Chapter Four
Toko Buku Mahesa
POV: Kirana
Selasa berikutnya, Sasa datang ke kantin FIB dua puluh menit lebih awal dan memesankan dua piring nasi kuning, dua gelas es teh, dan enam tempe.
“Enam?” tanyaku.
“Tiga buat Kakak, tiga buat aku. Biar adil.” Ia menata tempe itu dengan presisi seorang arsitek. “Kak Gio nggak ikut?”
“Gio ada rapat divisi.”
“Sayang banget. Aku udah siapin lelucon buat dia.” Sasa mengeluarkan kertas kecil dari saku. Ia benar-benar menuliskan leluconnya. “Kenapa buku sastra nggak pernah kesepian? Karena selalu punya... tokoh pendamping.”
Aku menatapnya.
“Jelek ya?”
“Jelek.”
“Aku tahu. Tapi Kak Gio pasti ketawa. Kak Gio ketawanya murah.” Ia memasukkan kertas itu kembali ke saku dengan hati-hati, seperti menyimpan surat penting.
Surat. Aku menyendok nasi kuning cepat-cepat supaya mulutku ada kerjaan.
Setengah jam kemudian aku sudah mengetahui hal-hal berikut tentang Salsabila Wiratama: ia anak tunggal, ibunya meninggal waktu ia kelas dua SD, ayahnya pegawai dinas perpustakaan provinsi yang hobi berkebun cabai, ia alergi kucing tapi tetap mengelus kucing oranye kantin setiap hari “karena dia kelihatan butuh”, dan ia menangis tiga kali waktu membaca ulang novel yang sama.
Operasi Rebut Hati Tahap 1 berjalan sangat sukses. Terlalu sukses. Aku punya data yang cukup untuk menulis biografi Sasa, kecuali satu hal yang benar-benar kubutuhkan.
“Kamu sering ketemu... dia?” tanyaku, sambil memotong tempe dengan kecermatan ahli bedah.
Sasa tidak perlu bertanya siapa yang kumaksud. Pipinya langsung berubah warna.
“Nggak sering. Dia susah ditemui, Kak. Kalau di kampus dia kayak hantu, cuma muncul di perpus sama ruang dosen.” Ia memutar sedotan es tehnya. “Aku pernah ke rumahnya, tapi bukan buat ketemu dia. Aku ketemu ibunya.”
Pisau plastikku berhenti.
“Ibunya.”
“Iya. Ibunya baik banget, Kak. Beliau punya toko buku bekas di Gang Kenari, belakang kampus. Toko Buku Mahesa.” Sasa tersenyum dengan mata yang melembut. “Beliau kasih aku pisang goreng terus bilang, ‘Sering-sering main ke sini, ya, Nak.’”
Aku menyusun kalimat itu di kepala seperti menyusun laporan keuangan.
Sasa sudah bertemu ibunya. Sasa sudah diberi pisang goreng. Sasa sudah disuruh sering-sering main.
Dalam bahasa keluarga Indonesia, itu bukan sekadar kunjungan. Itu tahap audit kelayakan menantu.
“Kakak kenapa?” Sasa memiringkan kepala. “Tempenya keasinan?”
“Tempenya,” kataku dengan suara yang sangat stabil, “sempurna.”
Rabu sore pukul lima, aku berdiri di mulut Gang Kenari.
Aku tidak berencana ke sini. Tepatnya, aku berencana tidak ke sini. Di planner-ku, Rabu sore tertulis Revisi proposal Dies Natalis, bahas anggaran dengan Gio. Tapi Gio sakit perut (katanya gara-gara risoles, padahal kemarin tidak ada risoles), jadi rapatnya batal. Lalu kakiku, yang ternyata punya rencana sendiri, berjalan melewati gerbang belakang kampus, melewati warung fotokopi, dan berhenti di sini.
Gang Kenari sempit, cukup untuk dua motor yang berpapasan sambil saling minta maaf. Di kiri-kanan ada rumah dengan pot-pot tanaman di teras, kios pulsa, warung kopi, dan di tengah gang, bangunan dua lantai bercat hijau pudar dengan papan kayu bertuliskan tangan:
TOKO BUKU MAHESA Buku Bekas & Baru. Buka Sampai Mata Mengantuk.
Etalasenya dipenuhi tumpukan buku sampai kaca bagian bawahnya tidak kelihatan. Lampu kuning menyala di dalam, dan aroma kertas tua bercampur minyak goreng keluar dari pintu yang terbuka.
Aku menyusun alasan. Aku mahasiswa, toko buku ada di dekat kampus, dan mahasiswa membeli buku. Itu logika dasar, bahkan tidak butuh slide.
Aku masuk.
Bel kecil di atas pintu berbunyi. Di dalam, rak-rak kayu berdiri begitu rapat sampai aku harus berjalan menyamping di beberapa lorong. Buku bertumpuk di lantai, di kursi, dan di atas buku lain. Di pojok dekat meja kasir ada satu kursi plastik hijau yang terlalu bersih untuk toko sepenuh ini. Tidak ada buku di atasnya, dan tidak ada debu. Seperti kursi itu sengaja dikosongkan untuk seseorang yang belum datang.
“Selamat sore! Cari buku apa, Neng?”
Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik tirai di belakang meja kasir. Ia memakai celemek bermotif bunga, membawa piring berisi pisang goreng yang masih mengepul, dan tersenyum dengan seluruh wajahnya. Matanya gelap dan tenang, persis mata yang kukenal dari meja empat belas, tapi dengan tambahan tawa di sudut-sudutnya.
Ibunya Rendra.
“Sore, Bu. Saya cuma lihat-lihat.”
“Lihat-lihat juga boleh. Lihat-lihat itu awal jodoh, Neng. Jodoh sama buku, maksud Ibu.” Ia meletakkan piring pisang goreng di meja kasir dan mendorongnya ke arahku. “Ambil, ambil. Baru diangkat. Ibu Ratna, pemilik toko ini. Neng anak UDB?”
“Iya, Bu. FEB.”
“FEB! Wah, pintar berhitung.” Bu Ratna memandangiku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu kembali ke atas lagi, dengan ekspresi seseorang yang sedang menilai semangka di pasar. “Cantik sekali, Neng. Ya ampun. Kulitnya. Rambutnya. Pasti sudah punya pacar, ya?”
Aku tersedak pisang goreng yang belum sempat kugigit.
“Belum, Bu.”
“Belum!” Bu Ratna menepuk meja dengan girang, seperti baru mendengar harga cabai turun. “Belum! Masya Allah. Anak Ibu juga belum. Anak Ibu kuliah di UDB juga, Matematika, pintar sekali, tinggi, cuma agak pendiam. Kayak kulkas. Tapi kulkas yang baik, ya, kulkas yang dingin tapi isinya banyak.”
“Bu...”
“Sebentar. Ibu tunjukkan fotonya.” Ia sudah membungkuk ke laci meja kasir sebelum aku bisa mencegah. “Nah, ini waktu dia umur tiga tahun. Lihat pipinya. Ini waktu dia jadi pohon di pentas TK. Dia marah sekali, katanya pohon nggak punya dialog. Ini waktu SD, juara olimpiade. Ini waktu SMP, ini...”
Album foto itu tebal. Sangat tebal. Dan di halaman ketiga ada foto seorang bocah kurus berkacamata bulat yang memeluk kalkulator ilmiah seperti memeluk boneka.
Aku menutup mulut dengan tangan. Bukan karena kaget, tapi karena menahan tawa sampai perutku sakit.
“Bu.”
Suara itu datang dari tangga kayu di balik tirai. Rendah, datar, dan sangat lelah, seperti suara orang yang sudah pernah mengalami ini sebelumnya.
Rendra Mahesa turun dua anak tangga terakhir memakai kaus abu-abu dan celana training. Rambutnya basah seperti baru mandi, dan handuk kecil masih tersampir di bahunya.
Ia melihat ibunya. Ia melihat album foto. Ia melihat halaman foto kalkulator.
Lalu ia melihatku.
Tidak pernah dalam tiga tahun aku melihat ekspresi Rendra Mahesa berubah secepat itu. Dalam satu detik, wajahnya melewati kaget, malu, pasrah, dan kembali datar dengan kecepatan yang biasanya hanya dimiliki slide transisi.
“Anindya.”
“Mahesa.”
“Kamu di rumahku.”
“Aku di toko buku,” koreksiku. “Toko buku ini kebetulan ada di bawah rumahmu.”
“Lho, kalian kenal?” Bu Ratna menatap kami bergantian dengan mata yang semakin berbinar. “Ren! Kamu kenal Neng cantik ini dan nggak bilang Ibu?”
“Bu, tolong tutup albumnya.”
“Ibu baru sampai SMP.”
“Bu.”
Bu Ratna menutup album itu dengan bibir maju dan gerakan yang sangat lambat, seperti menutup peti harta karun. Ia memasukkannya kembali ke laci, lalu berbalik padaku dengan senyum lebar.
“Neng namanya siapa?”
“Kirana, Bu.”
“Kirana.” Ia mengulang namaku seolah-olah mencicipinya. “Nama yang bagus. Artinya cahaya. Cocok. Rendra itu artinya...”
“Bu, pisang gorengnya gosong,” kata Rendra.
“Pisang gorengnya di sini semua, Ren.”
“Yang di wajan.”
Bu Ratna mengendus udara, memekik kecil, lalu menghilang ke balik tirai dengan kecepatan yang mengesankan untuk usianya.
Hening.
Hanya ada aku, Rendra, sepiring pisang goreng, dan seribu buku bekas yang menyaksikan segalanya.
“Maaf soal ibuku,” katanya akhirnya.
“Aku suka ibumu.”
“Semua orang suka ibuku. Itu masalahnya.” Ia menyampirkan handuk lebih rapi di bahunya. “Kamu cari buku apa?”
Aku menyambar buku terdekat di rak sebelahku tanpa melihat judulnya.
“Ini.”
Rendra memiringkan kepala untuk membaca sampulnya. “Pengantar Akuntansi Jilid 1. Edisi kedua belas.”
“Iya.”
“Kamu anak FEB semester tujuh.”
“Iya.”
“Ini buku semester satu.”
“Aku... mau mengulang dasar. Fondasi itu penting. Rumah yang megah tanpa fondasi yang kuat akan runtuh.”
“Kamu punya buku ini,” katanya. “Edisi empat belas. Sampul merah. Ada di tasmu waktu di perpustakaan Kamis lalu.”
Aku menatapnya.
Ia menatapku.
“Kamu lihat isi tasku?”
“Tasmu terbuka. Waktu tempat pensilmu tumpah.” Nada suaranya tidak berubah, tapi ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang kecil dan terang, seperti ujung korek api. “Aku orangnya teliti.”
“Aku juga orangnya teliti.”
“Aku tahu. Kamu meluruskan rak yang udah lurus.”
Wajahku terasa panas. Aku menyalahkan lampu kuning, uap pisang goreng, dan kelembapan kota Bandung.
“Aku beli yang ini,” kataku keras kepala. “Edisi dua belas. Buat perbandingan. Aku mau lihat evolusi pemikiran akuntansi dari edisi ke edisi.”
Rendra diam cukup lama. Lalu ia mengambil buku itu dari tanganku, membuka halaman depannya, dan membaca harga yang ditulis dengan pensil di pojok kanan atas.
“Delapan ribu.”
Aku mengeluarkan dompet.
“Tapi karena ini buat penelitian evolusi pemikiran akuntansi,” lanjutnya, “gratis.”
“Aku nggak mau gratis.”
“Kenapa?”
“Karena gratis itu utang. Dan aku nggak suka punya utang.”
Rendra menatapku, dan kali ini sudut bibirnya benar-benar bergerak. Bukan senyum penuh, tapi cukup untuk membuktikan bahwa otot-otot itu memang ada dan berfungsi.
“Oke. Delapan ribu.”
Aku meletakkan uang pas di meja kasir. Tanganku sedikit gemetar, dan aku berharap ia tidak menyadarinya. Tentu saja ia menyadarinya. Ia orangnya teliti.
Mataku jatuh ke kursi plastik hijau di pojok.
“Kursi itu kenapa kosong?” tanyaku. “Semua tempat di sini penuh buku. Kecuali itu.”
Rendra ikut menoleh ke arah kursi itu. Hanya sebentar, tapi ada jeda di sana. Semacam titik koma dalam kalimat panjang.
“Itu...”
“Itu kursi yang Rendra beli sendiri waktu SMP!” Bu Ratna muncul lagi dari balik tirai dengan piring pisang goreng kedua. Yang ini, anehnya, memang sedikit gosong. “Pakai uang tabungannya sendiri. Katanya buat tamu yang mau lama di sini. Biar ada tempat duduk.”
“Bu.”
“Tapi sampai sekarang belum pernah ada yang duduk lama di situ.” Bu Ratna menghela napas dramatis. “Teman-temannya dulu datang, beli buku, pulang. Yang perempuan manis pakai pita itu juga datang buat ketemu Ibu, bukan buat dia. Kasihan kursinya. Sudah hampir sepuluh tahun nganggur.”
Yang perempuan manis pakai pita.
Aku menelan ludah, dan ludah itu terasa seperti tempe yang tersangkut.
“Bu, Anindya mau pulang,” kata Rendra.
“Lho, kok cepat? Neng Kirana, duduk dulu di kursi hijau. Coba, coba. Biar kursinya ada kerjaan.”
Rendra menatap ibunya dengan tatapan yang, kalau diterjemahkan, berbunyi kurang lebih: Aku akan pindah ke Kutub Utara.
“Lain kali, Bu,” kataku. “Saya harus pulang sebelum magrib.”
“Ren! Antar Neng Kirana sampai mulut gang. Gang ini gelap kalau magrib, lampunya belum dibetulkan RT.”
“Bu, Anindya bisa jalan sendiri. Dia punya kaki.”
Aku menoleh cepat padanya. Itu kalimatku dari kantin FIB. Ia menyimpannya.
Bu Ratna berkacak pinggang dengan sendok penggorengan masih di tangan. Wajahnya berubah dari ibu yang ramah menjadi jenderal yang memimpin pasukan.
“Rendra Mahesa.”
Tiga detik kemudian, Rendra berjalan di sebelahku menyusuri Gang Kenari.
Langit Bandung pukul setengah enam berwarna oranye kotor, seperti es teh yang kebanyakan gula. Gang itu memang gelap, karena lampu jalannya berkedip-kedip seperti orang yang sedang mempertimbangkan pensiun.
Kami berjalan dalam diam. Diam yang tidak nyaman sekaligus tidak ingin kuakhiri.
Ia berjalan di sisi luar, di sisi yang lebih dekat dengan motor-motor yang lewat. Aku menyadarinya karena setiap kali ada motor, bahunya bergeser sedikit ke arahku, seperti tembok yang bisa berpikir.
“Maaf soal album fotonya,” katanya.
“Aku suka foto kalkulatornya.”
“Itu bukan kalkulator. Itu Casio fx-991. Dia sahabatku.”
“Kamu punya sahabat kalkulator.”
“Kamu punya sahabat pulpen. Punyaku.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu. Kami berjalan lima langkah lagi.
“Anindya.”
“Hm?”
“Kamu tadi bilang kebetulan lewat?”
“Aku belum bilang apa-apa soal itu.”
“Tapi kamu mau bilang itu.”
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Ia benar, dan aku benci kalau ia benar.
“Aku memang lewat,” kataku. “Gang ini jalan pintas ke jalan raya.”
Rendra berhenti berjalan.
Ia menunjuk ke ujung gang di belakang kami. Ujung yang tadi kulewati saat masuk, tapi tidak kuperhatikan karena mataku sibuk mencari papan toko buku.
Di sana ada tembok. Tembok bata tinggi, dengan pot kembang sepatu di bawahnya dan tulisan cat semprot yang sudah pudar: GANG BUNTU. JANGAN PARKIR.
“Gang Kenari buntu,” kata Rendra. “Sudah dari zaman Belanda.”
Aku menatap tembok itu. Tembok itu menatapku balik dengan seluruh kebenaran sejarahnya.
“Aku,” kataku, “salah lihat peta.”
“Kamu nggak pakai peta.”
“Aku punya peta di kepala.”
“Petamu rusak.”
Dan tiba-tiba aku tertawa. Bukan tawa terlatih, bukan tawa cermin. Tawa yang keluar begitu saja dan tidak bisa kuhentikan, sampai aku harus menunduk dan memegangi perut. Tawa seorang Ketua BEM yang baru ketahuan berbohong di depan tembok zaman Belanda.
Waktu akhirnya aku bisa mengangkat kepala, Rendra sedang menatapku.
Tidak datar. Tidak juga dingin. Ia menatapku seperti sedang membaca kalimat yang ingin ia garis bawahi.
“Kamu jarang ketawa kayak gitu,” katanya pelan.
“Kamu nggak tahu aku ketawa kayak apa.”
“Tiga tahun, meja sembilan,” katanya. “Kamu ketawa kalau ada yang lucu di ponsel, tapi selalu ditutup tangan. Nggak pernah bunyi.”
Tawaku berhenti.
Lampu jalan di atas kami berkedip sekali, lalu menyala stabil untuk pertama kalinya sejak kami keluar dari toko, seolah-olah ia juga ingin melihat.
Kami sudah sampai di mulut gang. Jalan raya di depan kami ramai dengan angkot dan klakson, dan dunia yang normal menunggu di sana.
“Anindya.”
“Hm?”
“Lain kali kalau mau ke sini,” katanya, “nggak usah pakai alasan.”
Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam gang buntu itu, ke toko buku yang lampunya kuning, ke kursi plastik hijau yang belum pernah diduduki siapa pun selama hampir sepuluh tahun.
Aku berdiri di mulut gang memeluk Pengantar Akuntansi Jilid 1 Edisi Kedua Belas seharga delapan ribu rupiah, sementara jantungku berlari ke arah yang sama sekali tidak ada di rencana.
Di dalam tasku, di dalam planner kulit cokelat, amplop lilac itu masih menunggu.
Dan di kepalaku, suara Bu Ratna terus berulang seperti lagu yang tidak mau berhenti:
Yang perempuan manis pakai pita itu.
Sasa punya tempat di toko itu.
Tapi kursi hijau itu, katanya, belum pernah diduduki siapa pun.
Aku tidak tahu harus merasa lega atau bersalah. Jadi aku merasakan keduanya sekaligus, sepanjang perjalanan pulang di dalam angkot yang musiknya terlalu keras.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa reading
- 5 Murid Palsu
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama