Chapter Nine
Satu Payung
POV: Kirana
Aku selalu membawa payung.
Bukan karena aku suka hujan. Aku tidak suka hujan, karena hujan tidak bisa dijadwalkan. Tapi aplikasi cuaca bisa dibaca, dan aplikasi cuaca hari Kamis itu bilang kemungkinan hujan delapan puluh persen setelah pukul empat sore. Jadi di dalam tasku, di samping planner, ada payung lipat berwarna biru tua dengan pegangan kayu. Payung itu sudah menemaniku sejak semester satu dan belum pernah rusak, karena aku selalu melipatnya sesuai garis lipatan.
Pukul lima kurang lima, perpustakaan lantai tiga mendadak gelap. Awan di luar jendela sudah menghitam sejak setengah jam lalu, menelan pohon ketapang pelan-pelan.
Lalu hujan turun.
Bukan hujan yang sopan, yang diawali gerimis sebagai pemberitahuan. Ini hujan Bandung yang langsung tumpah seperti ember raksasa yang tersenggol dari langit. Kaca jendela bergetar. Mahasiswa di meja-meja lain mengeluh serempak, seperti paduan suara yang kompak dalam penderitaan.
Di meja empat belas, Rendra menatap jendela dengan ekspresi orang yang baru ingat meninggalkan kompor menyala.
Aku tahu ekspresi itu. Itu ekspresi orang yang tidak membawa payung.
Tentu saja ia tidak membawa payung. Rendra Mahesa adalah orang yang hafal nomor bangku ujian tiga tahun lalu, tapi tidak pernah melihat prakiraan cuaca.
Kami turun ke lobi perpustakaan pada waktu yang hampir bersamaan. Aku yakin itu hampir kebetulan. Lobi penuh mahasiswa yang terjebak, berdiri berderet di depan pintu kaca seperti ikan dalam akuarium yang menunggu air surut.
Rendra berdiri di ujung deretan, tasnya dipeluk di dada. Ia menatap hujan dengan kesabaran seseorang yang siap menunggu sampai tahun depan.
Aku berdiri di sebelahnya dan mengeluarkan payung biru tua dari tas.
Ia melirik payung itu. Lalu melirikku.
“Prakiraan cuaca,” kataku sebelum ia bertanya. “Delapan puluh persen.”
“Kamu baca prakiraan cuaca.”
“Setiap pagi. Jam enam. Sebelum sarapan.”
“Tentu saja,” katanya.
Aku membuka payung. Payungku cukup lebar untuk satu orang dewasa dan satu tas. Tidak cukup untuk dua orang dewasa, apalagi kalau salah satunya setinggi Rendra.
“Kamu ke arah Gang Kenari?” tanyaku.
“Iya.”
“Aku ke arah jalan raya. Lewat gerbang belakang.”
“Gerbang belakang itu arah Gang Kenari.”
“Aku tahu.”
Kami saling menatap. Hujan terus mengguyur di luar, tidak peduli sama sekali pada dua orang yang sedang berusaha tidak mengatakan hal yang jelas.
“Kamu mau bareng?” tanyaku akhirnya. Lalu, karena kalimat itu terdengar terlalu jujur, aku buru-buru menambahkan, “Secara logistik lebih efisien. Satu payung, dua orang, satu rute.”
Rendra menatap payungku. Lalu wajahku.
“Secara logistik,” ulangnya.
“Iya.”
Ia mengulurkan tangan. “Aku yang pegang.”
“Kenapa kamu?”
“Karena kalau kamu yang pegang, payungnya bakal ada di kepalamu dan air hujan bakal ada di kepalaku.”
Itu masuk akal secara fisika. Aku menyerahkan payung itu.
Kami berjalan keluar dari lobi, dan dunia langsung menyempit menjadi sebuah lingkaran biru tua dengan diameter kira-kira satu meter.
Di luar lingkaran itu ada hujan, genangan, dan angin yang membawa bau tanah basah. Di dalamnya ada aku, Rendra, dan bahu kami yang terpaksa bersentuhan karena satu meter ternyata sangat sempit untuk dua orang.
Aku bisa mendengar suara hujan di atas kain payung, seperti ribuan jari yang mengetuk-ngetuk atap. Aku bisa mendengar langkah kaki kami di jalan setapak yang basah. Dan aku bisa mendengar sesuatu yang lebih keras dari keduanya. Aku cukup yakin itu jantungku, dan aku berdoa itu tidak terdengar sampai keluar payung.
Setelah dua puluh langkah, aku menyadari sesuatu.
Payung itu miring.
Sedikit, tapi konsisten, condong ke arahku. Kepalaku kering, bahuku kering, tasku kering. Sementara bahu kiri Rendra, yang berada di sisi luar, sudah basah kuyup sampai kaus abu-abunya berubah jadi abu-abu gelap.
“Payungnya miring,” kataku.
“Anginnya dari kanan.”
“Anginnya dari depan.”
“Anginnya berubah-ubah.”
“Bahumu basah.”
“Bahuku tahan air.”
“Bahu manusia nggak tahan air.”
“Bahuku spesial.”
Aku menarik pegangan payung dengan tanganku, mencoba meluruskannya ke tengah. Tangannya tidak bergeser sedikit pun. Sekarang tangan kami berdua memegang pegangan kayu yang sama, jariku di atas jarinya, dan payung itu tetap miring ke arahku dengan keras kepala.
“Lepas,” katanya.
“Kamu yang lepas.”
“Kita sudah pernah main ini di gudang.”
“Dan aku menang.”
“Kamu menang karena Ibu teriak soal pisang goreng.”
Aku menoleh padanya, siap membalas. Tapi aku melihat wajahnya dari samping, sangat dekat, dengan tetes-tetes air di ujung rambutnya yang jatuh satu per satu ke bahu yang basah. Balasanku hilang, terbawa arus air di selokan.
Aku melepaskan tanganku dari pegangan payung.
Tapi aku bergeser sedikit, lebih dekat ke arahnya, supaya payung itu bisa berdiri lebih tegak tanpa aku keluar dari lingkarannya.
Bahu kami sekarang menempel sepenuhnya.
Rendra tidak berkomentar. Tapi payung itu, pelan-pelan, bergeser sedikit ke tengah.
Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya dengan satu tangan, melindunginya dari cipratan dengan tubuhku.
Kak Kirana! Hujan deres banget!! Kakak bawa payung kan?? Jangan sampai basah ya Kak, nanti masuk angin 🥺 Kalau nggak bawa, aku bisa jemput pakai jas hujan Ayah. Jas hujannya kuning, kayak nelayan hehe
Aku menatap pesan itu, lalu menatap bahu kiri Rendra yang basah karena payungku.
Aku mengetik: Bawa kok. Kamu juga jangan basah.
Aku di kos! Aman! Lagi makan mi rebus sambil baca novel yang bikin nangis itu 😭
Aku mengunci layar dan memasukkan ponsel kembali ke saku.
“Siapa?” tanya Rendra.
“Sasa.”
Langkahnya tidak berhenti, tapi aku merasakan bahunya menegang sedikit di bahuku.
“Dia nanya aku bawa payung atau nggak,” kataku. “Dia mau jemput pakai jas hujan kuning ayahnya kalau aku nggak bawa.”
Rendra diam lama. Genangan di depan kami beriak ditimpa hujan.
“Jas hujan kuning itu,” katanya akhirnya, pelan, “kebesaran di badannya. Dia kelihatan kayak pisang berjalan.”
Aku menoleh.
Kamu pernah lihat dia pakai jas hujan ayahnya?
Pertanyaan itu sudah sampai di ujung lidahku, tapi aku menelannya. Kalau aku menanyakannya, aku harus menanyakan semuanya. Dan kalau aku menanyakan semuanya, aku harus menjelaskan kenapa aku ingin tahu. Menjelaskan itu berarti membuka planner kulit cokelat, dan aku tidak sanggup membukanya di bawah payung yang terlalu sempit ini.
“Dia anak baik,” kataku. Kalimat yang sama seperti di Gang Kenari minggu lalu.
“Aku tahu,” jawab Rendra. Juga kalimat yang sama.
Kami berjalan dalam diam sampai gerbang belakang kampus.
Di mulut Gang Kenari, hujan berubah dari deras menjadi sangat deras. Air mengalir di sepanjang gang seperti sungai kecil. Genangan di tengah jalan sudah setinggi mata kaki, dan payung biru tuaku mulai kalah melawan angin yang datang dari segala arah.
“Tunggu di toko,” kata Rendra. “Sampai reda.”
“Aku bisa lanjut ke jalan raya. Tinggal lima puluh meter.”
“Lima puluh meter di hujan kayak gini, kamu sampai di angkot dalam bentuk sup.”
Kami berlari kecil menyusuri gang, lalu berhenti di bawah teras sempit Toko Buku Mahesa. Terasnya hanya selebar satu meter dengan atap seng yang berisik seperti drum band. Rendra melipat payungku dengan gerakan yang terlalu rapi untuk orang yang basah kuyup. Ia melipatnya sesuai garis lipatan. Aku melihatnya dan tidak mengatakan apa-apa.
Pintu toko terkunci. Di balik kaca, lampu kuning menyala, tapi Bu Ratna tidak kelihatan.
“Ibu ke pengajian,” kata Rendra, mengecek ponselnya. “Kuncinya di aku. Tapi...”
Ia merogoh saku jaket. Saku celana. Saku tas. Lalu berhenti dengan wajah kosong.
“Kuncinya di laci meja perpustakaan,” katanya.
“Di perpustakaan.”
“Di laci meja empat belas.”
“Kamu hafal nomor bangkuku tiga tahun lalu, tapi lupa kunci rumahmu sendiri.”
“Aku hafal hal-hal yang nggak penting,” katanya, datar. “Kunci itu penting.”
Aku tertawa. Lagi-lagi tawa yang keluar begitu saja, tanpa tangan menutup mulut. Tawa itu memantul di bawah atap seng dan bercampur dengan suara hujan.
Rendra menoleh padaku.
Rambutku basah di ujung-ujungnya meski sudah terlindung payung, dan sejumput rambut menempel di pipiku karena angin tadi. Aku tidak memperhatikannya. Aku sibuk tertawa dan menatap genangan yang makin tinggi.
Lalu jari-jarinya menyentuh pipiku.
Pelan sekali, begitu pelan sampai awalnya kupikir itu tetes hujan. Ia menyibakkan helai rambut basah itu dari pipiku dan menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang hati-hati, seperti membalik halaman buku tua yang kertasnya sudah rapuh.
Tawaku berhenti.
Jarinya masih di sana, di belakang telingaku, satu detik lebih lama dari yang diperlukan. Jarinya dingin karena hujan, tapi tempat yang disentuhnya terasa panas.
“Rambutmu,” katanya. Suaranya lebih rendah daripada biasanya. “Nempel.”
“Oh,” kataku.
Itu satu-satunya kata yang bisa diproduksi otakku. Kata dengan satu suku kata. Aku, yang memenangkan lomba debat nasional dua kali.
Ia menurunkan tangannya dan memasukkannya ke saku jaket, seolah-olah tangan itu baru melakukan sesuatu tanpa izin dan harus dihukum.
Kami berdiri bersebelahan di bawah teras sempit dan menatap hujan. Tidak ada yang bicara. Atap seng terus bergemuruh. Di seberang gang, seekor kucing belang meringkuk di bawah motor yang diparkir, menatap kami dengan mata yang menghakimi.
“Payungmu,” kata Rendra tiba-tiba.
“Kenapa payungku?”
“Cuma satu.”
“Aku cuma butuh satu.”
Ia menoleh padaku. Bahunya basah, rambutnya meneteskan air, dan pipinya sedikit merah. Aku ingin percaya itu karena dingin.
“Lain kali bawa dua,” katanya.
“Kenapa?”
“Supaya kamu nggak perlu geser-geser.”
Aku menatapnya. “Aku geser supaya bahumu nggak basah.”
“Aku tahu,” katanya. “Makanya bawa dua.”
Aku butuh waktu cukup lama untuk mencerna kalimat itu. Lebih lama daripada rumus regresi, lebih lama daripada tanda minus yang salah.
Lain kali. Ia bilang lain kali. Artinya ia membayangkan ada lain kali. Ada hujan berikutnya, dan ada perjalanan berikutnya dari perpustakaan ke Gang Kenari.
“Kalau aku bawa dua,” kataku pelan, “kita jalan berjauhan.”
“Iya.”
“Kamu mau jalan berjauhan?”
Rendra tidak menjawab. Ia menatap hujan dengan wajah datar.
Tapi ujung telinganya memerah. Aku melihatnya dengan jelas, bahkan dalam cahaya lampu kuning yang redup dari balik kaca toko.
Rendra Mahesa, yang wajahnya selalu seperti etalase hari Minggu, punya telinga yang tidak bisa berbohong.
Aku menyimpan fakta itu di laci paling depan. Laci itu mulai penuh: pulpen bekas gigitan, gigi taring yang agak maju, titik-titik kayu manis di matanya, dan sekarang telinga yang memerah. Kalau laci otakku punya label, label laci itu pasti sudah bukan Tidak Relevan lagi.
Hujan reda empat puluh menit kemudian. Aku berjalan ke jalan raya dengan payung biru tua yang sudah dilipat rapi, sesuai garis lipatan, oleh tangan orang lain.
Waktu melewati gerbang belakang kampus, aku tidak memperhatikan dua orang yang berteduh di warung fotokopi. Dua orang yang, sejak kami keluar dari lobi perpustakaan, memegang ponsel dengan kamera menyala.
Aku baru tahu keesokan paginya.
Pukul 06.02, satu menit setelah aku membuka aplikasi cuaca, ponselku meledak.
Grup WhatsApp PENGURUS BEM FEB 2026 punya seratus empat puluh tujuh pesan belum dibaca.
Pesan pertama dikirim Tasya pukul 23.48 tadi malam. Isinya foto buram, diambil dari balik etalase fotokopi, yang memperlihatkan dua orang di bawah satu payung biru tua. Payungnya jelas miring ke satu sisi, dan bahu salah satu dari mereka jelas basah kuyup.
Keterangannya:
KETUA KITA SEPAYUNG SAMA SIAPA ITU??? 😱😱😱
Di bawahnya, Meli:
ITU KAN ASISTEN DOSEN STATISTIKA YG GANTENG TAPI KAYAK KULKAS
GUE DENGER DIA NGGAK PERNAH NGOMONG SAMA CEWEK
TERUS INI APA
PAYUNGNYA MIRING KE KETUA KITA
BAHUNYA BASAH DEMI KETUA KITA
GUE NANGIS
Lalu pesan-pesan pengurus lain. Emoji. Stiker kucing yang berteriak. Teori-teori liar. Seseorang bertanya apakah ini ada hubungannya dengan program mentoring lintas fakultas.
Dan pesan terakhir, dari Gio, pukul 05.51 pagi ini:
Guys. Tolong hormati privasi Bu Ketua.
(Tapi iya, payungnya miring.)
Aku menatap layar ponsel. Lalu aku menatap langit-langit kamar.
Lalu aku menarik selimut sampai menutupi kepala, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mempertimbangkan dengan serius untuk tidak masuk kuliah.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung reading
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama