Chapter Six
Mandor Lapor
POV: Arie
Pak Darto sudah dua puluh tahun jadi mandor, dan menurut pengakuannya sendiri, ia sudah melihat segalanya.
“Saya pernah lihat tukang jatuh dari lantai tiga, Pak, terus berdiri, terus minta kopi,” katanya di hari pertama pekerjaan, sambil mengikat tali helm proyeknya. “Saya pernah lihat pemilik rumah nangis gara-gara kami nemu kuburan kucing di bawah fondasi. Saya pernah lihat ular sanca di plafon. Saya sudah kebal.”
Ia salah. Ia belum melihat semuanya. Ia belum melihat arsitek yang ia hormati, yang selama tiga proyek terakhir tidak pernah tersenyum di lokasi, berdiri di bawah pohon kenari sambil memegang tangan klien selama empat puluh detik.
Minggu kedua bulan itu, pekerjaan di Jalan Kenari resmi dimulai.
Hari pertama untuk struktur atap: membongkar genteng di sayap timur, menurunkan kuda-kuda yang dimakan rayap, dan memasang penopang sementara. Pak Darto membawa enam tukang dan satu truk bambu. Halaman yang tadinya sunyi berubah jadi pasar: palu, gergaji, radio dangdut yang diletakkan di atas tumpukan bata, dan Eyang Ratih yang duduk di teras paviliun dengan termos teh, mengawasi semuanya seperti jenderal.
Aku datang jam tujuh. Sabrina datang jam tujuh lewat lima, dengan kaus kuning dan celana kerja, rambut dicepol dengan pensil seperti biasa. Kali ini pensilnya biru. Jojo yang memberitahuku, dengan bisikan yang lebih mirip laporan cuaca.
“Pensil biru, Bang. Kaus kuning. Kaus kakinya belang-belang, aku nggak bisa lihat jelas warnanya dari sini, tapi kayaknya pelangi. Terus dia pakai lip balm. Kayaknya merah muda. Aku nggak yakin. Abang pegang aja tangannya, biar pasti.”
“Jo.”
“Aku cuma kasih saran profesional.”
Sabrina menyapa Pak Darto dan para tukang satu per satu, menanyakan nama mereka, dan menawarkan kue yang dibawanya dari Jakarta. Dalam lima menit, setengah tim sudah memanggilnya “Mbak Bina” dan yang setengah lagi memanggilnya “Neng”. Pak Darto memanggilnya “Ibu Pemilik”, dengan nada yang sangat hormat, karena katanya pemilik rumah adalah raja.
Lalu ia menghampiriku dengan buku sketsa di tangan.
“Pak, kusen yang di sayap timur mau dicopot juga?”
“Sebagian. Yang lapuk.”
“Bisa tunjukin yang mana aja? Saya mau foto sebelum dicopot. Buat kenang-kenangan.”
Kami berjalan ke sayap timur. Di sana, kusen-kusen jendela tua berjajar dengan cat yang mengelupas. Aku menunjuk satu per satu, menjelaskan mana yang masih bisa diselamatkan dan mana yang harus diganti. Ia memotret semuanya. Lalu ia mengulurkan tangannya ke arahku, telapak menghadap ke atas, dengan wajah yang sangat santai.
“Pak, ada serbuk kayu di mata saya. Tolong lihatin.”
Aku menatap tangannya yang terulur. Lalu menatap wajahnya.
“Mata Anda,” kataku, “bukan di tangan.”
“Oh, iya.” Ia menurunkan tangannya dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. “Kebiasaan.”
Kebiasaan apa? Aku ingin bertanya. Tapi ia sudah mengedip-ngedipkan matanya, lalu mendongak ke arahku, dan aku mencondongkan tubuh untuk melihat. Tidak ada serbuk kayu. Hanya matanya yang besar, bulu matanya yang gelap, dan jarak yang tiba-tiba terlalu dekat.
“Tidak ada apa-apa,” kataku.
“Mungkin sudah keluar.” Ia mundur selangkah. Pipinya berubah. Nilai terangnya turun sedikit. Merah, mungkin. Aku sudah mulai bisa menebak.
Insidennya terjadi siang hari, sesudah makan.
Para tukang sedang istirahat di bawah terpal biru, makan nasi bungkus dari warung ujung jalan. Pak Darto sedang menelepon pemasok bambu. Jojo sedang di mobil, menyalin catatan ukur ke laptop. Aku dan Sabrina berdiri di bawah pohon kenari, membahas rencana teras.
“Lantainya,” katanya, “saya mau tetap tegel. Tapi warnanya, saya masih bingung. Bapak bilang terakota yang agak cokelat. Tapi saya takut kalau digabung sama tiang kayu yang hijau tua, jadinya kayak... bendera.”
“Bendera negara mana?”
“Nggak tahu. Negara yang suka kopi.”
Aku nyaris tertawa. Aku tidak tertawa, tapi sudut bibirku bergerak, dan ia melihatnya. Ia menatap mulutku dengan alis terangkat, seperti baru melihat burung langka hinggap di pagar.
“Bapak barusan senyum?”
“Tidak.”
“Bapak senyum.”
“Saya sedang menghitung beban tiang teras.”
Ia tertawa. Lalu, tanpa peringatan, ia meraih tanganku.
Tidak untuk modus. Aku bisa melihatnya. Ia meraih tanganku dengan cara orang menggandeng anak kecil saat menyeberang jalan, cepat dan praktis, lalu menarikku ke tepi teras.
“Sini, lihat. Kalau dari sini kelihatan.”
Warna menghantamku.
Siang hari di Jalan Kenari, dalam warna, adalah sesuatu yang bahkan sudah empat kali kulihat tetap membuatku lupa bernapas. Terpal biru tempat tukang beristirahat ternyata biru yang sangat terang, biru yang hampir berteriak. Helm proyek Pak Darto kuning. Truk bambu di jalan ternyata merah, merah tua yang kusam. Daun kenari di atas kami hijau yang berkilau karena sisa hujan semalam, dan cahaya yang lolos di sela daunnya jatuh di lantai teras seperti koin-koin emas.
“Nah,” kata Sabrina, menunjuk lantai teras dengan tangan satunya. “Tegel aslinya kan krem sama hijau. Kalau terakota masuk, nanti tabrakan nggak?”
Aku menatap tegel itu. Krem. Hijau pucat dengan motif bunga kecil. Lalu aku membayangkan terakota yang kemarin kulihat di toko Reza, terakota yang agak cokelat, dan aku melihatnya, di kepalaku, utuh, untuk pertama kali dalam hidupku. Aku bisa membayangkan warna.
“Tidak tabrakan,” kataku pelan. “Asal terakotanya hanya di undakan dan pinggiran. Tegel lama tetap di tengah. Krem dan hijau di tengah, terakota membingkai. Seperti...” Aku mencari kata. “Seperti kue lapis Eyang. Tapi dari atas.”
Sabrina menoleh padaku. Matanya berbinar.
“Itu bagus banget, Pak.”
Aku tidak melepas tangannya. Ia juga tidak melepas tanganku. Kami berdiri di tepi teras, menatap lantai, dan aku menghitung dalam kepala. Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh. Empat puluh.
Lalu terdengar suara benda jatuh.
Kami menoleh bersamaan.
Pak Darto berdiri di ujung halaman dengan ponsel masih di telinga dan mulut terbuka. Helm proyeknya jatuh ke tanah. Di belakangnya, enam tukang di bawah terpal berhenti mengunyah secara serempak, seperti paduan suara yang menerima aba-aba.
Hening yang sangat panjang.
Lalu salah satu tukang, yang paling muda, bersiul.
Sabrina melepas tanganku seperti tangan itu baru saja menyala. Warna surut dalam tiga detik: terpal biru jadi abu, helm kuning jadi abu, pipinya jadi abu. Tapi aku tidak butuh warna untuk tahu bahwa pipinya sekarang semerah ayunan di belakang kami.
“Pak Darto,” katanya dengan suara yang terlalu tinggi. “Ini... kami lagi bahas tegel.”
“Iya, Bu,” kata Pak Darto. Ia memungut helmnya. Ia memasangnya kembali di kepala. Ia menatapku. Ia menatap Sabrina. Ia menatap tangan kami yang sekarang terpisah setengah meter. “Tegel.”
“Tegel teras,” tambahku.
“Iya, Pak. Tegel teras.” Ia mengangguk perlahan. Lalu ke ponselnya, dengan suara yang sangat jelas: “Halo, Mas. Nanti saya telepon lagi. Ini ada... urusan internal.”
Urusan internal itu ternyata mencakup seluruh tim.
Setengah jam kemudian, saat aku memeriksa penopang sementara di sayap timur, aku mendengar Pak Darto berbisik di balik tumpukan bambu. Bisikannya tidak terlalu berhasil sebagai bisikan.
“...pegangan tangan, saya lihat sendiri. Lama. Ada setengah menit lebih. Saya hitung.”
“Masa sih, Pak? Pak Arie? Yang kayak robot itu?”
“Robot juga manusia, Jang.”
“Terus gimana, Pak? Kita harus lapor?”
“Lapor ke siapa? Dia kan bosnya. Ibu Pemilik juga bosnya. Dua-duanya bos.” Pak Darto menghela napas panjang, seperti filsuf yang menemukan paradoks. “Bosnya pacaran sama bosnya, Jang. Saya lapor ke siapa ini?”
“Ke Eyang, Pak?”
“Eyang malah senang nanti.”
Aku berdiri di balik dinding dan memejamkan mata.
Dari arah teras paviliun, aku mendengar suara Eyang Ratih, yang ternyata pendengarannya jauh lebih baik dari yang ia akui: “Darto! Siapa pacaran sama siapa?”
Rapat koordinasi sore itu adalah rapat paling tidak nyaman dalam karierku.
Kami duduk di meja kayu panjang di teras paviliun: aku, Jojo, Pak Darto, Sabrina, dan Eyang Ratih, yang tidak diundang tapi duduk di kepala meja dengan teh dan kacamata berantai, seperti ketua majelis.
Aku membuka gambar kerja dan mulai menjelaskan tahapan minggu depan. Pak Darto mencatat dengan serius, tapi setiap kali Sabrina bicara, matanya bergeser ke arahku, lalu ke arahnya, lalu kembali ke catatannya dengan senyum kecil yang ditahan. Seperti penonton sinetron yang tahu siapa yang akan menikah di episode terakhir.
Jojo, di sebelahku, sudah tahu ceritanya dari Pak Darto sendiri. Ia belum berhenti menggigit pipi bagian dalam sejak kami duduk.
“Untuk kusen,” kataku, “kita pakai cat yang sudah dipesan dari toko Reza. Pak Darto, catnya sudah datang?”
“Sudah, Pak. Lima kaleng. Ada di gudang. Tukang mau mulai amplas besok, jadi mau dicat lusa.” Ia menunjuk dua kaleng yang ditaruh di ujung meja sebagai contoh. “Ini yang dua jenis, Pak. Mana yang buat kusen?”
Dua kaleng. Ukurannya sama. Tutupnya sama-sama diberi setetes cat di atasnya sebagai penanda, dan dalam abu-abuku, dua tetes itu memiliki nilai terang yang hampir sama persis. Satu agak lebih gelap. Atau mungkin aku salah. Labelnya menghadap ke belakang.
Jojo sedang menunduk ke laptopnya.
“Yang kanan,” kataku, yakin. Kusen hijau tua, gelap. Yang kanan lebih gelap.
Hening.
“Yang kanan, Pak?” Pak Darto mengerutkan dahi. “Itu kan merah. Merah marun. Buat pintu gudang, kata Mbak Bina kemarin.”
Jojo mengangkat kepala terlalu cepat.
Di seberang meja, Sabrina menatapku. Bukan dengan curiga. Lebih buruk. Dengan bingung yang lembut, seperti saat ia memperhatikanku di toko cat.
“Maksud saya kanan dari posisi Pak Darto,” kataku. Suaraku datar sempurna. Dua puluh tiga tahun latihan. “Dari sisi saya, berarti yang kiri.”
“Oh.” Pak Darto menatap kedua kaleng itu, lalu menatap posisi duduknya, lalu menatapku. “Kan Bapak duduk di sebelah saya, Pak.”
Ia benar. Kami duduk berdampingan. Kanan dari posisinya sama dengan kanan dari posisiku.
Jojo menjatuhkan pulpennya ke lantai dengan sangat keras. “Aduh. Maaf. Pulpen. Licin.” Ia membungkuk untuk memungutnya, lalu berbisik saat kepalanya sejajar dengan pinggangku, “Kiri, Bang. Hijau yang kiri. Ya Tuhan.”
“Pak Arie capek kali,” kata Eyang Ratih tiba-tiba, dari kepala meja. “Dari pagi berdiri di bawah matahari. Wajar salah lihat.”
“Iya, Eyang,” kataku, dan untuk pertama kali aku bersyukur atas keberadaan nenek yang suka menjodohkan.
“Makanya,” lanjut Eyang, sambil menyeruput teh dengan tenang, “kalau capek jangan pegangan tangan setengah jam di bawah pohon. Darto sudah cerita.”
Pak Darto tersedak tehnya sendiri.
Sabrina menelungkupkan wajahnya di atas buku sketsa.
Jojo, yang baru saja duduk kembali, menjatuhkan pulpennya untuk kedua kalinya.
Rapat bubar lima belas menit kemudian. Semua orang punya alasan mendadak untuk pergi: Pak Darto harus mengecek bambu, Jojo harus mengecek mobil, Eyang harus mengecek ikan di kolam yang, sejauh yang kuketahui, tidak ada.
Tinggal aku dan Sabrina di meja.
Ia mengangkat wajahnya dari buku sketsa pelan-pelan. Pipinya masih gelap. Ia menatapku dengan mata yang setengah menyipit, dan aku tidak bisa membaca apakah itu marah atau malu atau sesuatu yang lain.
“Pak,” katanya.
“Ya.”
“Tadi siang saya cuma narik Bapak buat lihat tegel.”
“Saya tahu.”
“Saya nggak maksud apa-apa.”
“Saya tahu.”
“Terus kenapa Bapak nggak lepas?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap kaleng-kaleng cat di ujung meja. Dua kaleng yang dalam mataku hampir kembar.
Lalu, karena aku tidak punya alasan nomor delapan, karena aku capek, karena hari itu panjang, aku mendengar diriku sendiri bertanya:
“Kaleng yang kiri. Warnanya apa?”
Sabrina mengerjap. Ia menoleh ke kaleng-kaleng itu, lalu kembali padaku. “Hijau tua. Kayak kusen. Bapak kan yang pilih kemarin.”
“Yang kanan?”
“Merah marun.” Ia memiringkan kepalanya. “Bapak kenapa nanya? Bapak lihat sendiri, kan?”
Aku menatap kedua tetes cat itu. Abu-abu. Abu-abu yang sedikit lebih gelap.
“Mataku capek,” kataku. “Eyang benar.”
Ia diam lama. Aku bisa merasakan matanya di wajahku, mencari sesuatu. Lalu, pelan, ia mendorong kaleng yang kiri sedikit ke arahku dengan ujung jarinya.
“Hijau,” katanya. “Ini hijau, Pak. Buat kusen.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.” Ia berdiri dan memeluk buku sketsanya. Di tangga teras, ia berhenti dan menoleh. “Pak Arie.”
“Ya?”
“Lain kali, kalau mata Bapak capek,” katanya, sangat pelan, “Bapak bisa tanya saya. Nggak usah pura-pura.”
Lalu ia pergi, kaus kuningnya yang tidak bisa kulihat menghilang di balik pohon kenari.
Aku duduk di meja itu sampai matahari turun, menatap kaleng yang kiri.
Hijau, katanya. Aku tahu itu hijau. Aku sudah melihatnya kemarin, dalam warna, saat tangannya ada di tanganku.
Yang membuatku tidak bisa beranjak bukan kalengnya.
Yang membuatku tidak bisa beranjak adalah nggak usah pura-pura. Dua puluh tiga tahun, dan tidak ada satu pun orang di luar keluargaku dan Jojo yang pernah melihat bahwa aku sedang berpura-pura.
Ia melihatnya dalam tiga minggu.
- 1 Harriman Grey
- 2 Bapak Kenapa Lihatin Tangan Saya
- 3 Jalan Kenari
- 4 Alasan Nomor Satu Sampai Tujuh
- 5 Katalog Cat
- 6 Mandor Lapor reading
- 7 Tiga Detik
- 8 Kayaknya Bapak Naksir Saya
- 9 Rahasia Dua Puluh Tiga Tahun
- 10 Pasal Tiga: Durasi Pegangan
- 11 Vendor Cat
- 12 Warnanya Apa?
- 13 Makan Siang Keluarga
- 14 Wajah
- 15 Anak Pak Harriman
- 16 Kejutan untuk Nanti
- 17 Hujan Bogor
- 18 Warna Lain Bonus
- 19 Kamu Hari Ini Warnanya Apa
- 20 Berapa Detik Kamu Tahan
- 21 Proposal Desain
- 22 Pegang Dulu
- 23 Wajah Ibu
- 24 Stopwatch
- 25 Pameran
- 26 Dinding Pertama
- 27 Pagi
- 28 Krayon Kuning
- 29 Hal yang Tidak Diucapkan
- 30 Keceplosan
- 31 Warnanya Apa
- 32 Selotip Label
- 33 Matahari di Dinding
- 34 Serah Terima
- 35 Bukan Utang
- 36 Abu-Abu, Kecuali Kamu
- 37 Epilog — Setengah Hari