← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty Seven

Epilog — Setengah Hari

POV: Sabrina

Kami menikah di bawah pohon kenari, satu tahun kemudian, di hari Minggu bulan Juli yang tidak hujan.

Eyang yang memilih tanggalnya. Eyang bilang Juli di Bogor jarang hujan, dan Eyang tidak mau ada yang kehujanan di hari pernikahan cucunya. Lalu Eyang menambahkan, dengan suara yang lebih pelan, bahwa ia juga tidak mau ada petir.

Arie mendengarnya. Ia tidak bilang apa-apa. Tapi minggu itu, ia memasang penangkal petir baru di atap rumah, dan memeriksanya tiga kali.


Halaman itu penuh.

Bukan penuh orang. Kami hanya mengundang lima puluh. Penuh warna.

Bougenvil ungu sudah merambat sepanjang pagar, dari ujung ke ujung, lebat dan berantakan seperti rambutku di pagi hari. Kembang sepatu merah tua di sudut. Lavender, yang menurut penjualnya mungkin bertahan, tergantung jodoh, ternyata bertahan, dan berbunga ungu pucat di pot-pot sepanjang teras. Anggrek bulan kecil yang dulu kuambil karena Arie berdiri terlalu lama di depannya, sekarang punya tujuh kuntum.

Di bawah pohon kenari, ayunan merah. Dicat ulang minggu lalu. Kali ini Arie yang mengecatnya, sendirian, tanpa memegang tanganku. Ia memilih kalengnya sendiri.

Ia memilih yang benar.

Dan di sebelah rumah Eyang, di tempat vila tua dengan pagar berkarat dan jendela yang ditutup papan dulu berdiri, sekarang ada bangunan lain.

Arie membelinya delapan bulan lalu, dari ahli waris pemilik lama yang sudah lama ingin menjualnya. Ia tidak memberitahuku sampai akta jual belinya ditandatangani. Lalu ia membawaku ke sana, berdiri di depan pagar berkarat itu, dan bilang, dengan suara yang sama datarnya seperti saat ia membacakan spesifikasi:

“Aku mau bongkar perancahnya. Yang sudah dua puluh tiga tahun berdiri di kepalaku.”

Lalu ia menunjukkan gambar kerjanya.

Sekarang bangunan itu bernama Rumah Krayon. Perpustakaan kecil dan ruang gambar untuk anak-anak di Jalan Kenari dan sekitarnya. Dindingnya dicat empat puluh delapan warna, satu dinding satu warna, seperti rak buku di ruang tengah rumah kami. Plafonnya biru langit siang. Lantainya tegel krem dan hijau. Di tembok pembatas antara Rumah Krayon dan rumah Eyang, ada pagar baru. Pagar kayu rendah, dicat kuning, dengan celah-celah yang cukup lebar untuk anak kecil memberikan krayon lewat sana.

Di pintu depannya, matahari. Lingkaran kuning, tujuh garis sinar. Aku yang menggambarnya. Dengan kuning yang benar.

Tapi di dinding dalam, di ruang gambar, dekat lantai, ada matahari kedua. Miring. Oranye. Kuning yang salah.

Arie mengecat ulang matahari oranye dari kamarku di sana, dengan tangannya sendiri, dari ingatan. Tanpa memegang tanganku. Ia bilang matahari yang salah itu yang paling jujur yang pernah ia gambar, dan ia mau anak-anak yang datang ke sana tahu bahwa matahari tidak harus sempurna untuk menghangatkan.


Kakak di Balik Pagar terbit bulan Maret.

Bukan oleh penerbit yang menolaknya. Oleh lini buku anak baru yang Tari bangun sendiri, setelah ia keluar dari penerbit lamanya dengan pidato pengunduran diri yang menurut Jojo “lebih dramatis dari sinetron jam tujuh malam”. Buku pertama di lini itu. Tari yang mengeditnya, dengan stabilo empat warna, dan menangis di setiap halaman.

Ceritanya tidak berubah dari naskah yang ditolak. Anak perempuan kecil di rumah nenek, yang menangis setiap hari, yang berteman dengan seseorang di balik pagar. Yang diberi krayon kuning. Yang digambari matahari di punggung tangan.

Tapi aku menambahkan satu halaman di akhir.

Halaman di mana anak perempuan itu sudah besar, dan anak laki-laki di balik pagar juga sudah besar, dan mereka berdiri di halaman yang sama, di bawah pohon yang sama, dan anak perempuan itu menggambar matahari di punggung tangan anak laki-laki itu.

Biar kamu nggak kedinginan.

Penerbit yang dulu menolaknya bilang ceritanya terlalu sepi, terlalu sedih untuk anak-anak.

Buku itu sudah dicetak ulang tiga kali.


Upacaranya sederhana. Akad di teras, di bawah plafon biru langit siang. Penghulu dari KUA dekat Kebun Raya. Ayah Arie dan pamanku sebagai saksi. Arie mengucapkan akadnya dalam satu napas, tanpa tersendat, dengan suara yang sangat datar dan sangat yakin, seperti membacakan spesifikasi yang sudah ia hafal seumur hidup.

Jojo menangis sebelum akad dimulai. Jojo menangis selama akad. Jojo menangis setelah akad, sampai Tari, yang duduk di sebelahnya dengan kebaya biru kolam, mengeluarkan sebungkus tisu dari tasnya, menyerahkannya dengan wajah sangat datar, lalu menggenggam tangan Jojo di bawah meja dan tidak melepaskannya.

Aku melihatnya. Arie melihatnya. Kami saling menatap. Kami tidak berkata apa-apa.

Pak Darto memakai batik baru. Ia juga membawa bakwan. Seratus buah. Ia bilang itu untuk menyelesaikan semua utang taruhan bakwan dari tukang-tukang sejak insiden tegel. Komar bilang taruhannya belum selesai, karena ada taruhan baru: soal Mas Jojo dan Mbak Tari. Pak Darto menyuruhnya diam.

Reza mengecat ulang seluruh fasad rumah dengan cat dekoratif yang ia janjikan. Hadiah. Ia memilih hijau zaitun untuk sebagian dinding teras. Hijau yang ia tawarkan pada Arie tiga tahun berturut-turut dan tidak pernah dibeli. Arie berdiri di depannya hari Jumat lalu, sendirian, tanpa memegang tanganku, dan bilang padaku bahwa ternyata hijau zaitun bagus sekali.

Reza mendengarnya dari balik tiang dan harus pergi ke mobil sebentar.

Tante Clarissa memakai lipstik merah bata. Om Gunawan memakai jas abu-abu kebiruan, dan untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, ia tertawa di depan banyak orang. Tawanya mirip tawa Arie. Pendek, tertahan, lalu tiba-tiba lepas.

Eyang duduk di kursi rotan di bawah pohon kenari, dengan kebaya hijau dan bros perak dan kacamata berantai, persis seperti di hari pertama aku membawa arsitek itu ke rumahnya. Ia tidak menangis sepanjang acara. Ia hanya tersenyum, senyum abege, dan sesekali menutup matanya, dan bibirnya bergerak.

Aku tahu ia sedang bicara pada Kakek.


Sisa warnanya sekarang setengah hari.

Arie masih menghitungnya. Buku kecil hitam berjudul Data sudah habis tiga bulan lalu, dan sekarang ia memakai buku kedua, sampulnya kuning. Aku yang membelikannya. Ia bilang tidak perlu buku baru, karena ia sudah tidak butuh menghitung. Lalu ia menulis di halaman pertama dengan tulisan tangannya yang rapi:

Buku 2. Bukan untuk menghitung warna. Untuk menghitung hari.

Kalau aku memegang tangannya pagi hari, ia melihat warna sampai sore. Kalau aku memeluknya sebelum tidur, ia bangun dan dunia masih berwarna sampai siang. Ia bisa memilih kemejanya sendiri sekarang, tanpa label. Ia masih memakai abu-abu sebagian besar waktu. Bukan karena tidak bisa. Karena ia suka. Tapi kadang, di hari Minggu, ia memakai kemeja biru dongker. Satu-satunya kemeja berwarna yang ia punya. Aku yang memilihkannya.

Ia bilang ia mau pakai kemeja itu di hari Minggu karena hari Minggu adalah hari ia melamarku.

Ia salah. Ia melamarku hari Sabtu.

Aku tidak mengoreksinya.

Tapi walaupun sisa warnanya setengah hari, walaupun ia bisa melihat dunia sendirian berjam-jam setelah aku melepas tangannya, ia tetap memegang tanganku.

Selalu.

Di meja makan. Di mobil. Di studio, di depan Mbak Wulan dan Dimas dan arsitek-arsitek junior yang sudah tidak menatap lagi karena sudah terbiasa. Di pasar tanaman hias. Di depan rak buku empat puluh delapan warna. Saat ia membaca. Saat ia menggambar. Saat ia tidur.

Aku pernah bertanya kenapa. Kenapa ia masih memegang tanganku terus, padahal sudah tidak butuh.

Ia menatapku lama, dengan mata cokelat yang sama dengan mata ibunya, dan bilang:

“Pasal tiga. Dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama.”

“Kontraknya kan sudah selesai.”

“Kontraknya tidak pernah selesai,” katanya. “Tari lupa menulis tanggal berakhirnya.”

Aku tertawa sampai menangis. Seperti biasa.


Setelah akad, setelah makan, setelah foto bersama di bawah pohon kenari dengan lima puluh orang yang berdesakan dan Pak Darto yang mengangkat bendera merah putih lagi, entah untuk apa, kami duduk di ayunan.

Berdua. Ayunan itu masih hanya muat satu orang. Arie duduk di papannya. Aku di pangkuannya. Tali tambangnya berderit protes, seperti dulu.

Matahari sore turun di balik genteng Rumah Krayon di sebelah. Langit berubah. Biru yang capek, lalu oranye seperti kulit jeruk diiris di pinggir, lalu merah muda.

“Kamu lihat?” bisikku.

“Lihat.”

Aku tidak memegang tangannya. Sudah tiga jam aku tidak memegang tangannya, sejak foto bersama. Ia melihat langit itu sendiri.

Dan aku melihatnya melihat. Wajahnya. Matanya yang bergerak pelan dari biru ke oranye ke merah muda. Bibirnya yang sedikit terbuka. Seperti anak kecil yang melihat laut untuk pertama kali.

Masih seperti itu. Setelah setahun. Setiap kali.

Lalu sesuatu menarik ujung kebayaku.

Aku menunduk. Kiki, anak sepupuku, lima tahun, dengan pita merah di rambut dan gula kapas di tangan, berdiri di depan ayunan dan menatap Arie dengan mata besar.

“Om,” katanya. “Om Arie.”

“Ya, Kiki.”

“Kata Mama, Om nggak bisa lihat warna.”

Aku merasakan Arie diam sebentar di belakangku. Lalu ia tersenyum. Aku tidak melihatnya, tapi aku merasakannya. Aku sudah hafal cara senyumnya terasa.

“Dulu,” kata Arie. “Sekarang kadang bisa.”

Kiki menatapnya dengan curiga, seperti anak lima tahun yang sudah sering dibohongi orang dewasa. Lalu ia menunjuk aku. Kebayaku.

“Om, baju Tante warnanya apa?”

Aku tidak bergerak. Aku tidak memegang tangannya. Sudah tiga jam.

Arie tidak menyentuhku. Ia tidak menyentuh Kiki. Ia tidak menyentuh siapa pun. Ia hanya menatap kebayaku, dan aku melihat matanya, dan aku tahu ia masih melihat warna, karena sisa warnanya masih ada, karena setengah hari belum habis.

Tapi aku juga tahu, dari cara ia menjawab, bahwa ia tidak perlu melihat.

“Kuning,” kata Arie. “Kuning matahari pagi. Seperti dinding kamar Tante. Seperti jas hujan Tante waktu Tante seumur kamu. Seperti krayon yang dulu Om kasih lewat pagar.”

Kiki menatap kebayaku. Lalu menatap Arie. Lalu mengangguk, puas, seperti orang yang baru memastikan jawaban kuis.

“Betul,” katanya.

Lalu ia berlari ke Rumah Krayon, ke pagar kayu kuning yang rendah, di mana anak-anak lain sedang menggambar di dua sisi pagar dengan krayon yang Arie belikan satu kardus, empat puluh delapan warna.

Aku menoleh ke Arie.

Ia menatap Kiki yang berlari. Lalu ia menatapku. Matahari terakhir sore itu jatuh di wajahnya, di sisi kiri, emas. Sisi kanannya dalam bayangan. Biru.

“Kamu hafal,” bisikku.

“Aku hafal,” katanya.

“Kamu nggak perlu lihat.”

“Tidak perlu.”

Ia mengulurkan tangannya. Telapak terbuka. Menghadap ke atas.

Seperti di ruang rapat. Seperti di toko cat. Seperti di teras saat hujan, di presentasi dengan gaun kuning, di bawah lampu jalan Suryakencana, di lantai tegel kamarku dengan krayon dan cincin.

Seperti di halaman ini, dua puluh empat tahun lalu, di balik pagar, dengan krayon kuning.

Aku meletakkan tanganku di tangannya.

Ia tidak melihat langit. Ia tidak melihat bougenvil. Ia tidak melihat Rumah Krayon atau ayunan atau pohon kenari.

Ia melihatku.

Dunia di sekeliling kami tetap berwarna, sama seperti sebelum aku memegangnya. Langit oranye. Bougenvil ungu. Ayunan merah. Tidak ada yang berubah.

Tapi ia tetap memegang tanganku. Dan aku tetap memegang tangannya.

Bukan karena butuh.

Karena mau.

Dan di pojok kanan bawah kehidupan kami, di tempat yang hanya terlihat kalau kau tahu di mana, ada matahari kecil. Lingkaran kuning. Tujuh garis sinar.

Biar yang lihat nggak kedinginan.


Tamat.