← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Thirty One

Warnanya Apa

POV: Arie

Aku menemukan surat itu jam enam sore, di bawah kaleng sampel cat kuning.

Aku keluar dari kamarnya setelah menelepon Pak Darto soal jadwal pemasangan gorden. Aku mencarinya di dapur, di lorong, di halaman. Aku memanggil namanya. Eyang keluar dari paviliun dan bilang ia tidak melihat Sabrina sejak siang.

Lalu aku melihat kertas terlipat di meja teras. Gambar kerja lama, dibalik. Kaleng cat di atasnya. Dan di sebelahnya, kunci dengan gantungan bebek karet.

Aku tahu sebelum membukanya. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu. Mungkin karena caranya meletakkan kertas itu, sejajar dengan tepi meja, persis seperti caraku meletakkan semua benda. Ia meniruku. Ia tahu aku akan menemukannya karena ia meletakkannya seperti aku.

Aku membacanya di teras, berdiri, di bawah langit yang mulai gelap.

Tante Clarissa sudah cerita. Semuanya.

Kamu nggak perlu terikat ke orang yang ngambil dunia kamu.

Aku yang berutang. Dan aku nggak tahu cara bayarnya, selain pergi.

Bina.

Aku membacanya tiga kali. Lalu aku duduk di kursi teras, karena kakiku tidak mau berdiri lagi.


Aku meneleponnya. Tidak aktif.

Aku meneleponnya lagi. Tidak aktif.

Aku mengirim pesan. Satu centang. Abu-abu. Tidak sampai.

Aku menelepon ibuku. Ibuku mengangkat dengan suara riang, bilang ia baru saja makan siang dengan Sabrina, bilang Sabrina anak yang manis sekali, bilang ia senang Sabrina sudah tahu semuanya.

“Ma,” kataku. “Aku belum cerita ke dia.”

Hening di ujung telepon.

“Apa?”

“Aku belum cerita, Ma. Aku tidak mau cerita. Aku...”

“Arie.” Suara ibuku berubah. Pucat. “Arie, Mama tanya ke dia. Mama tanya Arie sudah cerita, kan? Dan dia ngangguk. Dia ngangguk, Arie. Mama kira...”

Ia mulai menangis. Aku mendengarnya menangis di telepon, dan aku tidak bisa berkata apa-apa, karena ini bukan salahnya. Ini bukan salah siapa pun kecuali aku.

“Bukan salah Mama,” kataku.

“Mama nggak tahu, Nak. Mama sungguh nggak tahu.”

“Aku tahu, Ma.”

Aku menutup telepon. Aku duduk di teras sampai gelap total. Eyang keluar membawa teh, meletakkannya di meja di sebelahku, membaca surat itu dari balik bahuku tanpa minta izin, lalu duduk di kursi di sebelahku tanpa berkata apa-apa.

Kami duduk seperti itu sampai jangkrik di pohon kenari mulai bernyanyi.

“Dia pergi,” kataku akhirnya.

“Iya.”

“Karena aku tidak bilang.”

Eyang tidak menjawab. Lalu, pelan, ia menepuk tanganku dua kali. Tangan yang keriput, kecil, dingin.

“Kalian berdua,” kata Eyang, “sama-sama bodoh.”

Aku tidak mengerti maksudnya. Aku tidak bertanya.


Aku menyetir ke Tebet jam sembilan malam.

Tol Jagorawi sepi. Lampu-lampu rem di depanku hanya titik-titik terang. Rambu-rambu hanya bentuk. Langit malam hanya gelap. Aku menyetir dengan perkiraan dan pengalaman, seperti dua puluh tiga tahun sebelumnya.

Gerbang kos itu, dalam abu-abuku, abu-abu tua dengan lampu teras yang terang.

Aku memencet bel. Lama tidak ada yang keluar. Lalu pintu terbuka, dan yang keluar bukan Sabrina.

Tari.

Ia berdiri di balik gerbang dengan tangan terlipat di dada dan wajah yang tidak pernah kulihat. Bukan wajah editor galak. Bukan wajah shipper yang berteriak di grup. Wajah orang yang sangat, sangat marah.

“Dia nggak mau ketemu,” kata Tari.

“Tari, aku cuma...”

“Dia nggak mau ketemu, Pak Arie.” Suaranya bergetar. “Dia nangis dari jam empat sore. Dia belum makan. Dia belum minum. Dia cuma duduk di kasurku dan nangis dan bilang maaf, maaf, maaf ke dinding. Ke dinding, Pak. Seolah-olah dinding itu kamu.”

Aku memegang jeruji gerbang.

“Aku mau jelasin,” kataku.

“Jelasin apa?”

“Kenapa aku tidak bilang.”

Tari menatapku. “Kenapa?”

Aku membuka mulut.

Aku punya jawabannya. Aku sudah punya jawabannya sejak hari Minggu, sejak duduk di apartemen dengan krayon di tangan dan ayahku di sofa. Karena aku tidak mau dia merasa bersalah. Karena aku tidak mau dia memegang tanganku karena berutang. Karena aku mau dia memegang tanganku karena mau.

Aku sudah mengucapkannya di kepalaku ratusan kali. Tapi di depan gerbang kos itu, di depan Tari dengan matanya yang merah, kalimat itu tiba-tiba terdengar sangat kecil.

“Aku mau melindungi dia,” kataku.

“Dari apa?”

“Dari rasa bersalah.”

Tari tertawa. Tawa yang pendek dan pahit.

“Pak Arie,” katanya. “Dia sekarang di dalam. Merasa bersalah. Sendirian. Dan dia baru tahu dari ibu Bapak di restoran, bukan dari Bapak. Dan dia pikir Bapak diam karena Bapak nggak bisa maafin dia.” Ia mencengkeram jeruji di sisinya. “Bapak lindungin dia dari apa, Pak? Dari kebenaran? Kebenarannya sampai juga. Cuma bukan Bapak yang bawa.”

Aku tidak bisa menjawab.

Tari menatapku lama. Lalu napasnya keluar panjang, dan sebagian kemarahan di wajahnya surut, diganti sesuatu yang lebih lelah.

“Dia titip pesan,” katanya pelan. “Kalau Bapak datang. Tolong jangan cari aku dulu. Aku butuh waktu.”

“Berapa lama?”

“Dia nggak bilang.”

Aku menatap jendela kamar di lantai dua. Gelap. Gordennya tertutup.

“Pak Arie,” kata Tari. “Bapak sayang dia?”

“Ya.”

“Bapak pernah bilang itu ke dia? Kata-kata itu persis?”

Aku diam.

Aku suka kamu. Aku bilang itu di ruang rapat, di depan maket dan proyektor dan Pak Darto yang melepas helm. Mau jadi pacarku. Aku bilang warna, kamu. Aku bilang struktur, material, pencahayaan. Aku bilang aku cuma mau lihat kamu, warna lain bonus.

Aku tidak pernah bilang kata-kata itu persis.

Tari melihat jawabannya di wajahku. Ia menggeleng pelan.

“Pulang, Pak,” katanya. “Bapak nggak bisa bilang apa-apa malam ini yang bisa bikin dia keluar dari kamar itu.”

Ia menutup pintu.

Aku berdiri di depan gerbang kos sampai lampu terasnya dimatikan.


Duniaku abu-abu lagi.

Aku tahu itu akan terjadi. Aku sudah hidup dua puluh tiga tahun di dalamnya. Aku tahu caranya. Kemeja berlabel. Kode di belakang swatch. Jojo yang berbisik.

Aku tidak tahu bahwa kali ini rasanya akan berbeda.

Dulu, abu-abu adalah satu-satunya dunia yang kukenal. Aku tidak merindukan warna karena aku tidak ingat warna. Aku tidak tahu apa yang hilang.

Sekarang aku tahu.

Aku tahu langit sore Bogor itu oranye seperti kulit jeruk diiris. Aku tahu bayangan di wajah orang itu biru. Aku tahu bintang punya warna. Aku tahu mata ibuku cokelat, sama seperti mataku. Aku tahu kuning. Aku tahu kuning dengan cara yang tidak bisa kulupakan.

Dan setiap kali aku melihat sesuatu yang dulu kulihat dalam warna, aku tahu apa yang seharusnya ada di sana. Tegel teras. Bougenvil. Pintu dapur. Aku tahu warnanya, dan aku tidak bisa melihatnya, dan itu jauh lebih buruk daripada tidak tahu sama sekali.


Dua hari aku tidak ke Bogor.

Aku duduk di studio. Aku membuka gambar kerja proyek Bintaro, proyek yang abu-abu. Aku menatapnya. Aku tidak menggambar apa pun.

Hari ketiga, aku duduk di ruang rapat, sendirian, jam sembilan malam.

Kursi di sebelahku kosong. Kursi tempat ia duduk sejak hari pertama. Di tengah meja, vas dengan bunga yang Jojo ganti setiap minggu. Minggu ini tulip. Aku tidak tahu warnanya. Jojo tidak memberitahuku. Jojo tidak bicara padaku sejak hari Minggu.

Aku menatap tulip itu.

Tulip di malam kontrak ditandatangani adalah merah. Merah yang dalam, dengan kuning tipis di pangkal kelopak, seperti ada yang menyalakan lilin di dalam bunganya. Aku menyebutkannya dengan tangannya di tanganku, dan ia mendengarkan dengan kepala miring, dan Tari memotret kami diam-diam.

Tulip yang ini, dalam mataku, abu-abu sedang. Nilai terangnya sekitar lima puluh persen.

Merah. Atau hijau. Atau biru tua yang terang. Aku tidak tahu.

“Warnanya apa?” kataku.

Ke ruang rapat yang kosong. Ke kursi yang kosong. Ke tulip yang tidak menjawab.

Tidak ada yang menjawab.

Aku duduk di sana dengan tangan di atas meja, telapak terbuka, menghadap ke atas. Seperti menunggu sesuatu. Seperti dulu, di malam pertama, ia tertidur dengan tangan terbuka di atas selimut.

Aku tidak menangis. Aku pikir aku akan menangis. Aku tidak bisa.


Jojo menemukanku di sana jam sepuluh.

Ia berdiri di ambang pintu ruang rapat dengan jaket dan tas di bahu, mau pulang. Ia melihatku. Melihat tanganku yang terbuka di atas meja. Melihat kursi kosong di sebelahku.

Wajahnya berubah. Bukan kasihan. Marah.

Ia meletakkan tasnya di lantai. Keras.

“Bang,” katanya.

Aku tidak menoleh.

“Bang, lihat aku.”

Aku menoleh.

“Kau selalu begini,” kata Jojo. Bukan Abang. Kau. Aku belum pernah mendengar Jojo memanggilku kau. Suaranya bergetar dan logat Bataknya keluar penuh, seperti orang yang menahan sesuatu terlalu lama. “Kau selalu memutuskan sendirian, Bang! Kau selalu pikir kau yang paling tahu apa yang baik buat orang lain. Lima tahun aku jadi matamu. Lima tahun! Kau pernah tanya aku capek? Kau pernah tanya aku mau? Nggak. Kau putuskan sendiri aku pasti mau. Untung aku memang mau.”

“Jo.”

“Diam! Aku belum selesai!” Ia menunjuk kursi kosong di sebelahku. “Kau putuskan sendiri Kak Sabrina nggak boleh tahu. Kau putuskan sendiri dia nggak akan kuat. Kau putuskan sendiri dia bakal merasa berutang. Kau pernah tanya dia? Kau pernah kasih dia kesempatan buat milih sendiri mau ngerasa apa?”

Aku tidak menjawab.

“Kau sama kayak bapakmu,” kata Jojo, dan suaranya pecah. “Kau sendiri yang cerita ke aku, di telepon. Bapakmu bilang jangan jadi seperti Papa. Dan apa yang kau lakukan? Kau lakukan persis yang dia lakukan. Persis! Kau diam, Bang! Kau diam, dan orang yang kau sayang yang bayar!”

Ia berhenti. Terengah. Matanya merah, basah, tapi ia tidak menangis. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Johanes Sitompul marah tanpa menangis.

Aku menatap tanganku di atas meja. Telapak terbuka. Kosong.

“Aku tahu, Jo,” kataku akhirnya.

“Kau tahu?”

“Aku tahu.” Suaraku keluar sangat pelan. “Aku tahu sejak dia pergi. Aku tahu sejak aku baca suratnya. Aku tahu sejak Tari tanya Bapak lindungin dia dari apa. Aku tahu aku salah.”

Jojo menatapku.

“Tapi aku tidak tahu caranya, Jo,” kataku. “Aku tidak tahu caranya bicara. Aku tidak pernah tahu. Aku cuma tahu cara menggambar dinding, dan menghitung beban, dan menyimpan. Aku sudah coba nulis surat. Lima kali. Aku tidak bisa. Semua kalimatnya terdengar seperti laporan teknis.”

Hening.

Jojo berjalan ke meja. Duduk di kursi di sebelahku. Bukan kursi Sabrina. Kursi di sisi yang lain. Kursi tempat ia selalu duduk, lima tahun, berbisik.

“Bang,” katanya, pelan sekarang. Logat Bataknya sudah surut. Kembali jadi Bang. “Abang tahu aku beli tulip yang mana?”

Aku menggeleng.

“Kuning,” kata Jojo. “Aku beli kuning. Hari Senin. Buat Kak Sabrina. Aku nggak tahu dia nggak bakal datang.”

Aku menatap tulip itu.

Kuning.

Lalu aku menangis.

Bukan seperti di bahu ibuku. Bukan seperti di depan durian. Aku menangis tanpa suara, dengan tangan masih terbuka di atas meja, dan Jojo tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sebelahku, dan meletakkan tangannya di bahuku, dan tidak melepasnya.


Jam sebelas malam, setelah aku berhenti, Jojo bertanya:

“Terus Abang mau gimana?”

Aku menatap tulip kuning yang tidak bisa kulihat kuningnya.

Aku tidak tahu caranya bicara. Aku tidak tahu caranya menulis surat yang tidak terdengar seperti laporan teknis. Aku tidak bisa mengejarnya, karena ia minta waktu, dan aku sudah cukup memutuskan sendiri apa yang terbaik untuknya.

Tapi ada satu hal yang aku tahu caranya.

“Rumahnya belum selesai,” kataku.

Jojo mengerutkan dahi.

“Dia bilang selesaikan rumahnya,” kataku. “Serahkan ke Eyang.” Aku berdiri. “Aku akan selesaikan. Benar-benar selesaikan. Semua yang dia mau. Bukan yang ada di gambar kerja. Semua yang dia tulis.”

“Yang dia tulis?”

“Di dinding,” kataku. “Selotip-selotip itu. Dia menempelnya supaya aku tetap tahu warnanya walaupun dia tidak ada.”

Aku mengambil kunci mobil dari meja.

“Dia sudah tidak ada,” kataku. “Jadi aku akan baca.”