Chapter Twenty Two
Pegang Dulu
POV: Sabrina
Arie mengirimiku rencana kencan pertama kami dalam bentuk spreadsheet.
Bukan bercanda. Spreadsheet. Dikirim hari Kamis malam lewat WhatsApp, dengan nama file Rencana_Kencan_Pertama_v3_FINAL_revisi.xlsx.
Aku membukanya di kasur. Tari membacanya dari balik bahuku.
Kolom A: jam. Kolom B: kegiatan. Kolom C: lokasi. Kolom D: estimasi biaya. Kolom E: catatan warna.
17.00 — Jemput di kos. — Tebet. — Bensin. — (tidak ada)
17.45 — Makan malam. — Restoran Jepang, Senopati. — Rp xxx. — Interior restoran: kayu, hitam, putih. Aman.
19.30 — Pameran lukisan. — Galeri, Kemang. — Gratis. — Banyak warna. Perlu pegangan tangan seluruh durasi. Estimasi: 90 menit.
21.00 — Kopi. — Kafe, Kemang. — Rp xx. — Dinding kafe dicat hijau zaitun oleh Reza. Bisa dilihat bersama.
22.00 — Antar pulang. — Tebet. — Bensin. — (tidak ada)
Di baris paling bawah, dengan huruf merah tebal:
Catatan dari Jojo: Bang, ini terlalu kaku. Kak Sabrina bukan klien. Abang nggak perlu kasih estimasi biaya. TOLONG HAPUS KOLOM D.
Kolom D tidak dihapus.
Tari jatuh dari kasur karena tertawa.
Aku membalas dengan satu pesan:
Aku yang pilih tempatnya. Kamu cuma perlu nyetir ke Bogor. Jam 6 sore. Pakai baju yang kamu nggak takut kotor.
Balasannya masuk dua menit kemudian.
Tapi spreadsheetnya sudah versi tiga.
Simpan buat versi empat. Kencan kedua.
Tanda mengetik... muncul lama. Hilang. Muncul lagi.
Baik.
Lalu satu lagi:
Ada kencan kedua?
Aku menatap pesan itu dan menutup wajah dengan bantal.
Sabtu sore, ia menjemputku di stasiun Bogor dengan kaus.
Kaus. Bukan kemeja. Kaus polos, abu tua, dan celana jins gelap. Aku belum pernah melihatnya pakai kaus. Ia kelihatan lebih muda, lebih santai, dan sangat, sangat gugup.
“Kamu bilang baju yang tidak takut kotor,” katanya, sebelum aku sempat berkomentar.
“Iya.”
“Aku tidak punya baju yang tidak takut kotor. Semua bajuku takut kotor. Ini kaus Jojo.”
“Kaus Mas Jojo?”
“Dia meminjamkannya. Dia bilang ini kaus keberuntungan. Dia pakai waktu wisuda.” Ia menatap kausnya sendiri. “Kausnya abu-abu. Itu satu-satunya alasan aku mau.”
Aku tertawa sampai ibu-ibu penjual tahu Sumedang di depan stasiun menatap kami.
Pasar malam di Lapangan Sempur buka setiap Sabtu. Aku sudah ke sana ratusan kali waktu kecil. Eyang selalu membawaku, membelikan gula kapas, dan memaksaku naik komidi putar walaupun aku takut kuda-kudaannya.
Kami sampai saat langit mulai gelap.
Dari jauh, pasar malam itu adalah titik-titik cahaya di tengah lapangan. Bianglala yang berputar pelan dengan lampu-lampu kecil di setiap ruasnya. Komidi putar yang berkelip. Deretan tenda penjual dengan lampu bohlam telanjang yang digantung di tali. Musik dangdut dari pengeras suara yang sudah serak. Bau jagung bakar, kerak telor, dan sate kerang.
Arie berhenti di tepi lapangan.
Aku menoleh padanya. Ia menatap pasar malam itu dengan wajah yang aneh. Bukan terpesona. Bukan bingung. Wajah orang yang berdiri di depan sesuatu yang ia tahu seharusnya indah, tapi tidak bisa merasakannya.
“Ramai,” katanya.
“Kamu lihat apa?”
“Lampu,” katanya. “Banyak titik terang. Bianglala itu seperti jam besar yang tiap angkanya menyala. Komidi putar seperti kotak musik.” Ia berhenti. “Semuanya putih. Kuning pucat, mungkin. Aku tidak tahu.”
Aku mengulurkan tanganku.
Ia menatap tanganku, lalu menatapku. Lalu menyambutnya.
Aku memperhatikan wajahnya. Seperti biasa. Seperti yang selalu kulakukan, dan yang tidak akan pernah bosan kulakukan.
Lampunya menyala. Tapi kali ini berbeda. Kali ini lampunya tidak sekadar menyala. Kali ini lampunya meledak.
Matanya melebar. Mulutnya terbuka. Ia menarik napas dengan bunyi yang bisa kudengar, napas pendek dan tajam, seperti orang yang baru dicubit. Matanya bergerak, cepat sekali, dari bianglala ke komidi putar ke tenda-tenda ke langit ke tanah ke aku dan kembali ke bianglala.
“Ya Tuhan,” bisiknya.
“Apa?”
Ia tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ia hanya berdiri di tepi lapangan, memegang tanganku, dan menatap.
Lalu ia mulai bicara. Pelan. Hampir seperti tidak bicara padaku, seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Bianglalanya merah,” katanya. “Rangkanya merah. Lampu-lampunya bukan putih. Ada yang merah, ada yang hijau, ada yang biru, ada yang kuning. Berganti-ganti. Setiap ruas, warna berbeda. Seperti...” Ia mencari kata. “Seperti kuku kamu di pasar tanaman hias. Tapi berputar.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Komidi putar,” lanjutnya. “Kuda-kudanya. Putih, dengan surai emas. Pelananya merah. Ada yang biru. Atapnya bergaris, merah dan putih, seperti permen. Gula kapas di tenda itu merah muda. Merah muda yang sama dengan pipi kamu kalau baru dipuji.”
“Arie.”
“Tali lampu di atas tenda,” katanya, tidak berhenti. “Bohlamnya kuning. Kuning madu, seperti lampu rotan di ruang tengah. Tenda-tendanya biru, hijau, oranye, merah. Bendera-bendera kecil di tiang, semua warna. Langitnya biru tua sekali, hampir ungu, dengan satu bintang di sebelah sana. Tanahnya cokelat. Rumputnya hijau gelap. Baju orang-orang...”
Ia berhenti.
Ia menoleh padaku. Matanya basah.
“Aku pernah ke pasar malam,” katanya. “Waktu kecil. Sebelum. Aku ingat bau gula kapas. Aku ingat musiknya. Tapi aku tidak ingat warnanya.” Ia menelan ludah. “Aku tidak tahu pasar malam seperti ini.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Sekarang kamu tahu,” kataku.
Kami naik bianglala.
Aku membelikannya gula kapas merah muda, dan ia memegangnya dengan satu tangan seperti memegang benda yang bisa meledak, sementara tangan satunya tidak pernah lepas dari tanganku. Kami naik komidi putar. Ia duduk di kuda putih dengan pelana biru, kakinya yang panjang menekuk dengan sangat tidak nyaman, dan aku duduk di kuda di sebelahnya, dan kami berpegangan tangan melintasi celah di antara dua kuda yang naik-turun bergantian.
Kami makan kerak telor. Ia menyebutkan warnanya: cokelat keemasan di pinggir, kuning telur di tengah, serundeng kelapa yang cokelat muda, bawang goreng yang cokelat tua.
Di tenda permainan lempar gelang, kami bertemu Jojo dan Tari.
Mereka sedang berdiri di depan tumpukan boneka, dengan topi dan kacamata hitam, padahal sudah malam. Tari memegang gula kapas. Jojo memegang kerak telor. Begitu melihat kami, mereka membeku.
“Oh,” kata Jojo. “Kebetulan banget.”
“Kebetulan,” ulang Tari. “Kami juga lagi... jalan-jalan. Di Bogor. Malam minggu.”
“Kalian berdua tinggal di Jakarta,” kata Arie.
“Iya, Bang. Kami suka pasar malam Bogor. Jauh-jauh ke sini. Biasa.” Jojo menyembunyikan kerak telornya di balik punggung, entah kenapa. “Kami pergi dulu. Bye, Bang. Bye, Kak. Lanjutkan. Kami nggak lihat apa-apa.”
Mereka berbalik dan berjalan cepat, terlalu cepat, menabrak seorang bapak yang membawa balon, lalu menghilang di antara tenda-tenda.
“Mereka mengikuti kita,” kata Arie.
“Dari stasiun,” kataku. “Aku lihat mereka di gerbong sebelah.”
Ia menatapku. Lalu, untuk kedua kalinya dalam hidupnya di depanku, ia tertawa lepas. Di tengah pasar malam, di bawah lampu bianglala yang berganti warna, dengan gula kapas di satu tangan dan tanganku di tangan yang lain.
Kami berjalan pulang lewat Suryakencana.
Jalan tua di dekat Kebun Raya, dengan toko-toko lama berderet di kiri-kanan, sebagian sudah tutup, sebagian masih menyala. Di beberapa titik, lampion merah digantung di atas jalan. Di ujung jalan, vihara tua dengan atap merah dan ornamen emas.
Sudah hampir jam sepuluh. Jalan itu sepi. Hanya ada kami, beberapa motor yang lewat, dan seorang bapak penjual bakso yang mendorong gerobaknya pelan-pelan ke arah sebaliknya.
Tanganku di tangannya sepanjang jalan. Ia menyebutkan warna setiap toko, setiap lampion, setiap pintu. Suaranya semakin pelan, semakin pelan, sampai akhirnya ia berhenti bicara sama sekali, dan kami hanya berjalan.
Di bawah lampu jalan terakhir sebelum tempat mobilnya diparkir, ia berhenti.
Lampu jalan itu tua, tiang besi hitam dengan kap kaca. Cahayanya kuning oranye, jatuh membentuk lingkaran di aspal. Kami berdiri di tengah lingkaran itu.
Ia melepas tanganku.
Aku menoleh, bingung. Ia tidak pernah melepas tanganku duluan. Selalu aku yang melepas.
Ia menatapku. Dalam warna, karena sisa warnanya sekarang lama sekali. Aku tahu itu. Jojo bilang di grup, sisa warnanya sekarang sepuluh, lima belas menit. Ia melihatku dalam warna walaupun tidak memegangku.
“Sabrina,” katanya.
“Ya.”
Ia mengulurkan tangannya lagi. Telapak terbuka. Seperti di ruang rapat. Seperti di toko cat. Seperti di semua tempat.
“Pegang dulu,” katanya.
Aku menatap tangannya. Lalu wajahnya.
Pegang dulu. Ia mengatakannya di gudang, saat aku kena serpihan kayu, saat ia masih harus mencari alasan. Ia mengatakannya di ruang rapat, setelah kontrak ditandatangani, saat pasal tiga mulai berlaku.
Sekarang ia mengatakannya di bawah lampu jalan di Suryakencana, dengan suara yang tidak kaku sama sekali. Suara yang pelan dan lembut dan sedikit gemetar.
Aku meletakkan tanganku di tangannya.
Ia menarikku pelan. Satu langkah. Lalu tangannya yang lain naik ke wajahku, ke pipiku, telapak tangannya hangat di kulitku.
Ia menunduk.
Aku memejamkan mata.
Bibirnya hangat.
Itu yang pertama kuingat. Hangat, dan sedikit manis, karena gula kapas. Ia menciumku pelan, sangat pelan, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang bisa pecah. Seperti caranya pertama kali menangkup wajahku di ayunan. Seperti ia takut kalau terlalu keras, semuanya akan hilang.
Tanganku naik ke dadanya. Ke kemeja, bukan, ke kaus Jojo yang abu-abu. Aku merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku. Cepat. Sangat cepat.
Lalu ia mundur sedikit. Hanya sedikit. Dahinya di dahiku.
Aku membuka mata.
Ia tidak sedang menatapku.
Ia sedang menatap jalan. Di belakangku. Di atas kepalaku. Di sekeliling kami. Matanya bergerak, lebar, basah, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah.
“Arie?” bisikku. “Kenapa?”
“Semuanya,” katanya.
“Apa?”
“Semuanya menyala,” katanya. Suaranya nyaris tidak keluar. “Jalannya. Toko-tokonya. Lampionnya. Vihara di ujung. Bukan cuma yang dekat. Semuanya. Sampai ujung jalan. Sampai langit.” Ia menelan ludah. “Biasanya warna yang jauh itu samar. Seperti foto yang dicetak tipis. Aku tahu itu merah, aku tahu itu biru, tapi pinggirnya selalu pucat, seperti mau hilang. Tapi sekarang...”
Ia menatapku. Akhirnya menatapku.
“Sekarang seluruh kota berwarna,” katanya.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak tahu kalau warnanya punya batas. Ia tidak pernah bilang. Ia tidak pernah bilang bahwa selama ini, setiap kali ia memegang tanganku, warna di kejauhan selalu tipis dan pucat, seperti dunia yang hanya setengah percaya.
Dan sekarang tidak lagi.
Aku mengangkat tanganku ke wajahnya. Ke rahangnya. Kacamatanya sedikit miring. Aku membetulkannya dengan ujung jari.
“Kalau gitu,” bisikku, “kamu harus sering-sering cium aku. Biar kamu bisa lihat kota.”
Ia tidak menjawab.
Ia menciumku lagi.
Kami tidak langsung pulang. Kami duduk di kap mobilnya di parkiran sampai lewat jam sebelas, tidak banyak bicara, tangan bertaut, menatap Suryakencana yang pelan-pelan tidur.
Ia menyebutkan warna lampu jalan. Warna langit. Warna bintang yang ternyata tidak putih semua, ada yang kebiruan, ada yang kemerahan, ada yang kekuningan. Ia tidak tahu bintang punya warna. Tidak ada yang pernah memberitahunya.
Aku bersandar di bahunya dan mendengarkan.
Ponselku bergetar. Grup WhatsApp.
Jojo: KAK.
Jojo: KAK SABRINA.
Jojo: KAMI LIHAT.
Jojo: KAMI DI SEBERANG JALAN. DI DEPAN TOKO ROTI.
Tari: Bina aku nangis. Aku nangis di depan toko roti. Bapak penjual bakso ngasih aku tisu.
Darto Mandor: Apa? Apa yang dilihat? Lapor!
Jojo: Bakwan Pak Darto menang, Pak. Bakwan menang.
Darto Mandor: ALHAMDULILLAH.
Aku menutup ponsel dan memasukkannya ke saku tanpa membalas.
Arie, di sebelahku, sudah membaca semuanya dari balik bahuku. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menatap ke seberang jalan, ke depan toko roti yang sudah tutup, di mana dua sosok dengan topi dan kacamata hitam sedang berjongkok di balik gerobak bakso.
“Mereka masih pakai kacamata hitam,” katanya.
“Iya.”
“Di malam hari.”
“Iya.”
“Kacamata hitamnya Jojo merah,” katanya. “Bingkainya. Merah menyala. Penyamaran yang sangat buruk.”
Aku tertawa ke bahunya sampai menangis lagi.
Ia tidak tertawa. Ia mencium pelipisku. Pelan. Lalu kembali menatap langit, dan bintang-bintang yang ternyata berwarna.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu reading
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari