← Surat Salah Alamat

Chapter Seventeen

Hujan di Kios

POV: Kirana

Hoodie abu-abu itu kucuci dua kali.

Sekali dengan mesin, dengan deterjen yang wanginya bunga lavender. Sekali lagi dengan tangan, karena aku tidak yakin wangi lavender itu cocok untuk Rendra Mahesa. Ia bukan orang lavender. Ia orang sabun batangan, kertas tua, dan sedikit minyak goreng. Jadi cucian kedua kupakai sabun batangan biasa, dan kujemur di balkon kamar selama dua hari penuh sampai benar-benar kering.

Lalu kusetrika. Kulipat sesuai lipatan toko baju: lengan ke belakang, bagian bawah ke atas, lalu dilipat dua. Kumasukkan ke tas kertas cokelat bersama selembar kertas kecil yang kutulis dengan pulpen hitam bekas gigitan:

Terima kasih. Sudah dicuci dua kali.

Aku menatap kertas itu lama, lalu menambahkan satu baris:

Yang kedua pakai sabun batangan. Lavender nggak cocok buat kamu.

Lalu aku mencoretnya karena terlalu aneh. Lalu aku menulis ulang kertasnya tanpa baris itu. Lalu aku merobek kertas yang baru dan memakai kertas yang pertama, karena coretannya ternyata masih bisa dibaca dan entah kenapa aku ingin ia membacanya.

Empat puluh menit untuk selembar kertas berisi delapan kata. Aku bisa menulis proposal kegiatan dua puluh halaman dalam waktu itu.


Kamis sore setelah KKN, pukul empat lewat lima belas, ponselku bergetar waktu aku sedang berjalan ke gerbang belakang kampus dengan tas kertas cokelat di tangan.

Sasa 💛:

KAK KIRANAAAA

KAK REN BALES SURAT AKU

PERTAMA KALI DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA

😭😭😭😭😭

Lalu sebuah foto.

Selembar kertas kecil yang disobek dari pinggir halaman buku catatan, dilipat dua, lalu dibuka dan difoto dengan tangan yang jelas gemetar. Fotonya sedikit buram.

Tapi tulisannya bisa kubaca.

Tinta merah. Huruf kecil, tegak, sedikit miring ke kanan. Huruf K dengan kaki yang panjang, seperti orang yang sedang melangkah.

Rendangnya habis? Aku lupa bilang, itu resep Ibu. Nanti kutanyakan resepnya, biar kamu bisa masak juga.

Aku berhenti di tengah trotoar. Seorang tukang siomay membunyikan bel sepedanya di belakangku dengan kesal. Aku tidak bergerak.

Di dalam tasku, di halaman belakang planner kulit cokelat, ada tiga kertas kecil bertinta merah dan satu tisu kantin. Kalau ketemu, kasih tahu aku duluan. Masih kucari juga. Jangan pura-pura nggak lapar.

Kertas yang sama, tinta yang sama, huruf K yang sama.

Aku kira itu milikku. Aku kira pulpen merah dan kertas yang disobek dari pinggir buku catatan hitam itu adalah bahasa kami berdua. Bahasa yang cuma dipakai di antara meja sembilan dan meja empat belas.

Ternyata ia juga memakai bahasa itu untuk Sasa. Tentu saja. Sasa yang menulis surat duluan. Sasa yang menunggu delapan belas bulan. Bahasa itu milik Sasa jauh sebelum aku meminjamnya.

Kak, aku nggak tahu kenapa tiba-tiba dia bales. Tapi aku seneng banget. Kayaknya ini gara-gara Kakak deh!! Semenjak Kakak deket sama dia, dia jadi lebih... manusia 😭💛

Aku mengetik: Selamat, Sasa.

Aku menghapusnya, lalu mengetik lagi: Aku ikut senang.

Dua kata itu terasa seperti dua batu yang kutelan bulat-bulat.

Kakak mau ke mana sore ini? Mau makan tempe bareng?

Mau balikin barang ke orang, balasku.

Barang apa?

Aku menatap tas kertas cokelat di tanganku. Hoodie abu-abu yang dicuci dua kali, dengan kertas yang coretannya masih bisa dibaca.

Barang pinjaman, ketikku. Yang harusnya udah lama kukembalikan.


Gang Kenari pukul lima sore sepi. Langit di atasnya menggantung rendah dan kelabu, seperti atap yang siap runtuh. Aplikasi cuaca bilang kemungkinan hujan tujuh puluh persen setelah pukul lima. Di tasku ada payung biru tua.

Satu payung. Aku belum membeli yang kedua.

Toko Buku Mahesa buka, dengan lampu kuning menyala di balik etalase yang penuh tumpukan buku. Bel di atas pintu berbunyi waktu aku masuk.

“Bu Ratna?”

Tidak ada jawaban. Tidak ada bau pisang goreng dan tidak ada radio dangdut.

“Ibu ke pengajian.”

Suara itu datang dari balik rak paling belakang. Rendra muncul dengan setumpuk buku di pelukan dan kacamata yang belum pernah kulihat ia pakai. Kacamata baca berbingkai hitam tipis yang melorot sedikit di hidungnya.

Aku berdiri di ambang pintu dan lupa bahwa aku datang untuk mengembalikan barang.

“Kamu pakai kacamata,” kataku.

“Kalau baca label harga. Tulisannya kecil.” Ia menaikkan kacamatanya dengan satu jari. “Kamu kenapa?”

“Aku nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu bengong.”

“Aku nggak bengong. Aku... mengamati.”

“Mengamati apa?”

Kamu, kata otakku, dan aku langsung menampar otakku dari dalam.

“Tata letak toko,” kataku. “Untuk referensi bazar.”

Rendra menatapku lama, dan aku tahu ia tahu. Ia selalu tahu. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia meletakkan tumpukan buku di meja kasir, di sebelah pot cabai rawit yang sekarang ada satu buah cabai merahnya, lalu melepas kacamata dan menyelipkannya di saku kemeja.

Aku sedikit menyesal ia melepasnya.

Aku menyodorkan tas kertas cokelat.

“Hoodie-mu. Sudah dicuci.”

Ia mengambil tas itu, melongok ke dalamnya, dan mengeluarkan hoodie yang terlipat rapi seperti baru dibeli dari toko. Lalu ia melihat kertas kecil yang terselip di lipatannya. Ia membacanya.

Aku melihat matanya berhenti di baris yang dicoret.

Sudut bibirnya bergerak.

“Lavender,” katanya.

“Itu dicoret.”

“Coretannya nggak tebal.”

“Aku kehabisan tinta.”

“Ini pulpenku. Tintanya masih banyak.” Ia melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku kemeja, di sebelah kacamatanya. Tidak dikembalikan dan tidak dibuang. Disimpan. “Kamu cuci dua kali?”

“Supaya bersih.”

“Pakai sabun batangan.”

“Itu ada di kertas.”

“Yang dicoret.”

“Kamu harusnya nggak baca yang dicoret.”

“Kamu harusnya coret lebih tebal.”

Aku menatapnya dengan kesal, dan ia menatapku balik dengan datar. Di luar, angin mulai bertiup lebih kencang. Daun-daun kering berguling di sepanjang gang.

Lalu ia menyodorkan hoodie itu kembali padaku.

“Simpan aja.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena itu punyamu. Aku nggak mau utang.”

“Itu bukan utang.”

“Terus apa?”

Rendra membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menatap hoodie di tangannya seperti menatap soal yang belum ada jawabannya di buku mana pun.

Di luar, hujan mulai turun.


Kali ini hujannya tidak langsung tumpah. Ada gerimis dulu, sopan, seperti mengetuk pintu. Lalu pelan-pelan makin deras sampai atap seng di teras depan mulai bergemuruh seperti drum band yang sedang pemanasan.

Aku menatap hujan melalui kaca etalase.

“Payungmu cuma satu,” kata Rendra dari belakangku.

“Aku cuma butuh satu. Aku pulang sendiri.”

Ia diam. Aku bisa merasakan diamnya di punggungku, berat dan hangat seperti hoodie yang baru dicuci.

“Sasa cerita kamu bales suratnya,” kataku ke kaca etalase. Aku tidak berencana mengatakannya. Kalimat itu keluar sendiri, seperti air yang menemukan celah di atap.

Hening sebentar.

“Dia cerita ke kamu?” Suaranya terdengar kaget, dan sedikit malu.

“Dia cerita ke semua orang. Dia kirim fotonya.”

“Fotonya?”

“Suratmu. Tinta merah. Soal resep rendang.”

Aku mendengar ia menghela napas, panjang dan berat.

“Harusnya aku bales dari dulu,” katanya pelan. “Aku terlalu lama.”

Harusnya aku bales dari dulu.

Aku memejamkan mata. Kalimat itu menancap di dadaku seperti paku payung. Kecil, tapi masuk dalam.

“Dia nunggu kamu lama,” kataku. Suaraku datar. Aku bangga pada suaraku. Hanya suaraku.

“Aku tahu.”

“Kamu harus baik sama dia.”

“Aku lagi belajar.”

Aku berbalik untuk menatapnya. Aku ingin melihat wajahnya waktu ia bicara soal Sasa, wajah yang lembut di kantin FIB waktu ia bilang kalau sayang sama orang, dia ngerepotin. Aku ingin melihatnya supaya aku bisa berhenti, supaya aku punya alasan untuk mengambil payung biru tua dan pulang, lalu tidak kembali lagi.

Tapi waktu aku berbalik, wajahnya tidak lembut seperti itu.

Wajahnya sedang menatapku dengan cara yang berbeda. Tidak lembut, tapi terbuka. Seperti di kebun teh Cibeureum, di bawah bintang-bintang. Seperti buku yang halamannya tersibak angin.

“Sasa nanya aku satu hal,” katanya. “Waktu aku antar rendang.”

“Nanya apa?”

“Aku jawab jujur.”

“Nanya apa?”

Ia tidak menjawab. Ia melangkah satu langkah ke arahku.

Toko ini bukan lorong gudang enam puluh senti. Toko ini luas, dengan jarak dua meter antara rak dan meja kasir. Tapi satu langkahnya membuat dua meter itu terasa seperti enam puluh senti lagi.

Di luar, hujan tumpah sepenuhnya. Atap seng bergemuruh. Lampu kuning berkedip sekali karena tegangan listrik turun, lalu menyala lagi, lebih redup dari sebelumnya.

“Anindya.”

“Hm.”

“Kamu tadi bilang kamu mengamati.”

“Tata letak toko.”

“Kamu bohong.”

“Aku nggak...”

“Telingamu merah.”

Aku mengangkat tangan ke telingaku. Panas, dan aku tidak tahu sejak kapan.

Rendra melangkah satu kali lagi. Sekarang ia cukup dekat sampai aku bisa melihat titik-titik kayu manis di matanya, bahkan dalam cahaya redup. Aku bisa mencium bau sabun batangan dan kertas tua. Aku bisa mendengar napasnya, yang ternyata tidak setenang wajahnya.

Aku ingin mundur. Aku seharusnya mundur. Sasa baru saja mengirim foto surat pertamanya, dengan empat emoji menangis dan kalimat pertama kali dalam sejarah umat manusia. Rendra baru saja bilang harusnya aku bales dari dulu. Aku datang untuk mengembalikan barang pinjaman, bukan untuk meminjam barang baru.

Tapi kakiku tidak mundur.

Tidak ada rencana yang tersisa di kepalaku. Semua slide, tabel risiko, dan catatan kaki sudah larut oleh hujan yang menghantam atap seng.

Ia menunduk sedikit. Aku mendongak sedikit.

Tidak ada yang memutuskan. Tidak ada yang merencanakan. Jarak itu hilang begitu saja, seperti tetes hujan yang bergabung dengan genangan.

Bibirnya menyentuh bibirku.

Singkat. Satu detik, mungkin dua. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku lupa menghitung sesuatu.

Bibirnya hangat, sedikit kering, dan ragu-ragu, seperti orang yang mengetuk pintu tanpa tahu apakah pemiliknya ada di rumah. Aku merasakan tangannya menyentuh sisi wajahku, sangat pelan, di tempat yang sama di mana ia pernah menyelipkan rambutku ke belakang telinga.

Jantungku berhenti, lalu berlari begitu kencang sampai aku bisa mendengarnya di telinga, lebih keras dari hujan dan atap seng.

Lalu, di tengah semua itu, sebuah gambar muncul di kepalaku.

Sasa, dengan jas hujan kuning kebesaran, turun dari ojek di depan posko KKN. Karena semalam Kakak nangis. Jadi aku bantu pakai kaki.

Aku mundur.

Aku mundur begitu cepat sampai punggungku menabrak etalase dan tumpukan buku di belakangku berjatuhan. Rendra menatapku dengan mata lebar, napas terengah, dan tangan yang masih setengah terangkat di udara, di tempat wajahku berada sedetik yang lalu.

“Anindya...”

“Aku harus pulang.”

“Tunggu...”

“Aku ada rapat. Rapat BEM. Rapat pleno. Penting. Sangat penting. Ada di planner.”

Aku tidak tahu apakah itu benar. Aku tidak peduli. Aku berbalik, meraih gagang pintu, mendorongnya, dan berlari ke luar, ke hujan.

Tanpa payung.


Tiga detik kemudian aku sudah basah kuyup.

Enam detik kemudian aku sadar payung biru tuaku tertinggal di meja kasir Toko Buku Mahesa, di sebelah pot cabai rawit dan hoodie abu-abu yang dicuci dua kali.

Sembilan detik kemudian aku sadar ada masalah yang lebih besar.

Aku berlari ke arah yang salah.

Kakiku, yang panik, yang tidak punya peta dan tidak punya rencana, membawaku ke kanan setelah keluar dari toko, bukan ke kiri. Ke dalam gang, bukan ke luar gang. Aku berlari sepanjang dua puluh meter dengan kecepatan penuh menembus hujan deras, lalu berhenti mendadak di depan sesuatu yang sangat familiar.

Tembok bata. Pot kembang sepatu yang airnya meluap. Tulisan cat semprot yang pudar:

GANG BUNTU. JANGAN PARKIR.

Aku berdiri di depan tembok zaman Belanda itu, basah dari ujung rambut sampai ujung sepatu, dengan napas tersengal dan bibir yang masih terasa hangat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ingin tembok itu roboh dan menimpaku.

Tidak ada jalan lain. Gang Kenari buntu. Satu-satunya jalan keluar adalah kembali, melewati toko itu.

Aku berbalik.

Di depan pintu Toko Buku Mahesa, di bawah atap seng yang bergemuruh, Rendra berdiri memegang payung biru tuaku yang belum dibuka. Ia menatapku dari jarak dua puluh meter dengan ekspresi yang, bahkan dari jauh dan di tengah hujan, jelas sekali sedang menahan sesuatu. Mungkin tawa. Mungkin sesuatu yang lain.

Aku berjalan kembali. Tidak berlari lagi, karena tidak ada gunanya berlari kalau semua jalan membawamu ke tempat yang sama.

Aku melewatinya tanpa menoleh.

Ia tidak memanggilku. Tapi waktu aku sudah lewat, tepat di sebelahnya, ia mengulurkan payung biru tua itu ke arahku.

Aku mengambilnya tanpa berhenti, tanpa menoleh, dan tanpa berkata apa pun.

Lalu aku berjalan sampai mulut gang dengan payung yang tidak kubuka, karena aku sudah terlalu basah untuk dilindungi apa pun.

Di angkot, dengan air menetes dari rambut ke lantai dan sopir yang melirikku lewat kaca spion dengan iba, aku menempelkan jari ke bibirku.

Masih hangat.

Di dalam tasku, ponselku bergetar. Satu pesan.

Rendra ☂️:

Gang Kenari buntu.

Sudah dari zaman Belanda.

Aku menatap pesan itu, lalu membalik ponselku sampai layarnya menghadap ke bawah di pangkuan. Aku menatap jendela angkot yang dipenuhi embun dan tetes hujan, dan membiarkan diriku merasakan dua hal sekaligus untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mengubur salah satunya.

Bahagia, yang begitu besar sampai rasanya dadaku tidak cukup menampungnya.

Dan rasa bersalah, yang begitu besar sampai bahagia itu mulai terasa seperti barang curian juga.