Chapter Thirty
Keceplosan
POV: Sabrina
Tante Clarissa sudah duduk di meja dekat jendela saat aku datang, dengan kebaya ungu muda dan lipstik merah bata.
Merah bata. Aku tahu itu sekarang. Arie menyebutnya di meja makan, dengan suara yang pecah, sambil menatap wajah ibunya untuk pertama kali dalam dua puluh tiga tahun. Lipstik Mama merah bata. Mama pakai itu tiap hari. Aku nggak tahu.
Tante Clarissa berdiri dan memelukku. Lama. Lebih lama dari pelukan biasa.
“Duduk, Nak. Duduk. Tante sudah pesan es teh buat kamu. Arie bilang kamu suka es teh manis, gulanya dua sendok.”
Arie bilang. Aku tidak tahu Arie memperhatikan berapa sendok gula di es tehku.
Aku duduk. Tante Clarissa duduk di seberangku, menggenggam tanganku di atas meja, dan menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca sebelum kami sempat bicara apa-apa.
“Tante nggak tahu harus mulai dari mana,” katanya.
“Nggak apa-apa, Tante.”
“Tante sudah nyiapin kalimatnya semalaman. Tante tulis di kertas. Tapi kertasnya ketinggalan di mobil.” Ia tertawa kecil, basah. “Tante memang begitu. Semua yang penting, Tante lupa bawa.”
Aku tersenyum. Tanganku dingin di tangannya.
Makanan datang. Tante Clarissa tidak menyentuh piringnya. Ia bicara.
Ia bercerita tentang Arie kecil. Arie umur lima tahun yang suka menggambar di dinding. Arie umur enam tahun yang menangis karena es krimnya jatuh, lalu menggambar es krim di kertas dan memberikannya ke ibunya sebagai ganti. Arie umur tujuh tahun yang ikut ayahnya ke proyek setiap akhir pekan dan pulang dengan tangan penuh krayon.
“Dia anak yang ceria, Nak,” kata Tante Clarissa. “Kamu nggak akan percaya kalau lihat dia sekarang. Dia dulu ketawa terus. Dia ngomong terus. Dia nyanyi di mobil. Dia...”
Ia berhenti. Menelan ludah.
“Lalu hari itu,” katanya pelan.
Aku tidak bergerak.
“Tante nggak di sana. Tante di Jakarta. Papanya telepon dari rumah sakit di Bogor, suaranya kayak orang mati. Tante nyetir sendiri ke sana, malam-malam, hujan. Waktu Tante sampai, Arie sudah keluar dari ruang operasi. Kepalanya diperban. Dia tidur.” Tante Clarissa mengusap matanya dengan serbet. “Waktu dia bangun besoknya, dia lihat Tante, terus dia tanya: Ma, kenapa Mama abu-abu?”
Tanganku di tangannya mulai gemetar. Aku tidak bisa menghentikannya.
“Sejak itu dia nggak pernah ketawa lagi,” lanjut Tante Clarissa. “Nggak pernah, Nak. Dua puluh tiga tahun. Dia jadi pendiam. Dia jadi kayak papanya. Tante bawa dia ke dokter mana pun, di Singapura, di Jepang, di Jerman. Semua bilang sama. Permanen. Dunianya abu-abu selamanya.”
Ia menggenggam tanganku lebih erat.
“Dan Tante nggak pernah nyalahin kamu, Nak,” katanya. “Tante mau kamu tahu itu. Nggak pernah. Kamu masih kecil. Kamu cuma ngejar krayon. Arie yang milih lari. Itu pilihannya. Dia anak yang baik.”
Dunia di sekelilingku berhenti.
Bunyi piring dan sendok di restoran. Musik jazz pelan dari pengeras suara. Pelayan yang lewat dengan nampan. Semuanya berhenti. Seperti seseorang menekan tombol jeda.
“Tante,” kataku. Suaraku tidak keluar. Aku mencoba lagi. “Tante bilang apa?”
Tante Clarissa menatapku. Tersenyum. Senyum yang hangat dan basah dan sama sekali tidak tahu.
“Tante bilang terima kasih, Nak,” katanya. “Terima kasih sudah ngembaliin warna yang dulu hilang waktu dia nolong kamu.”
Aku tidak ingat bagaimana aku menjawab.
Aku ingat Tante Clarissa terus bicara. Ia bilang Pak Gunawan sudah menceritakan semuanya pada Arie hari Minggu. Ia bilang Pak Gunawan menceritakannya pada Tante Clarissa juga, malam sebelumnya, dan Tante Clarissa menangis sampai subuh, karena selama dua puluh tiga tahun ia mengira itu kecelakaan biasa di proyek. Ia bilang ia senang sekali waktu tahu anak di ayunan itu adalah aku, karena itu artinya Tuhan punya cara, Tuhan mengembalikan apa yang hilang lewat orang yang sama.
“Arie pasti sudah cerita ke kamu, kan?” kata Tante Clarissa. “Hari Minggu malam. Atau Senin. Kalian kan nggak ada rahasia.”
Aku ingat aku mengangguk.
Aku tidak tahu kenapa aku mengangguk. Mungkin karena tubuhku melakukan sesuatu, apa pun, supaya aku tidak berteriak di tengah restoran.
“Syukurlah,” kata Tante Clarissa, dan menyeka matanya lagi. “Tante takut dia nggak cerita. Anak itu suka nyimpan. Kayak papanya.”
Anak itu suka nyimpan.
Aku memandang piring di depanku. Nasi. Ayam. Sayur. Aku tidak bisa melihat warnanya. Aku bisa melihat, tentu, aku bukan Arie, mataku bekerja dengan baik. Tapi rasanya seperti tidak bisa melihat. Semuanya di depanku terasa datar, jauh, seperti foto di majalah lama.
Ma, kenapa Mama abu-abu?
Aku lupa warna muka Ibu.
Saya tidak bisa melihat warna. Sama sekali. Sejak kecil.
Jatuh. Waktu kecil.
Bukan jatuh.
Aku.
Ia tidak bisa melihat warna karena aku. Ia tidak bisa melihat wajah ibunya selama dua puluh tiga tahun karena aku. Ia tidak pernah melihat langit sore, tidak pernah melihat pasar malam, tidak pernah melihat bintang yang ternyata berwarna, tidak pernah tahu bayangan di wajah orang itu biru. Karena aku. Karena anak empat tahun yang mengejar krayon ke tempat yang tidak boleh ia datangi.
Dan ia tahu.
Ia sudah tahu sejak hari Minggu. Enam hari. Enam hari ia memegang tanganku, enam hari ia menyebutkan warna dengan suara yang terlalu lembut, enam hari ia menatapku seperti sedang menghafal, enam hari angka di buku kecil hitam itu turun. Empat belas menit. Sembilan. Enam menit empat puluh detik.
Dan ia tidak bilang apa-apa.
Aku pamit dari restoran dengan alasan yang aku tidak ingat. Tante Clarissa memelukku lagi di pintu dan bilang aku harus sering main ke rumah, dan aku bilang iya, dan aku naik ojol, dan aku tidak tahu ke mana aku menyuruhnya pergi sampai aku turun dan menyadari aku berdiri di depan stasiun.
Aku naik kereta ke Bogor.
Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu aku harus melihat rumah itu. Pohon kenari. Ayunan. Vila tua di sebelah dengan pagar berkarat dan jendela yang ditutup papan.
Di kereta, aku memikirkan semuanya lagi. Dari awal. Seperti memutar ulang film dengan subjudul yang tiba-tiba benar.
Kenapa ia menolak proyekku lalu menerimanya dalam dua detik.
Kenapa ia memegang tanganku seratus empat puluh tujuh kali.
Kenapa ia mau pacaran denganku.
Aku cuma mau lihat kamu. Warna lain bonus. Itu yang ia bilang. Dan aku percaya. Aku percaya dengan seluruh hatiku.
Tapi bagaimana aku bisa tahu?
Bagaimana aku bisa tahu bedanya laki-laki yang mencintaiku, dan laki-laki yang membutuhkan tanganku untuk melihat dunia? Laki-laki yang tidak bisa melihat wajah ibunya tanpa aku. Yang tidak bisa memilih kaleng cat tanpa aku. Yang tidak bisa mengiris cabai tanpa aku.
Aku matanya. Itu yang tertulis di kontrak. Pasal satu: Yang Melihat dan Yang Dipegang.
Dan sekarang ia tahu bahwa Yang Dipegang adalah orang yang membuatnya buta.
Mungkin itu sebabnya ia tidak bilang apa-apa. Mungkin ia tidak bilang karena ia takut aku pergi. Karena kalau aku pergi, dunianya abu-abu lagi. Mungkin ia memegang tanganku enam hari terakhir ini bukan karena ia mencintaiku, tapi karena ia tidak bisa melepaskan satu-satunya pintu ke dunia yang aku ambil darinya.
Atau mungkin ia tidak bilang karena ia tidak bisa memaafkanku. Mungkin angka itu turun karena setiap kali ia menyentuhku, ia melihat anak kecil yang mengambil dunianya. Mungkin ia memegang tanganku karena ia sudah terlalu jauh untuk berhenti, karena ia terlalu baik untuk pergi, karena ia sedang mencoba dan gagal.
Aku tidak tahu yang mana. Aku tidak tahu yang mana yang lebih sakit.
Yang aku tahu: di tepi kolam ikan, dua minggu lalu, Pak Gunawan berdiri di depanku dengan foto di tangan, dan aku punya pertanyaan di lidahku. Om, mata Arie. Apa karena itu? Pertanyaan yang sudah tersusun rapi. Tinggal diucapkan.
Aku menelannya.
Karena aku takut jawabannya. Karena aku lebih memilih kejutan di hari serah terima. Karena aku, seperti Arie, seperti Pak Gunawan, seperti semua orang di cerita ini, memilih diam.
Kalau aku bertanya waktu itu. Kalau aku bertanya.
Rumah di Jalan Kenari hampir selesai.
Sepuluh hari lagi serah terima. Dinding sudah dicat semua. Kusen hijau tua, pintu dapur biru kolam, teras terakota dengan tegel krem dan hijau di tengah. Bougenvil ungu sudah merambat sampai separuh pagar. Ayunan merah baru di bawah pohon kenari.
Mobil Arie terparkir di depan. Ia di dalam.
Aku berdiri di pagar lama sekali.
Lalu aku masuk.
Ia di kamarku. Tentu saja. Ia selalu di kamarku kalau tidak ada kerjaan lain. Ia berdiri di depan dinding utara, di depan tempat cap tanganku tersembunyi di bawah cat kuning, dengan tangan di saku. Lampu kertas di langit-langit menyala. Matahari sore masuk dari jendela.
Ia menoleh saat aku muncul di ambang pintu.
“Sabrina.” Wajahnya berubah. Terkejut, lalu senang, lalu sesuatu yang lain. Sesuatu yang hati-hati. “Kamu nggak bilang mau ke sini.”
“Mendadak.”
Ia berjalan ke arahku. Berhenti di depanku. Menatapku.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan. “Matamu.”
Aku tidak menjawab.
Aku mengulurkan tanganku. Telapak terbuka. Seperti di ruang rapat. Seperti di toko cat. Seperti di semua tempat.
Ia menatap tanganku. Lalu menyambutnya.
Aku memperhatikan wajahnya. Aku sudah memperhatikan wajahnya ratusan kali dalam empat bulan. Aku tahu persis apa yang terjadi saat tangannya menyentuh tanganku: matanya melebar, napasnya tertahan, lalu bahunya turun dan matanya mulai bergerak, menyala seperti lampu.
Matanya tidak menyala.
Bukan tidak sama sekali. Ada sesuatu. Ia mengerjap, seperti biasa. Matanya bergerak ke dinding kuning, ke lampu kertas, ke jendela. Tapi gerakannya lambat. Ragu. Dan di antara alisnya, garis kecil itu, garis yang biasanya hanya muncul saat warna mulai surut, muncul sekarang. Saat tanganku masih di tangannya.
“Warnanya,” katanya pelan. Ia menatap dinding. “Warnanya pucat.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kuningnya...” Ia mengerutkan dahi. “Kuningnya kayak kuning yang dicuci berkali-kali. Kayak gorden kamu. Kenapa...” Ia menoleh padaku. “Sabrina, kenapa warnanya pucat?”
Aku tahu kenapa.
Teoriku. Teori buku cerita anak. Semakin Kiko sayang pada payungnya, semakin lama payung itu mau tinggal.
Dan semakin Kiko merasa bersalah pada payungnya, semakin pucat warna payung itu.
Aku tidak bisa memberinya warna lagi. Tidak dengan hati yang seperti ini. Tidak dengan tangan yang sekarang terasa seperti tangan yang mengambil, bukan memberi.
“Arie,” kataku.
“Ya.”
“Kamu mau bilang sesuatu ke aku?”
Ia diam. Lama sekali. Aku melihatnya. Aku melihat kalimat itu di wajahnya. Di matanya yang pucat warnanya. Di bibirnya yang terbuka sedikit. Aku melihatnya hampir mengucapkannya.
“Nanti,” katanya akhirnya. “Ada yang mau aku bilang. Nanti. Waktu serah terima.”
Waktu serah terima.
Itu rencanaku. Itu kalimatku. Itu hari yang kupilih untuk memberitahunya.
Ia memilih hari yang sama. Untuk menyimpan hal yang sama. Dengan alasan yang aku tidak tahu.
Aku tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tersenyum.
“Oke,” kataku. “Nanti.”
Aku melepas tangannya.
Warna di matanya surut. Cepat sekali. Bukan sepuluh menit. Bukan satu menit. Aku melihatnya. Tiga detik. Seperti hari pertama. Seperti jabat tangan di studio, di hari hujan, dengan payung patah.
Ia menatapku dengan mata yang kembali abu-abu, bingung, dan sedikit takut.
Aku menulis suratnya di gudang belakang, di atas lemari jati yang dulu melukai jariku dengan serpihan kayu.
Tulisan tanganku jelek. Tanganku gemetar. Aku menulisnya di balik selembar gambar kerja lama yang kutemukan di tumpukan kertas, dengan spidol yang dulu kupakai untuk menulis label-label warna di dinding.
Arie,
Tante Clarissa sudah cerita. Semuanya. Soal hari hujan itu. Soal krayon. Soal mata kamu.
Aku tahu kamu sudah tahu sejak hari Minggu. Aku nggak marah kamu nggak bilang. Aku ngerti. Kamu pasti nggak tahu gimana caranya bilang ke orang bahwa dia yang bikin dunia kamu abu-abu.
Kamu nggak perlu bilang. Aku udah tahu sekarang.
Kamu nggak berutang apa-apa ke aku. Pasal tiga, pasal empat, pasal tujuh. Aku batalin semuanya. Kamu nggak perlu pegang tanganku lagi karena merasa harus. Kamu nggak perlu terikat ke orang yang ngambil dunia kamu.
Aku yang berutang. Dan aku nggak tahu cara bayarnya, selain pergi.
Selesaikan rumahnya. Serahkan ke Eyang.
Maaf. Untuk krayonnya. Untuk semuanya.
Bina
Aku melipat surat itu dua kali. Aku meletakkannya di meja teras, di bawah kaleng sampel cat kuning matahari pagi yang masih tersisa setengah. Di sebelahnya, aku meletakkan kunci rumah. Kunci yang Eyang buatkan untukku dua bulan lalu, dengan gantungan kunci bebek karet kuning.
Arie masih di kamarku. Aku mendengarnya bicara di telepon, pelan. Mungkin dengan Jojo. Mungkin dengan Pak Darto.
Aku tidak masuk lagi. Aku tidak pamit pada Eyang. Aku berjalan keluar pagar, melewati bougenvil ungu dan vila tua di sebelah, dan terus berjalan sampai jalan raya, dan naik angkot ke stasiun, dan naik kereta ke Jakarta.
Di kereta, aku mematikan ponselku.
Di kos, Tari membukakan pintu kamarnya dan melihat wajahku dan tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menarikku masuk, mendudukkanku di kasurnya, dan memelukku.
Aku menangis sampai subuh. Tari tidak tidur. Tari tidak pernah melepaskan pelukannya.
Tanganku, yang selama empat bulan selalu hangat karena ada tangan lain di sana, terasa dingin sekali.
Seperti tangan anak kecil di ayunan, di hari hujan, sebelum seseorang menggambar matahari di sana.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan reading
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari