← Surat Salah Alamat

Chapter Twenty One

Makan Malam Dua Keluarga

POV: Kirana

Sasa mengundangku hari Jumat malam lewat pesan suara berdurasi empat menit dua puluh detik.

Isinya kira-kira begini: Kak Kirana, Sabtu besok ada makan malam di rumah Ayah, jam tujuh, Kakak harus datang, harus, HARUS, aku udah masak dari Jumat, ada pengumuman penting, sangat penting, paling penting dalam sejarah keluarga aku, dan aku mau Kakak ada di situ karena Kakak orang yang paling berarti buat aku di kampus, dan kalau Kakak nggak datang aku bakal sedih tapi aku nggak bakal nangis karena aku udah dewasa, tapi mungkin nangis dikit, oke Kak, dadah, eh tunggu, jangan lupa bawa jaket, rumah Ayah dingin soalnya banyak pohon cabai...

Pesan itu kudengarkan tiga kali.

Pengumuman penting. Paling penting dalam sejarah keluarga aku.

Aku tahu pengumuman apa itu. Aku sudah melihatnya dari balik manekin pengantin di Pasar Baru: cincin di jari manis, untuk pernikahan, Mas?, dan pasangan yang serasi.

Rencana Mundur, baris pertama sampai ketiga: berhenti ke perpustakaan, berhenti membalas pesan, biarkan mereka bahagia.

Tidak ada baris yang mengatur apa yang harus kulakukan kalau calon pengantin perempuan mengundangku secara pribadi ke pengumuman pertunangannya, dengan pesan suara empat menit dua puluh detik dan ancaman akan menangis sedikit.

Aku menulis baris kelima di planner dengan pulpen biru murah:

5. Datang. Beri selamat. Tersenyum. Pulang. Jangan menangis di depan siapa pun.

Lalu aku membeli kado.


Memilih kado untuk pasangan yang akan bertunangan ternyata lebih sulit daripada menyusun proposal anggaran Dies Natalis. Aku berdiri di toko peralatan rumah tangga di Jalan Riau selama empat puluh lima menit, menimbang-nimbang antara set cangkir teh keramik, bingkai foto berlapis perak, dan tempat bumbu dapur dari kayu jati berbentuk rumah-rumahan.

Bingkai foto adalah kado yang bilang aku nggak tahu kamu suka apa. Aku sendiri yang bilang begitu ke Tasya.

Cangkir teh keramik terlalu umum.

Aku memilih tempat bumbu dapur. Rumah-rumahan kecil dari kayu jati dengan enam laci mungil, masing-masing berlabel: garam, gula, merica, ketumbar, kunyit, dan cabai.

Label cabai yang membuatku memilihnya. Aku menatap label itu lama sekali di kasir, sampai penjualnya bertanya apakah aku baik-baik saja.

Kubungkus sendiri dengan kertas kado cokelat dan pita kuning, lalu kuselipkan kartu kecil di bawah pitanya. Aku menulisnya dengan pulpen biru murah, enam kali coret, sampai akhirnya jadi:

Untuk Sasa dan Rendra. Semoga rumah kalian selalu penuh rasa. — Kirana

Membaca kalimat itu membuat tenggorokanku terasa seperti ditusuk tulang ikan. Tapi kalimatnya rapi, sopan, dan dewasa. Kalimat yang akan ditulis oleh orang baik.

Aku ingin menjadi orang baik setidaknya sekali dalam cerita ini.


Ponselku sudah menyala lagi sejak Senin, karena BEM tidak bisa berjalan tanpa ponsel Ketua. Tapi percakapan dengan Rendra ☂️ sudah kusenyapkan. Aku tidak membukanya. Setiap kali notifikasinya muncul di layar kunci, aku menggeser layarnya ke atas dengan cepat, seperti menutup pintu kamar mandi yang terbuka.

Sabtu pukul 16.12, notifikasi muncul lagi.

Rendra ☂️: Nanti aku jemput jam enam. Ada yang harus kubilang sebelum

Kalimatnya terpotong di layar kunci. Aku tidak membukanya.

Aku memesan ojek online pukul 18.40 supaya tiba tepat pukul tujuh. Tidak lebih awal, supaya tidak ada waktu berdua dengan siapa pun sebelum acara dimulai.

Pukul 18.02, pesan lain masuk.

Rendra ☂️: Aku di depan rumahmu.

Aku mengintip dari balik gorden kamar di lantai dua. Di bawah lampu jalan, sebuah motor matik hitam berhenti di depan pagar rumah kami. Pengendaranya duduk tegak dengan helm di pangkuan dan kemeja putih yang rapi. Kemeja putih. Aku belum pernah melihatnya memakai kemeja putih.

Aku menutup gorden.

Mama pasti sedang di ruang kerja lantai bawah, mengoreksi tesis mahasiswa. Kalau ia melihat ke luar jendela dan menemukan anak penjual buku bekas di Gang Kenari di depan pagar rumah kami, dengan kemeja putih dan helm di pangkuan...

Aku mengetik cepat: Aku sudah pesan ojek. Duluan aja.

Aku melihatnya membaca pesan itu di bawah lampu jalan. Ia menatap layar lama sekali. Lalu ia mendongak ke jendela kamarku, seolah-olah tahu persis jendela yang mana.

Aku mundur dari jendela begitu cepat sampai menabrak rak buku, dan tiga novel berwarna biru jatuh ke lantai.

Pukul 18.09, motor hitam itu pergi.


Pukul 19.02, aku berdiri di depan rumah bercat biru muda yang halamannya dipenuhi pot cabai. Papan kayu kecil di pagarnya bertuliskan Awas, Cabai Galak.

Aku memegang kado bungkus cokelat dengan pita kuning dan mengetuk pintu.

Pintu terbuka, dan Sasa menjerit. Tentu saja Sasa menjerit.

“KAK KIRANAAA! KAKAK DATANG! AYAH! TANTE! KAK KIRANA DATANG!”

Ia memelukku begitu erat sampai kado di tanganku hampir penyok. Ia memakai kebaya sederhana warna merah muda dan pita putih. Wajahnya berseri-seri, pipinya merah, dan matanya sudah berkaca-kaca padahal acaranya belum dimulai.

“Kakak cantik banget!” katanya. “Kakak pakai baju apa? Ya ampun, Kakak kayak mau kondangan!”

Aku memakai gaun batik biru tua yang kubeli untuk wisuda kakak sepupuku tahun lalu. Pakaian yang pantas untuk acara pertunangan, menurut riset daring yang kulakukan selama satu jam semalam.

“Ini,” kataku, menyodorkan kado. “Buat kamu. Dan...” Aku menelan ludah. “Buat kalian.”

“Kakak bawa kado?!” Sasa menatap bungkusan cokelat itu dengan mata sebesar piring. “Ya ampun, Kakak nggak usah repot!”

Bu Ratna muncul dari belakang Sasa, memakai kebaya hijau dan sanggul kecil yang sedikit miring. Ia langsung memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku, seperti di toko buku.

“Neng Kirana! Ya Allah, cantik sekali! Mas Hendra! Mas! Ini Neng Kirana yang Ibu ceritakan!”

Seorang pria berkumis tebal dengan batik cokelat muncul dari ruang tengah. Kacamatanya miring dan senyumnya terlalu lebar untuk wajahnya. Aku langsung tahu siapa dia, karena ia memegang pot cabai kecil di tangan kiri, jelas lupa meletakkannya.

“Neng Kirana,” katanya, menjabat tanganku dengan tangan kanan. “Hendra. Ayahnya Sasa. Saya sering dengar soal Neng. Sasa cerita tiap malam. Kadang sampai saya ketiduran, Sasa masih cerita.”

“Ayah!”

“Terima kasih sudah jadi teman Sasa,” lanjut Om Hendra, mengabaikan protes anaknya. Suaranya tiba-tiba lebih pelan. “Anak ini dulu makan siang sendirian terus.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku mengangguk.

Lalu Om Hendra menyadari pot cabai di tangannya, menatapnya dengan bingung, dan berkata, “Oh. Ini. Neng mau cabai?”


Ruang makan rumah Om Hendra kecil dan hangat, dengan meja kayu bundar yang cukup untuk enam orang, lampu gantung kuning, dan dinding penuh rak buku. Di tengah meja ada semangkuk besar sayur asem, sepiring perkedel kentang yang bentuknya tidak seragam, dan sepiring tumis cabai hijau.

“Semua aku yang masak!” kata Sasa bangga. “Pakai resep dari buku Masakan Rumahan untuk Pemula! Perkedelnya jelek bentuknya, tapi rasanya enak! Tumis cabainya nggak pedas, khusus buat...”

Ia berhenti, melirik kursi kosong di sebelahnya, dan tersenyum.

“Buat Kak Ren,” katanya lebih pelan.

Kursi kosong itu. Tentu saja kursi di sebelah Sasa. Tempat calon tunangannya akan duduk.

“Ren mana?” tanya Bu Ratna, mengernyit melihat jam dinding. “Tadi dia bilang mau jemput Neng Kirana.”

“Saya naik ojek, Bu,” kataku cepat.

“Lho, terus Ren ke mana?”

Pintu depan terbuka dengan bunyi keras. Langkah kaki berat terdengar di ruang tamu, disertai bunyi logam yang berdentang.

Rendra masuk ke ruang makan sambil memanggul tabung gas elpiji tiga kilogram di bahu kanannya.

Kemeja putihnya sudah tidak putih lagi. Ada noda hitam di bahu dan keringat di kerah. Rambutnya berantakan seperti baru melewati badai.

“Gas,” katanya, terengah. “Om, tabung gasnya habis. Aku beli di warung depan gang. Warungnya tutup. Aku ke warung kedua. Tutup juga. Warung ketiga di jalan raya.”

“Ya ampun, Ren!” Om Hendra berdiri. “Saya lupa! Tadi sore gasnya memang sudah kedip-kedip!”

“Aku tahu, Om. Makanya aku ke tiga warung.”

Rendra menurunkan tabung gas dari bahunya dengan hati-hati, lalu menegakkan badan. Matanya langsung menemukanku di kursi seberang meja, dengan gaun batik biru tua dan wajah yang pasti sedang berusaha keras untuk tidak berekspresi apa-apa.

Ia menatapku lama. Ada sesuatu di matanya yang mendesak, seperti orang yang berlari untuk mengejar bus yang pintunya mulai menutup.

“Anindya,” katanya. “Aku perlu ngomong sama kamu. Sebentar. Di luar.”

“Nanti, Ren!” Bu Ratna menarik lengannya ke kursi. “Nanti! Makanan keburu dingin! Duduk! Cuci tangan dulu! Kamu bau gas!”

“Bu, ini penting...”

“Makan malam ini juga penting! Sasa masak dari kemarin!”

Rendra menatap Sasa. Sasa menatapnya dengan mata penuh harap, di atas perkedel yang bentuknya tidak seragam.

Rendra menghela napas panjang, pergi mencuci tangan, lalu duduk di kursi kosong di sebelah Sasa.

Tepat di seberangku.


Makan malam itu adalah dua puluh lima menit paling menyiksa dalam hidupku. Lebih menyiksa daripada sidang proposal, telepon Mama, dan bersembunyi di balik manekin pengantin.

Sayur asemnya enak. Perkedelnya enak. Tumis cabai hijaunya, yang tidak pedas, juga enak.

Rendra memakannya. Ia mengambil tumis cabai itu dua kali. Sasa menatapnya dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah menyaksikan keajaiban.

“Enak,” kata Rendra pada Sasa.

“Beneran, Kak?”

“Beneran. Nggak pedas.”

“Aku bilang kan! Khusus buat Kakak!”

Om Hendra mencoba melucu dua kali. Lelucon pertama tentang sayur asem yang “asem karena belum menikah”. Bu Ratna tertawa sampai sanggulnya makin miring. Lelucon kedua tentang perkedel yang “bentuknya kayak peta Indonesia”. Lelucon itu sebenarnya lucu, karena perkedelnya memang mirip Pulau Sulawesi.

Aku tersenyum di tempat yang tepat dan tertawa di tempat yang tepat. Senyum cermin dan tawa terlatih, yang sudah dua minggu tidak kupakai tapi ternyata masih ada di laci, siap dikeluarkan kapan saja.

Sepanjang makan malam, Rendra terus menatapku dari seberang meja. Tidak mencuri-curi, tapi terang-terangan. Seperti orang yang sedang berusaha mengirim pesan tanpa pulpen.

Aku tidak membalas tatapannya. Aku menatap Pulau Sulawesi di piringku.

Lalu Om Hendra mengetuk gelasnya dengan sendok.

Ting, ting, ting.

“Nah,” katanya, berdiri, membetulkan kacamata dan batiknya. “Sebelum makanan penutup, saya dan...” Ia melirik Bu Ratna dan pipinya memerah di balik kumis. “...kami, ada pengumuman.”

Ini dia.

Rencana Mundur, baris kelima: Datang. Beri selamat. Tersenyum. Pulang.

Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak semalam dan menghafalnya di depan cermin. Ucapan selamat yang anggun dan tulus, dari teman yang baik untuk pasangan yang akan bertunangan. Kalau aku mengucapkannya lebih dulu, sebelum pengumuman resmi, aku bisa mengendalikan momen ini. Aku bisa tersenyum dan berbicara sebelum mendengar kata-kata yang akan membuat lututku lemas.

Itu rencana terbaik yang bisa kubuat dalam situasi ini: mendahului rasa sakit.

Aku berdiri.

“Maaf, Om,” kataku, dengan suara MC empat puluh tiga acara. “Sebelum Om umumkan, boleh saya bicara sebentar?”

Om Hendra mengerjap. Bu Ratna mengerjap. Sasa mengerjap. Rendra berhenti mengunyah.

“Oh, boleh, Neng. Silakan.”

Aku mengangkat gelas teh manisku. Tanganku tidak gemetar. Aku bangga pada tanganku.

“Saya belum lama mengenal keluarga ini,” kataku. “Tapi dalam waktu singkat, saya sudah melihat betapa hangatnya rumah ini. Saya melihat Sasa, yang paling tulus dan paling baik yang pernah saya kenal. Dan saya melihat...” Suaraku tersangkut sepersekian detik. Aku menambalnya. “...dan saya melihat Rendra, yang lebih baik daripada yang ia tunjukkan.”

Sasa menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya mulai basah.

“Jadi saya mau mengucapkan selamat lebih dulu,” lanjutku, tersenyum lebar ke arah Sasa, lalu ke arah Rendra, lalu ke Sasa lagi. “Untuk Sasa dan Rendra. Semoga kalian selalu bahagia. Semoga langgeng sampai tua. Saya ikut bahagia untuk pertunangan kalian.”

Aku mengangkat gelas lebih tinggi.

Tidak ada yang mengangkat gelas.

Ruang makan itu hening. Hening yang total, sampai aku bisa mendengar detak jam dinding dan jangkrik di halaman, di antara pot-pot cabai.

Om Hendra menatapku. Bu Ratna menatapku. Sasa menatapku dengan tangan masih menutup mulut, tapi matanya tidak lagi berkaca-kaca karena terharu. Matanya melebar karena sesuatu yang sama sekali lain.

Rendra meletakkan sendoknya dengan sangat pelan di pinggir piring.

“Pertunangan,” ulang Om Hendra perlahan, seperti mengeja kata dalam bahasa asing. “Sasa... sama Ren?”

“Iya, Om. Saya sudah tahu. Saya lihat mereka beli cincin di Pasar Baru.”

Om Hendra menatap Bu Ratna. Bu Ratna menatap Om Hendra.

Lalu Om Hendra tertawa.

Bukan tawa sopan. Tawa yang meledak dari perutnya, sampai kumisnya bergetar dan kacamatanya melorot. Ia harus berpegangan pada sandaran kursi.

“Neng,” katanya di sela tawa. “Neng Kirana. Ya ampun. Sasa sama Ren bukan mau tunangan.”

Tanganku yang memegang gelas mulai gemetar.

“Sasa sama Ren,” lanjut Om Hendra, mengusap air mata tawa di sudut matanya, “mau jadi kakak-adik.”

Aku berdiri membeku dengan gelas teh terangkat di udara.

“Saya,” kata Om Hendra, merangkul bahu Bu Ratna dengan malu-malu, “dan Ratna yang mau menikah. Bulan depan. Tanggal empat belas. Itu pengumumannya.” Ia tersenyum lebar. “Cincin itu hadiah dari anak-anak buat kami. Mereka patungan. Ren ukur jari saya pakai benang waktu saya ketiduran. Saya baru tahu tadi sore.”

Duniaku berhenti berputar, lalu mulai berputar ke arah sebaliknya.

Kakak-adik.

Tante. Cabai dari kebun ayah Sasa, yang hafal Rendra tidak kuat pedas. Kalau sayang sama orang, dia ngerepotin. Surat balasan pertama dengan tinta merah. Rendra yang mengantar Sasa ke terminal. Harusnya aku bales dari dulu.

Semuanya ternyata tentang kakak dan adik. Tentang calon keluarga baru yang sedang belajar menjadi keluarga.

Tidak ada satu pun yang tentang cinta seperti yang kupikirkan.

Gelas di tanganku pelan-pelan turun ke meja. Wajahku terbakar dari leher sampai ujung rambut, begitu panas sampai aku yakin orang-orang di meja itu bisa merasakan panasnya.

Sasa masih menutup mulut dengan kedua tangan. Bahunya mulai bergetar.

Awalnya kupikir ia menangis. Ternyata ia tertawa.

“Kak,” katanya di balik tangannya. “Kakak kira aku sama Kak Ren... pacaran?”

“Kamu bilang,” suaraku keluar kecil sekali, “di kantin. Aku tanya kamu punya pacar. Kamu bilang ada seseorang yang kamu tunggu. Kamu bilang itu dia orangnya.”

Sasa menurunkan tangan. Wajahnya merah karena tawa yang ditahan.

“Kakak nanya pacar, terus aku kepikiran Kak Ren,” katanya, “soalnya dia yang paling bikin aku galau! Aku nunggu dia mau nerima aku jadi adiknya! Delapan belas bulan, Kak! Itu lebih galau dari pacaran!”

Bu Ratna mulai ikut tertawa. Om Hendra masih tertawa. Sasa akhirnya menyerah dan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut, sampai pita putih di rambutnya terlepas.

Aku menoleh ke seberang meja.

Rendra tidak tertawa. Ia menatapku dengan wajah yang tidak datar sama sekali. Wajah itu penuh dengan sesuatu yang besar dan hangat dan sedikit putus asa, seperti orang yang sudah berlari ke tiga warung untuk membeli gas, padahal yang sebenarnya ingin ia katakan cuma satu kalimat.

Ada yang harus kubilang sebelum...

Sebelum ini. Ia ingin memberitahuku sebelum ini.


Om Hendra yang akhirnya mengatakannya. Setelah tawa mereda, setelah Bu Ratna memberiku air putih dan menepuk-nepuk punggungku seperti menepuk anak yang tersedak.

“Makan malam ini,” katanya, masih tersenyum, “sebenarnya makan malam kedua. Yang pertama gagal.”

“Ayah...” Sasa mengernyit.

“Nggak apa-apa, Nak. Sudah lewat.” Om Hendra menatapku dengan ramah. “Beberapa bulan lalu, Sasa sudah siapkan makan malam pertama. Masak semua ini juga, sayur asem, perkedel, tumis cabai. Dia sampai bikin undangan resmi buat Ren. Surat. Pakai kertas ungu kesukaannya.” Ia tertawa kecil. “Dia selipkan di buku perpustakaan yang Ren pesan, biar romantis, katanya. Kayak di novel.”

Aku berhenti bernapas.

“Isinya apa, Nak?” tanya Om Hendra pada Sasa. “Ayah lupa.”

Sasa menunduk, malu. “Cuma pendek, Yah. ‘Sabtu ini jam tujuh. Aku tunggu kamu pulang.’ Terus...” Ia tersenyum kecil. “‘Jangan lupa makan.’ Soalnya Tante bilang Kak Ren sering lupa makan kalau lagi baca.”

Pulang. Pulang ke rumah ini. Ke keluarga baru yang sedang menunggunya di meja makan kayu bundar.

Jangan lupa makan. Pesan dari seorang adik untuk kakaknya yang sering lupa makan kalau sedang membaca.

Bukan surat cinta. Undangan makan malam keluarga.

“Tapi Ren nggak datang,” kata Om Hendra ringan, tanpa nada menyalahkan. “Sasa tunggu sampai jam sembilan.”

“Aku nggak pernah terima surat itu.”

Suara Rendra pelan dan jelas. Semua orang menoleh padanya.

“Aku nggak pernah terima undangannya,” ulangnya. “Aku pikir Sasa nggak jadi kirim.”

“Lho?” Bu Ratna mengernyit. “Tapi Sasa bilang dia selipkan di buku biru. Buku yang kamu pinjam dari perpus. Yang sampai sekarang belum kamu kembalikan.”

“Nggak ada apa-apa di buku itu, Bu.”

Sasa menatap Rendra, lalu menunduk ke piring. Senyumnya tidak hilang, tapi mengecil, seperti lilin yang tertiup angin tapi tidak padam.

“Mungkin jatuh,” katanya pelan. “Mungkin suratnya jatuh di perpus, terus ada yang buang. Nggak apa-apa. Sekarang Kak Ren udah datang.”

Semua orang mengangguk dan tersenyum. Om Hendra mulai bercerita tentang tanggal empat belas, gedung pertemuan kecil di dekat rumah, dan bagaimana ia berencana membuat kue pernikahan sendiri meskipun tidak bisa memasak. Bu Ratna tertawa. Sasa bertepuk tangan.

Aku duduk di kursiku dengan gaun batik biru tua, di depan Pulau Sulawesi yang tinggal setengah, dan tidak bisa merasakan tangan dan kakiku.

Mungkin jatuh. Mungkin ada yang buang.

Surat itu tidak jatuh, dan tidak ada yang membuangnya.

Surat itu ada di tasku, di kursi di sebelahku, di halaman belakang planner kulit cokelat. Surat itu sudah di sana sejak hari pertama, bersama tiga kertas kecil bertinta merah dan selembar tisu kantin.

Makan malam pertama gagal karena aku. Sasa menunggu sampai jam sembilan karena aku. Tumis cabai itu dimakan Sasa sendirian selama tiga hari karena aku. Rendra tidak pernah tahu ada yang menunggunya pulang, karena aku mengantongi undangan itu di depan rak pesanan dan tidak pernah mengembalikannya.

Aku tidak mencuri surat cinta. Aku mencuri makan malam pertama sebuah keluarga.

Aku berdiri.

“Maaf,” kataku. Suaraku terdengar dari tempat yang sangat jauh. “Toiletnya di mana?”


Aku tidak ke toilet. Aku keluar lewat pintu belakang dapur, ke halaman sempit yang penuh pot cabai. Pot-pot itu disusun berundak di rak besi seperti kebun teh mini, diterangi satu lampu kuning di atas pintu.

Aku berdiri di antara pot-pot cabai dan menatap langit Bandung yang tidak berbintang.

Aku tidak menangis. Aku terlalu malu untuk menangis. Malu memang punya cara sendiri untuk mengeringkan air mata sebelum sempat jatuh.

Pintu belakang terbuka di belakangku.

Aku tidak perlu menoleh. Aku sudah mengenal langkah kakinya, bahkan di atas tanah berbatu.

“Aku mau bilang sebelum makan malam,” katanya. “Tapi gasnya habis.”

Aku tertawa. Tawa yang sangat kecil dan retak.

“Tiga warung,” kataku.

“Tiga warung. Dua tutup.”

“Kemeja putihmu kotor.”

“Aku beli buat malam ini.”

“Kamu beli kemeja baru?”

“Aku nggak punya kemeja putih.” Ia berdiri di sebelahku, di antara pot-pot cabai. “Ibu bilang kalau mau ngomong sesuatu yang penting, pakai kemeja putih.”

Aku menoleh.

Di bawah lampu kuning, dengan noda gas di bahu dan keringat di kerah, ia terlihat lebih berantakan daripada yang pernah kulihat. Juga lebih jujur.

“Kamu mau ngomong apa?” tanyaku.

Ia menatapku lama.

“Aku nggak punya siapa-siapa yang nunggu aku pulang,” katanya pelan. “Kecuali Ibu. Calon ayah yang leluconnya garing. Dan adik yang cerewet.” Ia berhenti. “Itu yang mau aku bilang. Supaya kamu nggak salah paham lagi.”

Aku menatapnya, dan dadaku terasa begitu penuh sampai sakit.

Ada begitu banyak yang ingin kukatakan. Tentang tiga tahun di meja sembilan, tentang pulpen, tentang payung. Tentang revisi: terjadi dua kali, dan betapa bodohnya aku.

Tapi di dalam tasku, di dalam planner kulit cokelat, ada sesuatu yang harus kukatakan lebih dulu. Sesuatu yang membuat semua kalimat lain tidak berhak diucapkan.

“Rendra,” kataku.

“Hm.”

“Aku...”

Kalimat itu sudah ada di ujung lidahku. Aku yang ambil suratnya. Aku yang bikin Sasa nunggu sampai jam sembilan.

“KAK KIRANA! KAK REN! KUE PUDINGNYA UDAH KELUAR! AYAH BIKIN SENDIRI! BENTUKNYA KAYAK GUNUNG MELETUS!”

Suara Sasa dari dalam rumah memecah halaman.

Rendra memejamkan mata sebentar. Lalu ia membukanya, dan menatapku dengan sesuatu yang hampir seperti tawa.

“Nanti,” katanya. “Kamu bilang nanti.”

“Iya,” kataku. “Nanti.”

Kami masuk bersama.

Pudingnya memang berbentuk seperti gunung meletus, karena Om Hendra lupa menunggu sampai benar-benar dingin sebelum membalik cetakannya. Semua orang tertawa. Aku ikut tertawa.

Di bawah meja, di tasku, planner kulit cokelat terasa berat, seperti batu yang kutelan dan tidak bisa kumuntahkan.

Besok, kataku pada diriku sendiri.

Kali ini aku bersungguh-sungguh.

Kali ini, besok akan benar-benar datang.