← Surat Salah Alamat

Chapter Twenty Four

Semuanya Direncanakan?

POV: Rendra

Papan tulis di dapur kami dulu berukuran enam puluh kali empat puluh senti, dengan bingkai aluminium yang sudut kanan bawahnya penyok karena pernah jatuh waktu aku berumur delapan tahun.

Ayah menulis rencana di sana setiap Minggu pagi, pakai spidol empat warna. Biru untuk rencana keluarga, hijau untuk rencana toko, merah untuk tenggat waktu, dan hitam untuk hal-hal yang ia sebut “yang penting-penting”.

Aku ingat tulisan terakhir di papan itu. Aku mengingatnya lebih jelas daripada wajahnya.

Dengan spidol biru, di pojok kiri atas: Liburan ke Pangandaran. Desember. Naik kereta. Ren boleh pilih kursi dekat jendela.

Ayah pergi bulan November.

Ia pergi hari Selasa, waktu aku di sekolah dan Ibu di toko. Ia membawa satu koper, meninggalkan kunci rumah di meja makan, dan tidak meninggalkan surat apa pun. Satu-satunya tulisan tangannya yang tersisa di rumah ini adalah kalimat soal Pangandaran, di papan tulis dapur, dengan spidol biru.

Ibu menghapusnya seminggu kemudian. Ia menghapusnya dengan penghapus papan tulis, lalu lap basah, lalu sabun cuci piring, karena spidol biru itu ternyata spidol permanen yang salah dibeli, dan bekasnya tidak mau hilang.

Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menatap Ibu menggosok papan itu sampai tangannya merah. Bekas tulisan Pangandaran masih samar-samar terlihat, seperti hantu.

Akhirnya Ibu menurunkan papan itu dari dinding dan memasukkannya ke gudang, di belakang rak besi, di tempat yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Papan itu masih ada di sana sampai sekarang. Aku pernah melihatnya waktu stok opname dengan Anindya, di balik rak paling belakang. Aku tidak mengatakan apa-apa waktu itu.

Seminggu setelah papan itu masuk gudang, aku memecahkan celengan ayam dan membeli kursi hijau.

Sejak itu aku tidak percaya pada rencana. Aku tidak percaya pada orang yang menulis masa depan di papan tulis, pakai spidol berwarna, dengan kalimat yang terdengar seperti janji. Karena orang yang paling pintar membuat rencana ternyata juga paling pintar membuat rencana untuk pergi.


Minggu malam, setelah Anindya pulang, setelah Ibu mengusir kucing belang dari kursi hijau dan diam-diam melipat tiga ratus undangan sendirian di dapur, aku duduk di lantai kamar dengan amplop lilac di pangkuan.

Aku belum membukanya.

Aku sudah tahu isinya. Om Hendra sudah mengatakannya di meja makan, dan Sasa sudah mengulanginya: Sabtu ini jam tujuh. Aku tunggu kamu pulang. Dan satu kalimat lagi yang tidak ingin kubaca dengan tulisan tangan Sasa, karena kalau aku membacanya, aku tahu dadaku akan runtuh seperti rak buku yang terlalu penuh.

Jadi aku menatap amplopnya saja. Untuk Kak Ren. Tinta ungu, huruf bulat, sudut yang lecek karena terlalu lama digenggam, lalu terlalu lama diselipkan di planner orang lain.

Lalu, tanpa bisa kucegah, kepalaku mulai melakukan apa yang selalu ia lakukan. Mengumpulkan data dan menyusun pola.

Aku hafal isi halaman planner itu. Aku membacanya sekali, dan itu sudah cukup. Aku orang yang hafal nomor bangku ujian tiga tahun lalu. Aku tidak bisa tidak menghafal kalimat yang ditulis dengan huruf serapi itu.

Tahap satu: pengumpulan data.

Minggu pertama, ia muncul di kantin FIB bersama Gio. Program mentoring lintas fakultas. Aku kira itu lucu. Sekarang aku tahu itu tahap satu.

Tahap dua: infiltrasi. Menjadi teman Subjek S.

Setiap Selasa, kantin FIB, tempe.

Tahap tiga: distraksi.

Dies Natalis, map cokelat dua belas, kasih dia ruang.

Tahap empat: muncul sebagai alternatif yang masuk akal.

Ruang asisten dosen. Murid palsu yang bertanya apakah galat bisa dihapus dengan doa. Waktu itu aku tertawa dalam hati sampai perutku sakit. Aku kira itu hal paling jujur yang pernah dilakukan seseorang di depanku. Seseorang yang pura-pura tidak tahu, karena ingin dekat.

Ternyata itu tahap empat.

Lalu aku mulai memeriksa ulang semuanya, satu per satu, seperti memeriksa kembali lembar jawaban ujian yang sudah dinilai.

Pulpen yang menggelinding ke sepatuku. Katanya tidak direncanakan. Tapi ia duduk di meja sembilan setiap Kamis selama tiga tahun, persis di garis pandangku. Apakah itu juga rencana?

Payung. Katanya karena prakiraan cuaca. Tapi ia membaca prakiraan cuaca setiap pagi. Ia tahu akan hujan. Ia tahu aku tidak pernah membawa payung.

Gang Kenari. Kebetulan lewat, padahal gangnya buntu.

Kebun teh. Ia memegang peta terbalik. Apakah itu sengaja?

Ciuman di toko buku. Hujan, lampu yang berkedip. Siapa yang condong duluan?

Eksperimen. Kata itu sendiri terdengar seperti metode. Seperti prosedur yang punya lembar observasi.

Aku duduk di lantai sampai pukul tiga pagi. Semakin lama aku memeriksa, semakin semuanya terlihat seperti tulisan di papan tulis dapur. Rapi, berwarna, penuh janji. Dan aku tidak bisa lagi membedakan mana tinta biasa dan mana tinta permanen yang salah dibeli.


Senin sore, pukul empat lewat tiga puluh, perpustakaan lantai tiga.

Aku datang karena kebiasaan. Tiga tahun, dua ratus lima puluh tujuh Kamis, dan entah berapa Senin. Kakiku berjalan ke meja empat belas sendiri, seperti kaki Anindya yang berjalan sendiri ke Gang Kenari.

Meja sembilan terisi.

Laptop tidak ada di tengah, planner tidak ada di kiri, tempat pensil tidak ada di kanan. Botol air juga tidak ada di sudut atas. Mejanya kosong, kecuali dua tangan yang terlipat di atasnya, dan seseorang yang duduk tegak menatap meja empat belas seperti menatap pintu ruang sidang.

Ia berdiri waktu aku datang.

Wajahnya pucat. Di bawah matanya ada bayangan yang bukan lagi bekas pensil yang dihapus, tapi coretan tebal. Rambutnya rapi, pakaiannya rapi. Tapi semuanya terlihat seperti dipasang dengan susah payah, seperti tenda yang didirikan di tengah angin.

“Rendra.”

Aku tidak menjawab. Aku berdiri di tengah lorong di antara meja sembilan dan meja empat belas. Lorong yang dulu tidak pernah kulewati, dan yang ia lewati pertama kali Kamis lalu untuk sebuah eksperimen.

“Aku nggak mau bikin alasan,” katanya. “Aku cuma mau kamu dengar satu hal.”

“Semuanya direncanakan?”

Pertanyaan itu keluar dariku sebelum ia selesai bicara. Aku tidak merencanakannya. Pertanyaan itu sudah tinggal di tenggorokanku sejak pukul tiga pagi, dan akhirnya menemukan jalan keluar.

Ia menatapku.

“Semuanya,” ulangku. “Dari awal. Pulpen, payung, murid palsu, gang, kebun teh, toko buku, perpustakaan. Semuanya ada di slide?”

Hening. Perpustakaan lantai tiga selalu hening, tapi hening kali ini berbeda. Hening seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan semua orang.

“Awalnya iya,” katanya.

Ia tidak menunduk, tidak berpaling, dan tidak menutup mulut dengan tangan. Ia menatapku lurus-lurus.

“Minggu pertama, iya. Aku bikin slide. Aku bikin tahap-tahap. Aku bikin analisis risiko. Aku ke kantin FIB karena itu tahap dua. Aku ke ruang asisten dosen karena itu tahap empat.” Suaranya tidak bergetar. Aku tidak tahu bagaimana ia melakukannya. “Aku ke Gang Kenari karena aku mau lihat rumahmu. Nggak ada di slide. Kakiku yang jalan sendiri.”

“Payung?”

“Payung beneran. Hujan beneran.”

“Kamu tahu aku nggak pernah bawa payung.”

“Iya, aku tahu. Dan aku tetap cuma bawa satu. Kalau aku ngerencanain, aku bakal bawa dua biar kelihatan baik hati. Aku nggak bawa dua karena aku nggak mikir. Aku cuma...” Ia berhenti. “Aku cuma senang kamu mau jalan bareng.”

“Kebun teh?”

“Kakiku terkilir beneran, Rendra. Kamu yang periksa.”

“Petanya terbalik.”

“Aku nggak bisa baca peta. Kamu yang bilang.”

Aku diam.

“Setelah minggu pertama,” katanya, lebih pelan, “aku berhenti bisa bikin rencana. Setiap kali aku bikin rencana, rencananya gagal. Setiap kali aku mau menjauhkan Sasa, Sasa malah makin dekat. Setiap kali aku mau ketemu kamu dengan alasan, kamu bilang aku nggak butuh alasan. Aku coba bikin slide lagi, dan aku nggak bisa. Karena kalau ada kamu, slide-nya jadi kosong.”

Ia menarik napas.

“Awalnya iya, direncanakan. Lalu nggak. Lalu aku nggak bisa bikin rencana lagi kalau ada kamu.”

Aku menatapnya lama.

Aku ingin percaya. Aku ingin memercayainya lebih dari apa pun yang pernah kuinginkan sejak papan tulis di dapur kosong. Tapi setiap kalimatnya terdengar rapi, jujur, dan masuk akal, dan aku pernah mendengar kalimat-kalimat seperti itu sebelumnya.

Di dapur, dua belas tahun lalu. Rencana ini beneran, Rat. Kali ini beneran.

“Ayahku juga bilang gitu,” kataku.

Ia berhenti bernapas. Aku bisa melihatnya.

“Dia bilang rencananya beneran. Dia tulis di papan tulis. Liburan, tabungan, cabang toko kedua. Dia bilang semuanya beneran. Kali ini beneran.” Suaraku keluar datar, sangat datar. Suara orang yang sedang membacakan data yang sudah dihafal. “Dia bikin rencana untuk semuanya. Termasuk rencana untuk pergi. Itu satu-satunya rencana yang dia jalankan sampai selesai.”

“Rendra, aku bukan...”

“Aku nggak bilang kamu dia.” Aku memotongnya, dan aku benci suaraku karena melakukannya. “Aku bilang aku nggak bisa bedain.”

Ia menatapku. Matanya mulai basah. Tidak tumpah. Ditahan di pelupuk dengan seluruh tenaga yang ia punya, seperti di tangga FEB.

“Kamu mirip dia,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Kalimat itu keluar dari tempat paling gelap di dadaku, tempat bocah dua belas tahun masih berdiri di ambang pintu dapur dan menatap ibunya menggosok spidol permanen sampai tangannya merah.

Anindya tidak menangis.

Ia berdiri di sana, di lorong di antara meja sembilan dan meja empat belas. Air matanya ditahan di pelupuk, bibirnya ditekan rapat, dan tangannya tidak bergerak ke mulut. Ia tidak menutup apa pun.

Lalu ia mengangguk sekali. Pelan, seperti orang yang menerima nilai.

“Oke,” katanya.

Hanya itu.

Ia mengambil tasnya dari meja sembilan, berjalan melewatiku ke tangga, dan turun.

Aku tidak menoleh. Aku menatap pohon ketapang di luar jendela yang bergoyang pelan, dan mendengarkan langkah kakinya menuruni tangga sampai hilang.

Lalu aku duduk di meja empat belas dan menatap meja sembilan yang kosong.

Aku baru saja mengatakan kalimat paling kejam yang pernah kuucapkan pada siapa pun. Aku tahu itu kejam waktu mengatakannya, dan aku tetap mengatakannya.

Mungkin aku juga mirip dia. Orang yang tahu persis kalimat mana yang akan membuat orang lain berhenti menunggu.


Selasa sore, Gio datang ke toko.

Ia masuk dengan wajah seseorang yang memasuki kandang singa, melirik ke kiri dan kanan, lalu berhenti di depan meja kasir.

“Kak.”

“Gio.”

“Aku mau beli buku.”

“Buku apa?”

Gio menatap rak di sebelahnya, mengambil buku pertama yang terjangkau tanpa melihat judulnya, dan meletakkannya di meja kasir.

Aku membaca judulnya. Seni Merayu Wanita dalam 30 Hari: Panduan Praktis Pria Modern. Buku bekas terbitan 1998, dengan sampul bergambar pria berkumis yang memakai jas bahu besar.

Gio melihat judul itu. Wajahnya berubah dari merah ke ungu.

“Bukan buat aku,” katanya.

“Delapan ribu.”

“Kak, sumpah, bukan...”

“Delapan ribu.”

Gio mengeluarkan uang delapan ribu dengan tangan gemetar dan meletakkannya di meja. Aku memasukkan buku itu ke kantong plastik dan menyerahkannya. Ia menerimanya seperti menerima surat peringatan dari rektorat.

Dari balik tirai, Ibu muncul membawa piring.

“Oh, temannya Neng Kirana! Pisang goreng?”

Gio menatap pisang goreng itu dengan ngeri. “Terima kasih, Bu, saya...”

“Ambil. Pisang goreng dingin itu dosa.”

Gio mengambil satu, menggigitnya, dan wajahnya langsung berubah. “Bu, ini enak banget.”

“Ya kan!” Ibu tersenyum lebar, lalu kembali ke dapur. Ia berhenti di ambang tirai dan menatapku sekilas, dengan tatapan yang sudah tiga hari ini ia berikan setiap kali kami berpapasan. Tatapan yang bukan marah, tapi menunggu.

Gio mengunyah pisang goreng itu pelan-pelan sampai habis. Lalu ia meletakkan kantong plastik berisi Seni Merayu Wanita dalam 30 Hari di meja kasir dan menatapku.

“Kak,” katanya. Suaranya berubah. Tidak ada lagi nada yang bercanda. “Aku yang tahu soal surat itu. Dia cerita ke aku dua minggu lalu.”

Aku menatapnya.

“Dia udah mau balikin,” lanjut Gio. “Dia janji ke aku. Minggu depan setelah Dies Natalis, katanya. Dia bakal balikin ke Kakak, bakal bilang ke Sasa, bakal minta maaf ke dua-duanya.” Gio menghela napas. “Terus dia lihat Kakak sama Sasa di Pasar Baru. Beli cincin.”

Aku tidak bergerak.

“Dia pikir kalian mau nikah,” kata Gio. “Dia pikir kalau suratnya dibalikin sekarang, Kakak bakal nggak percaya sama Sasa karena temannya pencuri. Sasa bakal sedih. Pernikahan kalian bakal rusak.” Gio menggeleng pelan. “Jadi dia putusin buat simpan suratnya. Buat kalian. Supaya kalian bahagia. Dia bahkan berhenti ke perpustakaan, berhenti bales pesan Kakak, berhenti pakai pulpen Kakak. Pulpennya dia taruh di laci. Aku lihat sendiri dia nulis pakai pulpen biru murah dari fotokopian.”

Pulpen itu.

“Bodoh,” kata Gio. “Bodoh banget. Aku bilang ke dia, Kir, itu buat mereka atau buat kamu? Dia nggak jawab.” Gio menatapku. “Tapi Kak, dia simpan surat itu buat kalian. Bukan buat dia. Dia pikir dia lagi berbuat baik.”

Aku menatap kantong plastik di meja kasir. Pria berkumis di sampul buku itu menatapku balik dengan senyum yang terlalu percaya diri.

“Satu lagi, Kak,” kata Gio, berdiri dan mengambil kantong plastiknya. “Aku wakilnya tiga tahun. Aku lihat semua rencananya. Semua slide-nya, proposalnya, analisis risikonya. Dia merencanakan segalanya. Warna map, urutan pidato, jadwal mandi KKN.”

Ia berhenti di pintu. Bel di atasnya berbunyi pelan.

“Tapi dia nggak pernah ngerencanain jatuh cinta sama Kakak,” kata Gio. “Itu satu-satunya hal yang nggak ada di slide mana pun. Aku tahu, karena aku sudah cek semuanya.”

Lalu ia pergi.


Malam itu Ibu duduk di tepi kasurku. Bukan dengan cara interogasi yang kedua atau ketiga. Cara keempat, yang belum pernah ia pakai.

Ia hanya duduk. Tidak berkata apa-apa, tidak membawa pisang goreng. Tangannya terlipat di pangkuan, dan wajahnya lelah karena melipat tiga ratus undangan sendirian selama dua malam.

“Ren,” katanya akhirnya.

“Hm.”

“Ibu dengar semuanya. Waktu itu. Di toko.”

Aku tidak menjawab.

“Neng Kirana ambil surat Sasa,” kata Ibu pelan. “Itu salah. Sangat salah. Ibu nggak akan bilang itu nggak salah.”

Aku menunggu.

“Tapi Ren.” Ibu menatapku. Matanya gelap dan tenang, sama seperti mataku. “Dua hari sebelum makan malam itu, Ibu bilang ke kamu. Langsung. Di dapur. Sabtu jam tujuh, di rumah Mas Hendra, Sasa masak. Kamu ingat?”

Aku ingat.

“Kamu bilang ada kuis,” kata Ibu. “Kamu nggak datang. Bukan karena suratnya hilang. Kamu udah tahu, dari Ibu, dan kamu tetap nggak datang.”

Kamar itu sunyi. Di luar jendela, di halaman rumah tetangga, kucing belang mengeong sekali, lalu diam.

“Surat itu nggak bikin kamu nggak datang, Ren,” kata Ibu. “Surat itu cuma... nggak bikin kamu datang.”

Ibu berdiri. Ia merapikan selimutku yang tidak berantakan, seperti yang ia lakukan waktu aku masih kecil, lalu berjalan ke pintu.

“Sasa nunggu sampai jam sembilan,” katanya di ambang pintu, tanpa menoleh. “Bukan cuma karena ada yang ngambil suratnya. Tapi juga karena ada yang udah tahu dan tetap nggak datang.”

Pintu tertutup pelan.

Aku berbaring di kamar yang gelap dengan amplop lilac yang masih belum dibuka di atas meja, dan kalimat Gio, kalimat Ibu, dan kalimatku sendiri yang berputar di kepala seperti tiga koin yang dilempar bersamaan.

Dia nggak pernah ngerencanain jatuh cinta sama Kakak.

Surat itu cuma nggak bikin kamu datang.

Kamu mirip dia.

Dari ketiga kalimat itu, hanya satu yang salah. Aku tahu yang mana.

Aku hanya belum tahu bagaimana cara menariknya kembali.

Aku menatap langit-langit sampai pukul dua pagi. Lalu aku bangun, menyalakan lampu meja, dan mengambil ponsel.

Aku tidak mengirim pesan ke Anindya. Aku belum punya kalimat yang cukup baik untuknya.

Aku mengirim pesan ke Sasa.

Besok aku ke rumah. Sore. Ada yang harus kubawa dan kubilang ke kamu. Soal surat undangan makan malam itu. Suratnya ketemu.

Balasannya datang dalam dua menit, pukul dua lewat tiga pagi. Seolah-olah Sasa juga belum tidur. Seolah-olah Sasa juga sedang menunggu sesuatu.

Oke Kak.

Hanya itu. Tanpa tanda seru, tanpa emoji, tanpa hati yang diarsir penuh.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Sasa, pesannya terdengar seperti orang yang sudah tahu apa yang akan dikatakan, dan sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan.