Chapter Thirty Three
Matahari di Dinding
POV: Sabrina
Aku tidak bisa menggambar selama seminggu.
Aku mencoba. Setiap pagi aku duduk di meja gambar, mengambil pensil, menatap kertas. Penerbit menunggu revisi halaman tiga puluh Kiko. Halaman yang mudah. Kiko dan payungnya pulang ke rumah. Hanya butuh satu kelinci, satu payung, satu pintu.
Aku menggambar pintu. Lalu tanganku berhenti.
Karena pintunya harus diwarnai, dan setiap warna yang kuambil dari kotak cat air mengingatkanku pada sesuatu. Biru mengingatkanku pada pintu dapur. Hijau mengingatkanku pada kusen. Kuning...
Aku tidak menyentuh kuning sama sekali.
Hari ketujuh pagi, aku menyadari sesuatu yang membuatku meletakkan pensil dan tidak mengambilnya lagi: aku belum menggambar matahari kecil di pojok gambar mana pun sejak hari Sabtu. Tidak satu pun. Untuk pertama kalinya sejak aku berumur empat tahun.
Tari tidak meninggalkanku.
Ia bekerja dari kamarku. Ia membawa laptopnya, naskah-naskah yang harus diedit, kopi, dan martabak setiap malam. Ia tidak bertanya. Ia tidak menyuruhku bicara. Ia hanya ada di sana, duduk di kasurku, mengetik, sesekali menyodorkan makanan ke tanganku sampai aku memakannya.
Hari ketiga, aku akhirnya bicara.
“Kalau aku nggak ngejar krayon itu,” kataku ke langit-langit.
“Bina.”
“Kalau aku nurut sama Eyang. Kalau aku masuk rumah waktu hujan. Kalau aku nggak nangis tiap hari sampai dia kasihan dan kasih aku krayon...”
“Bina, kamu umur empat.”
“Dia umur delapan, Tar. Dia umur delapan dan dia lari ke bawah perancah buat aku.”
Tari menutup laptopnya.
“Dan dia nggak nyesel,” kata Tari pelan.
“Kamu nggak tahu itu.”
“Aku tahu,” kata Tari. “Aku lihat mukanya. Di depan gerbang. Malam itu.” Ia menatapku. “Bina, aku sudah dua puluh tahun kenal kamu. Aku sudah lihat semua cowok yang pernah suka sama kamu. Nggak ada satu pun yang berdiri di depan gerbang kos kayak dia. Kayak orang yang... kayak orang yang kehilangan rumah.”
Aku menutup wajah dengan bantal.
“Dia nggak bilang, Tar,” kataku dari balik bantal. “Enam hari. Dia tahu dan dia nggak bilang.”
“Kamu juga nggak bilang.”
Aku diam.
“Kamu tahu dia kakakmu dari kapan? Dua bulan lalu?” Tari tidak menunggu jawabanku. “Dua bulan kamu diam. Mau kasih kejutan. Biar momennya pas.” Ia menarik bantal dari wajahku, pelan. “Dia diam enam hari. Kamu diam dua bulan. Kalian berdua, Bina. Kalian berdua sama bodohnya.”
Aku menatapnya. Itu kalimat yang sama yang Eyang bilang. Arie yang cerita, dulu, di teras, waktu aku masih memegang tangannya. Eyang bilang kami sama-sama bodoh. Aku tidak mengerti maksudnya.
Aku mengerti sekarang.
Hari ketujuh, Pak Gunawan datang ke kos.
Aku tidak tahu bagaimana ia tahu alamatnya. Mungkin dari Tante Clarissa. Mungkin dari Jojo. Ia berdiri di depan gerbang dengan jas abu-abu kebiruan dan map plastik di tangan, dan ibu kos naik tangga dengan wajah sangat bingung dan bilang ada bapak-bapak tua mencari Neng Sabrina, dan bapak itu kelihatan seperti pejabat.
Aku turun. Aku tidak tahu kenapa aku turun. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk menolak.
Kami duduk di bangku semen di teras kos, di bawah jemuran yang penuh baju anak-anak kos. Pak Gunawan meletakkan map plastiknya di pangkuan dan tidak membukanya.
“Saya yang salah,” katanya. Langsung. Tanpa pembuka. “Bukan Arie. Bukan kamu. Saya.”
Aku tidak menjawab.
Ia menceritakannya. Perancah yang belum diperkuat. Kontraktor yang bilang butuh dua hari lagi. Pemilik vila yang mendesak. Tanda tangannya di kertas izin. Hujan.
“Kamu tidak mengambil apa pun dari Arie,” katanya. “Saya yang mengambilnya. Dengan tanda tangan. Lalu saya bohong pada nenekmu. Lalu saya bohong pada Arie. Dua puluh tiga tahun. Saya pikir diam itu melindungi.” Ia menatap tangannya. “Dan anak saya belajar diam dari saya. Dia belajar dengan baik. Terlalu baik.”
Aku menatap jemuran yang bergoyang pelan. Kaus anak kos di lantai tiga. Handuk Tari yang bermotif bebek.
“Om,” kataku. “Kenapa dia nggak bilang ke aku?”
Pak Gunawan diam lama. Lalu ia menoleh padaku.
“Dia bilang ke saya,” katanya pelan, “di apartemennya. Hari Minggu. Setelah saya cerita semuanya. Saya tanya, kenapa kamu tidak mau bilang ke dia. Dan dia jawab...”
Ia berhenti. Ia menelan ludah. Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah Pak Gunawan: matanya basah.
“Dia bilang, kalau dia tahu, dia akan merasa berutang. Aku tidak mau dia pegang tanganku karena berutang. Aku mau dia pegang tanganku karena mau.”
Aku berhenti bernapas.
“Lalu dia bilang,” lanjut Pak Gunawan, dan suaranya pecah sekarang, suara laki-laki enam puluh dua tahun yang tidak pernah menangis di depan anaknya sendiri, “aku akan memilihnya lagi, Pa. Seribu kali. Kalau pilihannya dunia berwarna tanpa dia, atau dunia abu-abu dengan dia di ayunan itu, aku pilih abu-abu.”
Aku tidak ingat berapa lama aku menangis di bangku semen itu.
Pak Gunawan tidak memelukku. Ia tidak pandai memeluk. Tapi ia duduk di sebelahku, dan suatu saat ia meletakkan tangannya di bahuku, kaku dan canggung, dan membiarkannya di sana.
Saat akhirnya aku bisa bernapas lagi, ia membuka map plastik di pangkuannya.
Isinya buku kecil bersampul hitam. Judulnya ditulis dengan tulisan tangan rapi: Data.
“Jojo yang kasih ke saya,” kata Pak Gunawan. “Arie meninggalkannya di meja teras Jalan Kenari tadi malam, setelah semua orang pulang. Jojo menemukannya pagi ini. Jojo bilang kamu harus lihat halaman terakhir.”
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Halaman pertama: Hari 1. Studio. Jabat tangan. ±2 detik. Jepitnya kuning.
Halaman-halaman berikutnya. Angka-angka yang naik. Angka-angka yang turun. 14 menit. 9 menit. 6 menit 40 detik. Lalu, tanggal hari Sabtu, hari aku pergi: ±3 detik. Pucat bahkan saat dipegang.
Lalu halaman-halaman kosong.
Lalu halaman terakhir. Bukan angka. Tulisan. Tulisan tangannya yang rapi, tapi tidak serapi biasanya. Miring. Seperti ditulis tengah malam.
Aku salah menghitung.
Aku pikir angka ini tentang warna. Ternyata bukan.
Angkanya naik waktu aku jujur. Angkanya turun waktu aku diam.
Bukan perasaannya yang berubah. Bukan perasaanku. Bukan perasaannya. Yang berubah cuma: apakah aku masih menyimpan sesuatu darinya.
Aku tidak bisa melihat warna kalau aku tidak membiarkan dia melihat aku.
Aku harusnya sudah tahu dari hari pertama. Dia bilang, di ruang rapat, di depan Tari: “Saya mau dengar warna lewat Bapak.” Bukan melihat. Mendengar. Dia mau aku cerita. Itu bayarannya. Itu satu-satunya yang dia minta.
Dan aku berhenti cerita.
Di bawahnya, satu baris terakhir, ditulis lebih pelan:
Aku sayang kamu, Bina. Aku belum pernah bilang kata-kata itu persis. Aku belum tahu caranya bilang di depan kamu. Jadi aku tulis di sini dulu. Supaya ada datanya.
Pak Gunawan pergi sebelum aku selesai membaca. Aku tidak melihatnya pergi. Saat aku mengangkat kepala, bangku di sebelahku sudah kosong, dan Tari berdiri di ambang pintu teras dengan tangan di mulut.
Ia sudah membacanya dari balik bahuku. Tari selalu membaca dari balik bahuku.
“Bina,” bisiknya.
Aku tidak bisa bicara. Aku memeluk buku kecil hitam itu di dada.
Lalu ponsel Tari bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu lagi. Tujuh kali berturut-turut.
Tari menatap layar. Wajahnya berubah.
“Grup,” katanya. “Pak Darto.”
Aku sudah membisukan grup itu sejak hari Sabtu. Tari tidak.
Ia memutar ponselnya ke arahku.
Proyek Pak Arsitek 🏠
Darto Mandor: [foto]
Darto Mandor: [foto]
Darto Mandor: [foto]
Darto Mandor: [foto]
Darto Mandor: Lapor. Ini Eyang yang suruh kirim. Eyang nggak bisa WA. Eyang bilang Mbak Bina harus lihat.
Darto Mandor: Pak Arie sudah 4 malam ngecat. Sampai jam 2. Semua label Mbak dikerjakan. Semua. Tukang saya nggak ada yang pulang. Reza juga datang.
Darto Mandor: Yang terakhir itu tadi malam. Dia sendirian. Kami disuruh pulang. Eyang yang foto dari jendela.
Aku menatap foto-foto itu.
Pintu kamar mandi. Hijau mint. Hijau seperti permen. Hijau yang Arie bilang norak.
Plafon teras. Biru langit siang tanpa awan.
Tangga loteng. Tujuh anak tangga kuning bebek karet.
Rak buku di ruang tengah. Empat puluh delapan kotak. Empat puluh delapan warna. Seperti kotak krayon yang baru dibuka.
Lalu foto terakhir.
Diambil dari jendela, dari luar, malam hari. Buram karena kaca dan karena kamera ponsel Eyang yang sudah tua. Kamarku. Dinding kuning di bawah lampu kertas. Dan di dinding utara, di bawah jendela, dekat lantai, seorang laki-laki berjongkok. Kaus abu-abu. Kacamata. Kuas kecil di tangan.
Di dinding di depannya, matahari.
Lingkaran. Tujuh garis sinar.
Aku memperbesar foto itu dengan jari yang gemetar.
Mataharinya miring. Garis-garis sinarnya tidak rata, ada yang panjang, ada yang pendek, seperti digambar oleh tangan yang tidak biasa menggambar matahari. Dan warnanya...
Warnanya bukan kuning matahari pagi.
Warnanya oranye. Oranye kekuningan. Kuning yang lebih tua, hampir jingga. Kuning yang salah. Bukan warna dinding. Bukan warna jas hujan. Bukan warna yang ia tunjuk di toko Reza dengan tangan di tanganku.
Ia memilihnya sendiri. Tanpa tanganku. Tanpa Jojo. Tanpa bisikan. Dan ia memilih yang salah.
Dan ia tetap menggambarnya.
Biar yang lihat nggak kedinginan.
Ponselku berbunyi. Ponselku sendiri, yang sudah seminggu mati dan baru kunyalakan pagi tadi karena Tari memaksaku membalas email penerbit.
Bukan pesan. Telepon. Nomor rumah. Telepon rumah paviliun di Jalan Kenari, nomor yang sama sejak aku kecil.
Aku mengangkatnya.
“Bina.” Suara Eyang. Pelan. Tidak seperti jenderal. Seperti nenek yang menelepon cucunya. “Sudah lihat fotonya?”
“Sudah, Eyang.”
“Eyang lihat dia dari jendela. Empat malam. Dia nggak bisa lihat warnanya, Nak. Darto bilang. Dia ngecat semua itu, dan dia nggak bisa lihat satu pun.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Matahari yang tadi malam,” kata Eyang, “dia gambar tiga jam. Dihapus, digambar lagi. Dihapus, digambar lagi. Eyang lihat. Tangannya gemetar.” Ia diam sebentar. “Kayak dulu. Waktu dia gambar di tanganmu. Waktu dia masih kecil. Tangannya juga gemetar. Karena kamu kedinginan dan dia takut gambarnya jelek.”
Aku tidak bisa bicara.
“Serah terima besok,” kata Eyang. “Jam sembilan. Dia bilang kalau kamu nggak datang, kuncinya dia kasih ke Eyang, dan dia pulang. Dan dia nggak akan cari kamu. Karena kamu minta waktu, dan dia nggak mau mutusin lagi apa yang terbaik buat kamu.”
“Eyang...”
“Kalian berdua sama,” kata Eyang, dan suaranya bergetar sekarang. “Sama bodohnya. Dua-duanya diam demi yang lain. Dua-duanya pergi biar yang lain nggak menderita. Dua puluh tiga tahun lalu, bapaknya diam biar Eyang nggak merasa bersalah. Eyang mengulang cuma dijahit dua puluh tiga tahun. Dan lihat. Lihat hasilnya.” Ia menarik napas. “Eyang sudah tujuh puluh delapan, Bina. Eyang nggak mau lihat kalian ngulang ini.”
“Eyang,” bisikku. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku pegang tangannya, warnanya tetap pucat.”
Hening di ujung telepon. Lalu Eyang tertawa. Pelan. Basah.
“Nak,” katanya. “Warnanya bukan di tanganmu. Dari dulu juga bukan. Kamu belum ngerti juga?”
Ia menutup telepon.
Malam itu, aku membuka laci meja gambar yang paling dalam.
Map plastik di dalam map plastik. Dua gambar.
Kertas menguning, rapuh. Rumah di Jalan Kenari. Anak kecil berjas hujan kuning di ayunan merah. Matahari di pojok kanan atas. ARIE. 8 TH.
Kertas cat air yang masih putih bersih. Rumah yang sama, sekarang. Dua orang di bawah pohon kenari. Jari bertaut. Matahari krayon di pojok kanan atas. BINA. 27 TH.
Aku menatap dua matahari itu. Lalu aku membuka foto dari Eyang di ponselku. Matahari ketiga. Miring. Oranye. Salah warna.
Tiga matahari. Dua puluh tiga tahun.
Aku mengambil pensil warna kuning dari kotak di meja. Aku menggambar matahari kecil di pojok kanan bawah halaman tiga puluh Kiko, di sebelah pintu yang belum diwarnai.
Lingkaran. Tujuh garis sinar.
Pertama kali dalam seminggu.
Tari, di kasurku, berhenti mengetik dan menatapku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum, dan matanya basah, dan ia kembali mengetik.
Aku menyiapkan tas. Dua gambar dalam map. Buku kecil hitam berjudul Data. Kunci rumah dengan gantungan bebek karet kuning yang dulu kutinggalkan di meja teras, yang Pak Gunawan kembalikan bersama buku itu, di map plastik yang sama, tanpa berkata apa-apa.
Aku memasang alarm jam lima pagi.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tidur.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding reading
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari