← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Eight

Kayaknya Bapak Naksir Saya

POV: Sabrina

Aku membuat daftar.

Bukan daftar tulisan. Aku ilustrator. Kalau aku mau memikirkan sesuatu dengan serius, aku menggambarnya. Jadi Minggu malam, setelah diantar pulang lewat tol yang macet dengan tangan di atas tangan Pak Arie selama satu jam penuh, aku duduk di meja gambar dan membuat komik strip.

Judulnya: BUKTI-BUKTI.

Panel satu: laki-laki berkacamata menjatuhkan cangkir. Di atas kepalanya ada tanda seru besar.

Panel dua: laki-laki yang sama memegang tangan perempuan berjas hujan, dengan balon kata: “Tangan Anda dingin.” Di bawahnya aku menulis kecil: (tanganku memang dingin, tapi tetap.)

Panel tiga: telapak tangan bertemu telapak tangan. “Delapan belas senti.” Di bawahnya: (aku ukur sendiri pakai penggaris. Tujuh belas. Dia bohong.)

Panel empat: toko cat. “Bibirmu warnanya lebih bagus dari katalog.” Aku menggambar perempuan di panel itu dengan kepala yang meledak seperti gunung berapi.

Panel lima: dua kaleng cat di meja. Laki-laki berkacamata menunjuk kaleng yang salah.

Panel enam: ayunan, langit sore, dan laki-laki yang mendongak dengan mata berkaca-kaca.

Panel tujuh: mobil, macet, dan dua tangan di konsol tengah. “Untuk navigasi.”

Aku meletakkan pensil dan menatap tujuh panel itu.

“Itu bagus,” kata Tari dari belakangku. Ia sudah berdiri di sana entah sejak kapan, dengan mangkuk mi instan dan wajah orang yang sedang menonton final sepak bola. “Itu bagus banget, Bina. Kirim ke penerbit. Judulnya Pak Arsitek dan Tangan yang Selalu Dingin.”

“Tar, ini bukan buat diterbitkan.”

“Semua karya bisa diterbitkan.” Ia duduk di kasurku dan menunjuk komik itu dengan sendok. “Oke. Kesimpulan editor. Dia naksir kamu. Dia naksir kamu dengan cara paling canggung yang pernah aku lihat sejak cowok SMA yang nembak aku pakai puisi tentang fotosintesis.”

“Tapi ada yang aneh.”

“Semua yang naksir itu aneh.”

“Bukan aneh yang itu.” Aku menunjuk panel empat, lima, dan tujuh. “Lihat. Tiap kali dia megang tanganku, dia tiba-tiba jago banget soal warna. Tahu kuning kamarku persis. Tahu hijau kusen persis. Tahu peta macet merah sampai mana. Terus kalau dia nggak megang tanganku...” Aku menunjuk panel lima. “Dia nunjuk kaleng merah buat kusen hijau. Dia baca kode di belakang swatch. Dia bilang matanya capek.”

Tari berhenti mengunyah.

“Terus pas di ayunan,” lanjutku, lebih pelan. “Tar, dia lihat langit kayak orang yang belum pernah lihat langit.”

Hening sebentar. Hanya bunyi kipas angin.

“Bina,” kata Tari akhirnya, hati-hati. “Kamu mau bilang apa?”

“Aku nggak tahu.” Aku menatap komik itu. “Aku nggak tahu, Tar. Kalau aku bilang, kedengarannya gila.”

“Coba aja.”

Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Karena kalimat yang mau keluar adalah: Kayaknya dia cuma bisa lihat warna kalau megang tanganku, dan aku bukan anak umur lima tahun yang membaca bukuku sendiri. Aku perempuan dewasa dua puluh tujuh tahun yang membayar cicilan laptop dan tahu bahwa dunia tidak bekerja seperti itu.

“Nggak jadi,” kataku. “Dia naksir aku. Itu aja. Teorimu lebih masuk akal.”

Tari menatapku dengan mata menyipit, tidak percaya. Tapi ia mengangguk dan kembali ke mi instannya.

Aku menatap panel enam. Laki-laki di ayunan. Matanya.

Teori Tari lebih masuk akal. Tapi teori Tari tidak menjelaskan kenapa seseorang menangis melihat langit.


Senin sore, aku ke studio untuk mereview gambar kerja revisi.

Rapatnya di ruang rapat yang sama dengan hari pertama: meja panjang kayu pucat, kursi-kursi hitam, dinding putih, dan jendela besar yang menghadap jalan Kemang. Bedanya, kali ini ada vas kecil di tengah meja dengan tiga tangkai bunga matahari. Tiga tangkai bunga matahari kuning yang sangat mencolok di ruangan yang semuanya abu-abu.

“Itu dari siapa?” tanyaku ke Jojo.

“Dari Abang,” jawabnya, lalu langsung menutup mulut seperti keceplosan. “Eh. Dari studio. Dari... semangat kerja.”

“Pak Arie beli bunga matahari?”

“Beli sendiri, Kak. Tadi pagi. Di pasar bunga.” Jojo menunduk ke laptopnya dan bergumam sangat pelan, “Terus dia tanya ke aku tiga kali warnanya bener kuning atau nggak.”

“Hah?”

“Nggak, Kak. Nggak apa-apa. Silakan duduk.”

Pak Arie masuk lima menit kemudian dengan gulungan gambar di tangan. Kemeja putih hari ini. Kacamata. Rambut rapi. Ia menyapaku dengan anggukan, membuka gulungan gambar di meja, dan mulai menjelaskan revisi denah dengan suara datar dan presisi seperti biasa.

Aku mendengarkan setengahnya. Setengahnya lagi, aku memperhatikan tangannya.

Tangannya membuka gambar. Menunjuk denah. Mengetuk-ngetuk area teras. Lalu, saat sampai di halaman yang menunjukkan skema warna fasad, tangannya berhenti. Bergerak sedikit ke arahku di atas meja. Berhenti lagi. Mundur.

Aku bisa melihatnya berpikir. Aku bisa melihat roda-roda di kepalanya berputar mencari alasan. Tinta? Tidak ada pena bocor. Tangan dingin? Studio ber-AC tapi tidak sedingin itu. Serpihan? Tidak ada kayu.

Ia mengambil napas, seperti mau mengatakan sesuatu.

Sebelum ia sempat, aku mengulurkan tangan kananku di atas meja. Telapak terbuka. Tepat di sebelah tangannya.

“Nih,” kataku. “Biar Bapak nggak usah cari alasan.”

Pak Arie menatap tanganku.

Lalu ia menatapku.

Lalu ia menatap tanganku lagi.

Aku belum pernah melihat Arie Harriman kehilangan kata-kata dengan begitu total. Selama ini, setiap kali ia terpojok, ia selalu punya sesuatu: saya sedang menghitung beban tiang teras, beda konteks, untuk navigasi. Sekarang tidak ada. Wajahnya kosong seperti kertas gambar yang baru dibuka dari plastik. Mulutnya sedikit terbuka. Telinganya, perlahan, mulai memerah.

Di ujung meja, Jojo menjatuhkan laptopnya. Bukan pulpen. Laptop. Bunyinya keras sekali di lantai semen.

“Maaf,” kata Jojo ke lantai. “Maaf. Licin. Semua benda hari ini licin.”

Pak Arie tidak menoleh ke arahnya. Ia masih menatap tanganku.

Lalu, sangat pelan, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang bisa pecah, ia meletakkan tangannya di tanganku.

Aku memperhatikan wajahnya saat itu terjadi. Aku sengaja memperhatikan, karena aku ingin tahu. Dan aku melihatnya: perubahan itu. Seperti lampu dinyalakan di ruangan yang gelap. Matanya bergerak cepat ke seluruh ruangan, ke bunga matahari di tengah meja, ke gambar fasad, ke jendela, ke wajahku. Berhenti di wajahku. Bertahan di sana.

“Terima kasih,” katanya. Suaranya serak.

“Sama-sama.”

“Ini...” Ia menunduk ke gambar fasad, masih memegang tanganku. “Ini skema warnanya. Kita bahas.”

“Iya, Pak.”

Jadi kami membahasnya. Dengan tanganku di tangannya, di atas meja rapat, di depan Jojo yang sudah memungut laptopnya dan sekarang mengetik dengan sangat keras dan sangat cepat seperti sedang menulis laporan kecelakaan.

Pak Arie menjelaskan setiap warna dengan detail yang luar biasa. Bagaimana hijau kusen akan bereaksi pada cahaya pagi dari timur. Bagaimana kuning kamarku harus sedikit lebih hangat dari swatch karena dinding yang menghadap utara jarang dapat matahari langsung. Bagaimana biru pintu dapur bisa diulang di bingkai cermin kamar mandi supaya rumahnya terasa “bicara dalam satu kalimat”.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku hampir menangis mendengarnya. Ia bicara tentang warna seperti orang bicara tentang seseorang yang ia rindukan.

Rapat itu selesai satu jam kemudian. Ia melepas tanganku di akhir, dan aku memperhatikan wajahnya lagi. Lampunya padam. Pelan-pelan. Ia menatap bunga matahari di tengah meja selama tiga detik dengan tatapan yang membuat dadaku sakit, lalu menunduk dan mulai menggulung gambar.


Jojo mengantarku sampai pintu depan. Pak Arie tetap di ruang rapat, menggulung gambar dengan gerakan yang terlalu lambat, seperti orang yang tidak mau ditanya apa-apa.

Di ambang pintu, Jojo berhenti. Ia menggaruk tengkuk, menatap jalan, menatap sepatunya, lalu menatapku.

“Kak,” katanya. “Boleh aku ngomong sesuatu? Tapi Kakak jangan bilang Abang.”

“Boleh.”

“Abang itu...” Ia mencari kata, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Johanes Sitompul terlihat tidak punya lelucon. “Kalau Kakak lihat dia aneh, jangan takut, ya. Dia orang paling jujur yang aku kenal. Dia cuma nggak bisa ngomong. Dari dulu. Semua dia simpan sendiri, terus dia beresin sendiri, terus dia pikir itu cara yang baik buat orang lain.” Ia tersenyum miring. “Padahal nggak selalu.”

“Mas Jojo kenapa cerita ini ke saya?”

Ia diam sebentar. Lalu mengangkat bahu.

“Soalnya lima tahun aku kerja sama dia, aku belum pernah lihat dia beli bunga,” katanya. “Apalagi bunga kuning.”

Lalu ia kembali ke dalam sebelum aku sempat bertanya, berjalan setengah berlari, dan aku mendengarnya bergumam ke dirinya sendiri, ya Tuhan, aku terlalu banyak ngomong, Abang bakal bunuh aku.

Aku berdiri di trotoar beberapa detik, memeluk tas, mencoba memahami apa yang baru saja kudengar. Lalu aku berjalan ke halte.


Aku meninggalkan buku sketsaku di studio.

Aku baru sadar saat sudah sampai di halte Transjakarta, dan aku langsung kembali, setengah berlari, karena di buku sketsa itu ada komik BUKTI-BUKTI. Kalau Jojo membukanya, aku harus pindah negara.

Studio sudah sepi. Resepsionis sudah pulang. Pintu kaca depan tidak terkunci, dan lampu ruang rapat masih menyala. Buku sketsaku tergeletak di kursi tempat aku duduk tadi, tertutup. Aman. Aku mengambilnya dan memeluknya di dada dengan lega.

Lalu aku mendengar suara dari pantry.

Pintu pantry setengah terbuka. Lampunya kuning redup. Aku bisa melihat bayangan dua orang di sana: Jojo duduk di atas meja dapur, Pak Arie berdiri di depan mesin kopi, membelakangi pintu.

Aku seharusnya pergi. Aku tahu aku seharusnya pergi.

“...nggak apa-apa, Bang,” kata Jojo, dengan suara yang jauh lebih pelan dan serius dari biasanya. “Pelan-pelan aja.”

“Aku lupa, Jo.” Suara Pak Arie. Rendah, rata, tapi ada sesuatu di bawahnya yang retak. “Tadi aku lihat bunga itu kuning, dan aku tiba-tiba sadar. Aku lupa warna muka Ibu.”

Aku membeku di ambang pintu ruang rapat.

“Aku ingat bentuknya,” lanjutnya. “Aku ingat dia punya lesung di dagu, ingat kerutan di matanya kalau ketawa. Tapi warnanya... Aku nggak bisa bayangin warna kulitnya. Warna bibirnya. Warna matanya. Aku coba tadi, waktu lihat bunga itu. Aku pikir, kalau aku bisa ingat kuning, harusnya aku bisa ingat Ibu. Tapi nggak bisa. Nggak ada apa-apa di sana.”

Jojo tidak menjawab. Aku melihat bayangannya bergerak, tangannya terulur ke bahu Pak Arie, lalu menepuknya dua kali.

“Dua puluh tiga tahun,” kata Pak Arie, lebih pelan. “Aku nggak pernah sadar aku sudah lupa. Sampai aku lihat lagi.”

Aku mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Lantai semen poles itu tidak berbunyi di bawah sepatu ketsku, dan aku bersyukur untuk itu. Aku berbalik dan berjalan ke pintu depan, membukanya pelan, menutupnya pelan, dan berdiri di trotoar Kemang dengan buku sketsa di dada dan mata yang tiba-tiba panas.

Aku lupa warna muka Ibu.

Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali. Tapi kalimat itu menempel di dadaku seperti duri.


Aku naik ojol pulang dan tidak membuka ponsel sepanjang jalan.

Aku memikirkan semuanya lagi. Cangkir. Kaleng cat. Langit. Peta macet. Bapak lihat sendiri, kan? Mataku capek. Bunga matahari yang ia beli sendiri di pasar dan tanyakan tiga kali ke Jojo apakah warnanya benar kuning.

Kenapa orang harus bertanya warna bunga matahari?

Dan satu hal lagi. Hal yang kecil sekali, yang tadi sore kulihat tapi tidak kupikirkan.

Di rapat tadi, saat Pak Arie menyilangkan kaki di bawah meja, celana kainnya tertarik sedikit dan memperlihatkan kaus kakinya. Kaus kaki kiri hitam. Kaus kaki kanan biru dongker. Dua-duanya gelap, mirip sekali, tapi jelas berbeda kalau kau ilustrator yang seharian berurusan dengan warna.

Arie Harriman. Laki-laki yang memberi label di kerah kemejanya sendiri. Laki-laki yang menyetrika kaus kakinya, menurut tebakan Tari. Laki-laki paling rapi yang pernah kutemui.

Memakai kaus kaki yang tidak sepasang.

Ojol berhenti di depan kos. Aku turun, membayar, dan berdiri di depan gerbang yang lampunya kuning redup.

Aku mengangkat tangan kananku ke arah lampu itu, seperti beberapa malam sebelumnya.

“Pak Arie,” bisikku ke tanganku sendiri. “Bapak sebenarnya bisa lihat warna, nggak?”

Tanganku tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya, pertanyaan yang kukira gila itu tidak lagi terdengar gila.