebelah rumah. Garis-garis tipis. Atap datar. Jendela-jendela yang ditutup papan.
Vila tua itu.
Aku menggambarnya di panel karena setiap gambar tampak yang baik harus menunjukkan konteks. Bangunan tetangga. Skala. Aku tidak memikirkannya lebih jauh.
Ayahku mengangkat tangannya dan menyentuh panel itu. Di pojok kiri. Di gambar vila tua. Ujung jarinya di atas atap datar yang kugambar dengan pensil tipis.
Sabrina meremas tanganku. Sangat erat. Tiba-tiba. Seperti orang yang tersandung.
Aku menoleh padanya. Wajahnya pucat. Pucat dalam warna.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa,” katanya cepat. “Cuma... capek. Berdiri lama.”
Aku menatapnya. Lalu menatap ayahku, yang sekarang sudah menurunkan tangannya dari panel dan berbalik, berjalan ke arah kami.
Ia berhenti di depanku. Ia menatap tangan kami. Lalu menatap wajahku.
“Bagus,” katanya. “Rumahnya bagus.”
“Terima kasih, Pa.”
Ia diam. Lalu, dengan gerakan yang sangat kaku, seperti orang yang belum pernah melakukannya, ia mengangkat tangannya dan menepuk bahuku. Satu kali.
Lalu ia pergi ke pojok, ke bangku tempat ibuku dan Eyang duduk. Ia berhenti di depan Eyang. Ia membungkuk sedikit. Ia mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Eyang menatapnya lama. Lalu mengangguk, pelan, sekali.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku pikir: urusan proyek. Lama sekali. Sabrina sudah bilang.
Aku tidak menyambungkannya. Tidak malam itu.
Jojo yang menyetir pulang.
Ia memaksa. Katanya aku sudah terlalu lelah, dan Pak Darto sudah membawa Eyang pulang ke Bogor dengan mobil bak, dan Sabrina perlu diantar ke Tebet, dan ia, Johanes Sitompul, sebagai Saksi Yang Menderita, bersedia menjadi sopir untuk malam bersejarah ini.
Aku duduk di jok belakang. Sabrina di sebelahku.
Ia tertidur sebelum kami keluar dari Kemang.
Kepalanya jatuh pelan ke bahuku, di lampu merah pertama. Napasnya memanjang. Tangannya di pangkuanku, di tanganku, longgar. Rambutnya menyentuh daguku. Gaun kuningnya kusut di lutut.
Aku tidak bergerak. Aku takut kalau aku bergerak, ia akan bangun.
Lampu jalan masuk lewat jendela mobil, bergantian, terang dan gelap, terang dan gelap. Dalam warna, karena tangannya masih di tanganku, cahaya itu oranye, lalu putih, lalu oranye lagi, menyapu wajahnya yang tertidur. Bulu matanya. Pipinya yang merah muda pucat, tenang, tanpa malu. Bibirnya sedikit terbuka.
Aku menunduk. Pelan.
Aku mencium pelipisnya. Di tempat rambutnya bertemu kulit. Pelan sekali. Supaya ia tidak bangun.
Ia tidak bangun. Tapi tangannya di tanganku menggenggam sedikit lebih erat.
Dari kursi pengemudi, aku mendengar suara isak yang sangat ditahan.
Aku mengangkat kepala. Di kaca spion tengah, mata Jojo bertemu mataku. Merah. Basah.
“Jangan,” bisikku.
“Aku nggak ngapa-ngapain, Bang,” bisik Jojo balik, dengan suara yang pecah. “Aku nyetir.”
“Kamu nangis.”
“Batak, Bang.” Ia membuang ingus dengan sangat pelan, supaya tidak membangunkan Sabrina. “Kalau terharu harus lengkap.”
Aku menatap jendela. Jakarta malam berlalu di luar, dalam warna, lampu-lampu dan papan reklame dan lampu rem yang merah menyala seperti kunang-kunang yang marah.
Sabrina tidur di bahuku sampai Tebet. Saat Jojo berhenti di depan kos, aku membangunkannya dengan menyentuh pipinya, dan ia membuka mata, menatapku, dan tersenyum, dan berkata dengan suara yang masih setengah tidur:
“Kamu masih lihat warna?”
“Ya.”
“Gaunku masih kuning?”
“Kuning,” kataku. “Kamu selalu kuning.”
Ia tertawa kecil, lalu mencium pipiku, cepat, dan turun dari mobil.
Di depan gerbang kos, ia berhenti dan menoleh. Wajahnya, di bawah lampu teras, berubah sebentar. Sesuatu lewat di sana. Sesuatu yang sama dengan yang kulihat di galeri, di depan panel Jalan Kenari, saat ayahku menyentuh gambar vila tua.
Lalu hilang. Ia melambai dan masuk.
Aku duduk di jok belakang sampai Jojo bertanya apakah kami jadi pulang atau aku mau tidur di depan kos orang.
Aku tidak menghitung sisa warnanya malam itu. Aku menatap gerbang kos itu sampai hijaunya pudar. Lama. Lima belas menit, mungkin.
Tapi yang kupikirkan bukan warnanya.
Yang kupikirkan adalah wajah Sabrina di gerbang. Dan wajah ayahku di depan panel. Dan Eyang yang mengangguk pelan sekali di bangku pojok.
Ada sesuatu yang semua orang lewati tanpa melihatnya. Aku merasakannya sekarang. Sama seperti di rumah orang tuaku sejak aku kecil.
Aku tidak tahu itu apa.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran reading
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari