← Surat Salah Alamat

Chapter Eighteen

Pura-Pura Amnesia

POV: Kirana

Keesokan paginya, pukul 06.14, aku memutuskan bahwa ciuman di Toko Buku Mahesa tidak pernah terjadi.

Keputusan itu kubuat dengan sangat rasional, di meja belajar, dengan planner terbuka dan pulpen hitam bekas gigitan di tangan. Aku membuat tabel dua kolom.

Kolom kiri: BUKTI BAHWA ITU TERJADI.

  • Bibirku masih ingat.
  • Pesan Gang Kenari buntu, sudah dari zaman Belanda.
  • Payung biru tua yang kubawa pulang dalam keadaan terlipat, tidak pernah dibuka, dan sekarang tergeletak di lantai kamar seperti saksi bisu.

Kolom kanan: ALASAN BAHWA ITU SEBAIKNYA TIDAK TERJADI.

  • Sasa.

Kolom kanan hanya punya satu baris. Tapi satu baris itu lebih berat dari semua baris di kolom kiri.

Jadi aku menulis di bawah tabel dengan huruf kapital: KESIMPULAN: TIDAK TERJADI.

Lalu aku menggarisbawahinya dua kali, menutup planner, sarapan, dan membaca prakiraan cuaca. Cerah, dengan kemungkinan hujan dua puluh persen. Aku tidak membawa payung.

Aku sudah terlalu banyak berurusan dengan hujan minggu ini.


Pukul 08.02, ponselku bergetar.

Rendra ☂️: Pagi.

Satu kata. Tidak ada emoji, tidak ada tanda seru. Hanya pagi, dengan titik di belakangnya, seperti catatan kaki.

Aku menatapnya selama empat menit. Lalu aku membalas dengan nada seorang Ketua BEM yang sedang menjalankan protokol:

Selamat pagi. Untuk bazar Dies Natalis, stok buku tolong diantar ke lobi FEB hari Sabtu jam 7 pagi. Terima kasih atas kerja samanya.

Balasan datang dalam sebelas detik.

Soal kemarin.

Aku mengetik cepat: Kemarin kenapa?

Di toko.

Oh iya, maaf aku lupa bayar buku yang kujatuhkan dari etalase. Nanti kuganti.

Titik-titik di layar muncul, hilang, lalu muncul lagi. Lama.

Kamu nggak ingat?

Aku menarik napas panjang. Aku memejamkan mata, lalu membukanya.

Ingat apa?

Lama sekali tidak ada balasan. Aku sudah hampir memasukkan ponsel ke saku, dengan perasaan menang yang anehnya terasa seperti kalah, ketika layar menyala lagi.

Oke.

Lalu satu pesan lagi.

Kalau gitu nanti aku ingatkan.

Ponsel itu kulempar ke kasur seperti benda yang terbakar.


Sabtu pagi pukul tujuh, lobi FEB berubah menjadi pasar buku. Meja-meja lipat berjajar dari pintu masuk sampai tangga, dan kardus-kardus bertumpuk di mana-mana. Spanduk Bazar Buku Merawat Akar berkibar di atas kepala. Spanduk itu didesain Sasa, dengan gambar pohon yang akarnya berbentuk tumpukan buku.

Sasa berlari dari satu meja ke meja lain dengan papan jalan dan pita ungu, mengecek label harga dan menata buku berdasarkan warna sampul, seperti rak buku Kak Kirana, katanya. Sasa Tebing, yang entah bagaimana ikut jadi relawan, mengangkat tiga kardus sekaligus tanpa berkeringat. Anak-anak BEM lain menatapnya seperti menatap pahlawan super.

Rendra datang pukul tujuh lewat lima dengan mobil pikap sewaan dan dua belas kardus buku.

Aku berdiri di balik meja registrasi dan pura-pura sangat sibuk dengan daftar hadir relawan.

“Anindya.”

“Mahesa.” Aku tidak mengangkat kepala. “Kardusnya taruh di meja tiga sampai tujuh. Label sudah disiapkan.”

“Oke.”

Ia tidak bergerak.

Aku mengangkat kepala. Itu kesalahan.

Ia memakai kemeja flanel abu-abu yang lengannya digulung sampai siku, dan membawa satu kardus di pelukannya. Rambutnya berantakan karena angin, dan wajahnya datar. Tapi matanya tidak datar. Matanya sedang tertawa. Aku tidak tahu bagaimana mata bisa tertawa sementara wajah tidak, tapi Rendra Mahesa bisa.

“Kamu lupa,” katanya.

“Lupa apa?”

“Soal Kamis.”

“Kamis ada apa?”

Ia meletakkan kardus di meja registrasi, tepat di atas daftar hadir relawan, lalu mencondongkan badan sedikit ke arahku. Tidak terlalu dekat, karena di sekeliling kami ada dua puluh relawan dan tiga dosen. Tapi cukup dekat sampai suaranya hanya terdengar olehku.

“Mau aku ceritakan ulang?” tanyanya pelan. “Lengkap. Pakai detail.”

Wajahku terbakar.

“Nggak perlu.”

“Aku ingat semuanya. Jam berapa, cuacanya, lampunya kedip berapa kali...”

“Mahesa.”

“...tanganmu dingin, kamu mundur nabrak etalase, Siti Nurbaya jatuh ke lantai...”

“Siti Nurbaya jatuh?”

“Dua eksemplar. Yang kamu hitung dua kali di stok opname.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang sama sekali tidak bersalah.

“Kalau kamu nggak ingat,” katanya, “nanti aku ingatkan pelan-pelan. Satu detail per hari. Biar nggak kaget.”

Lalu ia mengangkat kardusnya lagi dan berjalan ke meja tiga, meninggalkanku berdiri di balik meja registrasi dengan daftar hadir yang sekarang penyok karena ditindih kardus.

Sasa muncul di sebelahku seperti hantu berpita ungu.

“Kak,” bisiknya dengan mata berbinar. “Kak Ren barusan ngomong apa?”

“Soal kardus.”

“Muka Kakak merah banget.”

“Di sini panas.”

“Kak, ini jam tujuh pagi di Bandung.”

Di seberang lobi, Sasa Tebing mengacungkan jempol ke arah Sasa, dan Sasa mengacungkan jempol balik. Mereka berdua kemudian menatapku bersamaan dengan senyum yang sama persis, seperti dua anggota sekte rahasia yang baru melihat ramalan mereka terkabul.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka, dan aku terlalu takut untuk bertanya.


Bazar berjalan sukses. Tiga ratus dua belas buku terjual dalam satu hari, dan seribu dua ratus pengunjung datang, termasuk rektor. Rektor membeli Siti Nurbaya eksemplar kedua dan bilang, “Buku ini dulu bikin saya nangis waktu SMA.”

Bu Ratna datang di sore hari dengan tiga termos teh dan dua baskom pisang goreng. Ia memelukku begitu erat sampai kacamata hitam yang kupakai untuk menghalau matahari sore terlepas dari hidungku. Lalu ia berbisik di telingaku, “Rendra pulang hari Kamis basah kuyup padahal ada payung. Dia senyum-senyum sendiri sampai malam. Ibu nggak tanya. Ibu cuma mau bilang.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku mengambil pisang goreng dan menyumpal mulutku sendiri.

Malamnya, setelah lobi dibersihkan dan semua relawan pulang, aku duduk sendirian di sekretariat BEM dengan laporan keuangan bazar dan secangkir kopi dingin.

Pintu terbuka. Gio masuk, duduk di kursi di seberangku, dan meletakkan dua bungkus nasi kuning di meja.

“Makan,” katanya.

“Aku nggak lapar.”

“Kamu makan satu pisang goreng seharian. Aku hitung.”

“Kenapa semua orang menghitung apa yang aku makan?”

“Karena kamu nggak pernah menghitungnya sendiri.” Gio membuka bungkus nasi kuningnya. “Makan, Kir.”

Aku makan. Kami makan dalam diam selama lima menit.

Lalu Gio meletakkan sendoknya.

“Kir. Program mentoring lintas fakultas itu nggak ada, kan?”

Aku berhenti mengunyah.

“Aku tahu dari awal,” lanjut Gio, dengan suara tenang yang jarang kudengar darinya. “Waktu kamu minta aku cari ‘Sasa’. Waktu kamu bilang ‘surat’ terus ralat jadi ‘rekomendasi’. Waktu kamu seret aku ke kantin FIB. Waktu kamu minta aku pura-pura bodoh di ruang asisten dosen.” Ia tersenyum kecil, tanpa nada bercanda. “Aku ini wakilmu tiga tahun, Kir. Aku tahu bedanya kamu lagi kerja sama kamu lagi panik.”

Aku meletakkan sendok.

“Maaf,” kataku. Suaraku keluar kecil sekali. “Aku pakai kamu.”

“Aku nggak marah dipakai,” kata Gio. “Aku sering dipakai. Aku wakil ketua. Tugasku dipakai.” Ia mengangkat bahu. “Yang bikin aku sedih itu, kamu nggak cerita.”

“Gi...”

“Aku bukan cuma wakilmu, Kir. Aku temanmu.” Ia menatapku langsung. “Dan temanku tiga bulan terakhir kelihatan capek banget. Lebih capek dari waktu kita begadang bikin LPJ. Lebih capek dari waktu vendor sound system kabur di malam inaugurasi.”

Aku menatap nasi kuning di depanku, dan mataku mulai panas.

“Tenang,” kata Gio cepat, mengangkat tangan. “Aku nggak naksir kamu. Jangan salah paham. Aku cuma temanmu yang nggak mau lihat kamu makan satu pisang goreng seharian.”

Aku tertawa, dan tawaku basah.

Lalu, karena gelap, karena Gio membawa nasi kuning, dan karena aku sudah terlalu lama memikul semuanya sendirian seperti tas berisi batu bata, aku menceritakan semuanya.

Perpustakaan. Rak pesanan. Amplop lilac. Aku tunggu kamu pulang. Sasa yang menunggu balasan yang tidak pernah datang karena suratnya ada di planner-ku. Nasihat kasih dia ruang. Jas hujan kuning. Tempe dingin di posko. Ciuman di toko buku. Pesan Gang Kenari buntu.

Gio mendengarkan tanpa menyela sekali pun. Waktu aku selesai, ia diam lama sekali.

“Kir,” katanya akhirnya. “Kamu masih simpan suratnya?”

Aku membuka tas, mengeluarkan planner kulit cokelat, membuka halaman belakang, dan menunjukkan amplop lilac itu.

Gio menatapnya seperti menatap barang bukti di ruang sidang.

“Balikin,” katanya.

“Aku tahu.”

“Secepatnya, Kir. Sebelum ini jadi makin besar.”

“Aku tahu.”

“Kamu udah bilang ‘besok’ berapa kali?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu menjawab. Gio sudah tahu jawabannya dari wajahku.

“Setelah Dies Natalis,” kataku. “Minggu depan. Aku janji. Aku balikin ke Rendra. Aku bilang ke Sasa. Aku minta maaf ke dua-duanya.”

Gio menatapku lama. Lalu ia mengangguk sekali.

“Oke. Aku pegang janjimu.” Ia berdiri dan mengambil bungkus nasi kuningnya yang sudah kosong. “Dan Kir.”

“Hm?”

“Waktu kamu cerita soal Kak Rendra tadi,” katanya di ambang pintu, “kamu senyum. Dari awal sampai akhir. Bahkan waktu bagian yang sedih.”

Ia pergi sebelum aku sempat membantah.


Kamis berikutnya, perpustakaan lantai tiga, pukul 16.58.

Aku sudah memutuskan. Aku akan mengembalikan surat itu minggu depan dan mengakui semuanya. Setelah itu, Rendra akan membenciku, atau setidaknya menjauh. Sasa juga. Dan semua akan kembali ke tempatnya, seperti rak buku yang diluruskan.

Tapi sebelum itu, aku harus membuktikan satu hal pada diriku sendiri.

Bahwa ciuman di toko buku itu kecelakaan statistik. Outlier. Satu titik data yang menyimpang dari pola, yang terjadi karena hujan, lampu yang berkedip, dan tegangan listrik yang turun. Bukan karena apa pun yang penting.

Kalau aku bisa membuktikan itu, aku bisa melepaskannya. Aku bisa mengembalikan surat itu dengan tangan yang tidak gemetar.

Metodenya sederhana: replikasi. Kalau fenomena yang sama terjadi lagi dalam kondisi yang terkontrol, tanpa hujan, tanpa lampu kedip, di perpustakaan yang terang, dan hasilnya tidak signifikan, maka hipotesis nol diterima. Tidak ada apa-apa di antara kami.

Itu logis. Itu metodologi penelitian yang sahih.

Aku berdiri dari meja sembilan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku berjalan melewati meja sepuluh, sebelas, dua belas, dan tiga belas.

Aku berhenti di meja empat belas.

Rendra mengangkat kepala dari buku catatan hitamnya. Kacamata baca berbingkai hitam tipis melorot sedikit di hidungnya. Ia menatapku dengan alis terangkat.

Perpustakaan hampir kosong. Petugas sirkulasi di bawah sudah mulai mematikan lampu di rak-rak belakang. Di luar jendela, langit berwarna jingga, dan pohon ketapang bergoyang pelan.

“Anindya.”

“Aku mau eksperimen,” kataku.

“Eksperimen apa?”

Aku tidak menjawab. Aku membungkuk dan menciumnya.

Kali ini aku yang memulai. Aku yang memutuskan. Aku melakukannya dengan terencana, tanpa hujan dan tanpa lampu berkedip. Kondisi terkontrol. Satu detik, cukup untuk pengukuran.

Hasilnya tidak terkontrol sama sekali.

Kacamatanya bergeser dan menabrak pipiku. Tangannya, yang tadi memegang pulpen merah, menjatuhkan pulpen itu ke lantai. Dan jantungku melakukan hal yang sama seperti di toko buku: berhenti, lalu berlari begitu kencang sampai aku yakin petugas sirkulasi di lantai bawah bisa mendengarnya.

Aku menarik diri.

Rendra menatapku dari balik kacamata yang miring. Matanya lebar, dan telinganya merah menyala seperti cabai rawit yang matang di pot Om Hendra.

“Itu,” katanya pelan, “eksperimen?”

“Replikasi,” kataku. Suaraku bergetar. Aku tidak lagi bangga pada suaraku. “Untuk menguji apakah kejadian di toko itu outlier.”

“Hasilnya?”

Aku menatapnya. Aku menatap pulpen merah di lantai, kacamata yang miring, dan bibirnya yang sedikit terbuka.

“Inkonklusif,” kataku.

Rendra diam sebentar. Lalu ia membetulkan kacamatanya dengan satu jari, pelan-pelan, dengan sangat serius, seperti dosen penguji yang baru saja mendengar metodologi yang cacat.

“Sampelnya dua,” katanya. “Itu nggak cukup buat kesimpulan.”

“Aku tahu.”

“Butuh minimal tiga puluh buat distribusi normal.”

Aku menatapnya dengan mulut terbuka.

“Tiga puluh?”

“Teorema limit pusat,” katanya datar. Tapi sudut bibirnya bergerak. Bergerak jauh, sampai hampir menjadi senyum penuh. “Kamu anak FEB. Harusnya tahu.”

Aku berbalik dan berjalan ke meja sembilan dengan langkah paling cepat yang bisa kubuat tanpa terlihat berlari. Aku mengambil tas, laptop, dan planner, lalu menuju tangga.

Di anak tangga pertama, suaranya memanggilku.

“Anindya.”

Aku berhenti tanpa menoleh.

“Lain kali,” katanya, “jangan lupa bawa lembar observasi.”

Aku turun tangga dengan kaki yang tidak bisa memutuskan mau berjalan atau terbang.

Di angkot, aku membuka planner dan membalik ke tabel dua kolom yang kubuat seminggu lalu. BUKTI BAHWA ITU TERJADI dan ALASAN BAHWA ITU SEBAIKNYA TIDAK TERJADI.

Di kolom kiri, aku menambahkan satu baris:

Replikasi. Hasil: signifikan. Sangat signifikan. p kurang dari nol koma nol nol satu.

Di kolom kanan, barisnya masih satu. Masih Sasa.

Aku menatap kedua kolom itu sampai angkot berhenti di depan rumahku.

Lalu, di bawah kesimpulan TIDAK TERJADI yang kugarisbawahi dua kali, aku menulis dengan pulpen hitam bekas gigitan, huruf kecil dan miring:

Revisi: terjadi dua kali.

Dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan hipotesis yang terbukti benar, kalau kebenarannya bukan milikku.