Chapter Seventeen
Hujan Bogor
POV: Arie
Hujan datang jam tiga sore, dan tidak berniat pergi.
Bukan gerimis Bogor yang biasa. Ini hujan yang turun seperti seseorang membalik ember raksasa di atas kota. Dalam lima menit, halaman Jalan Kenari berubah jadi kolam dangkal. Terpal biru tukang berkibar dan hampir lepas dari tiangnya. Pak Darto, yang sudah dua puluh tahun jadi mandor, mendongak ke langit, menghitung sesuatu di kepalanya, lalu meniup peluit.
“Bubar! Bubar! Pulang semua! Ini bukan hujan, ini kiriman!”
Tukang-tukang berlarian ke truk. Pak Darto menghampiriku di teras dengan helm yang airnya menetes ke hidung.
“Pak Arie nggak pulang?”
“Saya menunggu reda. Ada yang mau saya cek di kamar belakang. Plafon baru.”
“Plafonnya aman, Pak. Saya sudah cek.” Ia menatapku, lalu menatap ke dalam rumah, ke arah lorong, ke arah kamar lama Sabrina tempat ia sedang mengukur jendela untuk gorden. Ia menatapku lagi. Sudut bibirnya bergerak. “Tapi kalau Bapak mau cek ulang, ya silakan. Plafon memang harus dicek dua kali.”
“Pak Darto.”
“Saya pulang, Pak. Hati-hati. Plafonnya.” Ia mengedip. Pak Darto, enam puluh tahun hampir, mandor dua puluh tahun, mengedip padaku. Lalu ia berlari ke truk sambil tertawa.
Eyang Ratih sudah pergi sejak jam dua, ke pengajian di rumah tetangga dua blok dari sini, dengan payung dan sandal jepit dan pengumuman bahwa pengajiannya “panjang sekali hari ini, sampai magrib, mungkin isya”.
Jojo tidak ikut ke Bogor hari ini. Katanya ada urusan di studio. Katanya.
Jadi tinggal aku dan Sabrina di rumah setengah jadi di Jalan Kenari, dengan hujan yang semakin deras.
Listrik padam jam empat lewat sepuluh.
Kami sedang di kamar lama Sabrina. Dindingnya sudah diplester ulang, belum dicat. Jendelanya baru, kusennya sudah hijau tua. Aku melihatnya kemarin, saat tangannya di tanganku. Ia sedang berdiri di depan jendela, mengukur lebar kusen dengan meteran, dan aku sedang memeriksa sambungan plafon yang, seperti kata Pak Darto, memang sudah aman.
Lalu semuanya gelap.
Tidak gelap total. Masih ada cahaya dari luar, cahaya kelabu hujan yang masuk lewat jendela. Tapi lampu-lampu kerja yang dipasang tukang di lorong mati sekaligus, dan rumah tiba-tiba menjadi gua.
“Yah,” kata Sabrina. “Mati lampu.”
“PLN,” kataku.
“Pasti gardu di ujung jalan. Tiap hujan gede pasti mati. Dari aku kecil gitu.” Ia menurunkan meteran. “Bapak nggak apa-apa?”
Aku diam.
Dalam gelap, mataku bekerja lebih baik dari mata kebanyakan orang. Itu satu-satunya keuntungan penglihatan seperti milikku. Mata yang tidak bisa melihat warna mengandalkan sel-sel yang memang dibuat untuk gelap. Aku bisa melihat bentuk kusen, bentuk jendela, bentuk dirinya di depan jendela dengan cukup jelas.
Tapi aku tidak mengatakannya.
“Saya tidak bisa melihat jalan,” kataku.
Itu bohong. Itu alasan nomor entah berapa. Aku sudah berhenti menghitung. Jojo yang menghitung.
Sabrina menoleh ke arahku. Aku tidak bisa melihat ekspresinya di gelap ini. Tapi aku bisa mendengar ia menahan tawa.
“Bapak bohong,” katanya.
“Tidak.”
“Bapak bilang mata Bapak lebih tajam kalau gelap. Waktu di loteng dulu. Bapak yang bilang.”
Aku tidak ingat mengatakannya. Tapi mungkin aku memang mengatakannya. Aku mengatakan banyak hal padanya belakangan ini.
“Itu di loteng,” kataku. “Ini kamar.”
Ia tertawa, pendek, dan berjalan ke arahku dalam gelap. Aku mendengar langkahnya di lantai semen. Lalu tangannya menemukan tanganku.
Warna di gelap adalah sesuatu yang belum pernah kulihat.
Tidak banyak. Kamar itu hampir tanpa warna, karena hampir tanpa cahaya. Tapi yang ada, ada dengan cara yang lembut sekali. Cahaya dari jendela ternyata bukan kelabu. Biru. Biru keabu-abuan yang dingin, biru hujan. Dinding yang baru diplester krem pucat di sisi yang kena cahaya, biru tua di sisi bayangan. Kusen jendela hijau tua yang hampir hitam.
Dan wajahnya. Setengah dalam biru hujan, setengah dalam gelap. Matanya menangkap cahaya dari jendela.
“Tuh,” katanya. “Sekarang Bapak bisa lihat jalan.”
“Ya.”
“Mau ke mana?”
Aku tidak menjawab.
Petir pertama jatuh jam empat lewat dua puluh.
Bukan petir yang jauh, yang hanya kilatan di cakrawala dan gemuruh beberapa detik kemudian. Petir ini jatuh dekat, sangat dekat, mungkin di pohon di ujung jalan atau di tiang listrik. Kilatnya memenuhi seluruh jendela dengan cahaya putih. Bunyinya datang bersamaan. Bukan gemuruh. Ledakan. Bunyi seperti besi besar yang patah dan jatuh.
Sabrina berhenti bernapas.
Aku merasakannya. Tangannya di tanganku tiba-tiba kaku, sekeras kayu. Seluruh tubuhnya membeku. Di kilat petir yang kedua, yang datang dua detik kemudian, aku melihat wajahnya dalam cahaya putih yang menyilaukan: matanya terbuka lebar, menatap jendela, menatap sesuatu yang tidak ada di sana. Bibirnya pucat. Pucat dalam warna. Pipinya, yang biasanya selalu merah muda, kehilangan semua warnanya.
“Sabrina.”
Ia tidak menjawab.
Bunyi petir ketiga. Lebih keras. Aku merasakan tangannya mulai gemetar.
“Sabrina.”
“Maaf,” bisiknya. Suaranya kecil sekali. Suara yang bukan suaranya. Suara anak kecil. “Maaf, Pak. Saya... saya nggak suka bunyi itu. Dari kecil. Saya nggak tahu kenapa. Eyang bilang dari kecil saya begini. Kalau ada bunyi besi jatuh, atau petir yang keras...”
Petir keempat.
Ia bergerak. Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan. Mungkin ia. Mungkin aku. Mungkin kami bergerak bersamaan, seperti dua orang yang tersandung di gelap dan meraih hal yang sama.
Yang kutahu, sedetik kemudian, ia ada di dadaku.
Wajahnya di kemejaku. Tangannya mencengkeram bagian belakang kemejaku. Bahunya gemetar. Dan tanganku, yang selama tiga bulan hanya tahu cara memegang tangannya dengan alasan, dengan pasal, dengan stopwatch, entah bagaimana sudah melingkar di punggungnya. Satu di punggung atas. Satu di belakang kepalanya, di rambutnya yang tergerai karena pensilnya jatuh entah di mana.
Petir kelima. Ia membenamkan wajahnya lebih dalam.
“Nggak apa-apa,” kataku. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak pernah tahu harus bilang apa saat orang ketakutan. “Nggak apa-apa. Itu cuma petir. Itu jauh.”
Itu bohong. Petirnya dekat sekali.
“Saya di sini,” kataku. Itu bukan bohong.
Aku tidak tahu berapa lama kami berdiri seperti itu.
Petir terus datang. Dua, tiga, empat lagi. Setiap kali, tubuhnya tersentak, dan setiap kali aku menekan tanganku sedikit lebih erat di punggungnya. Pelan-pelan, sentakannya mengecil. Gemetarnya mereda. Napasnya, yang tadi pendek-pendek seperti napas orang yang habis berlari, mulai melambat dan memanjang.
Hujan masih deras. Tapi petirnya bergerak menjauh, ke arah Gunung Salak, gemuruhnya tinggal suara berat di kejauhan.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Mataku tertutup.
Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak petir ketiga, saat ia membenamkan wajahnya di dadaku. Aku memeluknya dengan mata tertutup. Kulitku menyentuh kulitnya: tanganku di belakang lehernya, di bawah rambut, di tempat yang hangat dan sedikit basah oleh keringat dingin. Warna pasti menyala di sekelilingku. Biru hujan, krem dinding, hijau kusen, cokelat rambutnya, entah warna apa kaus yang ia pakai hari ini.
Dan aku tidak melihat satu pun.
Aku tidak membuka mataku. Aku tidak mau. Aku tidak memeluknya untuk melihat apa-apa.
Pengetahuan itu turun ke dadaku pelan-pelan, seperti air hujan yang meresap ke tanah. Selama tiga bulan aku memegang tangannya untuk melihat warna. Lalu aku memegang tangannya untuk melihat warna, dan wajahnya. Lalu wajahnya, dan warna. Dan sekarang, di kamar gelap di rumah setengah jadi, dengan mata tertutup, aku menyadari bahwa urutannya sudah lama terbalik dan aku tidak menyadarinya.
Aku tidak memegangnya demi warna lagi.
Mungkin sudah lama tidak.
“Pak,” katanya akhirnya, suaranya teredam di kemejaku.
“Ya.”
“Kemeja Bapak basah. Kena ingus saya.”
“Tidak apa-apa.”
“Itu ingus, Pak.”
“Saya punya kemeja lain. Empat. Semua abu-abu.”
Ia tertawa, pendek dan basah, di dadaku. Aku merasakan tawanya lebih daripada mendengarnya.
Lalu ia mendongak.
Aku membuka mata.
Wajahnya dekat sekali. Dalam cahaya biru hujan dari jendela, wajahnya basah dan sembap dan merah di sekitar mata, dan pipinya, yang tadi pucat, sudah kembali. Merah muda. Lalu, selagi aku melihatnya, merah muda itu naik dan berubah jadi merah, karena ia sepertinya baru sadar di mana ia berada dan bagaimana tanganku ada di belakang kepalanya.
Kami tidak bergerak.
Aku bisa menghitung bulu matanya yang basah. Aku bisa melihat bintik-bintik keemasan di matanya, redup karena gelap. Aku bisa melihat bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya yang hangat di daguku.
Di kejauhan, petir terakhir bergemuruh pelan.
“Pak Arie,” bisiknya.
Lalu lampu menyala.
Lampu kerja tukang di lorong, yang tadi mati, menyala sekaligus dengan bunyi dengung keras. Cahaya putih terang menyembur masuk ke kamar dari pintu, menyilaukan, dan kami berdua tersentak seperti dua kucing yang disiram air.
Ia melepaskan diri dariku. Mundur dua langkah. Tiga. Menabrak kusen jendela.
Aku menurunkan tanganku.
“PLN,” katanya, suaranya terlalu tinggi.
“Gardu,” kataku.
“Di ujung jalan.”
“Ya.”
Kami berdiri di dua sisi kamar, di bawah lampu kerja yang terang, dan tidak menatap satu sama lain.
Warna tidak langsung pergi.
Aku berdiri di tengah kamar dan menunggunya pergi, seperti biasa. Tiga detik. Lalu sepuluh. Lalu dua puluh. Krem dinding di bawah lampu putih. Hijau kusen. Biru hujan di jendela. Kaus Sabrina, yang ternyata oranye. Oranye seperti kulit jeruk diiris.
Tiga puluh detik.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku, tanganku sedikit gemetar, dan menyalakan stopwatch, terlambat, tapi tetap kunyalakan.
Empat puluh. Lima puluh.
Sabrina menatapku dari sisi jendela. Ia melihatku menatap ponsel. Ia tahu apa yang kulakukan.
Satu menit.
Lalu pelan, sangat pelan, seperti matahari yang turun di balik genteng vila tua, warna mulai surut. Oranye kausnya yang paling lama.
Abu-abu.
Aku menatap layar ponselku. Waktu yang tercatat tidak akurat, karena aku terlambat menyalakannya. Tapi angkanya ada di sana: lebih dari satu menit.
“Berapa?” bisiknya.
Aku memutar ponsel ke arahnya.
Ia menatap angka itu. Lalu menatapku. Lalu menunduk ke lantai, dan aku melihat telinganya, dalam abu-abuku, menjadi lebih gelap dari biasanya.
“Kenapa bisa selama itu?” tanyanya ke lantai.
Aku tidak menjawab. Aku sudah tahu jawabannya, beberapa menit yang lalu, dengan mata tertutup. Tapi aku belum tahu bagaimana mengucapkannya. Aku tidak pernah tahu bagaimana mengucapkan apa pun.
Di luar, hujan mulai mereda. Dari ujung jalan, suara Eyang Ratih terdengar memanggil, lebih awal dari magrib, lebih awal dari isya: “Biiinaaa! Mati lampu! Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Eyang!” Sabrina berteriak balik, berlari ke lorong.
Di ambang pintu kamar, ia berhenti. Tidak menoleh.
“Pak,” katanya ke lorong. “Makasih. Tadi.”
Lalu ia pergi.
Aku berdiri sendirian di kamar yang belum dicat itu, dengan kemeja abu tua yang basah di dada, dan menatap tanganku.
Aku tidak memegangnya demi warna lagi, pikirku. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan pengetahuan itu.
Aku tidak tahu bagaimana orang lain melakukannya. Bagaimana mereka berdiri di depan seseorang dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. Aku hanya tahu bagaimana menggambar dinding, menghitung beban, menghafal kode cat. Aku tahu bagaimana menyimpan sesuatu diam-diam selama dua puluh tiga tahun.
Aku tidak tahu bagaimana memberikannya.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor reading
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari