← Abu-Abu, Kecuali Kamu

Chapter Two

Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya

POV: Sabrina

“Dia jatuhin cangkir,” kataku untuk ketiga kalinya.

Tari, yang sedang duduk bersila di kasur kosku sambil mengunyah keripik singkong, mengangguk dengan sabar seperti terapis yang dibayar per jam. “Iya. Cangkir. Jatuh. Terus?”

“Terus dia lihatin aku kayak...” Aku memeluk bantal, mencari kata yang pas. “Kayak aku ini barang lelang. Kayak dia lagi nawar aku dalam hati. Terus dia lihatin tangannya sendiri. Lama. Kayak tangannya habis nyentuh setrika.”

“Mungkin tanganmu emang panas.”

“Tanganku dingin! Aku baru kehujanan!” Aku melempar bantal ke arahnya. Ia menangkapnya tanpa melepas keripik. “Terus tiba-tiba dia bilang ‘Proyeknya saya ambil.’ Padahal satu menit sebelumnya dia udah nolak aku. Halus, sopan, tapi jelas nolak. ‘Ada studio lain yang lebih cocok.’ Aku udah berdiri, udah pamit, udah siap nangis di ojol.”

“Kamu emang suka nangis di ojol.”

“Itu bukan intinya, Tar.”

Lestari Wening, sahabatku sejak SMA, teman sekamar kos sejak kuliah, dan editorku sejak buku pertamaku terbit, menelan keripiknya dan menatapku dengan wajah yang terlalu tenang. Wajah itu berbahaya. Itu wajah yang sama yang ia pasang sebelum menyuruhku merevisi tiga belas halaman ilustrasi karena “ekspresi kelincinya kurang yakin”.

“Bina,” katanya. Hanya dia dan Eyang yang memanggilku begitu. “Coba ulang. Pelan-pelan. Dari pas kamu masuk.”

Jadi aku mengulang.

Aku cerita soal ojol yang nyasar, payung yang patah, dan bagaimana aku masuk ke studio itu seperti kucing yang habis tercebur got. Studionya cantik dengan cara yang membuatku merasa kotor: semuanya putih, abu-abu, dan hitam, lantainya mengilap, dindingnya polos, dan bahkan tanaman di pojok ruangan pun daunnya terlihat terlalu tertib. Asistennya baik banget, pakai kemeja motif bunga yang ramai sekali, dan memberiku handuk dari entah mana.

Lalu dia.

“Arie Harriman,” kata Tari, sudah membuka ponsel dan mengetik. “Tiga puluh satu tahun. Principal architect. Pernah masuk daftar tiga puluh arsitek muda paling berpengaruh. Hmm. Fotonya...” Ia memperbesar layar dan bersiul. “Bina.”

“Aku tahu.”

“Bina, ini?”

“Aku tahu, Tar.”

“Kamu nggak bilang dia kayak model iklan jam tangan.”

“Aku lagi ngomongin cangkirnya!”

Tari memutar ponselnya ke arahku. Foto profil dari sebuah artikel majalah: Pak Arie berdiri di depan dinding beton, kemeja putih lengan digulung, satu tangan di saku, menatap kamera tanpa senyum. Rahangnya tegas. Rambutnya pendek dan rapi. Kacamata tipis. Ia terlihat seperti orang yang menyetrika kaus kakinya sendiri.

Dan entah kenapa, aku teringat matanya tadi siang.

Bukan saat ia menolakku. Saat sesudahnya. Saat tangan kami bersentuhan dan ia menatapku seperti... aku tidak tahu. Aku sudah dua puluh tujuh tahun menggambar ekspresi wajah, dan aku tidak punya nama untuk ekspresi itu. Kalau harus menggambarnya, aku akan menggambar anak kecil yang melihat laut untuk pertama kali. Mulut sedikit terbuka. Mata yang tidak berkedip. Seperti ia takut kalau berkedip, semuanya hilang.

“Kenapa kamu senyum-senyum?” tanya Tari curiga.

“Nggak.”

“Kamu senyum-senyum.”

“Aku lagi mikirin kuda-kuda atap yang dimakan rayap.”

“Bohong. Pipimu merah.”

“Pipiku selalu merah, Tar, itu genetik.”

Itu benar, sayangnya. Pipiku gampang sekali merah. Merah kalau malu, merah kalau marah, merah kalau kepedasan, merah kalau kepanasan, merah kalau ada orang bilang aku cantik. Eyang bilang itu turunan dari ibuku. Tari bilang itu kutukan. Para pembaca bukuku, yang kebanyakan anak umur lima tahun, tidak peduli.

“Oke,” kata Tari, meletakkan ponsel. “Biar aku simpulkan. Arsitek ganteng, dingin, dan terkenal karena benci warna, menolak proyekmu. Lalu dia jabat tanganmu. Lalu dia jatuhin cangkir, pucat, lihatin tangannya, dan langsung terima proyekmu yang warnanya kayak pasar malam. Begitu?”

“...Begitu.”

Tari mengangguk pelan, khidmat. “Dia naksir kamu.”

“Tar.”

“Love at first touch. Itu genre, Bina. Aku editor. Aku tahu genre.”

“Dia nggak naksir aku. Dia kelihatan kayak orang yang lihat hantu.”

“Hantu yang cantik.”

Aku menutup wajah dengan bantal dan berteriak ke dalamnya. Tari tertawa sampai keripiknya tumpah ke kasur.


Malamnya, setelah Tari kembali ke kamarnya sendiri di sebelah, aku duduk di meja gambar dan mencoba menyelesaikan halaman dua belas buku baruku, Kiko dan Payung yang Lupa Pulang. Kiko seekor kelinci. Payungnya kabur karena bosan dipakai di hari hujan. Di halaman dua belas, Kiko harus menemukan payung itu sedang duduk di atas pelangi.

Aku mewarnai pelanginya pelan-pelan. Merah di luar. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Ungu di dalam.

Lalu, seperti di setiap gambarku, aku menggambar matahari kecil di pojok kanan bawah. Lingkaran kuning dengan tujuh garis sinar pendek. Itu tanda tanganku. Penerbit sempat memintaku menggantinya dengan nama, tapi aku menolak. Matahari kecil itu sudah ada di gambarku sejak aku belum bisa menulis. Eyang bilang, waktu kecil aku menggambar matahari di setiap benda: di dinding, di meja, di betis Eyang yang sedang tidur. Kalau ditanya kenapa, aku selalu jawab, “Biar yang lihat nggak kedinginan.”

Aku tidak ingat pernah bilang begitu. Tapi aku percaya saja.

Ponselku bergetar.

Email. Dari studio@harriman.id. Subjek: Proyek Renovasi Rumah Jalan Kenari — Konfirmasi dan Jadwal.

Aku duduk tegak.

Yth. Ibu Sabrina Mahadewi,

Terima kasih atas kunjungan Anda hari ini. Studio Harriman dengan senang hati menerima proyek renovasi rumah di Jalan Kenari, Bogor. Terlampir draf kontrak kerja dan estimasi tahapan.

Kami mengusulkan survei lokasi pertama pada hari Sabtu, pukul sembilan pagi.

Sebagai catatan khusus: selama masa perencanaan dan konstruksi, kami meminta survei lapangan dilakukan bersama setiap minggu, dan kehadiran Anda secara langsung bersifat wajib.

Hormat kami, Arie Harriman Principal Architect

Aku membacanya dua kali. Lalu tiga kali.

Kehadiran Anda secara langsung bersifat wajib.

Bersifat. Wajib.

Siapa yang menulis kalimat seperti itu di email klien? Kenapa harus aku yang datang setiap minggu? Aku bisa kirim Eyang, kan. Eyang tinggal di sana. Eyang bahkan lebih cerewet soal rumah itu daripada aku.

Aku menggulir ke bawah. Ada satu baris lagi, dengan huruf yang lebih kecil, seperti ditambahkan belakangan oleh orang lain:

P.S. Mohon maaf soal cangkir tadi. Bos saya baik-baik saja. Kayaknya. — Jojo

Aku tertawa keras sampai Tari mengetuk dinding dari kamar sebelah.

Aku membalas email itu dengan sopan. Terima kasih, Sabtu jam sembilan bisa, alamat lengkap terlampir. Lalu, karena aku tidak bisa menahan diri, aku menambahkan satu kalimat: Boleh tahu kenapa kehadiran saya wajib, Pak? Nenek saya tinggal di sana dan jauh lebih galak soal rumah itu daripada saya.

Aku menekan kirim dan langsung menyesal. Terlalu santai. Terlalu sok akrab. Ini orang yang menyebut warna sebagai “tamu yang tidak diundang”.

Dua puluh menit kemudian, bukan email yang masuk. WhatsApp. Nomor tak dikenal, foto profilnya dinding beton polos.

Selamat malam. Ini Arie, dari Studio Harriman. Maaf menghubungi lewat nomor pribadi. Soal pertanyaan Anda: ada hal-hal yang perlu saya lihat langsung, dan hanya bisa saya lihat kalau Anda ada di sana.

Aku membacanya tiga kali. Kalimatnya sopan, rapi, dan sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.

Hal-hal apa, Pak? ketikku.

Detail. Rumah lama banyak detailnya.

Eyang saya juga bisa nunjukin detail, Pak. Dia hafal letak setiap retakan. Dia bahkan kasih nama ke retakannya.

Lama tidak ada balasan. Tanda mengetik... muncul, hilang, muncul lagi, hilang lagi. Aku membayangkan ia duduk di apartemen yang pasti serba abu-abu, menatap ponsel dengan dahi berkerut seperti sedang menghitung beban struktur.

Lalu, entah setan mana yang lewat, jariku bergerak sendiri.

Atau Bapak memang suka megang tangan klien, ya?

Terkirim.

Aku menatap layar dengan ngeri. Centang dua. Langsung biru. Aku menekan tahan pesan itu untuk menghapusnya, tapi sudah terlambat. Ia sudah membacanya. Tanda mengetik... muncul lagi dan bertahan lama sekali, cukup lama untuk membuatku menggigit ujung bantal.

Tidak.

Satu kata. Lalu, satu menit kemudian:

Hanya yang tangannya dingin.

Aku melempar ponsel ke kasur seperti benda itu baru saja menggigitku. Lalu memungutnya lagi, karena ada satu pesan lagi.

Selamat malam, Sabrina. Sabtu jam sembilan. Jangan lupa bawa payung yang tidak patah.

Aku menatap pesan itu lama. Dia ingat payungku patah. Dia bahkan memanggilku Sabrina, tanpa Ibu, tanpa Mbak. Hanya di WhatsApp, hanya sekali, tapi tetap saja.

Aku tidak membalas. Aku tidak bisa. Aku sibuk menutup wajah dengan kedua tangan dan berguling di kasur seperti anak SMP.


Aku berbaring sudah lewat tengah malam, tapi belum mengantuk.

Aku membuka artikel yang tadi diperlihatkan Tari. Judulnya Harriman Grey: Arsitek yang Tidak Butuh Warna. Aku membaca separuh, lalu menyesal. Isinya pujian yang membuatku semakin takut: palet monokrom yang konsisten, penolakan terhadap dekorasi, ruang yang membiarkan cahaya bicara. Ada foto-foto karyanya. Kafe di Senopati: abu-abu. Rumah di Bintaro: putih dan abu-abu. Kantor di Sudirman: hitam, abu-abu, dan kaca.

Di paragraf terakhir, penulisnya bertanya apakah suatu hari Pak Arie akan mencoba palet yang lebih berani. Jawabannya dikutip pendek: Warna bukan bahasa saya.

Aku menatap langit-langit.

“Orang ini,” kataku keras-keras ke kamar yang kosong, “mau ngecat rumahku abu-abu, ya?”

Aku membayangkan rumah Eyang dengan dinding semen polos dan kusen hitam. Membayangkan kamar lamaku, yang dulu kuning terang dengan stiker bintang di langit-langit, berubah jadi ruang tunggu klinik gigi. Aku membayangkan Eyang melihatnya dan langsung memukul Pak Arie dengan sapu lidi.

Lalu, tanpa izin dariku, kepalaku memutar ulang jabat tangan tadi siang.

Tangannya hangat. Itu yang pertama kuingat. Tanganku dingin karena hujan, dan tangannya hangat, besar, dan kering. Genggamannya bukan genggaman orang yang sedang berbasa-basi. Ada sesuatu yang lain. Seperti ia berpegangan.

Dan matanya.

Aku memejamkan mata dan melihatnya lagi: kacamata yang sedikit melorot, alis yang tiba-tiba terangkat, mulut yang sedikit terbuka. Ia menatap wajahku, lalu menatap rambutku, lalu menatap telingaku, lalu kembali ke wajahku, cepat sekali, seperti orang yang kehausan tiba-tiba diberi air. Lalu tangan kami lepas, dan semua itu hilang dari wajahnya. Ia pucat. Cangkirnya jatuh.

Bapak kenapa lihatin tangan saya?

Aku tidak menanyakannya tadi. Aku terlalu kaget. Tapi sekarang pertanyaan itu duduk di dadaku dan menolak pergi.

Aku mengangkat tangan kananku ke arah lampu kamar dan memperhatikannya. Biasa saja. Ada noda cat air biru di pinggir jari kelingking yang tidak mau hilang sejak Selasa. Kuku pendek. Kapalan kecil di jari tengah, tempat pensil biasa bertumpu.

Tidak ada yang istimewa dengan tanganku.

Aku menurunkannya dan mendengus. Lalu, karena aku memang manusia yang tidak bisa diajak tenang setelah jam sebelas malam, aku membuka WhatsApp dan mengetik ke grup keluarga yang hanya berisi aku dan Eyang.

Eyang, rumahnya jadi direnovasi. Arsiteknya mau. Sabtu dia survei ke sana.

Eyang, seperti biasa, langsung membalas. Delapan puluh persen orang umur tujuh puluh delapan sudah tidur jam sepuluh. Eyang Ratih adalah dua puluh persen sisanya.

Alhamdulillah. Arsiteknya laki-laki?

Iya, Eyang.

Sudah menikah?

EYANG.

Ditanya kok malah teriak. Sudah menikah belum?

Nggak tahu, Eyang, aku ke sana buat urus rumah, bukan buat taaruf.

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Ya sudah, nanti Eyang tanya sendiri. Bawakan kue lapis dari toko langganan. Arsitek suka yang manis-manis.

Eyang tahu dari mana??

Semua laki-laki suka yang manis-manis. Kamu juga manis. Tidur sana.

Aku menelungkupkan ponsel di dada dan menatap langit-langit lagi. Pipiku panas. Genetik, kataku ke diriku sendiri. Cuma genetik.

Sabtu, pikirku. Survei lapangan. Kehadiran secara langsung bersifat wajib.

Aku tertidur dengan tangan kanan terbuka di atas selimut, telapak menghadap ke atas, seperti menunggu sesuatu.