Chapter Five
Katalog Cat
POV: Sabrina
Toko cat itu ada di Kebayoran, di antara toko kunci dan warung bakso, dan dari luar kelihatan seperti gudang biasa. Tapi begitu masuk, aku langsung lupa bernapas.
Dindingnya. Seluruh dindingnya, dari lantai sampai langit-langit, ditutupi kepingan warna. Ribuan swatch tersusun dalam gradasi: merah yang perlahan jadi jingga, jingga jadi kuning, kuning jadi hijau, hijau jadi biru, sampai akhirnya ungu yang pelan-pelan tenggelam jadi hitam. Ada sampel tekstur di rak tengah, ada rak kaleng setinggi dua meter, dan lampunya putih terang seperti di galeri.
“Ya Tuhan,” bisikku. “Ini surga.”
“Ini toko cat,” kata Pak Arie di sebelahku.
“Bapak nggak ngerti. Ini surga.”
Ia tidak menjawab, tapi aku melihatnya menatap dinding swatch itu dengan wajah yang aneh. Bukan terpesona seperti aku. Lebih seperti... capek. Seperti orang yang berdiri di depan papan pengumuman dalam bahasa asing.
Mungkin karena memang tidak ada abu-abu di sini, pikirku. Pak Harriman Grey di tengah pelangi. Kasihan.
“Mas Arie!”
Seorang laki-laki muncul dari balik meja kasir, mengelap tangan di celemek yang penuh noda cat. Tinggi, kulit sawo matang, rambut ikal agak panjang yang diikat ke belakang, dan senyum yang terlalu lebar untuk jam sepuluh pagi. Ia menjabat tangan Pak Arie dengan semangat. Pak Arie menjabatnya satu detik, persis satu detik, lalu melepasnya seperti menyentuh panci panas.
“Tumben langsung datang sendiri,” kata laki-laki itu. “Biasanya Mas Jojo yang pesan lewat WA. Putih tulang lima puluh liter. Abu-abu monyet tiga puluh liter. Hitam doff sepuluh liter. Udah hafal saya.”
“Kali ini proyeknya lain,” kata Pak Arie. “Ini klien saya. Sabrina.”
Laki-laki itu menoleh padaku, dan senyumnya berubah. Bukan jadi lebih lebar. Jadi lebih sengaja.
“Reza,” katanya, mengulurkan tangan. “Reza Alfarizi. Saya yang punya toko ini. Dan saya yang bikin cat dekoratif paling bagus se-Jakarta Selatan. Itu bukan sombong, itu fakta.”
“Sabrina.” Aku menjabat tangannya. Genggamannya hangat dan kasar karena kerja. Biasa saja.
“Sabrina,” ulangnya, seperti mencicipi namanya. “Klien Mas Arie yang mau warna? Akhirnya. Saya sudah tiga tahun nawarin Mas Arie hijau zaitun, nggak pernah dibeli. Nggak percaya saya, Mbak? Tanya orangnya.”
Aku menoleh ke Pak Arie. Pak Arie menatap Reza dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Kosong, tapi kosong yang tegang. Seperti permukaan air sebelum ikan menyambar.
“Kami butuh palet eksterior dan interior,” katanya. “Hari ini.”
“Siap, Bos.” Reza menepuk tangannya. “Mari, Mbak Sabrina. Saya tunjukkan surga yang sebenarnya.”
Satu jam berikutnya adalah jam paling aneh dalam karier singkatku sebagai pemilik rumah.
Reza membawa kami ke dinding swatch dan mulai bicara. Tentang undertone, tentang bagaimana warna berubah di bawah matahari Bogor yang lembap, tentang cat yang tahan jamur dan cat yang bisa dicuci. Ia lucu dan tahu banyak, dan setiap kali menjelaskan sesuatu, ia memandangku dengan cara yang membuatku sadar aku sedang dipandang.
Tapi yang aneh bukan Reza.
Yang aneh adalah Pak Arie.
Awalnya, ia hanya berdiri di belakang kami, tangan di saku, diam. Saat Reza menyodorkan dua swatch hijau untuk kusen jendela dan bertanya pendapatnya, ia hanya bilang, “Terserah klien.”
Lalu aku mengambil salah satu kartu itu, berbalik untuk menunjukkannya padanya, dan tanganku menyentuh tangannya.
Ia langsung menggenggamnya.
Aku menatap tangan kami. Lalu menatapnya. Ia sedang menatap dinding swatch dengan wajah yang tiba-tiba hidup sekali, seperti lampu dinyalakan di belakang matanya.
“Yang kiri,” katanya. “Hijau yang kiri terlalu kebiruan. Di bawah tegel krem, nanti kelihatan dingin. Yang kanan lebih tua dan lebih kuning. Itu yang ada di kusen sekarang. Itu yang benar.”
Reza mengangkat alis. “Wah. Mata Mas Arie jeli juga.”
“Dan teras,” lanjut Pak Arie, masih menggenggam tanganku, menarikku sedikit ke kanan, ke deretan swatch merah dan jingga. “Terakota yang ini terlalu oranye. Mataharinya akan bikin teras terasa seperti kompor. Yang dua tingkat di bawahnya. Lebih cokelat. Biar hangat tapi tenang.”
Aku melihat swatch yang ia tunjuk. Ia benar. Ia benar sekali. Itu persis warna yang kubayangkan untuk teras tapi tidak bisa kujelaskan.
“Pak,” kataku pelan. “Bapak...”
“Kamar kamu,” katanya, tidak mendengarku. Tidak sadar memanggilku kamu. “Kuning. Kuning yang mana?”
Ia menarikku ke deretan kuning. Ada lima puluh kuning di sana. Kuning lemon, kuning mentega, kuning mustard, kuning bunga matahari, kuning yang hampir krem.
Dan ia menatap kuning-kuning itu dengan cara yang membuat dadaku sakit.
Aku tidak tahu kenapa. Ia hanya berdiri di sana, memegang tanganku, menatap dinding kuning, dan wajahnya... aku tidak tahu. Seperti orang yang menemukan surat lama dari seseorang yang sudah lama pergi.
“Yang ini,” bisiknya, dan menyentuh satu swatch dengan tangan satunya. Kuning yang terang dan hangat. Kuning matahari pagi. Persis warna kamarku dulu.
“Pak,” kataku. “Itu... persis. Gimana Bapak tahu?”
Ia menoleh padaku. Matanya ada di wajahku, lalu turun ke bibirku, lalu kembali ke mataku. Cepat. Lalu ia bilang, dengan nada yang sama persis seperti saat ia menilai warna kusen tadi, datar, teknis, seolah membacakan spesifikasi:
“Bibirmu warnanya lebih bagus dari katalog.”
Hening.
Reza, di sebelah kami, berhenti bergerak dengan swatch di tangan.
Aku membeku. Darah naik ke wajahku begitu cepat sampai telingaku berdenging.
Pak Arie mengerjap. Sepertinya ia baru mendengar kalimatnya sendiri setengah detik setelah mengucapkannya. Wajahnya berubah: dari hidup, jadi kaget, jadi panik yang sangat sopan.
“Maksud saya,” katanya, “secara... referensi. Untuk palet. Merah muda alami. Untuk aksen.”
“Untuk... aksen,” ulangku.
“Untuk aksen.”
“Bibir saya.”
“Sebagai referensi.”
Aku melepas tangannya, karena kalau tidak, aku akan meledak.
Dan, ini yang aneh, begitu tanganku lepas, ia goyah. Tidak secara fisik. Tapi matanya berubah. Seperti lampu di belakangnya diredupkan. Ia menatap swatch kuning yang tadi ia tunjuk, dan untuk sedetik ia kelihatan bingung, seperti tidak yakin lagi itu yang mana.
“Mbak,” kata Reza, setelah berdeham sangat keras. “Mau saya ambilkan air?”
“Iya,” kataku. “Air. Tolong. Banyak.”
Sisa kunjungan itu aku sengaja berdiri setengah meter dari Pak Arie.
Dan aku memperhatikan.
Tanpa tanganku, ia kembali jadi Pak Arie yang biasa. Diam. Hati-hati. Saat Reza menyodorkan tiga pilihan biru untuk pintu dapur, Pak Arie menatap ketiganya lama, lalu membaca kode di belakang kartunya, dan memilih berdasarkan kode. Bukan berdasarkan warnanya. Aku melihatnya membalik kartu itu dan mengerutkan dahi pada angka-angka kecil.
Lalu aku menyerahkan kaleng sampel padanya, jari kami bersentuhan sebentar, dan ia langsung bilang, “Bukan yang itu. Itu terlalu ungu,” tanpa melihat kodenya sama sekali.
Aku berdiri di sana dengan kaleng sampel di tangan dan merasa ada sesuatu yang tidak kupahami. Seperti menonton film yang subjudulnya terlambat dua detik.
“Mbak Sabrina.”
Reza muncul di sebelahku saat Pak Arie sedang di kasir menandatangani pesanan. Ia menyodorkan kartu nama: REZA ALFARIZI — Cat Dekoratif & Konsultasi Warna, dengan nomor WhatsApp yang ditulis tangan di belakangnya.
“Kalau Mbak butuh konsultasi warna,” katanya, “di luar jam kerja juga boleh. Ngopi, misalnya. Saya tahu kafe yang dindingnya dicat warna yang Mbak bakal suka.”
“Oh,” kataku. “Eh. Makasih.”
“Saya serius soal warnanya,” katanya, dan tersenyum. “Dan saya juga serius soal ngopinya.”
Dari kasir, aku merasakan sesuatu. Aku menoleh. Pak Arie sedang menatap kami. Atau lebih tepatnya, menatap kartu nama di tanganku. Wajahnya tenang seperti biasa. Terlalu tenang. Pena di tangannya berhenti di tengah tanda tangan.
Lalu ia menunduk dan menyelesaikan tanda tangannya dengan satu goresan yang sangat keras sampai kertasnya sobek sedikit.
Di mobil, ia hampir tidak bicara.
Ia menyetir, aku duduk di kursi penumpang, dan di antara kami ada map berisi palet final dan diam yang sangat panjang. Di lampu merah Pakubuwono, aku melirik tangannya di setir. Tangan yang tadi memegang tanganku di depan lima puluh warna kuning.
“Pak,” kataku akhirnya.
“Hm.”
“Bapak sebenarnya jago banget soal warna.”
Rahangnya mengeras sedikit. “Kadang.”
“Kadang?”
“Tergantung hari.”
“Hari ini hari bagus?”
Ia diam. Lampu berubah, dan ia menginjak gas sedikit terlambat, seperti menunggu klakson mobil di belakang sebelum yakin.
“Hari ini,” katanya pelan, tanpa menatapku, “hari yang sangat bagus.”
Aku memalingkan wajah ke jendela, karena pipiku merah lagi dan aku tidak mau ia melihatnya. Lalu aku sadar ia memang tidak perlu melihatnya. Ia sepertinya selalu tahu.
Aku sampai di kos jam dua siang, langsung masuk kamar, menutup pintu, melempar tas ke kasur, menelungkup di atas bantal, dan berteriak.
Teriakan panjang. Teriakan yang biasanya hanya kukeluarkan saat penerbit minta revisi sampul untuk keempat kalinya.
Dinding sebelah diketuk. “Bina?”
Aku berteriak lagi.
Tiga puluh detik kemudian, Tari sudah duduk di ujung kasurku dengan ekspresi wartawan yang mencium skandal. “Ada apa. Cepat. Detail.”
Aku menceritakannya. Toko cat, Reza, kuning, dan kalimat itu.
Tari tidak berteriak. Tari terdiam. Lalu ia mengambil bantal yang tadi kupeluk dan menutup wajahnya sendiri dan berteriak lebih keras dariku.
“BIBIRMU WARNANYA LEBIH BAGUS DARI KATALOG?” teriaknya ke dalam bantal. “KATALOG? Bina, itu... itu bukan gombalan. Itu bukan rayuan. Itu spesifikasi teknis. Dia ngegombal kayak lagi nulis RAB!”
“Terus dia bilang itu buat referensi aksen!”
“Ya Tuhan, dia panik. Dia panik, Bina. Laki-laki yang nyetrika kaus kaki panik di toko cat gara-gara bibirmu.” Tari merebahkan diri di kasur dan menatap langit-langit dengan wajah orang yang menemukan makna hidup. “Ini lebih bagus dari naskah mana pun yang pernah aku edit.”
“Terus ada Reza,” tambahku, lemah.
Tari langsung bangun. “Siapa Reza?”
Aku menunjukkan kartu namanya. Tari membaliknya, membaca nomor yang ditulis tangan, lalu tersenyum seperti hiu.
“Oh,” katanya. “Oh, ini menarik. Ini menarik banget. Dan Pak Arsitek lihat?”
“Dia sampai sobekin kertas pas tanda tangan.”
Tari memejamkan mata dan meletakkan tangan di dada, seperti baru mendengar kabar bahwa ia memenangkan lotre.
Lalu ia mengambil ponselnya.
“Kamu ngapain?”
“Bikin grup.”
“Grup apa?”
Ia memutar layarnya. Grup WhatsApp baru. Nama: Proyek Pak Arsitek 🏠. Anggota: Lestari Wening. Sabrina Mahadewi.
“Ini buat koordinasi,” katanya dengan wajah sangat serius. “Proyek renovasi. Penting. Profesional.”
“Kenapa ada emoji rumah?”
“Biar profesional.”
“Tar.”
“Satu lagi.” Ia mengetik, menambahkan nomor. “Mas Jojo. Aku minta nomornya dari kamu kemarin, ingat? Buat kirim draf ilustrasi rumah.”
“Tar, itu asisten dia!”
“Justru.” Tari mengangkat ponselnya dengan senyum orang jahat di film kartun. “Setiap kisah cinta butuh orang dalam.”
Notifikasi masuk tidak sampai satu menit kemudian.
Jojo: Halo semua. Ini grup apa ya?
Tari: Koordinasi proyek renovasi, Mas. Hehe.
Jojo: Oh oke siap.
Jojo: Btw mau info aja. Bos saya dari tadi siang belum ngomong apa-apa. Cuma duduk lihatin tangan kanannya. Kayak minggu lalu. Saya nggak ngerti kenapa. Normal kah?
Tari: SANGAT NORMAL MAS.
Tari: SELAMAT DATANG DI GRUP.
Aku menelungkup lagi di atas kasur dan berteriak untuk ketiga kalinya hari itu.
Tapi kali ini, di dalam bantal, aku tersenyum.
Aku mengangkat tangan kananku sekali lagi ke arah lampu, seperti beberapa malam lalu. Tangan yang sama. Noda biru yang sama di kelingking. Kapalan yang sama.
Kenapa Bapak cuma pintar warna kalau megang tangan saya?
Pertanyaan itu sudah ada sejak tadi siang, duduk diam di belakang kepalaku. Aku belum berani menanyakannya. Aku bahkan belum berani memikirkannya terlalu lama, karena jawaban yang masuk akal terdengar terlalu tidak masuk akal.
Jadi aku menyimpannya. Untuk minggu depan. Untuk survei berikutnya. Kehadiran secara langsung bersifat wajib.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak sabar menunggunya.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat reading
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari