Chapter Twenty Three
Wajah Ibu
POV: Arie
Aku memberi tahu ibuku lewat telepon bahwa aku ingin datang hari Minggu, membawa Sabrina, dan ada sesuatu yang ingin kuceritakan.
Ibuku diam lima detik. Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat tenang dan sangat bergetar:
“Kamu mau menikah?”
“Bukan, Ma.”
“Dia hamil?”
“Ma.”
“Mama cuma tanya, Arie. Kamu nggak pernah bilang ada sesuatu yang mau diceritakan. Seumur hidup kamu. Waktu kamu diterima S2 di Singapura, Mama tahu dari surat yang datang ke rumah. Waktu kamu buka studio, Mama tahu dari majalah.” Ia menghela napas. “Jadi Mama panik.”
“Bukan hal buruk, Ma.”
“Hal baik?”
Aku menatap tanganku. “Hal yang sangat baik.”
Ibuku diam lagi. Lalu, pelan: “Mama masak rendang.”
Sabrina menggenggam tanganku sepanjang perjalanan ke Pondok Indah. Bukan di konsol, bukan untuk navigasi. Ia memegang tangan kiriku dengan dua tangannya di pangkuannya, dan setiap lampu merah, ia meremasnya sedikit.
“Kamu gugup,” katanya.
“Tidak.”
“Tanganmu dingin.”
“Itu karena AC.”
“Arie.”
Aku diam sebentar. “Aku belum pernah bilang ke orang tuaku soal apa pun yang penting,” kataku. “Mereka tahu soal mataku karena mereka yang membawaku ke dokter. Selain itu, semua yang mereka tahu tentang aku, mereka tahu dari orang lain. Dari Jojo. Dari majalah.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu.” Itu jujur. “Di rumah kami, kami tidak bicara. Ayahku tidak bicara. Aku tidak bicara. Ibuku bicara untuk kami bertiga, tapi tidak pernah soal hal yang penting.” Aku menatap jalan. “Ada sesuatu di rumah itu yang semua orang lewati tanpa melihatnya. Sejak aku kecil.”
Sabrina tidak menjawab. Tapi ia mengangkat tanganku dan menempelkannya di pipinya, sebentar, di lampu merah Fatmawati.
Dalam warna, pipinya hangat. Merah muda. Tidak merah karena malu. Merah muda karena sedih untukku.
Ibuku sudah menyiapkan meja makan yang sama penuhnya dengan dulu. Ayahku duduk di kursinya dengan koran, seperti dulu. Ruang makan itu masih abu-abu, seperti selalu, seperti foto lama di majalah arsitektur.
Kami makan. Ibuku bertanya tentang rumah Jalan Kenari, tentang buku-buku Sabrina, tentang Eyang. Sabrina menjawab dengan sopan dan hangat. Aku makan rendang dan tidak bisa merasakan apa-apa karena jantungku terlalu keras.
Setelah piring kedua, ibuku meletakkan sendoknya.
“Arie,” katanya. “Kamu bilang ada yang mau diceritakan.”
Ayahku menurunkan korannya sedikit.
Aku meletakkan sendokku juga. Aku menatap meja. Lalu, karena aku tidak tahu cara lain, aku mengulurkan tangan kiriku ke arah Sabrina di atas meja. Di depan semua orang. Telapak terbuka.
Sabrina menatapku. Lalu meletakkan tangannya di tanganku.
Meja makan menyala. Rendang cokelat tua, sambal merah, gulai kuning. Seperti dulu.
Aku tidak menatap meja. Aku tidak menatap makanan.
“Ma,” kataku. “Aku bisa lihat warna.”
Ibuku tidak bergerak.
“Kalau aku pegang tangan Sabrina,” kataku. “Kalau kulitku menyentuh kulitnya. Aku bisa lihat warna. Semua. Normal. Seperti waktu aku kecil. Seperti orang lain.” Aku menarik napas. “Sudah tiga bulan.”
Hening.
Ibuku menatapku. Lalu menatap tangan kami di atas meja. Lalu menatapku lagi. Wajahnya, dalam abu-abuku, karena aku sengaja belum mengangkat kepala sepenuhnya, adalah bentuk-bentuk terang dan gelap yang sudah kuhafal seumur hidup. Lesung di dagu. Kerutan di sudut mata.
“Arie,” katanya pelan. “Mama nggak ngerti.”
“Aku juga tidak ngerti, Ma. Dokter mana pun tidak akan ngerti. Tapi itu terjadi.” Aku menatap sendok di piringku. “Ma, sambal di depan Mama itu sambal ijo. Hijau terang, ada biji cabainya yang putih. Taplak meja ini krem dengan motif bunga cokelat. Gelas Papa biru. Kerupuk itu merah muda, seperti dulu.”
Ibuku menatap sambal ijo. Lalu taplak. Lalu gelas ayahku. Biru. Ia sendiri yang membelinya di IKEA tahun lalu. Aku tidak pernah tahu warnanya.
Ia menutup mulut dengan tangan.
“Arie,” bisiknya. “Arie, kamu... kamu beneran...”
Lalu aku mengangkat kepala.
Aku sudah memikirkannya sejak makan siang yang dulu. Sejak meja yang menyala dan wajah yang tidak berani kulihat. Aku sudah memikirkannya di setiap malam sejak itu, di apartemen yang abu-abu, menatap langit-langit.
Aku lupa warna muka Ibu.
Aku mengangkat kepala dan menatap ibuku.
Clarissa Harriman. Lima puluh delapan tahun. Kulitnya sawo matang, lebih terang dari ayahku, dengan semburat kemerahan di pipi yang mulai berkeriput. Rambutnya hitam dengan beberapa helai putih di pelipis yang ia warnai cokelat tua setiap dua bulan. Aku melihat sisa pewarna itu, cokelat kemerahan di akar rambut. Matanya cokelat. Cokelat yang sama dengan mataku. Aku tidak tahu itu. Aku tidak pernah tahu mataku dan matanya sama warnanya. Bibirnya dipoles lipstik yang merah bata, warna yang ia pakai setiap hari selama yang kuingat, dan aku tidak pernah tahu itu merah bata. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, cokelat tua. Lesung di dagunya membuat bayangan kecil yang, dalam cahaya lampu ruang makan, berwarna kebiruan.
Aku melihat semuanya. Setiap warna. Wajah yang sudah kulihat setiap hari selama tiga puluh satu tahun dan tidak pernah benar-benar kulihat sejak umur delapan.
Ibuku menatapku balik. Ia sepertinya tahu, entah bagaimana, apa yang sedang kulakukan. Ia tidak bergerak. Ia membiarkan aku melihat.
“Mata Mama cokelat,” kataku. Suaraku pecah. “Sama kayak mataku.”
Ibuku mulai menangis.
“Lipstik Mama merah bata,” kataku. “Mama pakai itu tiap hari. Aku nggak tahu. Aku nggak pernah tahu.”
“Arie...”
“Ada tahi lalat di bawah mata kiri Mama. Cokelat tua. Aku tahu ada di situ, aku selalu lihat bentuknya. Tapi aku nggak tahu warnanya.” Aku menelan sesuatu yang besar. Aku tidak bisa menelannya. “Ma, maaf. Maaf, aku lupa. Aku lupa warna muka Mama. Aku coba ingat, bertahun-tahun, dan aku nggak bisa. Dan sekarang aku...”
Aku tidak bisa menyelesaikannya.
Ibuku berdiri. Kursinya berderit keras di lantai. Ia mengitari meja, cepat, dan berlutut di sebelah kursiku, dan memeluk kepalaku ke bahunya.
Aku tidak melepas tangan Sabrina. Aku tidak bisa. Aku memeluk ibuku dengan satu tangan dan menggenggam tangan Sabrina dengan tangan yang lain, dan aku menangis di bahu ibuku seperti anak delapan tahun yang baru keluar dari ruang operasi di Singapura.
Kebaya ibuku hijau. Hijau daun pisang. Aku menangis di bahu yang hijau.
“Kamu nggak perlu minta maaf,” isak ibuku di rambutku. “Kamu nggak pernah perlu minta maaf, Nak. Nggak pernah.”
Aku tidak tahu berapa lama kami seperti itu.
Ketika akhirnya ibuku melepaskanku, matanya merah dan bengkak dan lipstik merah batanya sudah luntur di sudut bibir. Ia menatap Sabrina, yang duduk diam di sebelahku dengan tangan di tanganku dan pipi yang basah, dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Sabrina juga. Lama. Sangat lama.
“Terima kasih,” bisik ibuku ke rambut Sabrina. “Terima kasih, Nak. Terima kasih.”
Sabrina tidak menjawab. Bahunya bergetar.
Lalu aku menyadari kursi di ujung meja kosong.
Koran ayahku tergeletak di sana, terlipat rapi. Gelasnya yang biru masih setengah penuh.
Aku menoleh ke pintu kaca yang menghadap halaman.
Ayahku berdiri di dekat kolam ikan. Membelakangi rumah. Seperti dulu. Seperti selalu.
Tapi kali ini, dalam warna, karena tangan Sabrina masih di tanganku, aku melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat dalam abu-abu. Bahu ayahku bergetar. Tangannya tidak di saku. Satu tangannya menutupi wajahnya. Tangan yang lain menggenggam sesuatu di dada.
Aku tidak bisa melihat apa itu. Terlalu jauh.
“Papamu,” kata ibuku pelan, mengikuti pandanganku. Suaranya berubah. Lebih hati-hati. “Biarkan dulu, Arie. Papamu... Papamu butuh waktu.”
“Papa nangis?”
Ibuku tidak menjawab.
Dua puluh tiga tahun, aku tidak pernah melihat ayahku menangis. Tidak di Singapura. Tidak saat aku pulang dengan perban. Tidak saat dokter terakhir bilang permanen. Ayahku hanya berdiri di dekat kolam, membelakangi kami, dan diam.
Sekarang bahunya bergetar.
Aku mulai berdiri.
Tangan Sabrina menahanku. Pelan.
“Biar aku,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kamu sama Mama dulu,” katanya, dan tersenyum, senyum yang basah. “Kamu baru lihat muka Mama. Lihat lagi. Lihat yang lama. Aku ke Papa.”
Ia melepas tanganku.
Warna tidak langsung pergi. Ibuku tetap berwarna di sebelahku, merah bata yang luntur, kebaya hijau, mata cokelat yang sama dengan mataku. Sabrina berjalan ke pintu kaca dalam warna. Membukanya. Keluar ke halaman. Rumput hijau. Kolam ikan dengan air yang kehijauan dan ikan-ikan koi yang ternyata oranye dan putih dan merah. Ayahku dengan kemeja biru tua.
Aku menoleh kembali ke ibuku.
Ibuku masih menatapku. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipiku, pelan, seperti waktu aku kecil.
“Lihat yang lama,” katanya, mengulang kata-kata Sabrina, dan tertawa kecil di tengah tangisnya. “Mama sudah tua, Arie. Banyak keriputnya.”
“Aku nggak peduli.”
“Lipstiknya luntur.”
“Merah bata,” kataku. “Masih merah bata.”
Ia tertawa lagi. Dan aku melihatnya, dalam warna yang perlahan memudar, sepuluh, lima belas menit, sampai akhirnya merah bata itu jadi abu-abu lagi dan mata cokelat itu jadi gelap lagi. Tapi aku sudah tahu. Aku tidak akan lupa lagi.
Sabrina berdiri di sebelah ayahku di tepi kolam selama dua puluh menit.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Pintu kaca tertutup, dan mereka bicara pelan. Aku hanya melihat dari ruang makan, dalam abu-abuku sekarang, dua sosok di tepi kolam: ayahku yang tinggi dan Sabrina yang kecil. Ayahku tidak lagi membelakangi rumah. Ia menghadap Sabrina. Ia bicara. Sabrina mendengarkan, lalu bicara. Lalu ayahku menunduk lama. Lalu Sabrina mengulurkan tangannya, dan ayahku, Gunawan Harriman, yang tidak pernah memelukku sejak umur delapan, menggenggam tangan itu dengan dua tangannya.
Lalu Sabrina kembali ke dalam. Matanya merah. Sangat merah.
“Papamu,” katanya, duduk di sebelahku. Suaranya serak. “Papamu nanya soal Eyang.”
“Eyang?”
“Iya.” Ia menatap tangannya sendiri di pangkuan. “Ternyata Papamu dulu pernah... ketemu Eyang. Urusan proyek. Lama sekali.”
“Ayahku kenal Eyang?”
“Dulu.” Ia menatapku. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang besar dan basah dan disimpan rapat. “Papamu titip salam buat Eyang.”
Aku menatap ke luar, ke ayahku yang sekarang duduk di bangku batu di tepi kolam, dengan kepala menunduk dan sesuatu di tangannya.
Urusan proyek. Ayahku punya ribuan urusan proyek. Wajar kalau salah satunya pernah bertemu Eyang. Bogor tidak jauh.
Aku tidak menyambungkannya. Tidak hari itu.
“Papa pegang apa?” tanyaku.
Sabrina diam sebentar. Lalu ia berkata, pelan: “Foto. Foto kamu waktu kecil.”
Saat kami pamit sore itu, ayahku berdiri di pintu depan.
Ia tidak memelukku. Ia tidak pernah memelukku. Tapi ia menatapku lama, lebih lama dari biasanya, dan matanya merah.
“Arie,” katanya.
“Pa.”
Ia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Aku melihatnya mencari kata, persis seperti aku mencari kata. Aku tidak pernah sadar betapa miripnya kami.
“Jaga dia baik-baik,” katanya akhirnya.
Lalu ia berbalik dan masuk ke rumah.
Di mobil, Sabrina tidak langsung bicara. Ia memasang sabuk pengaman, lalu menatap jendela, lalu tiba-tiba memutar badan dan memelukku. Dari samping. Canggung, karena sabuk pengaman dan konsol tengah dan setir. Kepalanya di bahuku, tangannya melingkari punggungku dari belakang.
“Kamu kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa,” katanya ke bahuku. “Aku cuma mau peluk kamu.”
Aku tidak bertanya lagi. Aku memeluknya balik, sebisanya, di mobil yang terparkir di carport rumah orang tuaku, dengan mata yang masih bengkak dan dada yang masih penuh dengan warna wajah ibuku.
Dari jendela ruang tengah, aku melihat ibuku melambai. Dan di belakangnya, samar, ayahku. Tidak melambai. Hanya berdiri. Menatap kami.
Aku tidak tahu apa yang ia bicarakan dengan Sabrina di tepi kolam. Aku tidak bertanya. Aku pikir aku akan tahu nanti, kalau sudah waktunya.
Aku tidak tahu waktunya akan datang secepat itu.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu reading
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari