Chapter Five
Murid Palsu
POV: Kirana
“Aku butuh kamu pura-pura bodoh,” kataku.
Gio sedang menyusun kursi di sekretariat BEM untuk rapat pleno. Ia berhenti dengan satu kursi terangkat di atas kepala, seperti atlet angkat besi yang baru mendengar kabar buruk.
“Kamu ngomong gitu ke semua wakil ketuamu, atau cuma ke aku?”
“Kamu satu-satunya wakil ketuaku.”
“Makanya aku tersinggung secara eksklusif.” Ia menurunkan kursi. “Pura-pura bodoh soal apa?”
“Statistika.”
Gio tertawa. Tawa pendek yang langsung mati waktu ia melihat wajahku.
“Kir. Aku nggak perlu pura-pura. Nilai Statistika Bisnis-ku C. Aku lulus karena dosennya kasihan lihat aku nangis waktu UAS.”
“Bagus. Berarti aktingmu natural.”
Aku menjelaskan rencananya. Rendra Mahesa adalah asisten dosen Statistika, dan asisten dosen punya jam konsultasi. Mahasiswa semester tujuh yang sedang menyiapkan skripsi kuantitatif butuh pemahaman regresi yang kuat. Jadi dua mahasiswa semester tujuh itu, yang kebetulan Ketua dan Wakil Ketua BEM FEB, mendatangi asisten dosen tersebut untuk sesi bimbingan tambahan.
Sangat logis. Sangat akademis. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan gang buntu, lampu kuning, atau kalimat “lain kali nggak usah pakai alasan”.
“Tapi dia bilang nggak usah pakai alasan,” kata Gio.
Aku membeku. “Dari mana kamu tahu dia bilang begitu?”
Gio mengedip. “Aku nggak tahu. Aku cuma nebak. Tapi dari mukamu barusan, ternyata dia beneran bilang begitu.”
Aku melempar spidol ke arahnya. Ia menangkapnya dengan satu tangan dan menyelipkannya di saku kemeja seperti piala.
“Rabu jam tiga,” kataku. “Ruang asisten dosen Matematika, lantai dua.”
“Kir, satu hal.” Gio menatapku sambil menyusun kursi terakhir. “Kalau di tengah-tengah kamu kelihatan terlalu pintar, aku harus ngapain?”
“Aku nggak akan kelihatan terlalu pintar.”
“Kamu kelihatan terlalu pintar bahkan waktu tidur di bus studi banding.”
“Gio.”
“Aku cuma mau siap-siap.”
Ruang asisten dosen Matematika ternyata sebuah ruangan kecil dengan empat meja, satu papan tulis penuh coretan integral yang tidak pernah dihapus, dan AC yang bunyinya seperti orang mendengkur.
Rendra duduk di meja paling dekat jendela, memeriksa tumpukan kertas kuis dengan pulpen merah. Ia mengangkat kepala waktu kami mengetuk pintu yang sudah terbuka.
Ia melihat Gio. Lalu ia melihatku.
Satu alisnya naik sampai hampir menyentuh rambut.
“Anindya.”
“Mahesa. Kami mau konsultasi.”
“Konsultasi.”
“Regresi linear berganda. Untuk persiapan skripsi.”
Rendra meletakkan pulpen merahnya dengan pelan, seperti hakim yang meletakkan palu sebelum membacakan vonis. Ia menatapku tanpa ekspresi selama lima detik penuh.
“Duduk,” katanya akhirnya.
Kami duduk. Gio di kursi paling dekat pintu, dengan posisi seorang tamu yang siap kabur kapan saja.
Rendra menarik selembar kertas kosong. “Sampai mana pemahaman kalian?”
“Nol,” kata Gio dengan jujur dan penuh semangat.
“Sedikit,” kataku, dengan nada seseorang yang sedang berjuang. Aku sudah melatih nada itu semalam di depan cermin. “Aku bingung soal... interpretasi koefisien.”
“Interpretasi koefisien,” ulang Rendra.
“Iya. Angka-angkanya. Maksudnya apa.”
Rendra menatapku lagi. Lalu ia menulis sebuah persamaan sederhana di kertas: Y sama dengan beta nol ditambah beta satu X satu, ditambah beta dua X dua, ditambah galat.
“Y adalah penjualan kedai kopi per hari. X satu adalah harga. X dua adalah jumlah kursi.” Ia melingkari beta satu. “Kalau beta satu nilainya minus lima ratus, artinya apa?”
“Artinya,” Gio mengerutkan dahi sangat dalam, “harganya... negatif? Kedai kopinya bayar kita buat minum?”
Rendra menatap Gio dengan kesabaran seorang biksu yang sedang menyiram tanaman di tengah kemarau.
“Bukan.”
“Oh.”
“Anindya?”
Aku tahu jawabannya. Aku tahu jawabannya sejak semester tiga. Setiap kenaikan harga satu satuan akan menurunkan penjualan sebesar lima ratus satuan, dengan asumsi variabel lain tetap. Jawabannya duduk di ujung lidahku, rapi seperti pasukan baris-berbaris.
“Artinya...” Aku menggigit bibir, melirik ke langit-langit, dan membuat wajah orang yang sedang berpikir keras. “Kalau harganya naik, penjualannya... ikut naik? Karena orang pikir kopinya mewah?”
Gio menatapku dengan horor. Rendra menatapku tanpa ekspresi apa pun.
“Menarik,” kata Rendra.
“Ya kan?”
“Salah, tapi menarik.”
Ia menjelaskan dengan suara rendah yang tenang. Ia tidak terburu-buru, tapi juga tidak bertele-tele. Ia menggambar grafik kecil, memberi contoh yang lucu dengan cara yang datar (kalau kopinya lima puluh ribu, bahkan Gio tidak akan beli), dan setiap penjelasannya mengalir begitu jernih sampai Gio, yang nilai Statistika Bisnis-nya C, mulai mengangguk-angguk dengan wajah orang yang baru menemukan agama baru.
“Oh,” bisik Gio. “Oooh. Jadi itu maksudnya. Kenapa dosenku dulu nggak jelasin kayak gini?”
“Mungkin karena kamu nangis,” kata Rendra.
Gio menoleh padaku, terkhianati. “Kamu cerita ke dia aku nangis?”
“Aku nggak cerita apa-apa!”
“Aku asisten di kelas itu,” kata Rendra datar. “Aku yang ngasih kamu tisu.”
Gio menatap Rendra lama. Lalu ia menunduk dengan hormat. “Terima kasih atas tisunya, Kak.”
“Sama-sama.”
Aku menutupi mulut dengan tangan dan pura-pura batuk. Rendra melirikku. Sekilas, cepat sekali, tapi aku melihatnya: ia melihat tanganku menutup mulut. Aku ingat apa yang ia katakan di gang buntu. Kamu ketawa kalau ada yang lucu, tapi selalu ditutup tangan.
Aku menurunkan tanganku pelan-pelan.
Empat puluh menit kemudian, aku sudah menjawab enam soal dengan salah, dengan cara yang semakin kreatif.
Aku salah menempatkan koma desimal. Aku bilang R-kuadrat itu “R dikali dua”. Aku bertanya apakah galat bisa dihapus kalau kita “berdoa dengan sungguh-sungguh”. Semua itu kuucapkan dengan wajah polos dan mata membulat, jenis ekspresi yang kupinjam dari Sasa.
Dan setiap kali, Rendra menjawab dengan sabar tanpa sedikit pun mengejek. Setiap kali, matanya menatapku sedikit lebih lama daripada sebelumnya.
Aku mulai merasa seperti penjahat di film yang terlalu lama bermonolog.
“Soal terakhir,” kata Rendra. Ia menulis hasil output regresi di kertas: koefisien, standar error, nilai t, dan nilai p. “Interpretasikan ini.”
Aku membacanya.
Koefisien untuk variabel jumlah kursi tertulis minus 2,31, dengan nilai t positif 4,12.
Tanda minus dan tanda plus. Itu tidak mungkin. Nilai t adalah koefisien dibagi standar error, dan standar error tidak pernah negatif. Kalau koefisiennya minus, nilai t-nya pasti minus. Salah satunya salah ketik.
Aku menatap angka itu. Angka itu menatapku balik.
Jangan, kata suara di kepalaku. Kamu murid bodoh hari ini. Murid bodoh tidak tahu hubungan antara koefisien dan statistik t. Murid bodoh hanya mengangguk dan bilang “oh begitu”.
Tapi tanda minus itu duduk di sana, salah, miring, seperti rak yang tidak lurus.
Tanganku bergerak sendiri.
Aku mengambil pulpen hitam bekas gigitan dari saku kemeja dan mencoret tanda minus itu.
“Tandanya salah,” kataku. “Nilai t-nya positif, jadi koefisiennya juga harus positif. Standar error nggak mungkin negatif. Atau nilai t-nya yang salah ketik. Tapi yang jelas, dua-duanya nggak bisa beda tanda. Terus kalau koefisiennya positif 2,31, artinya setiap penambahan satu kursi meningkatkan penjualan dua koma tiga satu satuan per hari, dengan asumsi harga tetap. Dan karena nilai p-nya di bawah nol koma nol lima, itu signifikan secara statistik. Pemilik kedai sebaiknya nambah kursi.”
Hening.
AC mendengkur.
Gio menutup wajah dengan kedua tangan dan berbisik ke celah jarinya, “Aku sudah bilang.”
Aku menatap coretan di kertas itu. Lalu aku menatap pulpen di tanganku. Lalu, pelan-pelan, seperti orang yang sadar sedang berdiri di tepi jurang, aku mengangkat kepala.
Rendra bersandar di kursinya dengan tangan terlipat di dada. Ia tidak terlihat kaget sama sekali.
“Aku sengaja salah tulis,” katanya.
“Kamu...”
“Aku mau lihat berapa lama kamu tahan.”
“Kamu tahu dari awal?”
Ia mengeluarkan ponsel, mengetuk layarnya beberapa kali, lalu membaliknya ke arahku.
Foto papan pengumuman lobi FEB. Deretan foto Mahasiswa Berprestasi. Di baris paling atas ada fotoku dengan senyum terlatih, namaku dalam huruf kapital, dan di bawahnya satu baris tebal yang selama ini kubanggakan sekaligus kubenci:
Manajemen 2023 — IPK 3,98
“Kamu foto papan pengumuman?” suaraku melengking setengah oktaf.
“Aku lewat.”
“Kamu lewat, lalu berhenti, lalu buka kamera, lalu foto.”
“Aku orangnya teliti.”
“Itu bukan teliti! Itu...”
Aku berhenti, karena kata yang hendak kuucapkan adalah kata yang juga menggambarkan diriku sendiri dengan sangat akurat. Tiga tahun di meja sembilan. Pulpen bekas gigitan. Surat lilac di planner.
Gio berdiri tiba-tiba. “Aduh. Perutku.”
“Perutmu kenapa?” tanyaku tajam.
“Risoles,” kata Gio dengan wajah menderita yang sama sekali tidak meyakinkan.
“Tadi nggak ada risoles.”
“Risoles kemarin. Efeknya tertunda. Risoles itu licik.” Ia sudah di pintu. “Terima kasih, Kak Rendra. Aku ngerti regresi sekarang. Aku mau nangis lagi, tapi kali ini karena bahagia.”
“Sama-sama,” kata Rendra.
Gio menghilang. Aku mendengar langkahnya di koridor. Langkah itu sama sekali tidak terdengar seperti langkah orang sakit perut. Justru terdengar seperti orang yang sedang menahan tawa.
Pintu tertutup pelan. Hanya ada aku, Rendra, AC yang mendengkur, dan tanda minus yang kucoret.
“Tiga koma sembilan delapan,” kata Rendra.
“Kurang nol koma nol dua,” jawabku otomatis.
Kalimat itu keluar begitu saja, dengan nada yang sama persis seperti Mama. Aku tidak sengaja. Kalimat itu sudah terlalu lama tinggal di tenggorokanku sampai bisa keluar sendiri.
Rendra memiringkan kepala sedikit.
“Nol koma nol duanya ke mana?”
Tidak ada yang pernah menanyakan itu. Orang-orang bilang wah, hebat, atau pintar banget, atau, kalau yang bertanya Mama, kenapa tidak empat. Tidak ada yang pernah bertanya ke mana dua perseratus itu pergi, seolah-olah itu barang hilang yang bisa dicari.
“Pengantar Statistika,” kataku. “Semester satu. Aku dapat A-minus. Satu-satunya A-minus.”
Ia diam.
“Pulpenku macet di soal kedua,” lanjutku, lebih pelan. “Aku panik. Aku belum pernah panik waktu ujian. Aku kehilangan sepuluh menit cuma buat menatap kertas. Pulpen itu datang, tapi waktunya sudah telat untuk soal terakhir.”
Rendra menatap pulpen hitam di tanganku.
“Jadi nol koma nol duanya,” katanya pelan, “hilang di hari yang sama waktu kamu dapat pulpenku.”
“Iya.”
“Berarti aku terlambat sepuluh menit.”
“Itu bukan salahmu.”
“Aku tahu. Tapi seharusnya aku lihat lebih cepat.” Ia mengambil kertas soal yang tadi, lalu menatap coretanku di tanda minus. “Aku biasanya lihat semua hal lebih cepat.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat dadaku terasa sempit.
“Kamu minta maaf atas nilai A-minus-ku tiga tahun lalu?”
“Aku nggak minta maaf.” Ia mengangkat kepala. “Aku cuma mikir. Kalau waktu itu aku lihat lebih cepat, kamu bakal dapat A, IPK-mu empat, dan kamu nggak bakal punya alasan buat duduk di sini hari ini pura-pura nggak ngerti regresi.”
“Aku nggak pura-pura...”
“Anindya. Kamu nanya apakah galat bisa dihapus dengan doa.”
Wajahku terbakar. “Itu pertanyaan filosofis.”
“Itu pertanyaan konyol.”
“Kamu jawab dengan serius!”
“Karena kamu nanya dengan serius.” Sudut bibirnya bergerak. “Kamu kelihatan serius banget waktu pura-pura bodoh. Aku nggak tega ketawa.”
Aku ingin membalas. Aku punya setidaknya empat balasan tajam yang sudah tersusun rapi. Tapi ia menatapku seperti itu: datar, tenang, dan tepat sasaran. Tatapan yang menembus semua lapisan rencana dan slide, lalu melihat sesuatu di baliknya yang bahkan aku sendiri belum sempat periksa.
Keempat balasan itu bubar seperti peserta rapat yang mendengar kata “konsumsi sudah datang”.
“Jadi,” kataku akhirnya, dengan sisa-sisa martabat yang kupungut dari lantai, “sesi ini gagal.”
“Kenapa gagal?”
“Aku ketahuan.”
“Kamu ketahuan dari menit pertama.” Ia menyandarkan punggung. “Tapi Gio sekarang ngerti regresi. Jadi sesi ini sukses. Buat Gio.”
“Kamu menghinaku.”
“Aku memujimu. Temanmu jadi pintar karena kamu bohong. Itu efisien.”
Aku berdiri dan meraih tasku. Planner kulit cokelat di dalamnya terasa sedikit lebih berat, atau mungkin itu hanya perasaanku.
“Aku pergi.”
“Anindya.”
Aku berhenti di pintu tanpa menoleh.
“Kamis depan,” katanya. “Jam yang sama. Di sini.”
Aku berbalik.
“Buat apa? Aku sudah bisa regresi.”
“Bawa soal yang beneran kamu nggak bisa.”
“Nggak ada soal yang aku nggak bisa.”
Rendra mengambil pulpen merahnya lagi dan kembali memeriksa tumpukan kuis. Ia tidak menatapku waktu mengucapkan kalimat berikutnya, dan justru itu yang membuatnya jauh lebih berbahaya.
“Ada,” katanya. “Kamu cari sendiri.”
Aku berjalan menyusuri koridor Matematika lantai dua dengan langkah terlalu cepat. Aku melewati papan-papan pengumuman penuh rumus, lalu turun tangga dan keluar ke udara sore yang lembap.
Gio menunggu di bangku taman depan gedung. Ia sedang makan cilok dan jelas tidak sakit perut.
“Gimana?” tanyanya dengan mulut penuh.
“Kamu bohong soal risoles.”
“Kamu bohong soal regresi. Kita impas.” Ia menyodorkan satu tusuk cilok padaku. “Muka kamu merah.”
“Cuacanya panas.”
“Ini Bandung. Jam lima sore. Mendung.”
Aku mengambil cilok itu dan menggigitnya dengan agresif.
Ponselku bergetar di saku. Aku mengeluarkannya.
Pesan dari nomor yang belum kusimpan, tapi fotonya pita kuning:
Kak Kirana!!! Ini Sasa hehe. Aku dapet nomor Kakak dari grup humas BEM. Maaf lancang 🙏 Besok Kakak free nggak? Aku mau cerita sesuatu. Soal Kak Ren 🥺
Cilok di mulutku tiba-tiba terasa seperti karet.
Aku menatap layar itu. Lalu menatap gedung Matematika di belakangku, lantai dua, jendela paling ujung. Di balik jendela itu, seorang cowok sedang memeriksa kuis dengan pulpen merah dan baru saja menyuruhku mencari soal yang tidak bisa kujawab.
Aku tidak perlu mencarinya.
Soal itu baru saja masuk ke ponselku, lengkap dengan emoji wajah memelas.
Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, dan menghapusnya lagi. Gio mengunyah cilok di sebelahku sambil menonton dengan penuh minat, seperti menonton sinetron yang tokohnya tidak bisa memutuskan apakah akan menampar atau memeluk.
Akhirnya aku mengirim satu kata:
Bisa.
Lalu aku membuka planner, membalik ke halaman OPERASI REBUT HATI, dan menatap tabel analisis risiko yang kubuat minggu lalu. Kolom risiko terbesar masih bertuliskan Ketahuan.
Dengan pulpen hitam bekas gigitan, di bawahnya, aku menambahkan satu baris baru:
Risiko 2: Mulai suka Sasa juga.
Lalu, setelah lama menatap gedung Matematika:
Risiko 3: Dia bilang “kamu cari sendiri.”
Kolom mitigasi untuk kedua risiko itu kubiarkan kosong.
Untuk pertama kalinya, aku tidak punya rencana.
- 1 Surat di Buku Pinjaman
- 2 Operasi Rebut Hati
- 3 Target: Salsabila
- 4 Toko Buku Mahesa
- 5 Murid Palsu reading
- 6 Ketua BEM yang Aneh
- 7 Sahabat Paling Setia
- 8 Rak Buku Sempit
- 9 Satu Payung
- 10 Misi Rahasia Sasa
- 11 Surat yang Tak Pernah Datang
- 12 KKN Hari Pertama
- 13 Bubur dan Kode Rahasia
- 14 Kurang Nol Koma Nol Dua
- 15 Malam Keakraban
- 16 Ternyata Aku Menunggu Dia
- 17 Hujan di Kios
- 18 Pura-Pura Amnesia
- 19 Cincin di Etalase
- 20 Kenapa Dia Menjauh?
- 21 Makan Malam Dua Keluarga
- 22 Terang-terangan
- 23 Surat di Planner
- 24 Semuanya Direncanakan?
- 25 Pencuri yang Bukan Pencuri
- 26 Kirana Tanpa Slide
- 27 Kursi yang Kosong
- 28 Surat Penuh Coretan
- 29 Jangan Lupa Makan
- 30 Tanggal Empat Belas
- 31 Epilog — Kursi untuk Tamu yang Mau Lama