← Surat Salah Alamat

Chapter Twenty Eight

Surat Penuh Coretan

POV: Kirana

Aku butuh empat malam untuk menulis surat yang panjangnya satu setengah halaman.

Malam pertama, aku menulis tujuh halaman. Isinya penjelasan lengkap, dengan urutan kronologis, latar belakang, dan konteks. Seperti proposal. Waktu membacanya ulang pukul tiga pagi, aku sadar surat itu tidak ditulis untuk Rendra. Surat itu ditulis untuk dosen penguji yang harus diyakinkan bahwa anggaranku masuk akal.

Aku merobek ketujuh halaman itu.

Malam kedua, aku menulis tiga halaman. Isinya permintaan maaf yang tersusun rapi, dengan poin-poin bernomor. Maaf karena poin satu. Maaf karena poin dua. Waktu membacanya ulang, aku sadar surat itu mirip laporan pertanggungjawaban yang ditolak dekanat, lalu direvisi supaya terlihat lebih menyesal.

Aku merobeknya juga.

Malam ketiga, aku tidak menulis apa-apa. Aku duduk di meja belajar dari pukul sebelas malam sampai pukul empat pagi, dengan pulpen hitam bekas gigitan di tangan dan halaman planner yang kosong. Aku tidak bisa menulis satu kalimat pun tanpa merasa sedang menyusun rencana.

Setiap kalimat terasa seperti tahap. Setiap paragraf terasa seperti slide.

Pukul empat pagi, aku menyerah dan tidur dengan kepala di atas meja.

Malam keempat, aku berhenti mencoba menulis surat yang bagus.

Aku membuka halaman kosong di planner, memegang pulpen bekas gigitan itu, dan menulis apa pun yang muncul di kepalaku. Aku tidak berhenti untuk memeriksa, tidak menyusun ulang, dan tidak memikirkan kalimat berikutnya sebelum kalimat yang sekarang selesai.

Kalau ada kalimat yang salah, aku mencoretnya. Tapi aku tidak menulis ulang di halaman baru. Aku membiarkan coretannya di sana dan melanjutkan di bawahnya.

Waktu aku selesai, pukul dua lewat sepuluh pagi, halaman itu terlihat seperti medan perang. Coretan di mana-mana. Ada kata-kata yang dicoret sekali dan masih terbaca jelas. Ada kalimat yang dicoret tiga kali sampai hitam pekat. Ada panah yang menunjuk ke catatan kecil di pinggir halaman. Ada satu noda tinta di pojok bawah, karena aku menjatuhkan pulpen waktu tanganku gemetar.

Itu surat paling berantakan yang pernah kutulis seumur hidupku.

Aku tidak menulis ulang. Aku merobek halaman itu dan halaman sebelahnya dari planner, pelan-pelan, mengikuti lubang spiral supaya pinggirnya tidak compang-camping. Lalu aku melipatnya dua kali. Tidak dimasukkan ke amplop. Hanya dilipat dua, seperti kertas-kertas kecil bertinta merah yang ia geser ke seberang meja.

Di bagian luarnya, aku menulis dua kata dengan pulpen bekas gigitan:

Untuk Rendra.

Tidak Mahesa. Tidak ada gelar, jabatan, atau nomor surat.

Lalu aku meletakkan surat itu di atas meja, di tempat yang dulu ditempati amplop lilac selama tiga bulan, dan menatapnya sampai langit di luar jendela mulai terang.


Ini isi surat itu. Aku menyalinnya di sini apa adanya. Setiap coretan kujelaskan di mana letaknya, karena coretan itu juga bagian dari suratnya.

Rendra,

Aku yang ambil surat Sasa.

Itu kalimat pertama yang harus kutulis, jadi aku menulisnya duluan. Semua yang lain datang setelah itu.

Di bawahnya ada tiga baris yang kucoret sampai hitam. Isinya penjelasan tentang kenapa aku mengambil surat itu: rak pesanan, amplop yang jatuh, dan tanganku yang bergerak sebelum otakku. Waktu membacanya lagi, aku sadar tiga baris itu terdengar seperti pembelaan. Jadi kucoret. Yang tersisa di bawah coretan hanya satu kata yang tidak sengaja lolos: refleks.

Aku nggak mau jelasin kenapa. Kamu sudah baca planner-ku. Kamu tahu kenapa. Dan nggak ada alasan yang bikin itu jadi benar.

Aku minta maaf. Ke kamu, ke Sasa, ke Om Hendra, ke Bu Ratna. Ke makan malam pertama yang nggak pernah terjadi. Ke tumis cabai yang dimakan Sasa sendirian tiga hari.

Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku cuma mau kamu tahu aku minta maaf. Dua hal itu beda. Aku baru belajar bedanya minggu ini, dari Sasa.

Lalu ada satu baris yang dicoret sekali, jadi masih terbaca: Aku tahu kamu bilang aku mirip ayahmu dan mungkin kamu benar. Aku mencoretnya karena aku tidak mau surat ini tentang kalimat itu. Aku tidak mau ia merasa bersalah karena kalimat itu. Tapi aku mencoretnya cuma sekali. Mungkin aku ingin ia tetap bisa membacanya.

Ada beberapa hal yang nggak pernah aku bilang, karena aku selalu nunggu momentum yang tepat. Tiga tahun aku nunggu momentum yang tepat. Momentumnya nggak pernah datang. Jadi aku tulis sekarang, di waktu yang salah, dengan pulpen yang bukan punyaku.

Satu. Pulpen ini punyamu. Aku simpan tiga tahun, bukan karena SDGs nomor dua belas. Karena waktu tanganku gemetar di bangku B-12, kamu satu-satunya yang lihat. Kamu nggak bilang apa-apa. Kamu cuma taruh pulpen di mejaku. Seumur hidup, orang selalu bilang sesuatu waktu lihat aku gagal. Kamu nggak. Kamu cuma kasih pulpen.

Dua. Aku duduk di meja sembilan bukan karena cahayanya bagus. Dari meja sembilan aku bisa lihat meja empat belas. Tiga tahun. Dua ratus lima puluh enam Kamis. Aku nggak pernah berani bilang hai. Aku pernah bersin di depan mejamu terus kabur. Aku pernah jawab “sama-sama” waktu kamu bilang “permisi”. Kamu mungkin nggak ingat. Aku ingat semuanya.

Di sini ada panah kecil yang menunjuk ke pinggir halaman. Di pinggir itu, dengan huruf yang lebih kecil, aku menulis: Kamu hafal nomor bangkuku. Aku hafal kamu minum air putih tiga teguk jam 16.32. Kita sama-sama aneh.

Tiga. Aku ketawa di Gang Kenari, di depan tembok zaman Belanda, pertama kali dalam bertahun-tahun, ada suaranya. Mama bilang terakhir kali Mama dengar aku ketawa ada suaranya itu waktu aku SD. Sejak kamu, aku ketawa ada suaranya di toko buku, di kebun teh, di panggung KKN, di rapat BEM. Di meja makan rumahku. Mama juga ikut ketawa. Mama juga nutup mulut kalau ketawa, ternyata. Aku dapat itu dari Mama. Aku nggak pernah tahu.

Empat. Rencanaku gagal semua. Tahap dua gagal karena aku malah sayang sama Sasa. Tahap tiga gagal karena Sasa malah nempel ke aku. Tahap empat gagal karena kamu bilang aku nggak butuh alasan. Rencana mundur juga gagal, karena aku nggak bisa berhenti mikirin kamu, bahkan waktu aku kira kamu mau nikah sama Sasa dan aku beli tempat bumbu.

Lalu ada satu kalimat yang dicoret tiga kali sampai hitam pekat, dan tidak ada yang bisa membacanya lagi. Bahkan aku tidak ingat lagi apa isinya. Mungkin sesuatu tentang eksperimen. Mungkin sesuatu tentang revisi: terjadi dua kali. Di bawah coretan hitam itu, aku menulis dengan tangan yang mulai gemetar:

Aku nggak bisa bikin rencana kalau ada kamu. Aku sudah coba. Slide-nya jadi kosong.

Lima. Ini yang paling susah ditulis, jadi aku tulis terakhir.

Pulpenku berhenti lama di sini. Ada titik tinta kecil di ujung kalimat, bekas pulpen yang tertahan terlalu lama di atas kertas. Lalu:

Aku suka kamu.

Bukan tahap empat. Bukan alternatif yang masuk akal. Bukan hasil analisis risiko.

Aku suka kamu sejak bangku B-12. Aku cuma nggak tahu itu namanya suka, karena aku belum pernah suka sesuatu yang nggak bisa kurencanakan.

Aku nggak minta kamu balas. Kamu boleh nggak balas. Sasa nunggu delapan belas bulan buat balasan. Aku bisa nunggu lebih lama. Aku jago nunggu. Aku sudah latihan tiga tahun.

Tapi kalau suatu hari kamu mau balas, aku ada di meja sembilan. Setiap Kamis. Jam 16.30.

Tanpa slide.

— Kirana

Di pojok kanan bawah ada noda tinta hitam sebesar kuku kelingking, bekas pulpen yang jatuh waktu tanganku gemetar di kata terakhir. Aku tidak menghapusnya. Aku tidak bisa menghapusnya. Tinta pulpen ini bukan tinta yang bisa dihapus.

Aku menandatangani surat itu dengan nama depanku. Selama ini, di dalam kepala dan di dalam planner, aku selalu menulis diriku sebagai Anindya, Ketua, atau Koordinator.

Surat ini tidak ditulis oleh Ketua BEM, Koordinator Kelompok, atau calon mahasiswa berprestasi. Surat ini ditulis oleh seseorang yang hanya punya nama depan.


Kamis pukul 16.14, aku berdiri di depan meja sirkulasi perpustakaan pusat UDB lantai tiga.

Kamis lalu aku ke sini juga. Aku duduk di meja sembilan dari pukul 16.20 sampai perpustakaan tutup pukul 20.00, dan meja empat belas kosong sepanjang waktu itu. Itu pertama kalinya dalam tiga tahun meja empat belas kosong di hari Kamis.

Aku sudah bilang pada diriku sendiri untuk bersiap. Bersiap kalau meja itu kosong lagi hari ini, dan minggu depan, dan seterusnya.

Surat itu ada di saku kemejaku, dilipat dua, di sebelah pulpen bekas gigitan.

Rencanaku sederhana, dan itu satu-satunya rencana yang kubuat minggu ini. Aku akan menyerahkan surat itu ke petugas sirkulasi, dan minta tolong dititipkan untuk Rendra Mahesa, mahasiswa Matematika. Petugas di sini mengenalnya. Ia sudah tiga tahun meminjam buku setiap minggu dan tidak pernah terlambat mengembalikan, kecuali satu buku biru.

Aku berjalan ke meja sirkulasi.

Lalu aku berhenti.

Di sebelah meja sirkulasi, rak kecil berlabel PESANAN masih berdiri di tempat yang sama. Tempat buku-buku yang sudah direservasi menunggu diambil, dengan kertas kecil di punggung setiap buku bertuliskan nama dan NIM pemesan.

Mataku berhenti di satu nama.

RENDRA MAHESA.

Bukunya tebal, bersampul hijau, dengan judul yang dicetak huruf emas di punggungnya:

Teori Peluang Lanjutan: Kejadian Bersyarat dan Hal-Hal yang Bergantung Satu Sama Lain.

Jilid kedua. Buku biru punya jilid kedua. Aku tidak pernah tahu.

Aku menatap kertas kecil di punggung buku itu. Tanggal pengambilan: Kamis. Hari ini.

Ia akan datang. Hari ini, ke rak ini.

Tanganku bergerak sebelum otakku. Seperti tiga bulan lalu, di depan rak yang sama, di hari yang sama, pada jam yang hampir sama.

Tapi kali ini tanganku bergerak ke arah yang berlawanan.

Aku menarik buku hijau itu setengah keluar dari rak. Aku mengambil surat dari saku kemejaku, surat yang dilipat dua dan bertuliskan Untuk Rendra dengan pulpen bekas gigitan. Lalu aku menyelipkannya di antara halaman-halaman pertama buku itu, dengan satu sudutnya sedikit menyembul, seperti sudut amplop lilac yang dulu jatuh ke lantai di depanku.

Lalu aku mendorong buku itu kembali ke rak. Lurus. Sejajar dengan buku-buku lain.

Tiga bulan lalu, di rak ini, aku mengambil surat yang bukan milikku.

Hari ini, di rak yang sama, aku meninggalkan surat yang memang milikku.

Aku berjalan ke meja sembilan, duduk, dan meletakkan kedua tanganku di atas meja. Tanpa laptop, planner, atau tempat pensil. Hanya dua tangan yang terlipat dan sedikit gemetar.

Pukul 16.22.

Aku menunggu.


Pukul 16.30 tepat, ia datang.

Tidak terlambat. Tidak sepuluh menit, tidak satu menit pun.

Ia menaiki tangga dengan buku biru di tangan. Teori Peluang dan Hal-Hal yang Tidak Kebetulan. Kemeja flanel abu-abunya digulung sampai siku, dan rambutnya sedikit berantakan seperti baru kena angin.

Ia tidak melihat ke meja sembilan. Aku tidak tahu apakah ia sengaja atau tidak.

Ia berjalan lurus ke meja sirkulasi dan meletakkan buku biru di depan petugas.

“Pengembalian,” katanya.

Petugas sirkulasi, seorang ibu berkacamata tebal yang sudah bekerja di sini sejak sebelum kami lahir, mengambil buku itu, memindai kodenya, lalu menatap layar komputer dengan mata membelalak.

“Mas,” katanya. “Ini telat tiga bulan.”

“Saya tahu, Bu.”

“Mas Rendra yang nggak pernah telat. Tiga tahun. Ibu hafal.”

“Saya tahu, Bu.”

“Dendanya sepuluh ribu.”

Rendra mengeluarkan dompet dan meletakkan selembar uang sepuluh ribu di meja, lalu satu lembar dua ribu di sebelahnya.

“Yang dua ribu buat apa, Mas?”

“Bunga,” katanya. “Buat Ibu. Karena bikin Ibu khawatir.”

Ibu petugas menatapnya dengan mulut terbuka. Aku, di meja sembilan, menutup mulutku dengan tangan. Lalu aku sadar dan menurunkannya lagi.

“Ada pesanan juga, Bu,” kata Rendra. “Atas nama Rendra Mahesa.”

Ibu petugas masih menatap uang dua ribu dengan wajah terharu. Ia menunjuk rak di sebelahnya. “Ambil sendiri, Mas. Yang hijau.”

Rendra berjalan ke rak pesanan.

Ia berdiri di sana persis di tempat aku berdiri tiga bulan lalu, waktu amplop lilac jatuh ke lantai. Ia menatap rak itu sebentar. Aku melihat bahunya naik dan turun, seperti orang yang menarik napas panjang sebelum melompat ke kolam.

Lalu ia menarik buku hijau itu dari rak.

Sesuatu jatuh ke lantai.

Sebuah kertas yang dilipat dua, disobek dari planner, dengan pinggir yang rapi karena disobek mengikuti lubang spiral. Kertas itu jatuh di dekat sepatu kanvas abu-abunya. Persis seperti pulpen hitam yang dulu menggelinding sampai berhenti di depan sepatu yang sama.

Ia menatap kertas itu.

Tulisannya menghadap ke atas: Untuk Rendra. Pulpen hitam, huruf yang sedikit miring karena tangan yang gemetar.

Ia membungkuk dan memungutnya. Ia membukanya di sana, berdiri di depan rak pesanan dengan buku hijau di tangan kiri dan surat di tangan kanan.

Aku tidak bisa bernapas.

Aku melihat matanya bergerak dari kiri ke kanan, baris demi baris. Aku melihatnya berhenti di baris pertama lebih lama dari seharusnya. Aku yang ambil surat Sasa. Aku melihatnya berhenti di coretan-coretan. Di coretan yang dicoret sekali dan masih bisa dibaca, alisnya berkerut dan bibirnya menekan rapat. Aku tahu coretan yang mana.

Lalu aku melihatnya mencapai bagian bawah halaman pertama. Nomor satu. Pulpen. Tangannya yang memegang surat mulai bergetar sedikit.

Ia membalik ke halaman kedua.

Nomor dua. Meja sembilan. Tiga tahun. Ia menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak ia menaiki tangga, ia menoleh ke meja sembilan.

Mata kami bertemu dari jarak lima meja. Jarak yang sama seperti tiga tahun, dua ratus lima puluh delapan Kamis. Jarak yang selama ini tidak pernah benar-benar kami seberangi, kecuali satu kali, untuk sebuah eksperimen.

Aku tidak mengalihkan mata. Aku tidak menutup mulut dan tidak pura-pura membaca.

Ia menatapku lama sekali. Lalu ia kembali ke surat itu dan melanjutkan membaca.

Nomor tiga. Nomor empat. Coretan hitam pekat yang tidak bisa dibaca siapa pun.

Nomor lima.

Aku melihatnya berhenti bergerak sama sekali.

Ibu petugas sirkulasi, yang sejak tadi masih memegang uang dua ribu, menatap Rendra, lalu mengikuti arah pandangnya ke meja sembilan. Ke aku. Lalu kembali ke Rendra. Dan ibu yang sudah bekerja di perpustakaan ini sejak sebelum kami lahir itu, pelan-pelan dan dengan sangat hati-hati, meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Ia tidak menyuruh siapa pun diam. Ia sedang menyuruh dirinya sendiri diam.

Rendra membaca bagian terakhir surat itu lama sekali. Lebih lama dari yang diperlukan untuk membaca enam baris.

Lalu ia melipat surat itu dua kali, persis di lipatan yang sudah ada, dan memasukkannya ke saku kemejanya. Di sebelah kacamata baca berbingkai hitam tipis. Di sebelah, kalau aku tidak salah ingat, sebuah kertas kecil berisi delapan kata soal hoodie yang dicuci dua kali, dengan satu baris soal lavender yang dicoret tidak cukup tebal.

Ia berjalan ke meja empat belas.

Bukan ke meja sembilan. Ke meja empat belas, mejanya.

Ia duduk, meletakkan buku hijau di sebelahnya, dan mengeluarkan buku catatan hitam dari tasnya. Ia membukanya ke halaman kosong, mengambil pulpen merah dari saku, dan mulai menulis.

Aku duduk di meja sembilan dengan kedua tangan terlipat di atas meja, dan menunggu.

Aku jago menunggu. Aku sudah latihan tiga tahun.

Tapi sore itu, di bawah pohon ketapang yang bergoyang pelan di luar jendela, lima meja dari seseorang yang sedang menulis sesuatu dengan pulpen merah dan tidak mengangkat kepala sama sekali, aku menyadari bahwa latihan tiga tahun ternyata tidak berguna sama sekali.

Karena menunggu seseorang yang tidak tahu kamu menunggu itu mudah.

Yang sulit adalah menunggu seseorang yang sudah tahu.