← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Twenty Four

Stopwatch

POV: Sabrina

Aku tidak menceritakan percakapan di tepi kolam itu pada siapa pun. Tidak pada Tari. Tidak pada Eyang. Tidak pada Arie.

Tapi aku memutarnya ulang di kepalaku setiap malam, seperti lagu yang tidak bisa kumatikan.

Pak Gunawan berdiri di tepi kolam dengan foto di tangannya. Foto Arie kecil. Bukan foto berseragam SD yang ada di album. Foto lain. Arie, delapan tahun, duduk di atas tembok pembatas dengan helm proyek kebesaran, kotak krayon di pangkuannya, menoleh ke arah kamera dengan senyum ompong. Di latar belakangnya, buram tapi masih bisa kukenali, ada pohon besar dan ayunan.

Pohon kenari. Ayunan merah.

“Kamu anak di ayunan itu,” kata Pak Gunawan. Bukan pertanyaan.

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.

“Saya tahu sejak kamu bilang Jalan Kenari,” katanya. “Di meja makan. Waktu itu.” Ia menatap foto di tangannya. “Saya sudah lihat nama rumah itu di gambar kerja Arie sebulan sebelumnya. Di mejanya, waktu saya mampir ke studio. Saya pikir itu kebetulan. Bogor luas. Jalan Kenari mungkin ada dua.” Ia diam. “Lalu kamu datang. Dan kamu menyebut nenekmu. Dan saya tahu.”

“Om,” bisikku. “Waktu itu, di rumah sakit, Om bilang ke Eyang Kakak sehat. Cuma dijahit.”

Pak Gunawan tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ia menatap ikan-ikan koi yang berenang pelan di kolam.

“Saya bilang banyak hal waktu itu,” katanya akhirnya.

Aku bisa bertanya. Aku tahu aku bisa. Pertanyaannya ada di lidahku, sudah tersusun rapi, tinggal diucapkan. Om, mata Arie. Apa karena itu?

Aku tidak bertanya.

Aku berdiri di tepi kolam dengan pertanyaan itu di lidah, dan aku menelannya kembali, seperti menelan obat yang terlalu pahit. Karena kalau aku bertanya, Pak Gunawan akan menjawab. Dan aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan jawabannya.

“Tolong,” kata Pak Gunawan pelan, “jangan bilang Arie dulu. Bahwa saya tahu. Biar saya yang cerita. Nanti. Kalau saya sudah...” Ia berhenti. “Kalau saya sudah berani.”

Aku mengangguk. “Om juga jangan bilang dia. Bahwa aku tahu. Aku mau kasih tahu sendiri. Waktu rumahnya selesai.”

Ia menatapku. Lalu, untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang sangat mirip dengan senyum anaknya.

“Kamu mirip dia,” katanya. “Kalian berdua suka menyimpan.”

Lalu ia menggenggam tanganku dengan dua tangannya, sangat erat, dan berkata sesuatu yang membuat dadaku sesak sampai sekarang:

“Terima kasih sudah mengembalikan anak saya.”

Aku tidak tahu persis apa maksudnya. Aku menganggapnya soal senyum Arie. Soal tawanya. Soal ia yang sekarang bicara lebih banyak, yang membawaku ke meja makan dan menceritakan sesuatu yang penting untuk pertama kali dalam hidupnya.

Aku memilih menganggapnya begitu.


Dua minggu setelah makan siang itu, hidup kami jadi lebih ramai.

Bukan hanya karena kami resmi pacaran, walaupun itu membuat segalanya sedikit kacau. Tapi karena seluruh Studio Harriman tiba-tiba tahu.

Studio itu tidak besar. Selain Arie dan Jojo, ada empat orang lain: dua arsitek junior, satu drafter, dan Mbak Wulan, resepsionis yang sudah bekerja di sana sejak studio dibuka. Selama tiga bulan, mereka melihatku datang dan pergi untuk “sesi warna” dan tidak bertanya apa-apa. Jojo bilang mereka mengira aku konsultan dari luar negeri.

Lalu suatu Selasa pagi, Arie datang ke studio dan menggandeng tanganku dari pintu depan sampai ke mejanya.

Bukan untuk sesi warna. Tidak ada swatch. Tidak ada gambar kerja. Ia hanya menggandengku, lewat meja Mbak Wulan, lewat meja para arsitek junior, lewat meja drafter, sampai ke mejanya, lalu menarik kursi untukku dan duduk di sebelahku tanpa melepasnya.

Studio itu sunyi total.

Mbak Wulan menjatuhkan gagang telepon. Dua arsitek junior saling menatap. Drafter, anak muda bernama Dimas yang selalu pakai headphone, melepas headphone-nya pelan-pelan seperti orang yang mendengar ledakan.

“Selamat pagi,” kata Arie ke seluruh studio, dengan nada yang sama datarnya seperti saat ia membacakan agenda rapat. “Ini Sabrina. Pacar saya. Mulai hari ini dia akan sering di sini.”

Lalu ia membuka laptop dan mulai bekerja, seolah tidak terjadi apa-apa.

Dari meja depan, Jojo, yang ternyata sudah tahu rencana ini sejak semalam, berdiri dengan tangan terangkat ke udara seperti pemain bola yang mencetak gol.

“Akhirnya!” teriaknya. “Akhirnya aku bisa ngomong!”


Ternyata seluruh studio sudah bertaruh juga.

Bukan bakwan. Kopi. Siapa yang kalah harus mentraktir kopi selama sebulan. Mbak Wulan bertaruh mereka jadian sebelum Lebaran. Dua arsitek junior bertaruh tidak akan pernah, karena “Pak Arie kan nggak punya perasaan”. Dimas, drafter berheadphone, ternyata sudah bertaruh sejak hari pertama, sejak cangkir jatuh, bahwa mereka akan jadian dalam empat bulan.

Dimas menang. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memasang headphone-nya lagi dengan senyum kecil yang sangat puas.

“Pak Darto juga taruhan,” kata Jojo, membagikan kopi kemenangan ke seluruh studio siang itu. “Di Bogor. Bakwan. Taruhannya udah menang tiga kali. Dia sekarang punya utang bakwan dari tukang-tukang sampai tahun depan.”

“Seluruh dunia bertaruh soal kami,” kataku.

“Kak,” kata Jojo, dengan wajah sangat serius, “seluruh dunia nggak punya hiburan lain.”


Stopwatch jadi permainan kami.

Aku tidak tahu siapa yang memulainya. Mungkin aku, di teras, dengan berapa detik kamu tahan. Tapi setelah jadian, permainan itu berubah. Bukan lagi eksperimen. Jadi semacam bahasa rahasia.

Arie memegang tanganku. Lalu melepasnya. Lalu aku menyalakan stopwatch di ponselku, dan kami berdua pura-pura bekerja, pura-pura tidak menghitung, sampai ia menoleh padaku dan bilang, pelan, “Habis.”

Lalu aku melihat angkanya.

Minggu pertama setelah jadian: delapan menit. Minggu kedua: sebelas menit. Hari Kamis kemarin, setelah ia menciumku di parkiran studio sebelum aku naik ojol: empat belas menit dua puluh dua detik.

“Rekor,” kataku, menunjukkan layar.

“Rekornya waktu di Suryakencana,” katanya. “Aku tidak menghitung waktu itu.”

“Itu nggak dihitung. Nggak ada data.”

“Ada saksi. Dua. Di depan toko roti.”

“Saksi yang pakai kacamata hitam malam-malam nggak sah.”

Ia menatapku. Sudut bibirnya bergerak. Lalu ia mengambil tanganku lagi, menciumnya cepat di punggung tangan, dan melepasnya.

“Mulai,” katanya.

Aku menatapnya. “Itu curang.”

“Itu metodologi.”

“Kamu sengaja cium supaya angkanya naik.”

“Aku tidak tahu ciuman mempengaruhi durasi,” katanya dengan wajah yang sangat datar. “Itu yang mau kita uji.”

Aku menyalakan stopwatch, menyembunyikan wajahku di balik buku sketsa, dan tidak keluar dari balik buku sketsa itu sampai ia bilang habis.

Lima belas menit tiga detik.

Ia tidak berkomentar. Tapi ia mencatatnya di buku kecil yang sekarang selalu ia bawa di saku kemeja, buku kecil bersampul hitam yang judulnya, kulihat suatu hari saat ia meninggalkannya di meja, ditulis dengan tulisan tangannya yang rapi: Data.

Di halaman pertama buku itu, ada satu baris yang ditulis jauh sebelum yang lain, dengan tinta yang sudah sedikit pudar:

Hari 1. Studio. Jabat tangan. ±2 detik. Jepitnya kuning.

Aku menutup buku itu, meletakkannya kembali persis di tempatnya, dan pergi ke pantry untuk menangis diam-diam selama lima menit.


Reza datang ke studio hari Jumat, membawa sampel cat tekstur halus untuk teras.

Ia masuk dengan senyum lebar seperti biasa, kotak sampel di tangan, menyapa Mbak Wulan dengan namanya, menyapa Jojo dengan tepukan di bahu. Lalu ia melihat kami.

Aku sedang duduk di meja Arie. Bukan di sebelahnya. Di depannya, bersandar di tepi meja, menunjukkan sketsa gorden. Arie berdiri di belakangku. Tangannya melingkari pinggangku dari belakang. Dagunya di bahuku. Ia sedang membaca sketsa itu dari atas bahuku, dan bergumam warna-warnanya.

Itu pelukan dari belakang pertama kami. Ia melakukannya lima menit sebelumnya, tanpa peringatan, tanpa pasal, saat aku sedang berdiri di depan mejanya. Ia hanya berdiri, berjalan ke belakangku, dan memelukku, dan meletakkan dagunya di bahuku, dan mulai membaca sketsaku seolah itu posisi paling wajar di dunia untuk membaca sketsa.

Aku belum pulih dari lima menit itu saat Reza masuk.

Reza berhenti di tengah studio. Kotak sampel di tangannya. Ia menatap kami. Menatap tangan Arie di pinggangku. Menatap dagu Arie di bahuku.

Arie mengangkat kepala sedikit. “Saudara Reza,” katanya.

“Mas Arie.” Reza menatap kami lama. Lalu, pelan, senyumnya kembali. Senyum yang sama lebarnya, tapi sekarang berbeda. Senyum orang yang tahu ia kalah dan tidak keberatan. “Wah. Akhirnya, ya.”

“Ya,” kata Arie.

“Mbak Sabrina sudah bilang iya?”

“Sudah,” kataku. Pipiku panas.

Reza mengangguk-angguk. Lalu ia meletakkan kotak sampel di meja Jojo dan berjalan ke arah kami. Ia mengulurkan tangannya ke Arie.

Arie menatap tangan itu. Lalu, setelah ragu sebentar, ia melepas pinggangku dengan satu tangan dan menjabatnya.

“Selamat, Mas,” kata Reza. “Serius. Saya senang.”

“Terima kasih.”

“Saya nyerah,” lanjut Reza, dan tertawa. “Saya kalah sama orang yang komentar soal warna gigi saya. Itu kekalahan paling aneh dalam hidup saya.” Ia melepas tangan Arie dan menoleh padaku. “Mbak, tawaran ngopi saya saya cabut. Tapi kalau nanti kalian nikah, cat dekoratif buat rumah kalian gratis. Saya yang kerjain. Itu hadiah.”

“Kami belum...”

“Nanti, Mbak.” Reza mengedipkan mata. “Mas Arie ini, sekali pegang, nggak bakal lepas. Saya lihat sendiri di toko. Empat puluh menit milih kuning.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke meja Jojo untuk membahas sampel teras, bersiul.

Arie kembali memelukku dari belakang. Dagunya kembali di bahuku. Ia diam lama.

“Dia orang baik,” katanya akhirnya, pelan, ke telingaku.

“Iya.”

“Giginya masih terlalu putih.”

Aku tertawa sampai sketsa gorden jatuh dari tanganku.


Malam itu, di kos, Tari menemukanku duduk di meja gambar dengan hadiah serah terima di depanku. Lukisan cat air itu. Rumah di Jalan Kenari. Dua orang di bawah pohon kenari. Matahari krayon di pojok.

“Kamu gambar ulang lagi?” tanya Tari.

“Nggak. Cuma lihatin.”

Tari duduk di kasurku. “Tiga minggu lagi serah terima, kan?”

“Iya.”

“Udah siap?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap lukisan itu. Laki-laki tinggi berkacamata dengan sudut bibir yang terangkat. Perempuan dengan jepit kuning. Jari bertaut.

Saya bilang banyak hal waktu itu, kata Pak Gunawan di tepi kolam.

Terima kasih sudah mengembalikan anak saya.

“Bina?”

“Siap,” kataku. “Aku siap.”

Tari menatapku lama dengan mata editor yang tahu kapan sebuah kalimat belum selesai. Lalu ia menghela napas dan berbaring di kasurku dan menatap langit-langit.

“Oke,” katanya. “Aku percaya.”

Ia tidak percaya. Aku tahu ia tidak percaya. Tapi ia tidak memaksa, dan aku bersyukur untuk itu.

Aku mematikan lampu meja. Di dalam gelap, lukisan itu hanyalah kertas putih dengan bentuk-bentuk samar. Tapi aku tahu di mana mataharinya. Aku selalu tahu di mana mataharinya.